Upah Riil Buruh Semakin Lemah

Uang Habis untuk Ongkos dan Kontrak Kamar

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA / Kompas Images
Refleksi proyek pembangunan gedung perkantoran di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu (2/4). Bergulirnya sejumlah proyek di Jakarta ikut menyerap jumlah tenaga kerja, terutama bagi para buruh lepas harian yang berpendidikan rendah.
KompasKamis, 3 April 2008 | 01:13 WIB

Jakarta – Kenaikan laju inflasi semakin menekan nilai riil upah buruh. Oleh karena itu, pemerintah harus secepatnya merealisasikan berbagai program intervensi yang bisa meningkatkan kesejahteraan buruh secara tidak langsung, misalnya membangun rumah murah untuk pekerja.

“Hampir 40 persen dari upah habis untuk biaya transportasi dan perumahan sehingga jika buruh bisa memiliki rumah sendiri di dekat lokasi kerja, semakin besar bagian yang bisa ditabung. Cara ini lebih mudah ditempuh ketimbang mendesak perusahaan menaikkan upah karena tidak semua perusahaan memiliki pertumbuhan usaha yang baik juga,” kata Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (K-SBSI) Rekson Silaban di Jakarta, Rabu (2/4).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, upah riil buruh pada Januari 2008 turun dibandingkan Januari 2007. Untuk triwulan III-2007 dibandingkan triwulan III-2006, upah riil buruh rokok turun 28,05 persen dan buruh pakaian jadi 13,07 persen.

Secara nominal, rata-rata upah buruh industri pakaian jadi tercatat Rp 762.817 per bulan atau turun 7,02 persen dibandingkan upah nominal triwulan III-2006.

Selama ini pengusaha mengupah buruh berdasarkan ketentuan upah minimum regional (UMR) yang ditetapkan pemerintah daerah. UMR ditetapkan sekitar 80 persen dari nilai kebutuhan hidup layak dengan alasan kondisi ekonomi.

Seperti yang dialami Puji (39), buruh pabrik tekstil di Kawasan Berikat Nusantara Cakung, Jakarta Utara. Meski bergaji Rp 900.000 per bulan, dia menghabiskan sedikitnya Rp 400.000 per bulan untuk mengontrak rumah ukuran 3 x 4 meter persegi di Kelurahan Pulo Gebang, Jakarta Timur, dan ongkos angkutan ke tempat kerja. Adapun upah minimum DKI Jakarta tahun 2008 adalah Rp 972.604, naik dari Rp 900.560 per bulan.

Soal perumahan, pemerintah sudah meluncurkan Program Percepatan Pembangunan Perumahan Pekerja untuk Kesejahteraan Pekerja (P5KP) mulai 28 Januari 2008. Sebanyak 200.000 unit rumah akan dibangun dalam dua tahun untuk pekerja berpenghasilan di bawah Rp 4,5 juta per bulan.

Orientasi pasar

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ernovian G Ismy berpendapat, penurunan upah riil banyak dialami buruh yang bekerja pada industri pakaian jadi yang berorientasi ke pasar dalam negeri.

“Industri pakaian jadi yang berorientasi ekspor masih berjalan baik, full order. Namun yang orientasinya ke pasar dalam negeri memang makin tergerus,” ujar Ernovian.

Pada industri pakaian jadi, upah nominal buruh dapat terpangkas ketika permintaan menurun. Pengurangan produksi membuat buruh kehilangan upah lembur.

“Sebenarnya dalam kondisi sulit, pemerintah perlu mendukung industri untuk bisa lebih bersaing di pasar domestik. Kalau industri berjalan lebih baik, kesejahteraan buruh juga akan lebih baik,” kata Ernovian. (ham/DAY/lkt)

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *