Published September 24th, 2009
Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat
Posisi perekonomian di banyak negara saat ini mulai membaik dari sisi indikator permintaan dan pertumbuhan. Kondisi ini mendorong berbagai negara mendeklarasikan diri telah keluar dari resesi ekonomi. Namun di tengah deklarasi tersebut terdapat paradoks, yakni semakin bertambahnya jumlah pengangguran.
Di tengah krisis global, perekonomian Jerman pada kuartal pertama 2009 menciut 3,8%. Kondisi ini diperparah dengan membengkaknya defisit anggaran Jerman menjadi dua kali lipat dibandingkan defisit pada masa penyatuan Jerman.
Sejak resesi mulai menimpa AS pada Desember 2007 hingga sekarang, sudah 5,7 juta warga AS yang harus meninggalkan pekerjaannya. Kondisi ini menyebabkan jumlah pengangguran terakhir meningkat menjadi 13,7 juta orang.
Makin nampak saja kerusakan ekonomi dunia. Setelah berbagai laporan dan prediksi buruk tentang perekonomian dunia bermunculan baru-baru ini, kini giliran Micahel Camdessus, mantan Managing DirectorIMF menyatakan sikap “apatisnya” terhadap ekonomi dunia.
Kerasnya “hantaman” krisis global sudah dirasakan dunia sejak “meloncatnya” harga minyak mulai tahun 2007 lalu yang kemudian secara massive diikuti oleh kehancuran sistem keuangan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Dalam laporan terbaru Bank Dunia disebutkan ekonomi akan mengalami penciutan pertama sejak PD II.
Memburuknya perekonomian dunia sebagaimana laporan-laporan ekonomi terbaru yang dikeluarkan oleh berbagai negara, seakan-akan menjadi lebih suram dengan predeksi Nouriel Roubini. Menurut Roubini resesi global dapat berlanjut hingga akhir 2010. Hal ini disebabkan respon pemerintah dalam memperbaiki ekonomi “terlalu kecil, terlalu terlambat” kata Roubini.
Semakin dalam saja “luka” perekonomian dunia akibat “pukulan” krisis global. Setelah perekonomian AS mengalami kontraksi dan jumlah pengangguran membumbung, kini giliran perekonomian nomor dua dunia yang meradang. Defisit neraca transaksasi berjalan Jepang telah mencapai rekor baru, tertinggi sejak 1996.
Setelah bulan lalu pemerintahan Presiden Barack Obama mengeluarkan paket stimulus ekonomi senilai US$ 787 miliar yang menyebabkan sistem fiskal AS mengalami defisit terbesar sepanjang sejarah US$ 1,75 trilyun, Amerika dihadapkan pada kondisi perekonomian yang semakin suram.
Saat ini timbul perdebatan tentang apakah krisis global yang bersumbu dari gagalnya sistem keuangan Barat (akan) lebih hebat dari Depresi Besar -Great Depression- 1929 ataukah tidak? Dalam sebuah opini New York Times (16/2/2009) dipertanyakan apakah Amerika sudah memasuki depresi? Tentu saja dijawab oleh pemerintah Amerika Serikat TIDAK.
Biro Analisis Ekonomi (BEA) Amerika merilis laporan tentang semakin jatuhnya perekonomian Amerika Serikat. Dalam rilis yang berjudul Gross Domestic Product: Fourth Quarter 2008 (Preliminary), perekonomian AS pada kuartal IV mengalami kontraksi 6,2%. Pada kuartal III PDB AS anjlok 0,5%.








