Yahudi di Balik Pembelian Indosat

oleh: Hidayatullah Muttaqin

Saya kira pembicaraan tentang Indosat, BUMN yang dijual pemerintah kepada asing pada akhir Desember tahun lalu masih merupakan suatu hal yang menarik karena sampai sekarang masalah yang timbul dari penjualan Indosat belum tuntas diselesaikan oleh pemerintah. Namun sayangnya permasalahan dari penjualan Indosat oleh pemerintah ini di masyarakat sudah kurang mendapatkan perhatian terutama di kalangan media massa baik cetak maupun elektronik. Hal ini disebabkan budaya (kultur) media massa dan masyarakat Indonesia sendiri yang begitu mudah melupakan masalah penting dengan berlalunya waktu terlebih dengan munculnya masalah-masalah baru sehingga dengan kurangnya perhatian terhadap permasalahan tersebut maka pemecahannya pun tidak pernah terselesaikan.

Bagi saya banyak masalah yang harus dikemukakan kepada pemerintah, intelektual dan masyarakat luas mengenai penjualan (privatisasi) Indosat seperti (1) apa saja kerugian negara dan masyarakat baik dari sisi keuangan, bisnis, arus informasi dan kedaulatan (2) proses penjualan yang mengarah pada indikasi KKN dan pelanggaran hukum, (3) kenapa Indosat harus dijual oleh pemerintah dan bagaimana proses politik antara pemerintah dan DPR sehingga menghasilkan suatu keputusan untuk menjual Indosat, (4) di manakah hak masyarakat terhadap BUMN seperti Indosat, (5) siapa sebenarnya yang membeli Indosat, dll. Juga harus dicari pemecahan atas permasalahan penjualan Indosat agar segala kerugian yang telah dialami negara dan masyarakat dapat diminimalisir dan menjadi pelajaran ke depan agar kebijakan yang sangat merugikan tersebut tidak terulang lagi.

Ada satu isu penting di balik penjualan Indosat ini yang harus dikemukakan kepada masyarakat yakni kenapa pemerintah menjual Indosat kepada Singapore Technologies Telemedia (STT) melalui anak perusahaannya yang bernama Indonesia Commonication Limited (ICL) atau kenapa tidak STT langsung yang membeli 41,94 persen saham pemerintah di Indosat ? Siapakah sebenarnya yang membeli Indosat ? Inilah yang bagi saya sangat aneh dari proses penjualan Indosat oleh pemerintah kepada asing.

Proses Penjualan Indosat Terkesan Ditutup-tutupi
Dalam proses penjualan 41,94% saham pemerintah di Indosat, pemerintah melalui kementerian BUMN menetapkan syarat bahwa para calon pembeli (bidder) Indosat harus memiliki komitmen untuk tidak menjual saham Indosat dalam waktu singkat (longterm cimmitment), tidak ada pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan (ESOP) selama 5 tahun sesudah penjualan Indosat, dan komitmen terhadap pengembangan telekomunikasi seluler.

Awal Desember 2003, ada empat calon pembeli yakni Desa Mahir Sdn Bhd, Gilbert Global Equity Asia Ltd, Singapore Technologies Telemedia (STT) Pte Ltd dan Telkom Malaysia Berhard. Sampai babak akhir penawaran (final bid) Indosat tanggal 13 Desember hanya Telkom Malaysia dan STT yang memasukkan proposal penawaran kepada pemerintah. Akhirnya pada 15 Desember pemerintah melalui Deputi Menteri Negara BUMN Bidang Privatisasi dan Restukturisasi, Mahmuddin Yasin dalam keterangan persnya mengumumkan STT sebagai pemenang divestasi (pelepasan saham) Indosat.

Permasalahan muncul ketika terungkap penandatanganan persetujuan pembelian 41,94% saham Indosat adalah Indonesia Communication Limited (ICL) dan pemerintah, bukan dengan STT sebagaimana keterangan pers pemerintah. Diketahuinya ICL sebagai pembeli Indosat oleh masyarakat sangat mengejutkan karena dalam proses penyaringan calon pembeli nama ICL tidak pernah masuk dalam daftar investor (short listed investor) sehingga banyak pihak yang menggugat pemerintah karena telah melakukan kebohongan publik.

Menyikapi keadaan ini pemerintah melalui Direktur Indosat Widya Purnama (yang sangat berkepentingan untuk mempertahankan kedudukannya) beralasan bahwa STT dalam penawarannya kepada pemerintah telah menyertakan ICL sebagai perusahaan khusus dalam transaksi (special vehicle purpose/SVP) pembelian saham Indosat hanya saja pemerintah belum maksimal mensosialisasikannya kepada masyarakat sehingga keberadaan ICL baru diketahui belakangan. Dikatakannya lagi penggunaan SVP merupakan suatu hal yang wajar dalam transaksi bisnis. Namun Widya Purnama sendiri sebagaimana diakuinya baru mengetahui STT menggunakan SVP ICL setelah ditentukannya STT sebagai pemenang.

Tentu proses penjualan Indosat yang demikian penuh dengan kejanggalan. Bisa jadi diajukannya ICL oleh STT baru pada saat akhir ataupun sesudah penentuan pemenang divestasi Indosat. Jika ini benar maka pemerintah melakukan kebohongan yang sangat parah. Mungkin saja benar pengakuan pemerintah bahwa STT sejak awal telah memasukan ICL dalam penawarannya. Tapi yang jelas pemerintah telah menutup-nutupi siapa pembeli Indosat sebenarnya.

Kenapa Harus Ditutup-tutupi ?

Terungkapnya ICL sebagai pembeli Indosat terlebih dengan tempat pendirian (kantor pusat) ICL sendiri yang berada dan berbadan hukum di Mauritius menuai banyak pertanyaan. Karena Mauritius merupakan satu diantara 34 negara kecil di dunia yang menjadikannya sebagai markas perusahaan dari berbagai negara untuk berinvestasi di negara tersebut dengan berbagai kemudahan dan fasilitas (offshore financial centers)

Negara-negara semacam ini memberikan berbagai kemudahan antara lain pendirian perusahaan dapat dilakukan dalam waktu singkat bahkan ada yang hanya memerlukan waktu 2 jam saja untuk mendirikan perusahaan. Juga perusahaan dapat didirikan dengan modal disetor minimum yang rendah dan ada yang hanya dengan modal 1 dolar saja sudah bisa mendirikan perusahaan.

Fasilitas utama yang sangat disenangi oleh para investor di negara-negara tersebut adalah bebas pajak dan jaminan kerahasiaan pemilik sebenarnya dari perusahaan yang didirkan. Perusahaan yang berbasis di negara Mauritius seperti ICL yang melakukan operasi kegiatannya di Indonesia, otomatis setiap keuntungan yang dia peroleh dari Indosat tidak dikenakan pajak di Mauritius. Kemudian perusahaan yang bersangkutan tidak diwajibkan untuk menyebutkan siapa pemilik sebenarnya dari ICL, artinya kita masyarakat Indonesia tidak mengetahui siapa sebenarnya yang memiliki ICL meskipun STT mengakui dia yang memiliki ICL.

Sebaliknya Menneg BUMN Laksamana Sukardi dalam wawancara di SCTV mengatakan investor ICL sudah pasti diketahui. Katanya “di Mauritius sekalipun, setiap perusahaan menyebutkan siapa pemiliknya” (maksudnya STT). Namun, alasan Menneg BUMN tersebut tidak bisa menjawab siapa pemilik sebenarnya dari ICL.

Dengan demikian jelaslah bahwa STT dan Menneg BUMN beserta jajarannya tidak ingin masyarakat mengetahui ICL sebagai pembeli sebenarnya hingga ditandatanganinya perjanjian penjualan 41,94% saham Indosat yang dimiliki pemerintah sehingga penjualan Indosat tidak bisa digagalkan lagi setelah penandatangan.

Jika diketahui masyarakat bahwa ICL-lah sebagai pembeli sejak awal tentu akan menuai protes dan penentangan yang luas dari masyarakat sehingga ICL akan gagal menguasai Indosat karena diketahui negara akan kehilangan banyak pendapatan dari pajak keuntungan ICL sebagai pemegang saham Indosat dan masyarakat tidak bisa mengetahui siapa pemilik sebenarnya ICL.

Kejanggalan Transaksi Penjualan Indosat
Sebuah sumber berkompeten yang dikutip Republika (20/12/02) menyebutkan tidak adanya transaksi langsung (maksudnya pembayaran) antara pemerintah Indonesia selaku penjual Indosat dengan STT selaku pembeli Indosat. Ini artinya transaksi terjadi secara langsung antara pemerintah dengan ICL. Menurutnya lagi, kemungkinan STT hanyalah salah satu pemegang saham di ICL sehingga masih ada pemegang saham lain yang bisa jadi dia masyoritas bisa pula banyak pemegang saham.

Dengan melihat indikasi dari tidak adanya transaksi langsung antara pemerintah dengan STT, padahal diakui oleh STT dan pemerintah bahwa STT adalah pemilik ICL, maka hal ini merupakan suatu kejanggalan. Karena jika benar STT 100% memiliki ICL dan niatnya membeli Indosat dengan menggunakan ICL yang berbadan hukum Mauritius adalah hanya untuk menghindar dari pajak, semestinya terjadi transaksi langsung antara pemerintah dengan STT. Tetapi jika tidak benar STT merupakan pemilik sebenarnya atas ICL, maka transkasi yang terjadi antara pemerintah dengan ICL dibiayai oleh pihak lain yang merupakan pemilik sebenarnya dari ICL yang tidak diketahui oleh masyarakat. Inilah indikasi kuat yang menunjukkan bahwa ada pihak lain di belakang STT yang menjadi pemilik sebenarnya dari ICL.

Permasalahan yang muncul dari tidak diketahuinya siapa pemilik sebenarnya ICL adalah ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang mempunyai misi jahat untuk menguasai sistem informasi dan telekomunikasi di Indonesia selain misi keuntungan bisnis. Karena sudah menjadi kelaziman banyak pihak yang mendirikan perusahaan di negara-negara yang menerapkan aturan seperti di Mauritius bertujuan untuk melakukan pencucian uang (money loundring), para penjahat ekonomi (konglomerat hitam) yang ingin menguasai kembali aset-asetnya dulu dengan murah tetapi tidak bisa secara langsung, ataupun tujuan-tujuan penguasaan ekonomi terhadap suatu negara yang bersangkutan sehingga dapat mempengaruhi politik ekonomi di negara tersebut.

Yahudi Israel Terkait STT

Dalam sebuah situs Islam (http://www.eramuslim.com) yang saya kunjungi pertengahan Januari, saya sangat terkejut ketika membaca sebuah artikel yang berjudul “STT Singapore, Pembeli Saham Indosat, Agen Israel?”. Artikel tersebut dikirimkan oleh seseorang.

Dia menceritakan bahwa ada keterkaitan antara STT dengan sebuah perusahaan Vertex Management Israel (VMI) yang berasal dari negara Yahudi Israel yang membantai jutaan kaum muslimin Palestina. Hubungan tersebut berupa hubungan patner bisnis yakni antara VMI dengan Singapore Technologies (ST) induk dari STT, dan hubungan kesamaan logo STT, ST dengan VMI.

Untuk mengetahui kebenaran berita tersebut, saya cek langsung ke situs ST yang beralamat http://www.st.com.sg, kemudian situs STT dengan alamat http://www.sttcomms.com, dan situs VMI yaitu http://www.vertexisrael.co.il, ternyata memang benar ke tiga perusahaan tersebut memiliki kesamaan logo. Adapun kesamaan logo tersebut yang terdiri dari susunan persegi empat yang membentuk lingkaran roda. Kesamaan ini sangat terlihat karena logo ke tiga perusahaan tersebut sama-sama terdiri dari 8 buah persegi empat yang susunannya membentuk lingkaran, dan memiliki warna yang sama yakni warna merah.

