<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS &#187; Rupiah</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/tag/rupiah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 23:25:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Rupiah Melemah, Dinar Solusinya</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/16/rupiah-melemah-dinar-solusinya/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/16/rupiah-melemah-dinar-solusinya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 01:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANALISIS]]></category>
		<category><![CDATA[Dinar]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Rupiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=1532</guid>
		<description><![CDATA[<img align="left" title="Rupiah" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/07/rupiah-50rb.jpg" alt="" width="160" height="100" />Kurs Rupiah terhadap dollar Amerika terus merosot. Pekan lalu nilainya mencapai Rp 12.000/ dollar AS. Pergerakan rupiah yang curam ini cukup mengkhawatirkan meskipun penguatan dollar terjadi atas sebagian besar mata uang dunia (Kompas, 16/2/2009). Rupiah yang notabene mata uang kertas <i>inconvertible</i>memang memiliki potensi besar mengalami gejolak kurs. Kita membutuhkan mata uang yang aman dan terjaga nilainya, yakni mata uang dinar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><strong><img class="aligncenter" title="Rupiah" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/07/rupiah-50rb.jpg" alt="" width="300" height="204" /><br />
</strong></em>
</p>
<p style="text-align: left;"><em>oleh: <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></em></p>
<p>Kurs Rupiah terhadap dollar Amerika terus merosot. Pekan lalu nilainya mencapai Rp 12.000/ dollar AS. Pergerakan rupiah yang curam ini cukup mengkhawatirkan meskipun penguatan dollar terjadi atas sebagian besar mata uang dunia (Kompas, 16/2/2009)</p>
<p><strong>Konsep Mata Uang Kertas</strong></p>
<p>Secara fisik, antara rupiah dengan dollar AS atau mata uang negara lainnya tidak memiliki perbedaan. Sama-sama terbuat dari kertas (<em>paper money</em>). Secara aturan dan konsep, mata uang dunia pada saat ini adalah mata uang kertas <em>inconvertible</em>. Yakni mata uang yang tidak mendapatkan jaminan sama sekali. Yang menjamin hanyalah undang-undang yang diterbitkan oleh suatu negara.</p>
<p>Undang-undang memaksa warga negara untuk menerima mata uang ini sebagai alat tukar resmi meskipun antara nilai fisik dengan nilai nominalnya tidak setara. Setiap pencetakan mata uang kertas tidak disertai <span style="text-decoration: underline;"><em>back up</em> </span>logam mulia seperti emas. Sehingga bank sentral sebuah negara dapat menciptakan uang dari sesuatu yang tidak bernilai.</p>
<p><strong>Uang yang tidak Aman</strong></p>
<p>Dengan pencetakan uang kertas ini warga negara mengalami kerugian. Sebab untuk mendapatkan uang mereka harus melakukan pengorbanan. Kemudian nilai mata uang yang mereka pegang setiap tahun merosot akibat inflasi.</p>
<p>Dalam kondisi tertentu, nilai mata uang mereka semakin merosot jika kurs tukar mata uang lokal -<em>seperti rupiah</em>- terhadap mata uang asing -<em>seperti dollar AS</em>- anjlok. Bahkan dalam keadaan inflasi tinggi dan kejatuhan kurs, kekayaan riil yang dimiliki warga negara atas mata uang yang mereka pegang merosot drastis. Jelas memegang mata uang kertas <em>inconvertible</em> tidak aman dan penuh dengan ketidakpastian. Ini sangat tidak adil.</p>
<p><strong>Imperialisme Moneter</strong></p>
<p>Dalam perspektif global, sistem mata uang kertas <em>inconvertible</em> merupakan wujud imperialisme moneter. Sebab nilai tukar antar negara tidak sama, bahkan mengalami perbedaan yang sangat tajam. Dengan perbedaan ini -<em>walaupun fisiknya tidak berbeda</em>- sebuah negara yang mata uangnya mendominasi transaksi global dapat menjajah dunia.</p>
<p>Amerika misalnya, dapat mencetak mata uang dollar dalam jumlah besar kemudian membanjirinya di pasaran dunia dengan mengimpor bahan mentah, minyak, dan barang-barang olahan. Sementara negara-negara yang menjual produk ke Amerika hakikatnya hanya mendapat kertas belaka.</p>
<p>Melalui dollar Amerika juga dapat membayar orang, LSM/organisasi, dan penguasa suatu negara untuk melakukan sesuatu yang diinginkan Amerika (seperti LSM-LSM komprador asing yang menjual agama dan rakyat Indonesia untuk mendapatkan dollar Amerika). Amerika juga dapat mengikat negara lain dalam penjajahannya dengan membuat perangkap hutang.</p>
<p><strong>Dinar Solusi yang Pas</strong></p>
<p>Ketidakpastian, ketidakamanan,<strong> </strong>ketidakadilan semestinya mendorong kita semua untuk mengadopsi sistem mata uang yang kuat dan universal. Mata uang dinar, yakni mata uang yang terbuat dari emas merupakan solusi atas permasalahan mata uang kertas <em>inconvertible</em>.</p>
<p>Mata uang dinar nilai nominalnya setara dengan nilai intrinsiknya sehingga siapapun yang memegang dinar maka dia tidak dirugikan. Mata uang dinar juga memiliki sifat universal, karena seluruh penduduk dunia memandang emas sebagai barang yang memiliki nilai tinggi. Dinar menjamin kepastian nilai dan transaksi dalam ekonomi.</p>
<p><strong>Syariat Dinar</strong></p>
<p>An-Nabhani menjelaskan 5 alasan mengapa dinar menjadi mata uang sah dalam Islam.</p>
<p><em>Pertama</em>, ketika Islam melarang praktik penimbunan harta (<em>kanzul mal</em>), maka yang dimaksud harta yang dilarang ditimbun oleh syara adalah emas dan perak padahal harta meliputi semua barang yang dapat dijadikan kekayaan.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak, serta tidak menafkahkannya di jalan Allah (untuk jihad), maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapatkan) azab yang pedih.&#8221; </em>(QS. at-Taubah: 34)</p>
<p><em>Kedua</em>, Islam mengaitkan emas dan perak dengan hukum-hukum yang baku dan tidak berubah-ubah. Islam menentukan pembayaran <em>diyah</em> dalam ukuran emas. Islam juga mewajibkan diterapkannya hukum potong tangan jika seseorang mencuri harta yang nilainya juga diukur dengan emas.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Bahwa di dalam (pembunuhan) jiwa itu terdapat diyat berupa 100 unta &#8230; dan terhadap pemilik emas, (ada kewajiban) sebanyak 1.000 dinar.&#8221; </em>(HR an-Nasa&#8217;i, dari Amru bin Hazem).</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Tangan itu wajib dipotong, (apabila mencuri) 1/4 dinar atau lebih.&#8221;</em> (HR Bukhari, dari Aisyah)</p>
<p><em>Ketiga</em>, Rasulullah SAW telah menetapkan emas dan perak sebagai mata uang dan menjadikannya standar uang<em></em>. Pada masa Rasulullah, penduduk biasa melakukan jual beli dengan alat pembayaran emas dan perak, dan Rasul pun membiarkannya (maksudnya tidak melarang).</p>
<p><em>Keempat</em>, ketika Allah SWT mewajibkan pembayaran zakat uang, maka kewajiban tersebut ditetapkan dalam bentuk emas dan perak dengan nishab yang dinilai dengan ukuran emas dan perak.</p>
<p><em>Kelima</em>, hukum-hukum tentang pertukaran mata uang dalam Islam ditetapkan hanya dengan emas dan perak.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Emas dengan mata uang (bisa terjadi) riba, kecuali sama-sama sepakat.&#8221;</em> (HR Bukhari)</p>
<p><strong>Dinar Syar&#8217;i</strong></p>
<p>Dinar syar&#8217;i adalah komponen fisiknya yang murni terbuat dari emas dan bobotnya sesuai dengan ketentuan syara, yakni setiap timbangan emas yang beratnya 4,25 gram nilainya mencapai satu dinar.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Kita membutuhkan mata uang yang nilainya stabil dan universal. Mata uang dinar merupakan mata uang yang aman untuk dimiliki. Mata uang dinar pernah diterapkan pada masa Rasulullah dan Khilafah. Karena itu dinar merupakan solusi atas permasalahan mata uang dan untuk menerapkannya kita harus memiliki sistem yang kuat yakni sistem Khilafah. Dengan cara ini pula kita melepaskan diri dari penjajahan moneter. Insya Allah &#8230; []</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong><em>REFERENSI</em></strong></p>
<p>An-Nabhani, Taqiyuddin (2002). <em>Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam</em>, Surabaya: Risalah Gusti.</p>
<p>Kompas (16/2/2009), <em>Mengapa Rupiah Tak Kunjung Menguat?.</em></p>
<p>Zallum, Abdul Qadim (2002). <em>Sistem Keuangan di Negara Khilafah</em>, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.<br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/pendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar/" title="Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar">Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/" title="PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang">PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/" title="Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen">Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/" title="AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika">AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/18/jangan-kambing-hitamkan-islam/" title="Jangan Kambing Hitamkan Islam">Jangan Kambing Hitamkan Islam</a></li>
</ul>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F02%2F16%2Frupiah-melemah-dinar-solusinya%2F&amp;linkname=Rupiah%20Melemah%2C%20Dinar%20Solusinya"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/16/rupiah-melemah-dinar-solusinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapapun Gubernurnya, Rupiah Tetap akan Menjadi Pecundang</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/siapapun-gubernurnya-rupiah-tetap-akan-menjadi-pecundang/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/siapapun-gubernurnya-rupiah-tetap-akan-menjadi-pecundang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 04:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[M. Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[Rupiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/siapapun-gubernurnya-rupiah-tetap-akan-menjadi-pecundang/</guid>
		<description><![CDATA[oleh: <b>M. Hatta</b><br />Bank Indonesia kembali melaksanakan pemilihan gubernur. Harapan publik terhadap gubernur BI yang akan terpilih adalah yang mampu mengawal BI dalam menjaga stabilitas nilai rupiah. Sebagai sebuah harapan tidaklah salah kiranya. Namun, akankah harapan itu dapat terwujud???

Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, ada beberapa hal yang sekiranya dapat membawa kita kepada jawaban yang tepat, yaitu: ....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span style="color: #800000;">MONETER</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal">oleh: <strong>M. Hatta</strong> *</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal">
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Bank Indonesia kembali melaksanakan pemilihan gubernur. Harapan publik terhadap gubernur BI yang akan terpilih adalah yang mampu mengawal BI dalam menjaga stabilitas nilai rupiah. Sebagai sebuah harapan tidaklah salah kiranya. Namun, akankah harapan itu dapat terwujud???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, ada beberapa hal yang sekiranya dapat membawa kita kepada jawaban yang tepat, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span lang="IN">Tugas BI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Sejak diterapkannya Undang-Undang </span><span lang="IN">Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia</span><span style="font-family: Verdana;"> </span><span lang="IN">disebutkan bahwa <span>tugas pokok BI berubah yaitu dari <em>multiple objective</em> (mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memelihara kestabilan nilai rupiah) menjadi <em>single objective</em> (mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah).<a title="_ftnref1" name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></span><span style="font-family: Verdana;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Dikatakan pula bahwa, <span>Sasaran akhir kebijakan moneter BI di masa depan pada dasarnya lebih diarahkan untuk menjaga inflasi. Pemilihan inflasi sebagai sasaran akhir sejalan pula dengan kecenderungan perkembangan terakhir bank-bank sentral di dunia, dimana banyak bank sentral yang beralih untuk lebih memfokuskan diri pada upaya pengendalian inflasi.<a title="_ftnref2" name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span lang="IN">Rupiah Sebagai Fiat Money</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Setelah kita mengetahui bahwa tugas utama BI adalah menjaga stabilitas nilai rupiah. Maka selanjutnya yang perlu kita ketahui adalah hakikat dari rupiah itu sendiri. Rupiah adalah termasuk ke dalam jenis uang kertas (fiat money), sama halnya seperti dolar dan Yen.<a title="_ftnref3" name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Hanya bedanya, apabila dolar AS dan Yen termasuk kedalam jenis hard currency, sedangkan rupiah adalah soft currency.<a title="_ftnref4" name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span lang="IN">3 lawan 1 </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN"><span> </span>Dalam menjaga stabilitas nilai Rupiah BI mempunyai sejumlah strategi, diataranya: menaikkan suku bunga dan pengetatan likuiditas perbank-kan, <span style="color: black;">mengkaji efektivitas instrumen moneter dan jalur transmisi kebijakan moneter, menentukan sasaran akhir kebijakan moneter, mengidentifikasi variabel yang menyebabkan tekanan-tekanan inflasi, memformulasikan respon kebijakan moneter.<a title="_ftnref5" name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri; color: black;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Di lain pihak, pemerintah juga memiliki strategi dalam mengawal rupiah, yaitu: menerapkan kenaikan prosentase pungutan pajak, mengadakan pinjaman sukarela atau pinjaman paksa, memotong uang, membekukan sebagian atau seluruhnya simpanan-simpanan (deposito) pihak-pihak partikulir (bukan punya pemerintah) yang ada dalam bank-bank, serta penurunan pengeluaran pemerintah.<a title="_ftnref6" name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Dari sisi non moneter juga diterapkan strategi untuk mengawal rupiah, yaitu: <span style="color: black;">Menaikkan hasil produksi, kebijaksanaan upah, pengawasan harga dan distribusi barang.<a title="_ftnref7" name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri; color: black;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal" align="center"><strong><span style="font-size: 10pt" lang="IN">Gambar Dampak tidak adanya nilai intrinsik yang dikandung Fiat Money</span></strong></p>
<p><a title="hatta-fiatmoney.gif" href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/02/hatta-fiatmoney.gif"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/02/hatta-fiatmoney.gif" alt="hatta-fiatmoney.gif" width="621" height="709" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; line-height: normal"><span style="font-size: 10pt" lang="IN"><em>Sumber: Diolah Sendiri</em></span><strong><span style="font-size: 10pt" lang="IN"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Namun, walaupun sudah menggunakan strategi multi kebijakan rupiah masih sangat sulit untuk dikontrol. Terbukti setiap tahun, BI dan Pemerintah senantiasa dipusingkan dengan begitu mudahnya nilai rupiah terkoreksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Kondisi ini tentunya membuat kita bertanya, apa gerangan yang menyebabkan nilai rupaih mudah terkoreksi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span lang="IN">Fiat Money, Interest, Fractional Reserve Requirement<span> </span>(Three Pillars of Evil)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Riawan Amin dalam bukunya Satanic Finance, True Conspiracies mengatakan, bahwa tiga hal tersebut di ataslah akar dari segala penyebab gonjang-ganjingnya ekonomi dunia.<a title="_ftnref8" name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Tiga pilar setan tersebut semakin dikokohkan geraknya dengan adanya floating exchange rate system<a title="_ftnref9" name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> (sistem nilai tukar mengambang). Fiat money dengan tiga faktor pendukungnya semakin membuat fiat money mudah terjerumus menjadi<span> </span>Empat hal inilah sejatinya yang menjadi peneyebab kekacauan ekonomi dunia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Sebagaimana yang dapat kita lihat pada gambar 1 di atas, puncak atau akar dari segala permasalahan moneter adalah rupiah itu sendiri dan sistem per-bank-kan yang berlaku (interest, fractional reserve requirement) serta sistem nilai tukar mengambang. Tetapi, pemerintah dan dibantu BI hanya sebatas melakukan perbaikan pada tataran teknis semata. Dengan kata lain hanya mengatasi gejalanya (simtomp) saja, sedangkan akar dari penyakitnya sendiri tidak dilenyapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Dengan demikian, wajar apabila segala kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan BI hanya bersifat sementara keampuhannya. Selanjutnya akan kembali bergejolak seperti orang kerasukan setan (sebagaimana Al Qurâ€™an menyindir sistem ribawi). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">Dapatkah Gubernur BI yang baru menjaga nilai rupiah tetap stabil atau bahkan menjadikan rupiah mata uang yang kokoh sepanjang masa? Jawabnya tentu saja tidak. Karena akar masalahnya ada pada rupiah itu sendiri, bukan pada gubernurnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><span lang="IN">*Mahasiswa Magister Studi Islam UII, Yogyakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><em><span lang="IN">Wallahuâ€™alam bi ash-shawab</span></em></p>
<p><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<p id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a title="_ftn1" name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> <span style="color: black;">Peranan Bank Indonesia Dalam Pengendalian Inflasi, 24 Mei 2007, http://www.bi.go.id</span></span></p>
<p id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a title="_ftn2" name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> <em>Ibid.,</em></span></p>
<p id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a title="_ftn3" name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> Fiat money= mata uang yang diterbitkan oleh pemerintah yang tidak didukung atau dijamin oleh emas atau surat-surat berharga lainnya yang dipegang oleh pemerintah. </span></p>
<p id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a title="_ftn4" name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> Hard currency= suatu mata uang yang permintaannya kuat tetapi penawarannya sedikit di pasar valuta asing. Soft currency= suatu mata uang yang berada dalam tingkat permintaan yang lemah, tetapi dalam tingkat penawaran yang berlebihan pada pasar nilai tukar mata uang asing. Lengkapnya lihat Christoper Pass dan Bryan Lowes, Collins (Kamus Lengkap Ekonomi), cet. IX (Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 272 dan 610.</span></p>
<p id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a title="_ftn5" name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> <em>Ibid.,</em></span></p>
<p id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a title="_ftn6" name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> M. Manullang. Ekonomi Moneter, cet. XIII (Jakarta: Ghalia, 1993), hal. 93-96</span></p>
<p id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a title="_ftn7" name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> <em>Ibid., </em>hal. 96-98</span></p>
<p id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText"><a title="_ftn8" name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> A. Riawan Amin. Satanic Finance, True Conspiracies, cet. I (Jakarta: Celestial, 2007), hal. 13 </span></p>
<p id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a title="_ftn9" name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family: Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> Suatu mekanisme untuk mengkoordinasi nilai tukar (exchange rate) mata uang negara-negara yang meliputi nilai mata uang setiap negara yang diukur dengan nilai mata uang negara lain yang ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran mata uang di pasar valuta asing (foreign exchange rate). <em>Ibid., </em>Christoper Pass dan Bryan Lowes, Collins, hal. 241</span></p>
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/29/mengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i/" title="Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)">Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/20/mengontekstualkan-kapitalisme/" title="Mengontekstualkan Kapitalisme">Mengontekstualkan Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/01/%e2%80%98blame-the-victim%e2%80%99/" title="&#8220;Blame The Victim&#8221;">&#8220;Blame The Victim&#8221;</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/16/rupiah-melemah-dinar-solusinya/" title="Rupiah Melemah, Dinar Solusinya">Rupiah Melemah, Dinar Solusinya</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/12/18/pasar-derivatif-dan-cengkraman-kapitalisme/" title="Pasar Derivatif dan Cengkraman Kapitalisme">Pasar Derivatif dan Cengkraman Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/31/membongkar-kerusakan-teori-inflasi-moderat/" title="Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat">Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/07/16/bank-indonesia-laporan-perekonomian-indonesia-2007/" title="Bank Indonesia : Laporan Perekonomian Indonesia 2007">Bank Indonesia : Laporan Perekonomian Indonesia 2007</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/16/telaah-singkat-pengendalian-inflasi-dalam-perspektif-kebijakan-moneter-islam/" title="Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam">Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/14/kapitalisme-sekulerisme-penyebab-utama-kemiskinan/" title="Kapitalisme &#8211; Sekularisme Penyebab Utama Kemiskinan">Kapitalisme &#8211; Sekularisme Penyebab Utama Kemiskinan</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/12/benarkah-hukum-asal-muamalah-mubah/" title="Benarkah Hukum Asal Muamalah Mubah ?">Benarkah Hukum Asal Muamalah Mubah ?</a></li>
</ul>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2008%2F02%2F22%2Fsiapapun-gubernurnya-rupiah-tetap-akan-menjadi-pecundang%2F&amp;linkname=Siapapun%20Gubernurnya%2C%20Rupiah%20Tetap%20akan%20Menjadi%20Pecundang"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/siapapun-gubernurnya-rupiah-tetap-akan-menjadi-pecundang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
