<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS &#187; Pertamina</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/tag/pertamina/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 23:25:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>PLN, PERTAMINA, dan Grand Design Itu</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/07/15/pln-pertamina-dan-grand-design-itu/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/07/15/pln-pertamina-dan-grand-design-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 13:24:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[PLN]]></category>
		<category><![CDATA[Privatisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Syahrituah Siregar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[<img style="border: 2px solid black; margin: 2px;" title="grand-design-liberalisasi" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/07/grand-design-liberalisasi.jpg" alt="PLN, Pertamina, dan GRAND DESIGN" width="150" height="65" align="left"/><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Oleh : <strong>Syahrituah Siregar, SE, MA</strong></span><br />
Saat ini mungkin tak ada seorang pun, khususnya di Kalsel yang tidak kecewa dengan kinerja pelayanan dua perusahaan negara, PLN dan Pertamina. Listrik yang byar-pet dan kelangkaan BBM makin parah tak tentu arah. Sayangnya, banyak orang tidak tahu inti persoalan apalgi informasi yang tuntas kurang didapatkan.

Vonis masyarakat: PLN dan Pertamina sebagai perusahaan tak becus mengelola usaha. Pelayanan listrik dan pasokan BBM dilalaikan tanpa tanggung jawab. Ketidakprofesionalan ini membuat orang berharap pada swasta ataupun perusahaan daerah. Tapi, tahukah anda bahwa kondisi ini merupakan sebuah <i>GRAND DESIGN</i>?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/07/grand-design-liberalisasi.jpg"><img style="border: 2px solid black; margin: 2px;" title="grand-design-liberalisasi" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/07/grand-design-liberalisasi.jpg" alt="PLN, Pertamina, dan GRAND DESIGN" width="240" height="100" /></a></p>
<p><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Oleh : <strong>Syahrituah Siregar, SE, MA</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/07/grand-design-liberalisasi.jpg"><br />
</a>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org">Jurnal-ekonomi.org</a> :: Saat ini mungkin tak ada seorang pun, khususnya di Kalsel yang tidak kecewa dengan kinerja pelayanan dua perusahaan negara, PLN dan Pertamina. Listrik yang byar-pet dan kelangkaan BBM makin parah tak tentu arah. Sayangnya, banyak orang tidak tahu inti persoalan apalgi informasi yang tuntas kurang didapatkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Vonis masyarakat: PLN dan Pertamina sebagai perusahaan tak becus mengelola usaha. Pelayanan listrik dan pasokan BBM dilalaikan tanpa tanggung jawab. Ketidakprofesionalan ini membuat orang berharap pada swasta ataupun perusahaan daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Disisi lain, kedudukan PLN dan Pertamina sebagai BUMN, pelaksana kebijakan pemerintah, khususnya kementrian energi dan sumberdaya mineral, BUMN, dan BKPM kurang difahami. </span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Tidak seperti swasta yang semata <em>profit-oriented</em>, mereka juga mengemban amanah rakyat. Pertamina, selain menerapkan harga pasar BBM industri juga menyediakan BBM bersubsidi untuk rakyat. PLN menerapkan tarif dasar listrik (TDL) baik komersial maupun sosial. Tarif sosial saat ini dijual dengan harga sekitar Rp.620,-/kw padahal ongkos produksinya antara Rp.3000-4000,-/kw.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Dengan kebijakan ini setiap tahun dikeluarkan subsidi listrik dari APBN. </span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Disamping itu terdapat pula cross-subsidy dari PLN Jawa-Madura-Bali yang lebih komersial terhadap luar Jawa-Madura-Bali yang 95% konsumennya tarif sosial. Untuk tahun 2008 ini susbsidi untuk PLN Kalselteng sekitar Rp.2 Trilyun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Pertamina bukanlah penguasa migas di Indonesia karena 92% ladang minyak Indonesia dikuasai perusahaan asing. Itu sebabnya tanggung jawab menyalurkan BBM kerakyatan tidak sebanding dengan kedudukannya yang loyo disektor hulu. Pertamina tidak mampu tumbuh mapan, bahkan hanya menjadi makelar perminyakan samata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"><strong>ANDIL PEMERINTAH</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Apakah keawaman masyarakat dan tudingan yang hanya terfokus pada PLN dan Pertamina ini menjadi kekhawatiran bagi pemerintah? Jawabannya mungkin â€œtidakâ€ sebab ketidakpercayaan terhadap PLN dan Pertamina selaku monopolis sejalan dengan skenario penghapusan subsidi pemerintah. Masyarakat tanpa sadar telah mendukung program Unbundling (swastanisasi dan asingisasi) PLN dan mulai berkhayal membeli BBM dari SPBU-SPBU asing seperti Petronas, Shell, dan sebagainya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Bagi pemerintah polemik subsidi dan pasokan BBM nihil belaka. Berbagai dokumen telah dibuat menyelisihi prinsip kerakyatan dalam UUD 45 pasal 33. <em>Grand Design</em> kebijakan pembangunan tidak lagi berpihak pada rakyat tapi untuk mengabdi pada kepentingan asing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Dalam RPJM Nasional, Bab 34 tentang kesinambungan fiskal telah ditetapkan bahwa subsidi akan terus dikurangi dari 6,4% PDB tahun 2000 menjadi 0,3% pada 2009. Pasokan BBM bersubsidi semakin dikurangi sehingga makin langka. Semestinya justru harus ditambah menuruti perkembangan jumlah penduduk dan tingkat ekonomi. Kuota Premium bersubsidi Kalsel tahun 2007 adalah 311.506 kiloliter turun -14,5% pada 2008 menjadi 275.709 kiloliter. </span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Secara politik ekonomi ini menjadi jalan efektif tapi kejam untuk membiasakan rakyat menerima harga yang tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">UU Migas No 22 Tahun 2001 menegaskan liberalisasi sektor migas, harga BBM akan dilepas ke mekanisme pasar (pasal 28 ayat 2). Untuk itu secara sistematis disesuaikan menuju harga dunia dengan dalih pengurangan subsidi. </span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Meskipun UU ini telah digugurkan Mahkamah Konstitusi, pemerintah tetap ngotot menghadirkannya kembali dengan istilah-istilah lain seperti harga keekonomian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Menurut UU ini hak Pertamina sebagai pengecer tunggal di dalam negeri diakhiri pada 2005. Itu sebabnya telah ada lebih dari 40 perusahaan asing akan membuka 20.000 SPBU di seluruh Indonesia dengan harga standar internasional. Sebagai syaratnya, BBM bersubsidi pertamina harus dihapuskan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Pasal 22 ayat 1 sungguh aneh berbunyi: Badan Usaha atau Bentuk Usaha tetap wajib menyerahkan <em>paling banyak 25%</em> bagiannya dari hasil produksi minyak bumi dan atau gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ini artinya perusahaan migas yang didominasi asing tersebut hanya didorong untuk ekspor tanpa menjamin pasokan dalam negeri. Hal ini pula yang menyebabkan PLN kekurangan bahan bakar untuk pembangkitnya. Mesin <em>dual firing</em> milik PLN jika menggunakan gas hanya mengeluarkan biaya Rp.10 Trilyun, namun karena gas langka maka harus menggunakan minyak dengan biaya Rp.81 T.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Liberalisasi berakselerasi sejak berlakunya doktrin IMF, Letter of Intent (LoI) pada 1998. </span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Amerika kemudian masuk lewat USAID menyediakan utang dan membuat berbagai UU untuk proses liberalisasi. Program asistensi dalam kerangka reformasi sektor publik juga dilakukan misalnya lewat Country Assistance Strategy (WB), Country Assistance Plan (ADB), dan sebagainya. Itu sebabnya doktrin <em>Laizes Faire</em> (Pasar Bebas), Efisiensi (Komersialisasi) Sektor Publik, dan minimalisasi peran Pemerintah tertanam dalam dihati sanubari birokrat dan pendukungnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Dengan demikian, gonjang-ganjing listrik dan BBM hanyalah bagian dari skenario diatas. </span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">PLN dan Pertamina sengaja dikebiri untuk agar mandul dalam fungsinya untuk digntikan swasta asing pada saatnya. Kita dapat menimbang bagaimanakah akhirnya nasib rakyat. Wallahu aâ€™lam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/syahrituah-siregar.png"><img style="border: 1px solid black; margin: 5px; float: left;" title="syahrituah-siregar" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/syahrituah-siregar.png" alt="Syahrituah Siregar, SE, MA" width="60" height="67" /></a><span style="color: #800000;">Syahrituah Siregar adalah pengamat ekonomi dari Banjarmasin dan dosen program studi Ekonomi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat menyelesaikan pendidikan master di AS. Blog pribadi www.another-view.org</span></p>
<h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/" title="PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang">PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/" title="Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen">Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/obral-bumn-menanti-sby-boediono/" title="Obral BUMN Menanti SBY-Boediono">Obral BUMN Menanti SBY-Boediono</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/22/kuat-dugaan-privatisasi-untuk-pembiayaan-parpol/" title="Kuat Dugaan Privatisasi untuk Pembiayaan Parpol">Kuat Dugaan Privatisasi untuk Pembiayaan Parpol</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/20/hidayatullah-muttaqin-indonesia-for-sale/" title="Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale">Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/10/membangkitkan-ekonomi-umat/" title="Membangkitkan Ekonomi Umat">Membangkitkan Ekonomi Umat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/26/komentar-pemerintah-makin-provokativ-ada-apa/" title="Komentar Pemerintah Makin Provokativ, Ada Apa?">Komentar Pemerintah Makin Provokativ, Ada Apa?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/21/subsidi-bbm-dinikmati-orang-kaya-apa-maka-sebenarnya/" title="Subsidi BBM Dinikmati Orang Kaya, Apa Makna Sebenarnya?">Subsidi BBM Dinikmati Orang Kaya, Apa Makna Sebenarnya?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/18/fakta-dan-kebohongan-privatisasi-di-indonesia/" title="Fakta dan Kebohongan Privatisasi di Indonesia">Fakta dan Kebohongan Privatisasi di Indonesia</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/06/bom-privatisasi-indonesia-2008/" title="BOM Privatisasi Indonesia 2008 ">BOM Privatisasi Indonesia 2008 </a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/07/15/pln-pertamina-dan-grand-design-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