Dalam situs VMI dijelaskan bahwa VMI memiliki hubungan yang dekat dengan ST. Patner VMI terdiri dari banyak perusahaan. Pada alamat http://www.vertexisrael.co.il/investors/investors.html terdapat 24 patner (investor) beserta logo-logonya. Uniknya dari 24 patner tersebut hanya ST yang memiliki kesamaan logo dengan VMI sedangkan yang lainnya tidak.

VMI sendiri merupakan sebuah perusahaan yang memfokuskan diri dalam investasi pada teknologi informasi juga memberi bantuan berupa sistem manajemen, penetrasi ke pasa global, membuat jaringan dengan perusahaan-perusahaan lain yang strategis di dunia, membantu kebutuhan pendanaan. VIM mempunyai cabang di berbagai negara yakni di Inggeris, Denmark, Singapura, Taiwan, Hongkong dan Cina.

Fakta ini menambah keyakinan saya bahwa Singapura yang selama ini dikenal sebagai kaki tangan Amerika (Amerika dikendalikan oleh lobi Yahudi) di Asia Tenggara sekaligus Israelnya Asia telah melakukan makar terhadap kaum muslimin khususnya Indonesia. Mungkin pembaca masih ingat tudingan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew akan bahaya Islam Indonesia bagi Israel juga tudingannya bahwa Indonesia sarang teroris.

Kesimpulan
Dengan adanya keterkaitan yang erat antara Singapore Technologies Telemedia dengan Vertex Management Israel, juga tingkah laku Singapura yang selalu menyudutkan Indonesia dan menjadi tempat menyimpan harta pelarian khususnya para penjahat ekonomi dan para koruptor, kemudian cara STT membeli Indosat dengan menggunakan ICL yang berpusat di Mauritius sehingga pemilik sebenarnya atas ICL tidak diketahui, cara pemerintah yang mentup-nutupi proses penjualan Indosat terhadap masyarakat, dan aspek strategis yang dimiliki Indosat, tekanan yang besar terhadap kaum muslimin Indonesia dan dunia dengan isu-isu memerangi teroris dan sekularisme yang bertujuan menghancurkan Islam, maka ada kemungkinan penjualan Indosat oleh pemerintah dan pembeliannya oleh STT merupakan suatu skenario besar yang sangat jahat (makar) yang dilakukan oleh pihak-pihak dari dalam dan luar negeri. Tujuannya dengan menguasai sistem informasi dan telekomunikasi di Indonesia, sehingga niat kaum kafir yang memusuhi Islam untuk menghancurkan gerakan-gerakan Islam, memalingkan umat dari Islam, dan melanggengkan penjajahan oleh negara-negara Kapitalis di negeri-negeri muslim menjadi semakin mudah.

Sesungguhnya kebijakan ekonomi yang diadopsi dari sistem kapitalis seperti privatisasi (penjualan aset-aset negara), perdagangan bebas, utang luar negeri, pencabutan subsidi untuk masyarakat, mengambil alih (bail out) utang swasta, mensubsidi bank-bank ribawi dengan dalih penyelamatan ekonomi, merupakan bagian dari makar dan tipu daya kaum kafir dengan menggunakan tangan IMF dan Bank Dunia untuk menghancurkan kaum muslimin hingga kita mengikuti apa kehendak mereka.

Hendaklah kita benar-benar mencamkan peringatan Allah sejak 1400 tahun yang lalu di dalam kitab suci Al Quran. Antara lain “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. “¦” (TQS. Al Baqarah: 120). “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. “¦ (TQS. Ali “˜Imran: 54).

Dengan terungkapnya fakta ini maka sudah seharusnya kita (kaum muslimin) meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan ukhuwah Islamiyah, dakwah semakin digencarkan untuk menyadarkan dan mengembalikan kaum muslimin kepada Islam, dan penerapan syariat Islam termasuk dalam bidang ekonomi yang tidak lain untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan dan belenggu makar serta penjajahan bangsa-bangsa asing kapitalis. Wallahu’alam bishawab.

Author: Admin

Share This Post On

1 Comment

  1. Syukran jiddan atas informasinya. Tetap tegakkan dakwah untuk membuka cakrawala ummat…

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *