<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS &#187; Perampokan Harta Negara</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/tag/perampokan-harta-negara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 23:25:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>Strategi Islam Mengatasi Perampokan Harta Negara [bagian III/habis]</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/03/14/strategi-islam-mengatasi-perampokan-harta-negara/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/03/14/strategi-islam-mengatasi-perampokan-harta-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 22:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Kejahatan Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Perampokan Harta Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Solusi Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2008/03/14/strategi-islam-mengatasi-perampokan-harta-negara/</guid>
		<description><![CDATA[Perampokan harta negara terjadi karena lemahnya kemampuan pemerintah mengelola negara. Faktor ini disebabkan oleh; 1) Ketundukan pemerintah pada kepentingan asing dan korporat, dan 2) ketiadaan konsep (fikrah) dan metode (thariqah) mengelola negara. Untuk mengatasi perampokan harta negara, strategi yang diterapkan adalah dengan menegakkan kemandirian negara dan penerapan syariat Islam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Perampokan harta negara terjadi karena lemahnya kemampuan pemerintah mengelola negara. Faktor ini disebabkan oleh; 1) </span><span dir="ltr"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Ketundukan pemerintah pada kepentingan asing dan korporat, dan 2) </span></span><span dir="ltr"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">ketiadaan konsep (<em>fikrah</em>) dan metode <em>(thariqah</em>) mengelola negara. Untuk mengatasi perampokan harta negara, strategi yang diterapkan adalah: </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"><span>1.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: 'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Menegakkan kemandirian</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"><span><span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: 'Times New Roman';"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Islam melarang penguasa negeri muslim memberikan kepercayaan kepada bangsa-bangsa kafir dan lembaga kepanjangan tangannya seperti IMF dan Bank Dunia, apalagi dengan menyerahkan pengaturan kebijakan politik ekonomi negara kepada mereka. Seorang penguasa laksana perisai yang dibelakangnya rakyat berlindung sehingga seharusnya negara mencegah intervensi asing. Untuk itu, kemandirian negara dan umat harus ditegakkan, memutus hubungan dengan negara dan lembaga penjajah, sdan menghentikan pinjaman luar negeri yang mereka berikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"><span>2.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: 'Times New Roman';"> </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Menerapkan syariat Islam </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Ketiadaan konsep dan metode untuk membangun negara menyebabkan pemerintah menjiplak Kapitalisme yang disodorkan Barat. Akibatnya, daya nalar mereka hampir-hampir tidak mampu menjangkau penjarahan asing atas sumber daya alam Indonesia, perampokan uang negara melalui sistem perbankan ribawi, penderitaan masyarakat akibat mengalami marginalisasi pembangunan. Untuk mengatasi hal ini, Islam mengatur beberapa syariat yang berkaitan dengan harta milik umum, kebijakan keuangan negara, dan kebijakan transaksi keuangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dari sisi kebijakan pengelolaan keuangan negara syariat Islam tidak memperbolehkan negara melakukan pinjaman ribawi. Sebagai alternatif sumber-sumber pembiayaan negara, Abdul Qadim Zallum mengklasifikasi sumber penerimaan negara ke dalam tiga pos, yakni pos harta milik negara (<em>faiâ€™</em> dan <em>kharaj</em>), pos harta milik umum, dan pos shadaqah.<a title="_ftnref1" name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Potensi sumber daya alam Indonesia merupakan sumber penerimaan negara yang sangat besar. Namun dalam APBN 2008 penerimaan SDA non migas hanya Rp 7,4 trilyun.<a title="_ftnref2" name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Hal ini disebabkan kepemilikan dan hasil-hasil SDA jatuh ke tangan swasta dan asing. Dalam syariat Islam, kekayaan SDA yang jumlahnya melimpah termasuk ke dalam harta milik umum sehingga negara tidak diperbolehkan menyerahkan kepemilikan SDA kepada swasta dan asing. Kekayaan SDA harus dikelola oleh negara dan hasil-hasilnya dimasukkan ke dalam pos harta milik umum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Contohnya, Kalimantan Selatan memiliki sumber daya batubara sebanyak 9,101 milyar ton dengan cadangan 1,867 milyar ton.<a title="_ftnref3" name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Eksploitasi tambang batubara oleh perusahaan swasta dan asing selama semester I 2007 telah menghasilkan penjualan sebesar US$ 1,43 milyar atau setara Rp 13,156 trilyun. Sementara royalti yang diterima pemerintah provinsi Kalsel yang telah ditetapkan pemerintah pusat dalam APBN 2007 hanya Rp 92,09 milyar.<a title="_ftnref4" name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ekspor batubara Kalsel semester I 2007 jauh melebihi penerimaan SDA non migas pemerintah pusat dalam APBN 2008. Dalam sistem keuangan negara Islam, nilai penjualan batubara sebesar US$ 1,43 milyar harus masuk ke kas negara dalam pos harta milik umum. Apabila data eksploitasi SDA di seluruh Indonesia dalam satu tahun dikumpulkan, kita akan menemukan dari SDA saja Indonesia sudah dapat membangun negeri ini tanpa HLN. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Untuk merealisasikan pengelolaan SDA, negara harus memiliki badan-badan yang berfungsi untuk menggali barang tambang, kemudian mengolahnya, menjualnya ke luar negeri, atau pun menyalurkan pemanfaatannya secara langsung kepada masyarakat. Badan-badan yang diperlukan untuk pelayanan publik juga harus dimiliki oleh negara. Karena itu syariat Islam melarang privatisasi BUMN dan investasi asing.</span></p>
<p><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dengan tegaknya kemandirian negara, hukum-hukum keuangan negara Islam, kepemilikan umum, dan pelarangan transaksi ribawi, maka tidak ada lagi jalan untuk merampok harta negara. Apabila terjadi pelanggaran pidana maka negara akan memberikan hukuman berat (<em>taâ€™zir</em>). Negara juga melarang pemberian hadiah dan suap kepada pejabat dan aparat negara.</span> [sebelumnya : <a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/perampokan-harta-negara-di-era-orde-baru/"><strong>Perampokan Harta Negara di Era Orde Baru bagian I</strong></a> dan <a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/26/perampokan-harta-negara-di-era-reformasi-bagian-ii/"><strong>Perampokan Harta Negara di Era Reformasi bagian II</strong></a>]</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Hidayatullah Muttaqin</span></strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">, dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> dan pengelola website <a href="http://www.jurnal-ekonomi.org/">www.jurnal-ekonomi.org</a></span> </span></p>
<p><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<p id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn1" name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Lihat Abdul Qadim Zallum, <em>Sistem Keuangan di Negara Khilafah,</em> (Al Amwal fi Daulah Al Khilafah), cet. i, alih bahasa Ahmad S. dkk, (</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bogor</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">: Pustaka Thariqul Izzah, 2002), hal. 13-15.</span></p>
<p id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn2" name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Nota Keuangan dan APBN 2008.</span></p>
<p id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn3" name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Tim Kajian Batubara Nasional Pusat Litbang Teknologi Mineral dan Batubara, <em>Batubara di Indonesia</em>, 2006.</span></p>
<p id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn4" name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Hidayatullah Muttaqin, <em>Berhijrah dari Ekonomi Sekuler: Menuju Kalsel yang Lebih Baik</em>, http://jurnal-ekonomi.org/2008/01/06/berhijrah-dari-ekonomi-sekuler-menuju-kalsel-yang-lebih-baik/</span></p>
<h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/26/perampokan-harta-negara-di-era-reformasi-bagian-ii/" title="Perampokan Harta Negara di Era Reformasi [bagian II]">Perampokan Harta Negara di Era Reformasi [bagian II]</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/perampokan-harta-negara-di-era-orde-baru/" title="Perampokan Harta Negara di Era Orde Baru [bagian I]">Perampokan Harta Negara di Era Orde Baru [bagian I]</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/09/bagaimana-ekonomi-islam-mensejahterakan-dunia/" title="Bagaimana Ekonomi Islam Mensejahterakan Dunia?">Bagaimana Ekonomi Islam Mensejahterakan Dunia?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/01/11/pembebasan-obligor-pembebasan-kapitalisme/" title="Pembebasan Obligor: Pembebasan Kapitalisme">Pembebasan Obligor: Pembebasan Kapitalisme</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/09/15/negara-sekuler-melindungi-penjahat-ekonomi/" title="Negara Sekuler Melindungi Penjahat Ekonomi">Negara Sekuler Melindungi Penjahat Ekonomi</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/03/14/strategi-islam-mengatasi-perampokan-harta-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perampokan Harta Negara di Era Reformasi [bagian II]</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/26/perampokan-harta-negara-di-era-reformasi-bagian-ii/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/26/perampokan-harta-negara-di-era-reformasi-bagian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 19:48:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[BLBI]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Kejahatan Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perampokan Harta Negara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/26/perampokan-harta-negara-di-era-reformasi-bagian-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Reformasi politik ekonomi oleh IMF menjadikan Indonesia sebagai ladang penjarahan. Parahnya penjarahan tersebut dilegalisasi oleh pemerintah dalam bentuk kepres dan disetujui oleh DPR. Sangat kuat indikasi kerja sama asing, korporat, politisi, birokrat, untuk melegalkan perampokan harta negara. Berbagai argumentasi liberal digunakan untuk membenarkan penjualan aset-aset negara dan pengkaplingan SDA.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Krisis ekonomi 1998 menjadi momentum perubahan untuk mengganti rezim Orde Baru dan pemberantasan korupsi kroni-kroni Soeharto. Namun datangnya era reformasi yang sangat dinanti-nantikan oleh mahasiswa dan masyarakat justru berbalik menjadi legalisasi perampokan besar-besaran uang negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Masuknya IMF ke Indonesia menjadi sumber malapetaka negeri ini. Melalui LoI yang ditandatangani Presiden Soeharto pada 15 Januari 1998, Direktur Pelaksana IMF Michael Camdessus mendapatkan komitmen pemerintah untuk mengambil alih seluruh hutang konglomerat di dalam negeri dan di luar negeri. Komitmen ini dituangkan dalam Keputusan Presiden (Kepres) nomor 24, 26, dan 27 yang diterbitkan pada akhir Januari 1998. Kepres ini merupakan landasan hukum penjaminan pemerintah atas segala kewajiban pembayaran bank umum dan program penyehatan perbankan nasional.<a title="_ftnref1" name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse; margin-left: 7.2pt; margin-right: 7.2pt" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 230.4pt" colspan="2" width="384" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Konglomerat   Penerima BLBI</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 158.4pt" width="264" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Nama</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Jumlah   Dana BLBI </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(Rp   trilyun)</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 158.4pt" width="264" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Syamsul Nursalim (BDNI)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Soedono Salim (BCA)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Usman Admajaya (Bank Danamon)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bob Hasan (BUN)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Hendra Rahardja (BHS)</span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">37,040</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">26,596</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">23.050</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">12,068</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">3,866</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"><span> </span>Berdasarkan landasan hukum ini, BI mengeluarkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) senilai Rp 144,536 trilyun yang dikucurkan kepada jaringan perbankan nasional. Menurut analisa Dicky Iskandardinata, dana BLBI yang dikucurkan pada bank swasta berbalik menjadi sumber kehancuran nilai rupiah. Terjadinya kebocoran Rp 51 trilyun atau US$ 13 milyar dana BLBI diindikasikan digunakan oleh kelompok tertentu penerima BLBI untuk mengambil untung di pasar uang.<a title="_ftnref2" name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Berdasarkan hasil audit BPK atas penyaluran dana BLBI sebesar Rp 144,536 trilyun per 29 Januari 1999, potensi kerugian negara mencapai Rp 138,442 trilyun.<a title="_ftnref3" name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Total dana BLBI yang dikucurkan BI mencapai Rp 218,31 trilyun.<a title="_ftnref4" name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Setelah hutang-hutang konglomerat baik dalam bentuk kredit macet maupun pinjaman luar negeri diambil alih BI melalui dana BLBI, pemerintah melaksanakan program penyehatan perbankan nasional di bawah pengawasan IMF. Jumlah dana yang digelontorkan pemerintah dalam bentuk obligasi rekap (OR) mencapai Rp 427,46 trilyun. OR memang bukan dana tunai, tetapi bank nasional yang mendapatkan obligasi rekap dari pemerintah memiliki hak tagih pada saat jatuh tempo. Seluruh hak tagih bank pemegang obligasi rekap dibebankan kepada rakyat melalui APBN. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Jumlah nominal BLBI, program penjaminan, dan OR yang menjadi hutang baru rakyat Indonesia mencapai Rp 655,75 trilyun.<a title="_ftnref5" name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Hutang ini akan terus bertambah karena beban bunga OR cukup tinggi. Pada tahun 2002 jumlah cicilan bunga OR yang harus dibayar pemerintah kepada bank-bank pemegang OR mencapai Rp 88,5 trilyun.<a title="_ftnref6" name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Berdasarkan analisa Kwik Kian Gie, periode Januari-September 2002 Bank Mandiri mendapatkan pembayaran bunga OR sebesar Rp 15,16 trilyun (lihat tabel).<a title="_ftnref7" name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Bank-bank penerima OR juga diperbolehkan menambah permodalan dengan menjual OR yang mereka pegang di pasar modal.</span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse; margin-left: 7.2pt; margin-right: 7.2pt" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 149.4pt" colspan="2" width="249" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bank Penerima Obligasi Rekap</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt" width="129" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Nama Bank</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Nilai OR</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(Rp Trilyun)</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Penerimaan Bunga OR</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">2002 (Rp Trilyun)</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt" width="129" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bank Mandiri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bank BNI 46</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">BCA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">BRI</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">BII</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bank Danamon</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">BTN</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bank Permata</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bank Niaga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bank Lippo</span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">155,50</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">54,71</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">53,72</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">28,59</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">23,65</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">20,12</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">14,32</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">11,69</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">6,75</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">5,69</span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 108pt" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">15,16</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">5,33</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">5,24</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">2,79</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">2,31</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1,96</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1,40</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1,14</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">0,66</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">0,55</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"><span> </span>Setelah CAR bank yang disubsidi OR mulai membaik, pemerintah dipaksa IMF menjual beberapa bank kepada para investor. Bank pertama yang didivestasi adalah BCA. BCA dijual pemerintah kepada konsursium Faralon Capital dengan harga obral Rp 5,3 trilyun. Penjualan BCA ini sangat merugikan publik, sebab masyarakatlah yang harus menanggung beban OR BCA sebesar Rp 53,72 trilyun, dan beban bunga OR Rp 5,24 trilyun untuk periode Januari-September 2002. Beban OR yang ditanggung rakyat ini selanjutnya dinikmati oleh investor pemenang divestasi. Di samping BCA, pemerintah juga menjual Bank Niaga kepada investor Malaysia seharga Rp 1,025 trilyun, dan menjual beberapa bank lainnya.<a title="_ftnref8" name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Reformasi politik ekonomi oleh IMF menjadikan Indonesia sebagai ladang penjarahan. Parahnya penjarahan tersebut dilegalisasi oleh pemerintah dalam bentuk kepres dan disetujui oleh DPR. Sangat kuat indikasi kerja sama asing, korporat, politisi, birokrat, untuk melegalkan perampokan harta negara. Berbagai argumentasi liberal digunakan untuk membenarkan penjualan aset-aset negara dan pengkaplingan SDA.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Para pejabat negara dan ekonom neoliberal, memandang beban nominal OR senilai Rp 655,75 trilyun yang jumlahnya terus bertambah merupakan konsekwensi logis dari upaya pemulihan ekonomi. Sebaliknya mereka menganggap anggaran subsidi berbagai kebutuhan publik telah menggerogoti keuangan negara sehingga subsidi harus dihapuskan. Mereka juga memandang BUMN-BUMN tidak efisien, karena itu BUMN harus diprivatisasi. Tahun 2008 ini pemerintah memprivatisasi 37 BUMN kepada swasta dan asing. Bahkan pemerintah merencanakan akan menjual seluruh saham 14 BUMN yang bergerak di bidang industri.<a title="_ftnref9" name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"><span> </span>Untuk memulihkan perekonomian, pertumbuhan ekonomi yang sempat anjlok di angka minus 13% harus digenjot lagi dengan peningkatan investasi khususnya investasi asing. Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi hingga Undang-Undang Penanaman Modal yang sangat liberal pun dibuat untuk memikat investor asing datang ke Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Atas nama investasi Indonesia dipaksa melegalisasi perampokan SDA oleh para investor. Bahkan dalam skema kontrak dengan investor migas, pemerintah RI lah yang harus menanggung seluruh biaya produksi dan biaya kerugian (<em>cost recovery</em>) investor. Tahun 2007 pemerintah menanggung <em>cost recovery</em> sebesar US$ 8,338 milyar atau setara dengan Rp 76,709 trilyun (kurs 9.200/dollar).<a title="_ftnref10" name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[10] </span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span>[Bersambung : <a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/03/14/strategi-islam-mengatasi-perampokan-harta-negara/"><strong>Strategi Islam Mengatasi Perampokan Harta Negara - bagian III/habis</strong></a>] [sebelumnya : <a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/perampokan-harta-negara-di-era-orde-baru/"><strong>Perampokan Harta Negara di Era Orde Baru</strong> - bagian I</a>]</p>
<p><!--[if !supportFootnotes]--><span style="color: #800000;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Hidayatullah Muttaqin</span></strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">, dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> dan pengelola website <a href="http://www.jurnal-ekonomi.org/">www.jurnal-ekonomi.org</a></span> </span></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<p id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn1" name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Lihat Hidayatullah Muttaqin, â€œResiko Hutang Luar Negeri Pemerintah </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">â€¦â€, hal. 96-98.<em></em></span></p>
<p id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn2" name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Dicky Iskandardinata, â€œBLBI: Bencana Luar Biasa </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">â€, <em>Media </em></span><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> (14 Januari 2000).</span></p>
<p id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn3" name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> BPK, <em>Siaran Pers BPK tentang Hasil Audit Investigasi atas Penyaluran dan Penggunaan BLBI</em> (4 Agustus 2000).</span></p>
<p id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn4" name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Outstanding Government Domestic Debt, As of September 25, 2002.</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"></span></p>
<p id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn5" name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Posisi hutang dalam negeri pemerintah </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> per 24 Januari 2008 mencapai Rp 739,4 trilyun. (http://www.dmo.or.id/dmodata/5Statistik/1Posisi_Utang/2Posisi_SUN/Posisi_Utang_Dalam_Negeri_Pemerintah.pdf)</span></p>
<p id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn6" name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Nota Keuangan dan APBN 2002 </span></p>
<p id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn7" name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Kwik Kian Gie, <em>Pikiran yang Terkorupsi</em>, (</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Jakarta</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">: Penerbit Buku Kompas, 2006), hal. 115-121.</span></p>
<p id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn8" name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Kompas, </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">17/9/2002</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"></span></p>
<p id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn9" name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> http://web.bisnis.com/bursa/saham/1id40626.html</span></p>
<p id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn10" name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=320993&amp;kat_id=4</span></p>
<p><span style="color: #800000;"><strong></strong></span></p>
<h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/03/14/strategi-islam-mengatasi-perampokan-harta-negara/" title="Strategi Islam Mengatasi Perampokan Harta Negara [bagian III/habis]">Strategi Islam Mengatasi Perampokan Harta Negara [bagian III/habis]</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/perampokan-harta-negara-di-era-orde-baru/" title="Perampokan Harta Negara di Era Orde Baru [bagian I]">Perampokan Harta Negara di Era Orde Baru [bagian I]</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/01/11/pembebasan-obligor-pembebasan-kapitalisme/" title="Pembebasan Obligor: Pembebasan Kapitalisme">Pembebasan Obligor: Pembebasan Kapitalisme</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/09/15/negara-sekuler-melindungi-penjahat-ekonomi/" title="Negara Sekuler Melindungi Penjahat Ekonomi">Negara Sekuler Melindungi Penjahat Ekonomi</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/" title="PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang">PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/26/perampokan-harta-negara-di-era-reformasi-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perampokan Harta Negara di Era Orde Baru [bagian I]</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/perampokan-harta-negara-di-era-orde-baru/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/perampokan-harta-negara-di-era-orde-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 22:59:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Kejahatan Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Perampokan Harta Negara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/perampokan-harta-negara-di-era-orde-baru/</guid>
		<description><![CDATA[Merampok uang negara/rakyat bukan perkara aneh di Indonesia. Merampok dalam arti luas, sudah lama terjadi di negeri ini baik dilakukan oleh oknum bangsa sendiri maupun bangsa asing. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 36pt 6pt 27pt; text-align: justify"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Merampok uang negara/rakyat bukan perkara aneh di Indonesia. Merampok dalam arti luas, sudah lama terjadi di negeri ini baik dilakukan oleh oknum bangsa sendiri maupun bangsa asing. Tragisnya, perampokan paling besar sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia terjadi pada era reformasi. Era yang dijadikan momentum perubahan dan pemberantasan korupsi oleh mahasiswa dan masyarakat justru berbalik menjadi â€legalisasiâ€ perampokan uang negara.</span></em></p>
<p>Oleh: <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Sebuah konferensi 3 hari diselenggarakan pada bulan November 1967 di Genewa, Swiss. Konferensi yang disponsori oleh the Life Time Corporation ini menghadirkan pemerintah </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Indonesia</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> dan para kapitalis raksasa dunia, seperti korporasi minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British American Tobacco, Siemens dan USA Steel. Dalam konferensi tersebut, pemerintah </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Indonesia</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> yang diwakili ekonom Orde Baru binaan Amerika Serikat (Mafia Berkeley)<a title="_ftnref1" name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> menyetujui keinginan para kapitalis untuk menjarah sumber daya alam (SDA) </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Indonesia</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Freeport</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat, sebuah konsorsium AS/Eropa mendapatkan nikel. Raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar bouksit, perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang, dan Prancis mendapatkan hutan tropis Sumatera.<a title="_ftnref2" name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sejak 1967, Orde Baru mulai meliberalisasi perekonomian nasional dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan Freeport menjadi perusahaan asing pertama yang menandatangani kontrak dengan rezim Orde Baru. Di area pertambangan yang dikuasai </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Freeport</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> diperkirakan cadangan emas mencapai 63,7 juta pon sedangkan tembaga 50,9 milyar pon.<a title="_ftnref3" name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Inilah konsesi yang diberikan Orde Baru kepada para kapitalis untuk merampok kekayaan alam </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Indonesia</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> sebagai imbalan atas dukungan pemerintah Amerika Serikat terhadap kekuasaan ditaktor Soeharto.<a title="_ftnref4" name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Di awal kekuasaannya, rezim Orde Baru mengemis kepada AS agar mendapatkan hutang dan bantuan mengatasi keterpurukan ekonomi </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">. Untuk membantu </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">, AS menggunakan pendekatan multiateral dengan melibatkan IMF, Bank Dunia, ADB, dan PBB.<a title="_ftnref5" name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">AS menekankan bahwa IMF dan Bank Dunia harus terlibat aktif dalam proses rekonstruksi perekonomian </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> yang sedang hancur. IMF berperan dalam program stabilisasi ekonomi, penjadwalan kembali hutang-hutang </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">, dan memobilisasi penggalangan hutang baru untuk </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">. Sedangkan Bank Dunia memandu perencanaan pembangunan dan rekonstruksi </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">.<a title="_ftnref6" name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> AS juga menginginkan Orde Baru menjadikan buku-buku teks dan referensi dari universitas di Amerika sebagai standar dalam program stabilisasi ekonomi.<a title="_ftnref7" name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Sejak itulah hutang luar negeri (HLN) dijadikan sumber pembiayaan pembangunan Indonesia. HLN yang pada awalnya dinyatakan pemerintah sebagai pelengkap<a title="_ftnref8" name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> malah menjadi candu. Doktrinisasi HLN sebagai anggaran penerimaan pembangunan, menyebabkan negara tidak merasakan APBN telah mengalami pendarahan (<em>bleeding fiscal</em>) mulai tahun 1986.<a title="_ftnref9" name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sejak itu Indonesia terperosok dalam jebakan HLN (<em>debt trap</em>) sehingga pemerintah selalu bergantung kepada asing. Hayter (1971) dan Pomfret (1992) mengingatkan HLN tidak akan disalurkan jika tidak ada keuntungan ekonomi bagi pemberi hutang.<a title="_ftnref10" name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> HLN merupakan metode ampuh bagi para kreditor untuk menguasai SDA Indonesia sekaligus menggali keuntungan finansial dari proyek dan bunga HLN.</span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse; margin-left: 7.2pt; margin-right: 7.2pt" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 250.7pt" colspan="4" width="418" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Posisi   Net Transfer HLN Pemerintah dan Swasta</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(US$   milyar)</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.7pt" width="65" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Tahun</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 2cm" width="95" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Penarikan</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 66.95pt" width="112" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Pembayaran</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 88.35pt" width="147" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Surplus/Defisit</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.7pt" width="65" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1996</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1997</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1998</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1999</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">2000</span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 2cm" width="95" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">30,572</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">38,632</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">24,853</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">14,420</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">9,037</span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 66.95pt" width="112" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">20,344</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">23,878</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">25,684</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">36,730</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">29,171</span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 88.35pt" width="147" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">10,228</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">14,754</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">- 0,831</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">- 22,31</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">- 20,134</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 38.7pt" width="65" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Total</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 2cm" width="95" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">117,514</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 66.95pt" width="112" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">135,807</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 88.35pt" width="147" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">- 18,293</span></strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">John Perkins dalam bukunya <em>Confessions of Economic Hit Man</em> mengungkapkan timnya bekerja untuk meyakinkah pemerintah Indonesia melakukan pembangunan infrastruktur jalan raya, pembangkit listrik, pelabuhan, bandar udara, dan kawasan industri yang dibiayai oleh HLN dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan USAID. Setiap pinjaman selalu disertai syarat: pemerintah Indonesia harus menggunakan perusahaan rekayasa dan konstruksi dari Amerika Serikat. Dana HLN untuk Indonesia tidak pernah ditransfer ke rekening pemerintah, melainkan ditransfer dari Washington langsung ke rekening kantor perusahaan-perusahaan rekayasa dan konstruksi Amerika Serikat. Sebaliknya pemerintah Indonesia harus membayar cicilan pokok dan bunganya.<a title="_ftnref11" name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse; margin-left: 7.2pt; margin-right: 7.2pt" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 140.4pt" colspan="3" width="234" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Cicilan   Pokok dan Bunga HLN Pemerintah dan Swasta</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(US$   milyar)</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.4pt" width="69" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Tahun</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt" width="75" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Cicilan Pokok</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt" width="90" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Cicilan   Bunga</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.4pt" width="69" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1996</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1997</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1998</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">1999</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">2000</span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt" width="75" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">14,429</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">16,454</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">18,266</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">27,357</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">21,095</span></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt" width="90" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">5,915</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">7,242</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">7,418</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">9,374</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">8,076</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 41.4pt" width="69" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Total</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt" width="75" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">90,723</span></strong></p>
</td>
<td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt" width="90" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">38,025</span></strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dominasi pinjaman HLN dalam bentuk pinjaman proyek membuka luas praktik <em>mark up</em>. Dalam penyusunan proyek yang dibiayai HLN, nilai proyeknya terlebih dahulu di-<em>mark up</em> rata-rata 30% oleh kreditor.<a title="_ftnref12" name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Setelah di-<em>mark up</em>, pinjaman HLN itu pun dikorupsi. Menurut Jeffrey A. Winters selama kekuasaan Orde Baru, US$ 10 milyar pinjaman Bank Dunia dikorupsi<span> </span>dari total pinjaman US$ 30 milyar.<a title="_ftnref13" name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dalam skup yang lebih luas, ketua Tim Ahli Korupsi ADB Soewardi menyatakan sekitar 30-50% HLN pemerintah dikorupsi.<a title="_ftnref14" name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Pada akhirnya beban cicilan pokok dan bunga HLN Indonesia, termasuk biaya <em>mark up</em> dan korupsi menjadi tanggungan rakyat.<a title="_ftnref15" name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Pola pembangunan Orde Baru yang berorientasi pertumbuhan (<em>growth oriented</em>) dengan menganakemaskan para konglomerat khususnya kalangan non pribumi menimbulkan kesenjangan luar biasa. Pada saat pertumbuhan ekonomi Orde Baru berada pada tingkat tertinggi, pendapatan (GDP) perkapita mencapai US$ 3.500. Namun bila dihitung berdasarkan GNP saja maka pendapatan perkapita Indonesia hanya US$ 960. Ini berarti US$ 2.540 perkapita dinikmati oleh asing. Dari pendapatan perkapita sebesar US$ 960 itu pun 80%-nya dikuasai oleh 300 konglomerat, 200 juta lebih rakyat Indonesia hanya mendapatkan 20%. Konglomerat non pribumi yang berjumlah 224 menguasai 90% aset seluruh konglomerat Indonesia, sedangkan konglomerat pribumi yang jumlahnya 76 asetnya kurang dari 10% aset konglomerat non pribumi.<a title="_ftnref16" name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Atas nama pembangunan, para konglomerat mencaplok sektor-sektor perekonomian dari hulu ke hilir, menggusur tanah dan sumber-sumber penghidupan masyarakat. Karena itu pembangunan Orde Baru identik dengan marginalisasi rakyat. Hal ini disebabkan pemberian akses sumber daya ekonomi dan akses permodalan secara luar biasa oleh rezim Soeharto kepada para konglomerat dan kroni-kroninya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dalam catatan Rachmat Basoeki, Trio RMS (Radius-Mooy-Sumarlin) yang mengendalikan kebijakan keuangan negara, melalui Bank Indonesia secara diam-diam menyalurkan Kredit Pembauran untuk industri tanpa agunan. Jumlah kredit KLBI selama 1985-1988 yang telah dikucurkan pemerintah kepada konglomerat mencapai Rp 100 trilyun.<a title="_ftnref17" name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Tidak puas menguras uang negara melalui BI, para konglomerat kembali dimanjakan oleh Menteri Keuangan JB Sumarlin dengan mengeluarkan Pakto 88 yang menjadi awal liberalisasi sistem perbankan Indonesia. Paket deregulasi perbankan ini memberikan kemudahan bagi pengusaha mendirikan bank devisa hanya bermodal Rp 100 milyar dengan syarat personalia yang sangat ringan. Hal ini memberikan kesempatan konglomerat yang bermental perampok pun dapat duduk sebagai komisaris dan direktur bank.<a title="_ftnref18" name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 27pt"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Para konglomerat selain membidik bank pemerintah sebagai sumber dana konglomerasi, juga menjadikan bank swasta yang mereka dirikan sebagai sumber permodalan. Atas nama pembangunan, melalui sistem perbankan ribawi para konglomerat menghisap ratusan trilyun uang rakyat untuk kepentingan konglomerasi mereka. Tidaklah aneh banyak bank swasta melakukan pelanggaran BMPK (Batas Minimum Penyaluran Kredit) karena sebagian besar dana kredit bank disalurkan kepada kelompok usaha mereka sendiri. Datangnya krisis moneter 1997 mengungkap ratusan trilyun kredit macet pada sistem perbankan nasional. Namun para konglomerat sejak medio1996 telah melarikan dana lebih dari US$ 100<span> </span>milyar dari bank-bank di Indonesia ke bank-bank di Singapura.<a title="_ftnref19" name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span>[bersambung : <a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/26/perampokan-harta-negara-di-era-reformasi-bagian-ii/"><strong>Perampokan Harta Negara di Era Reformasi</strong></a>]</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Hidayatullah Muttaqin</span></strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">, dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> dan pengelola website <a href="http://www.jurnal-ekonomi.org/">www.jurnal-ekonomi.org</a></span> </span></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<p id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn1" name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Mereka adalah sekelompok ekonom muda Universitas </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> yang ditraining di Universitas California, Berkeley, M</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">assachusetts Institute of Technology</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> dan Universitas Harvard. Lihat <em>Paper Prepared in the Department of State for National Security Council</em> dalam The United States and Soeharto: April 1966-December 1968, hal. 517.<span> </span><em><span> </span></em></span></p>
<p id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn2" name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Lihat John Pilger (</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">28/1/2008</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">), <em>Suharto, the model killer, and his friends in high places</em>, http://www.johnpilger.com/page.asp?partid=473</span></p>
<p id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn3" name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Lihat </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Denise Leith, </span><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">The Politics of Power: Freeport in Suharto&#8217;s Indonesia</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">, (</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Honolulu</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> : </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">University</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> of </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Hawaii   Press</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">, 2002), hal. 3.</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"></span></p>
<p id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn4" name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Lihat John Perkins, <em>Pengakuan Bandit Ekonomi John Perkins: Kelanjutan Kisah Petualangannya di </em></span><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span></em><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> dan Negara Dunia Ketiga</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">, (The Secret History of The American Empire: Economic Hit Men, Jakals, and The Truth About Global Corruption), alih bahasa Wawan Eko Yulianto dan Meda Satrio, cet. i, (</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Jakarta</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">: Ufuk Press, 2007), hal. 6. <em><span> </span></em></span></p>
<p id="ftn5">
<p class="MsoNormal"><a title="_ftn5" name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Hal ini disampaikan Presiden Lyndon Baines Johnson dalam pertemuan kabinetnya 18 Oktober 1967. Presiden Johson juga menyatakan kekayaan alam </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> yang melimpah seperti minyak, mineral, timber, dan perikanan, sebagai alasan untuk membantu </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">. Lihat <em>Johnson Library, Cabinet Papers, Cabinet Meeting, </em></span><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">10/18/67</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">, http://www.state.gov/r/pa/ho/frus/johnsonlb/xxvi/4436.htm</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"></span></p>
<p id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a title="_ftn6" name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Lihat The United States and Soeharto: April 1966-December 1968, hal. 518.<span> </span><em><span> </span></em></span></p>
<p id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn7" name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> <em>Memorandum From Secretary of State Rusk to Presiden Johnson</em> dalam The United States and Soeharto: April 1966-December 1968, hal. 453. </span></p>
<p id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn8" name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Zulkarnain Djamin, <em>Sumber-Sumber Luar Negeri bagi Pembangunan </em></span><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span></em><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Sejak IGGI hingga CGI dan Permasalahannya</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">, (Jakarta: UI-Press, 1995), hal. 7-8.</span></p>
<p id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn9" name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Indikasi pendarahan fiskal adalah terjadinya â€œtransfer negatifâ€, yakni jumlah pembayaran cicilan pokok dan bunga HLN lebih besar dari jumlah pinjaman HLN yang diperoleh pemerintah dari para kreditor dalam periode tahun anggaran yang sama. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> mengalami â€œtransfer negatifâ€ sejak 1986 dengan nilai Rp 1,263 trilyun. Lihat Hidayatullah Muttaqin, â€œResiko Hutang Luar Negeri Pemerintah </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> bagi APBN (Studi Kasus APBN 1991/1992 â€“ 1999/2000)â€, Skripsi, </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Banjarmasin</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">: Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, 2002, hal. 44. </span></p>
<p id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn10" name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Sritua Arief, â€œHutang Luar Negeri dan Investasi Asing: Mitos dan Faktaâ€, <em>Jurnal Ilmu Sosial Transformatif</em> <em>Wacana</em>, (Edisi 3, Tahun I 1999), hal. 18.</span></p>
<p id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn11" name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> John Perkins, <em>Confessions of Economic Hit Man</em>, alih bahasa Herman Tirtaatmaja dan Dwi Karyani, cet. I, (</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Jakarta</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">: Abdi Tandur, 2005), hal. xvi-xvii.</span></p>
<p id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn12" name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> ML. Jhingan, <em>Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, </em>(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999), hal. 485.</span></p>
<p id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn13" name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Sritua Arief, â€œHutang Kriminal, Bank Dunia dan Korupsi di Indonesiaâ€, <em>Jurnal Ilmu Sosial Transformatif</em> <em>Wacana</em>, (Edisi 3, Tahun I 1999), hal. 100.</span></p>
<p id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn14" name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Liputan 6 SCTV, 29 Juli 2002.</span></p>
<p id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn15" name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Posisi HLN pemerintah </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> per 24 Januari 2008 mencapai US$ 59,05 milyar setara Rp 543,260 trilyun (http://www.dmo.or.id/content.php?section=46).</span></p>
<p id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn16" name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Lihat Rachmat Basoeki S, â€œMerampok Uang Rakyatâ€, <em>Republika</em> (28-29 Agustus 2000).</span></p>
<p id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn17" name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Nilai Rp 100 trilyun pada tahun 1980-an jauh lebih besar dibandingkan nilai Rp 100 trilyun pada masa sekarang. Pada waktu itu nilai US$ 1 setara dengan Rp 1.000 sedangkan sekarang nilainya bertengger di atas Rp 9.000. Dana KLBI ini tidak bisa dilacak lagi keberadaannya karena semua dokumennya hangus dengan terbakarnya Gedung BI di Jl. Thamrin tahun 1997. Lihat Rahmat Basoeki S.</span></p>
<p id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn18" name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Lihat Rachmat Basoeki dan http://www.bi.go.id/msmbiweben/sejarah_content.asp?id=8</span></p>
<p id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify"><a title="_ftn19" name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> Lihat Rachmat Basoeki.</span></p>
<h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/03/14/strategi-islam-mengatasi-perampokan-harta-negara/" title="Strategi Islam Mengatasi Perampokan Harta Negara [bagian III/habis]">Strategi Islam Mengatasi Perampokan Harta Negara [bagian III/habis]</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/26/perampokan-harta-negara-di-era-reformasi-bagian-ii/" title="Perampokan Harta Negara di Era Reformasi [bagian II]">Perampokan Harta Negara di Era Reformasi [bagian II]</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/01/11/pembebasan-obligor-pembebasan-kapitalisme/" title="Pembebasan Obligor: Pembebasan Kapitalisme">Pembebasan Obligor: Pembebasan Kapitalisme</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/09/15/negara-sekuler-melindungi-penjahat-ekonomi/" title="Negara Sekuler Melindungi Penjahat Ekonomi">Negara Sekuler Melindungi Penjahat Ekonomi</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/" title="PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang">PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/22/perampokan-harta-negara-di-era-orde-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
