<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS &#187; Politik Islam</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/tag/politik-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 23:25:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>Kesalehan Politik</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2007/08/21/kesalehan-politik/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2007/08/21/kesalehan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 15:31:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KUMPULAN ARSIP e-SYARIAH]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Kesalehan Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2007/08/21/kesalehan-politik/</guid>
		<description><![CDATA[POLITIK ISLAM Oleh: Hidayatullah Muttaqin Demokrasi adalah kesalehan politik. Politik minus demokrasi akan menjadi kotor dan membahayakan kemanusiaan. Demokrasi yang sejati berisi semangat kebebasan, kesejajaran, dan persaudaraan. (Abd Rohim Ghazali, Kompas 30 Desember 2006) Demokrasi saat ini merupakan istilah yang sangat populer dan dipahami oleh sebagian besar orang sebagai sistem yang ideal. Bahkan menurut Abd [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">POLITIK ISLAM</span></p>
<p>Oleh: <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 27pt; text-align: justify" align="left"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Demokrasi adalah kesalehan politik. Politik minus demokrasi akan menjadi kotor dan membahayakan kemanusiaan. Demokrasi yang sejati berisi semangat kebebasan, kesejajaran, dan persaudaraan. </span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(<strong>Abd Rohim Ghazali</strong>, Kompas 30 Desember 2006)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 59.25pt 0.0001pt 54pt; text-align: justify">
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Demokrasi saat ini merupakan istilah yang sangat populer dan dipahami oleh sebagian besar orang sebagai sistem yang ideal. Bahkan menurut Abd Rohim Ghazali demokrasi adalah kesalehan politik. Benarkah demokrasi adalah kesalehan politik ? Tulisan ini akan mengupas apa dan bagaimana kesalehan politik seharusnya.</span><span id="more-93"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesalehan diartikan ketaatan atau kepatuhan dalam menjalankan ibadah. Ibadah di sisi Allah SWT adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah ini meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk kehidupan dalam ranah politik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Kesalehan politik menunjukkan politik sebagai wahana aktualisasi ketaatan dalam menjalankan perintah Allah. Kesalehan politik bagi setiap muslim diwujudkan dengan memandang politik dalam kaca mata Islam dan menjadikan perintah dan larangan Allah (hukum Allah) sebagai standar aktivitas politiknya. </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Politik Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Makna politik tidak dapat dilepaskan dari urusan kekuasaan dan pemerintahan (lihat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>). Politik dalam perspektif sekularisme merupakan cara untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi (Muh. Zain: <em>Kamus Modern Bahasa Indonesia)</em>. Sehingga kekuasaan dalam perspektif ini sekedar alat untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi yang berputar pada urusan harta, wanita, dan kedudukan. Politik bahkan dimaknai suatu seni bagaimana merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan cara apa pun. </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Sebaliknya politik dalam perspektif Islam adalah pengaturan urusan umat baik di dalam negeri maupun di luar negeri (Abdul Qadim Zallum: Pemikiran Politik Islam). Hal ini berdasarkan hadis Nabi:</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan dia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya. </span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">(HR Bukhari dan Muslim). Bentuk dan wujud pengaturan urusan umat ini bersandar pada hukum Allah (syariat Islam). Sehingga berdasarkan pemahaman ini kekuasaan bukanlah tujuan tetapi sarana untuk mengatur urusan umat.</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><strong><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Demokrasi: Kesalehan Politik atau Kemungkaran Politik ?</span></strong></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Demokrasi merupakan suatu bentuk sistem pemerintahan oleh rakyat. Demokrasi dalam perkembangannya ditafsirkan dalam berbagai versi seperti demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, dan demokrasi sosialis. Pandangan kompromistik tentang demokrasi diajukan oleh David Held yang menggabungkan pemahaman liberal dan Marxis (sosialis). Menurutnya dalam demokrasi seharusnya setiap orang bebas dan setara menentukan kondisi kehidupannya. Menurut Georg Sorensen, demokrasi bersifat dinamis dan akan terus berkembang dengan berbagai jenis dan model demokrasi (Georg Sorensen: </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Demokrasi dan Demokratisasi</span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">). </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Terlepas berbagai macam defenisi demokrasi yang jenis dan modelnya akan terus berkembang, Abdul Qadim Zallum dalam bukunya </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Demokrasi Sistem Kufur</span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;"> menekankan intisari demokrasi meliputi (1) kedaulatan di tangan rakyat. Makna kedaulatan adalah rakyat sebagai sumber hukum. Rakyatlah yang membuat hukum dan perundang-undangan melalui wakil-wakilnya di badan legislatif. (2) Rakyat sumber kekuasaan, dimana rakyatlah menentukan siapa yang berhak menjadi pemimpin mereka. </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Dalam sudut pandang Islam, kedaulatan di tangan Allah SWT. Allah sajalah yang berhak menetapkan hukum bukan manusia. Perintah dan larangan Allah merupakan hukum yang mutlak ditaati dan diemban manusia. Dengan demikian demokrasi bertentangan dengan Islam, bahkan pertentangan ini bersifat mendasar dan memasuki ranah akidah apabila meyakini manusia sebagai sumber dan pembuat hukum bukan Allah. Sebab Allah berfirman dalam QS. al-Anâ€™am: 57 yang artinya </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œMenetapkan hukum itu hanyalah hak Allah,â€</span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;"> dan QS. al-Maidah: 44 yang artinya </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œBarang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.â€</span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Islam mengakui rakyat sebagai sumber kekuasaan. Sebab rakyatlah seharusnya yang mengangkat seorang penguasa melalui </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">baiâ€™at</span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">. Sedangkan dalam memilih penguasa caranya (</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">uslub</span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">) beragam, bisa digunakan teknik pemilu atau dengan cara lain yang disepakati. Tujuan rakyat memilih dan mengangkat seorang penguasa agar ada seorang pemimpin yang mengemban amanah mengatur urusan umat dengan syariat Islam.</span><span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Adapun nilai-nilai demokrasi yang diagung-agungkan seperti keadilan, kebebasan, persamaan dan persaudaraan tidak bersifat universal. Selama ini umat dipaksa secara intelektual untuk memahaminya bersifat universal (netral) yang tidak dipengaruhi oleh pandangan hidup. Tujuannya agar umat menerima demokrasi sebagai realitas sistem politik dan pemerintahan yang mutlak diadopsi karena tidak bertentangan dengan Islam. </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Setiap agama dan ideologi memiliki pandangan berbeda tentang nilai-nilai tersebut. Misalnya adil dalam perspektif Islam berarti mendudukkan suatu perkara berdasarkan hukum Allah, sebab Allah berfirman dalam QS. an-Nisa yang artinya </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œKemudian, jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah pada Allah (al-Qurâ€™an) dan Rasul-Nya (Sunnah)</span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">.â€ Dalam hal kebebasan, perbuatan manusia terikat pada hukum Allah. Maksudnya setiap sikap dan perilaku harus disandarkan pada syariat Islam. Apabila suatu bentuk perbuatan hukumnya haram, maka perbuatan tersebut tidak boleh dilakukan apalagi disebarkan. Jadi prinsip kebebasan malah bertentangan dengan perintah dan larangan Allah. </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Dengan demikian demokrasi bukanlah wujud kesalehan politik tetapi wujud kemunkaran politik karena secara prinsip bertentangan dengan Islam. Setiap konsep dan perbuatan yang bertentangan dengan hukum Allah merupakan kemunkaran, apalagi pertentangannya bersifat prinsip. </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><strong><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><strong><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Kesalehan Politik Seharusnya</span></strong></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Aktivitas politik merupakan aktivitas yang ditujukan untuk mengatur urusan umat baik dilakukan oleh penguasa negara maupun oleh warga negara. Terwujudnya kesalehan politik apabila penguasa menjadikan kekuasaan yang dimilikinya tunduk kepada hukum Allah. Kekuasaannya semata-mata sarana untuk beribadah kepada Allah dengan menjadikan akidah Islam sebagai dasar negara dan syariat Islam sebagai hukum dan sistem negara. Dengan syariat Islamlah ia mengatur urusan umat bukan dengan sistem yang lain seperti sistem demokrasi.</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Bagi warga negara aktivitas politik diwujudkan dengan melakukan koreksi terhadap penguasa apabila penguasa melakukan penyimpangan dari syariat Islam. Setiap penyimpangan dari syariat merupakan kemunkaran, sedangkan setiap orang beriman diwajibkan Allah untuk mengubah kemunkaran. Rasul bersabda: </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œSiapa saja melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya, dan apabila tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, dan apabila (masih) tidak mampu ubahlah dengan membenci (perbuatan) itu dalam hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya imanâ€ </span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">(HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Keberanian menentang kezaliman dan penyimpangan penguasa dari hukum Allah dengan berbagai resiko menghadang merupakan manifestasi dari kesalehan politik meskipun harus meregang nyawa. Rasul bersabda: </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œPenghulu syuhada adalah Hamzah dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim, menyerukan (kepadanya) untuk berbuat baik dan melarangnya (berbuat kemunkaran), kemudian ia dibunuhâ€ </span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">(HR. Hakim).</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Kesalehan politik muncul dari orang-orang yang memiliki kesadaran politik. Menurut Zallum dalam bukunya </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Pemikiran Politik Islam</span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">, kesadaran politik merupakan aktivitas mengamati dan memahami fakta dan peristiwa politik dalam sudut pandang Islam. Orang yang memiliki kesadaran politik setiap hari pemikirannya tercurah pada umat. Rasul bersabda: </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œBarang siapa yang bangun dan tidak memperhatikan urusan muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka (golongan muslimin)â€ </span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">(HR. Hakim dan al-Khatib).</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Kesalehan politik hanya lahir dari orang-orang yang berpegang teguh pada hukum Allah. Ia memahami hukum Allah adalah standar pemikiran dan perbuatan yang diaktualisasikan dalam aktivitas politik tanpa kompromi meskipun godaan kekuasaan, harta, dan wanita menghadang. Pola pikir dan sikapnya jauh dari pragmatisme, karena ia tidak mau akidah dan syariat Islam tergadai hanya untuk kepentingan keduniaan. Ia tidak mau aktivitas politiknya tunduk dan disesuaikan pada realitas politik yang bertentangan dengan syariat, apalagi menjadi bagian dari sistem politik demokrasi yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Realitas politik demokrasi yang cenderung kotor dan menghalalkan segala cara tidak menyebabkan dirinya lari dari permasalahan politik. Sebab urusan dan kepentingan umat hanya bisa direalisasikan dengan menundukkan realitas politik pada syariat. </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Ia berusaha mengubah sistem yang rusak dengan perjuangan politik. Untuk itu sudah semestinyalah perjuangan politik ini dilakukan dalam sebuah partai politik ideologis, yakni partai politik yang berasaskan akidah Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran: 104 yang artinya </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maâ€™ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.â€</span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Perjuangan politik dari sebuah partai politik ideolgis dilakukan dengan mengikuti </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">tariqah</span><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;"> (metode) perjuangan politik rasul. Yakni dengan membongkar dan membeberkan kerusakan sistem yang ada, menunjukkan pertentangannya dengan akidah dan syariat Islam kepada umat. </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin: 0cm -0.75pt 6pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-style: normal; font-family: Verdana;">Bersama partai politik ideologis, ia berusaha mengubah pandangan dan pemahaman umat tentang politik menjadi pandangan dan pemahaman yang Islami agar umat sadar dan bergerak untuk mengubah sistem yang rusak dan menggantinya dengan sistem yang Islami. Melalui partai politik ideologis ia melakukan perekrutan dan pembinaan agar umat memiliki kesadaran politik. Dengan cara inilah ia tidak hanya mewujudkan kesalehan politik bagi dirinya tetapi juga bagi umat.[]</span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p><h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/" title="PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang">PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/" title="Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen">Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/" title="AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika">AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/18/jangan-kambing-hitamkan-islam/" title="Jangan Kambing Hitamkan Islam">Jangan Kambing Hitamkan Islam</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/15/indonesia-diam-dengan-genosida-muslim-uighur/" title="Indonesia Diam dengan Genosida Muslim Uighur">Indonesia Diam dengan Genosida Muslim Uighur</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2007/08/21/kesalehan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
