Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam

Download Versi Lengkap JURNAL ini

oleh: M. Hatta

RINGKASAN

INFLASISebelas tahun sudah Asia Tenggara khususnya Indonesia[1] melewati sebuah peristiwa ekonomi yang telah membuka mata dan pikiran semua pihak betapa rapuhnya bangunan ekonomi yang dibangun. Setelah sebelumnya mendapat julukan sebagai The East Asian Miracle dan macannya Asia (Asian tiger), tidak lama berselang terjadilah guncangan (shock) ekonomi yang berawal dari sisi moneter. Dari sisi nilai tukar (exchange rate), pada tanggal 18 januari 1998 rupiah mencapai puncak kejatuhannya dengan menembus angka Rp. 16.000 per 1 dolar AS.[2] Dari sisi inflasi, angka inflasi mencapai 77,60 % dan PDB -13,20 %.[3]

Bagaimana dengan kondisi ekonomi saat ini? Kondisi ekonomi Indonesia pada tahun 2007 secara umum berada dalam tekanan krisis pada sektor properti (kredit macet subprime mortgage)[4] yang terjadi di Amerika Serikat serta melambungnya harga minyak dunia yang mencapai US $100 per barrel[5] dan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.[6]

Sebagaimana halnya di tahun 2007, kondisi makroekonomi Indonesia pada tahun 2008 masih tetap dalam tekanan krisis subprime mortgage yang masih terus berlanjut di AS bahkan ada kecendungan untuk semakin gawat,[7] berpotensinya harga minyak dunia mengalami kenaikan yang tajam,[8] masih berlanjutnya perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.[9] Serta dikeluarkannya keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM sekitar 28,5 % yang sudah dapat dipastikan berimplikasi kepada kenaikan harga-harga barang.[10] Walaupun kondisi ekonomi Indonesia masih menunjukkan stabilitas yang terjaga,[11] faktor-faktor eksternal di atas akan sangat mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar dan pencapaian target inflasi di tahun 2008 ini.[12] Hal ini tentu saja akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sektor riil.

Keberadaan permasalahan inflasi dan tidak stabilnya sektor riil dari waktu ke waktu senantiasa menjadi perhatian sebuah rezim pemerintahan yang berkuasa serta otoritas moneter.[13] Lebih dari itu, ada kecendrungan Inflasi dipandang sebagai permasalahan yang senantiasa akan terjadi.[14]

Hal ini tercermin dari kebijakan otoritas moneter dalam menjaga tingkat inflasi. Setiap tahunnya otoritas moneter senantiasa menargetkan bahwa angka atau tingkat inflasi harus diturunkan menjadi satu digit atau inflasi moderat.[15]

Dengan paradigma berpikir seperti itu, otoritas moneter dalam upayanya menyelesaikan permasalahan inflasi cenderung “berkutat” pada bagaimana menurunkan tingkat inflasi yang tinggi, bukan berpikir bagaimana agar inflasi tidak terjadi.[16]

Upaya otoritas moneter mengendalikan iflasi memang sangatlah beralasan. Terutama disebabkan dampak inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari segi biaya, biaya yang harus ditanggung pemerintah dengan adanya inflasi sangatlah besar.[17] Terjadinya inflasi dapat mendistorsi harga-harga relatif, tingkat pajak, suku bunga riil, pendapatan masyarakat akan terganggu, mendorong investasi yang keliru, dan menurunkan moral.[18] Maka dari itu, mengatasi inflasi merupakan sasaran utama kebijakan moneter.[19]

Secara empirik, pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari krisis tahun 1997 – 1998 yang mengakibatkan terganggunya sektor riil. Krisis ini diawali dari krisis di sektor moneter (depresiasi nilai tukar rupiah dengan dolar) yang kemudian merambat kepada semua sektor tanpa terkecuali.[20] Tingkat Inflasi ketika itu sebesar 77,60 % yang diikuti pertumbuhan ekonomi minus 13,20 %.[21] Adapun terganggunya sektor riil tampak pada kontraksi produksi pada hampir seluruh sektor perekonomian. Tahun 1998, seluruh sektor dalam perekonomian (kecuali sektor listrik, gas, dan air bersih) mengalami kontraksi. Sektor konstruksi mengalami kontraksi terbesar yaitu 36,4 %. Disusul kemudian sektor keuangan sebesar 26,6 %.[22]

Inflasi sesungguhnya mencerminkan kestabilan nilai sebuah mata uang.[23] Stabilitas tersebut tercermin dari stabilitas tingkat harga yang kemudian berpengaruh terhadap realisasi pencapaian tujuan pembangunan ekonomi suatu negara, seperti pemenuhan kebutuhan dasar, pemerataan distribusi pendapatan dan kekayaan, perluasan kesempatan kerja, dan stabilitas ekonomi.[24]

Sebagaimana disebutkan di atas, kestabilan nilai mata uang sangat penting untuk dijaga yang merupakan cerminan dari inflasi. Maka timbul pertanyaan, bagaimana caranya menjaga kestabilan nilai mata uang kertas sekarang?

Sistem moneter dunia kini dikuasai fiat money yang sangat rentan dengan fluktuasi (Volatile[25]), kecuali beberapa negara yang menggunakan uang dwi-logam (dinar dan dirham).[26] Implikasi dari dominannya penggunaan fiat money, perjalanan perekonomian dunia senantiasa mengalami “pasang-surut”. Robert A Mundell, peraih nobel ekonomi, mengatakan ketika masyarakat dunia menggunakan fiat money, maka konsekuensi logisnya, mereka telah memasuki tahapan ekonomi baru: regime of permanent inflation atau inflasi abadi.[27] Hal yang sama juga dikatakan oleh William Cobbet dalam tulisannya yang berjudul Peper Againts Gold (1828). Ia mengatakan bahwa utang nasional dan inflasi adalah anak dari sistem uang kertas.[28]

Dalam rangka mengendalikan inflasi dan menjaga stabilnya nilai mata uang, Pemerintah dan otoritas moneter yang ada mengambil beberapa kebijakan baik dari segi moneter, fiskal, maupun sektor riil.[29] Dari segi moneter maka bank sentral akan menaikkan suku bunga dan pengetatan likuiditas perbank-kan, mengkaji efektivitas instrumen moneter dan jalur transmisi kebijakan moneter, menentukan sasaran akhir kebijakan moneter, mengidentifikasi variabel yang menyebabkan tekanan-tekanan inflasi, memformulasikan respon kebijakan moneter.[30]

Dari segi fiskal, pemerintah menerapkan kenaikan prosentase pungutan pajak, mengadakan pinjaman sukarela atau pinjaman paksa, memotong uang, membekukan sebagian atau seluruhnya simpanan-simpanan (deposito) pihak-pihak partikulir (bukan punya pemerintah) yang ada dalam bank-bank, serta penurunan pengeluaran pemerintah.[31]

Gambar 1. Dilema Kebijakan Pengendalian Inflasi dan

Akibat Buruk Fiat Money

Sumber: Diolah sendiri dari beberapa sumber

Tampak pada gambar di atas, tindakan BI, Pemerintah, dan Usaha Swasta dalam mengendalikan inflasi hanyalah sebatas menyentuh permasalahan teknis atau gejala (symptom) semata.

Sebaliknya, perpaduan kebijakan[32] yang digunakan menimbulkan krisis bertambah parah. Inilah sebuah dilema yang sampai saat ini belum terpecahkan sebagaimana secara jelas dikatakan oleh Samuelson dan Nordhaus. Bahkan mereka mengatakan kebijakan atau solusi yang ditawarkan oleh para ahli dalam memecahkan permasalahan inflasi dan pengangguran secara bersamaan justru menyebabkan efek sampingan yang lebih buruk dari penyakitnya itu sendiri.[33] Ini terjadi dikarenakan “obat” yang diberikan hanya sebatas menghilangkan penyakit bagian permukaan saja, sementara penyakit bagian dalamnya masih belum disembuhkan.[34]

Penyakit bagian dalam yang belum tersentuh oleh perpaduan kebijakan di atas adalah terkait dengan hakikat mata uang itu sendiri dan sistem yang melingkupinya[35] serta penyalahgunaan dari fungsi dasar uang sebagai alat tukar yang bertambah menjadi tidak hanya sebatas sebagai alat tukar, melainkan juga menjadi sebuah barang (komoditas) yang turut diperdagangkan dengan imbalan bunga (interest).[36]

Dari sini dapat disimpulkan bahwa, kehadiran kebijakan moneter alternatif (mata uang yang kuat dan stabil, serta kebijakan moneter yang tidak memunculkan dilema di sektor riil) yang mampu mengendalikan inflasi sudah sangat mendesak dibutuhkan dan segera diaplikasikan.

Dalam hal ini, Abdul Qadim Zallum (Pemimpin Ke 2 Hizbut Tahrir) dalam bukunya Sistem Keuangan di Negara Khilafah mengatakan bahwa, sistem moneter yang berbasis kepada emas dan perak merupakan satu-satunya sistem moneter yang mampu menyelesaikan problematika mata uang, menghilangkan inflasi besar-besaran yang menimpa seluruh dunia, dan mampu mewujudkan stabilitas mata uang dan stabilitas nilai tukar, serta bisa mendorong kemajuan perdagangan internasional.[37]

Untuk itu, penulis sangat tertarik untuk meneliti kebijakan moneter alternatif yang mampu mengendalikan inflasi menurut Hizbut Tahrir. Meskipun secara khusus, sebenarnya Hizbut Tahrir tidak pernah membuat konsep moneter Islam baik dalam buku, booklet, leaflet, dan publikasi-publikasi resmi Hizbut Tahrir lainnya, namun kebijakan moneter Hizbut Tahrir dapat dihimpun dan dianalisa dari pandangan Hizbut Tahrir tentang dinar & dirham sebagai mata uang, hukum jual beli mata uang asing, hukum pertukaran mata uang, hukum riba, hukum pasar modal, hukum perbankan, hukum pertukaran internasional.

Lebih lengkap download JURNAL ini telaah-singkat-pengendalian-inflasi-dalam-perspektif-kebijakan-moneter-islam


[1] Indonesia sudah mengalami krisis ekonomi sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 1940an (ketika penjajahan jepang), tahun 1965 (disaat ambruknya pemerintahan Bung Karno), ketiga pada tahun 1997 yang lalu. Lihat Wawancara Prof. Sumitro Djojohadikusumo, dalam http://www.tempo.co.id/har/ti/juni10-1.htm. Lihat juga Sejarah BI; Moneter, http://www.bi.go.id

[2] Ismail Yusanto. Mencari Solusi Krisis Ekonomi. Dalam buku Dinar Emas Solusi Krisis Moneter, cet. I (Jakarta: PIRAC, SEM Institute, Infid, 2001), hal. 3

[3] Staf Ahli Menneg PPN Bidang Ekonomi Perusahaan. Pengkajian dan Monitoring Pelaksanaan Penyehatan Perbankan, hal. 4

[4] Subprime mortgage adalah sebuah fasilitas kredit rumah yang diperuntukkan bagi kalangan masyarakat yang kemampuan ekonominya lemah. Oleh karenanya kredit ini mempunyai potensi gagal (default) bayar yang sangat tinggi. Lihat Kajian Stabilitas Keuangan No. 9, September 2007, hal. 16, http://www.bi.go.id

[5] Analisis faktor penyebab naiknya harga minyak dunia bisa dilihat di http://www.hizbut-tahrir.or.id, Soal Jawab Kenaikan Harga Minyak Dunia.

[6] Faktor lain yang membayangi kondisi makroekonomi Indonesia adalah tingginya arus capital inflow yang berjangka pendek (hot money). Lihat Ibid., Kajian Stabilitas Keuangan No. 9, September 2007, hal. 3

[7] A Tony Prasetiantono. Menuju Jurang Kebangkrutan. http://www.jurnal-ekonomi.org

[8] Kurtubi, Gejolak harga minyak dan APBN 2008. http://www.UNISOSDEM.org. Hal ini diperparah tren tingkat produksi (lifting) minyak cenderung terus menurun akibat lapangan-lapangan minyak yang ada sudah berusia tua sementara penemuan lapangan minyak baru (eksplorasi) semakin minim. Lihat Jurnal al Wa’ie No.92 Tahun VIII, 2008.

[9] SEACEN: Krisis Finansial AS Diyakini Tak Mampir ke Asia. http://www.detik.com

[10] Akibat Spekulan Harga Minyak Capai Rekor Baru US $ 135. http://www.jurnal-ekonomi.org

[11] Pernyataan Gubernur Bank Indonesia : Bi Rate Tetap 8,0%, No.10/ 8 /Pshm/Humas. http://www.bi.go.id

[12] Ibid., Target Bank Indonesia di tahun 2008 ini inflasi berada pada angka 4,5%.

[13] Bambang Kusumanto. Dapatkah Inflasi di Indonesia dijinakkan? Fiskal.depkeu.go.id. Kamis, 24 mei 2007

[14] T. Gilarso. Pengantar Ilmu Ekonomi Bagian Makro, cet. IX (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hal. 398.

[15] Pada tahun 1998 triwulan pertama ketika inflasi sebesar 20% maka BI segra mengambil kebijakan untuk menaikkan suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar 15%. Lihat Tony Prasetiantono, Efektivitas Rupiah Superketat, Majalah D&R, 04 April 1998.

[16] Riawan Amin, Mengendalikan atau Menghapus Inflasi, 18 Mei 2007, http://www.sebi.ac.id

[17] Besarnya biaya disinflasi (kebijakan untuk menurunkan tingkat inflasi) di Amerika pada periode 1980-1984 misalnya telah membebani negara sekitar $ 215 milyar kerugian output (dalam harga 1990) per satuan persentase pengurangan inflasi. Lihat Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus. Macro Economics (Makro Ekonomi), cet. XI (Jakarta; Erlangga, 2005), hal. 336

[18] Ibid., hal. 320. Lihat juga Dictionary of Economics, second edition, alih bahasa oleh Tumpal Rumapea, Posman Haloho. Penerbit Erlangga, 1994. hal. 303.

[19] Undang Undang No. 23 Th. 1999 Tentang Bank Indonesia mengamanatkan pencapaian kestabilan nilai rupiah, khususnya dalam bentuk inflasi, sebagai sasaran akhir kebijakan moneter Bank Indonesia. Conference on Monetary Policy and Inflation Targeting in Emerging Economies. http://www .bi.go.id

[20] Ismail Yusanto. Mencari Solusi Krisis Ekonomi, hal. 2

[21] Staf Ahli Menneg PPN Bidang Ekonomi Perusahaan. Pengkajian dan Monitoring Pelaksanaan Penyehatan Perbankan, hal. 4

[22] Deniey Adi Purwanto, Sudahkah Perekonomian Indonesia Keluar dari Krisis?

[23] Peranan Bank Indonesia Dalam Pengendalian Inflasi, 24 Mei 2007, http://www.bi.go.id

[24] Mulya E. Siregar. Manajemen Moneter Alternatif, dalam Buku Dinar Emas Solusi Krisis Moneter. Cet. I (Jakarta; PIRAC, SEM Institute, Infid, 2001), hal. 88

[25] Volatile sama dengan tidak stabil, rentan fluktuasi, atau nilainya gampang mengalami naik turun secara relatif dibandingkan dengan mata uang lainnya. Lihat M. Lutfi Hamidi. Gold Dinar (Sistem Moneter Global yang Stabil dan Berkeadilan), cet. I (Jakarta: Senayan Publishing, 2007), hal. 32

[26] Negara tersebut adalah Kuwait, Yordania, Tunisia, Bahrain, Iran dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Lihat, Benny, “Pengaruh Penggunaan Mata Uang Berbasis Emas (Dinar Kuwait) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Kuwait Tahun 1994-2003″, Skripsi: STIKER, Yogyakarta, hal. 11

[27] A. Riawan. Mengendalikan atau Menghilangkan Inflasi, http://www.sebi.ac.id

[28] Tarek El Diwany. The Problem with Interest (Sistem bunga dan Permasalahannya), cet. I (Jakarta: Akbar, 2003), hal. 53

[29] Peranan Bank Indonesia Dalam Pengendalian Inflasi, 24 Mei 2007, http://www.bi.go.id

[30] Ibid.,

[31] M. Manullang. Ekonomi Moneter, cet. XIII (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1993), hal. 93-96

[32] Di Indonesia, sinergi kebijakan dalam rangka antisipasi inflasi ini dituangkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang menyatakan pengendalian inflasi akan dilakukan dalam suatu forum yang dikoordinasi oleh Menko Perekonomian, yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur BI, Menteri Perdagangan, dan menteri-menteri terkait. Pembahasan yang lebih lanjut tentang sinergi kebijakan antara pemerintah dengan otoritas moneter dapat dibaca pada Iskandar Simorangkir. Koordinasi Kebijakan Moneter dan Fiskal di Indonesia: Suatu Kajian dengan Pendekatan Game Theory. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, vol. 9, no. 3, Januari 2007.

[33] Lihat Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus, Economic Macro (Makro Ekonomi), hal. 322. Dilema kebijakan moneter digambarkan oleh Kwik Kian Gie dengan pernyataan “Jangan sampai nilai tukar rupiah merosot walaupun sektor riilnya ambruk”, Lihat Kwik Kian Gie, Membengkaknya Sertifikat BI. Bisnis Indonesia, 4 maret 2007, dalam http://www.UNISOSDEM.org. Ketua Umum Kadin M.S. Hidayat memberikan keterangan perihal beban besar yang ditanggung BI dalam setahun untuk membiayai bunga dari SBI (sebesar 20 triliun) sejatinya dapat meningkatkan sektor riil yang cukup signifikan, lihat Gung Panggodo S, Menanti Trobosan di Sektor Keuangan. Bisnis Indonesia, 5 Maret 2007, dalam http://www.UNISOSDEM.org. Ibid., Ryan Kiryanto, Dana di SBI: Sebuah Dilema

[34] Pengendalian inflasi dalam perspektif al Qur’an, http://www.dwicondro.blogspot.com

[35] fractional reserve requirement, floating exchange rate, interest

[36] Lihat gambar 1. Ismail Yusanto. Mencari Solusi., hal. 3

[37] Abdul Qadim Zallum. Sistem Keuangan di Negara Khilafah, cet. I (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2002), hal. 239

Lebih lengkap download JURNAL ini telaah-singkat-pengendalian-inflasi-dalam-perspektif-kebijakan-moneter-islam

Author: Admin

Share This Post On

8 Comments

  1. Ass, apa kabar akhi hatta….ana ingin tahu email antum apa? biar bisa kirim2 email. syukron
    dari Sulaeman di sukabumi.

    Post a Reply
  2. kirimkan saya yang selengkapnya. Tanks

    Post a Reply
  3. saya dian.. skrg lg ambil skripsi..
    tentang ANALISIS PENGARUH KRISIS FINANSIAL GLOBAL TERHADAP NILAI TUKAR MATA UANG RUPIAH DI INDONESIA..
    ada masukan ga???
    bingung mau mulai dari mana..
    truzzz ama dosennya d suru cari jurnalll.. karena saya kerja.. susah buad perg k kampus cek d ruang data cma bisa browse gni..

    help me dunkkk…

    tQ bangett yaaa..

    Post a Reply
  4. tolond dong aku binggu mo cari judul sekripsi tentang pengaruh pengangguran terhadap inflasi. pusing nich… ku butuh untuk referensi….

    Post a Reply
  5. Ya mba. Problem utamanya adalah menemukan masalah penelitian dulu yang pas dengan topik yang mba harapkan. Judul belakangan.

    Misalnya, 1) Bagaimana dampak PHK akibat krisis global 2008/2009 di Indonesia terhadap daya beli buruh/tenaga kerja? 2) Bagaimana pengaruh perubahan daya beli tersebut terhadap inflasi ditinjau dari sisi permintaan?

    Semoga sukses.

    Salam,
    Hidayatullah Muttaqin

    Post a Reply
  6. 1.saya mau kasih tau judul yang mas HiayatullahMuttaqin cari,yaitu ….Dampak kemajuan di bidang teknologi dan informasi perubahan zaman modern ,sehingga terjadi ,krisis di dalam kehidupan masyarakat.2.dampak kemajuan inilah yang menjadi persoalan di dalam kehidupan masyarakat sehingga,banyak orang yang hidup di dalam pengangguran ,artinya yang berpendidikan mendapat pekerjaan,yang tidak berpendidikan tidak mendapat pekerjaan,persoalan itu,kalau mas mau tau.

    Post a Reply
  7. Ass.
    MAaf ustas… jadi bila saya memikirkan… bIla harga barang naik dengan disesuaikan dengan nilai dollar misalnya, dengan tanda kutip kualitas barang yang sama/diusahakan sama juga… itu tidak berpengaruh sama sekali pada perkembangan ekonomi di Indonesia yach…
    Wahhh… PAdahal sekarang diupayakan daerah tertinggal/terisolasi untuk membangun..

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *