Published July 12th, 2009
Neolib Tidak Mungkin Memajukan Ekonomi Syariah
Ekonomi Syariah atau ekonomi Islam dengan Kapitalisme bagaikan surga dengan neraka. Posisi berlawanan baik dari sisi akidah maupun aturan membuat keduanya tidak mungkin berada untuk saling memajukan.
Berkaitan dengan hal ini, pakar marketing Indonesia, Hermawan Kartajaya sebagaimana diberitakan Kompas.com (11/7/2009), menyatakan kehadiran Boediono di tampuk kekuasaan sebagai wakil presiden akan memajukan ekonomi Syariah di Indonesia dan dunia internasional.
Saat ini perbincangan tentang Neoliberalisme telah lepas dari akar ideologinya (Kapitalisme), sehingga banyak yang memandang Neoliberalisme hanya sebatas “isme†anti intervensi pemerintah dan anti subsidi. Karena itu pula pasangan SBY-Boediono mengklaim pemerintahannya bukanlah pemerintahan Neoliberal melainkan pemerintahan yang menjalan kebijakan ekonomi jalan tengah. SBY beralasan pemerintahannya masih menerapkan intervensi dan subsidi, termasuk program BLT dan PNPM Mandiri. 
Dalam diskusi ‘Boedionoomics’ di Hotel Borobudur (26/5/2009), Chatib mengemukakan, tidak ada jejak neoliberal pada ekonomi Indonesia sejak dulu hingga Boediono memegang jabatan tinggi dalam pemerintahan. Inilah “dusta kaum neolib” yang “banci” tidak mau mengakui bahwa mereka dan sejumlah pejabat negara adalah orang-orang neolib.
Hakikatnya, ekonomi Neoliberal dengan Kapitalismenya telah mengalami kebangkrutan ide dengan kegagalan Neoliberalisme menanggulangi krisis berdasarkan ide dasar kaum neolib, yakni laissez faire. Namun tidak bisa dipungkiri, institusi Neolib masih tegak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Hari ini (18/5/2009) di Kompas halaman 15 saya membaca sebuah tulisan seorang ekonom yang memuji setinggi langit CaWapres Boediono. Tulisan tersebut berjudul Tantangan BI Sepeninggalan Boediono. Memuji Boediono setinggi langit tentu saja sekalian bertepuk tangan atas prestasi ekonomi pemerintahan SBY.









