Tanpa Malu Mengakui Keberhasilan

NASIONAL: Pemilu

Oleh Hidayatullah Muttaqin

Foto: Antara

Foto: Antara

Kampanye terbuka dalam rangka pemilihan umum anggota legislatif telah dibuka. Pengakuan demi pengakuan akan keberhasilan dan bahwa mereka (politisi dan partai politik) terbukti berhasil meluncur dengan derasnya khususnya melalui iklan di media massa.Termasuk klaim keberhasilan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dalam kampanye perdana Presiden¬† untuk Partai Demokrat di Jakarta kemarin (20/3), menyatakan “keberhasilan” pemerintahannya. SBY mengatakan:

“Dengan jujur, hati terbuka, dan obyektif, tidakkah kita rasa keamanan dan stabilitas di seluruh Indonesia kian baik? Keamanan di Aceh, Poso, Maluku, Papua, dan di seluruh Indonesia terus membaik. Maukah kita keamanan kita makin mundur dan makin memburuk? Jawabnya tidak!”

Klaim Presiden SBY ini pada kenyataannya tidak sesuai di lapangan. Dengan sistem hukum Barat, tatanan sosial masyarakat yang sekuler, dan kepemimpinan negara yang carut marut, masyarakat saat ini justru merasakan mahalnya harga keamanan di dalam negeri. Setiap hari kita menyaksikan aksi kriminalitas yang semakin sadis yang tidak pernah dijumpai, termasuk pada saat puncak krisis ekonomi dan sosial Indonesia tahun 1998.

Dalam kampanyenya, Presiden SBY juga menyampaikan keberhasilannya di bidang hukum, perekonomian, kesejahteraan rakyat, dan posisi Indonesia di tingkat internasional. Namun, pada masa pemerintahannya yang sangat pro Amerika dan Kapitalisme pula kehidupan rakyat semakin tertekan dan menderita. Tidak pernah ada ribuan orang berdesakkan untuk mendapatkan uang zakat 10-30 ribu hingga menewaskan puluhan dhuafa kecuali di zaman pemerintahan saat ini. Tidak pernah ada juga puluhan ribu rakyat mengantre pengobatan “dukun kecil” Ponari yang mencerminkan parahnya kondisi masyarakat kecuali di zaman SBY.

Klaim demi klaim keberhasilan SBY dan Partai Demokrat sudah dikampanyekan sejak tahun lalu. Dalam situs PresidenSBY.info juga dimuat indikator-indikator keberhasilan ekonomi pemerintahan SBY yang isinya hanyalah “manipulasi” teknik penyajian data.

Grafik: Presidensby.info

Pada berita dengan judul 10 Tahun Terakhir yang Membanggakan, Presiden SBY misalnya mengklaim terus turunnya utang pemerintah Indonesia.

Klaim ini disajikan dalam bentuk grafik yang terus menurun. Namun penyajian data ini sangat manipulatif, sebab Presiden SBY bersama timnya menyajikannya dengan menghitung rasio antara utang pemerintah dengan nilai PDB.

Dua permasalahan yang disembunyikan dari klaim ini, pertama, tidak dijelaskan komposisi kepemilikan atau kontribusi pemerintah dan warga negara Indonesia terhadap PDB dan berapa nilai yang termasuk kepemilikan asing.

Kedua, Utang nominal pemerintah Indonesia tidak disebutkan. Jika dihitung berdasarkan nominal utang pemerintah, maka jumlah utang negara kita terus membengkak. Bahkan cicilan utang tahun ini adalah yang terbesar. Dalam APBN 2009, pemerintah menganggarkan Rp 110 trilyun uang rakyat hanya untuk membayar cicilan bunga utang, sedangkan secara keseluruhan nilai pembayaran utang pemerintah mencapai Rp 172 trilyun. Jumlah ini mencakup 20,3% porsi penerimaan negara tahun 2009.

Pada dasarnya pengakuan klaim keberhasilan atau pun rayuan-rayuan janji-janji dilakukan oleh banyak partai bukan saja Partai Demokrat dan SBY. Misalnya klaim keberhasilan soal beras diklaim oleh Partai Demokrat, Golkar, dan PKS. Ini menunjukkan siapaun yang pemenang pemilu atau yang mendominasi parlemen dan pemerintahan, hasilnya sama saja bagi negeri ini. Yakni tetap dibelenggu sistem Kapitalisme dengan ketundukan terhadap negara-negara asing khususnya Amerika. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]

REFERENSI BERITA

Kompas (21/3/2009), Kampanye Parpol: SBY Sampaikan Keberhasilannya.

PresidenSBY.info, 10 Tahun Terakhir yang Membanggakan,

Jurnal Ekonomi Ideologis (16/3/2009), Indonesia Terlilit Utang Kronis

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *