Published December 22nd, 2009
G20: Sarana Baru Imperialisme Barat
G-20 merupakan sebuah forum baru yang mempertemukan negara-negara kaya yang sebelumnya terhimpun dalam G-8 dengan negara-negara berkembang dengan skala ekonomi yang cukup besar. Keberadaan G-20 didorong oleh pukulan krisis keuangan global yang “bersumbu” di AS. Apa yang melatarbelakangi G-20 dan siapa yang memanfaatkan keberadaan organisasi ini? Bagaimana posisi Indonesia serta konsekwensinya bagi perekonomian dunia? Tulisan ini berusaha mengulas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Hari ini (14/8) dalam pidato kenegaraan di depan Sidang Paripurna DPR RI, Presiden SBY menyampaikan pandangannya tentang paradigma dan strategi pembangunan ekonomi. Menurut SBY, Indonesia tidak boleh terjerat Kapitalisme Global.
Seiring semakin disadari dan dirasakan oleh banyak manusia akan bau busuk dari sistem ekonomi Kapitalisme. Seiring dengan hal itupula terlahirlah banyak respon terhadapnya, ada yang merespon dengan cara menolaknya secara totalitas dan ada pula yang masih mencoba mencari yang bermanfaat darinya. Bentuk respon yang kedua inilah yang dipilih oleh SBY setelah sebelumnya dikatakan sering kali mengambil kebijakan ala neo liberal yang merupakan salah satu varian dari Kapitalisme. Bentuk responnya itu ia namai dengan ekonomi jalan tengah.
Rontoknya saham-saham di bursa saham dunia merupakan fenomena yang sangat mengejutkan. Namun, hal ini tidaklah aneh. Sebab sudah dari dulu terjadi krisis keuangan yang diakibatkan oleh sistem ekonomi ribawi yang eksploitatif dan membuat perekonomian didominasi sektor non riil (unriil sector).
Sebagaimana diberitakan oleh media internasional, KTT G-20 di London (2/4/2009) diwarnai perpecahan antara kubu Eropa yang diwakili oleh Jerman dan Perancis dengan kubu Amerika. Pelajaran apa yang kita peroleh dari pertemuan negara-negara besar tersebut?
Siapa yang tidak kenal dengan Keynes? Atau lebih lengkapnya John Maynard Keynes. Semua mahasiswa fakultas ekonomi khususnya yang telah mengambil mata kuliah ekonomi makro pasti pernah mendengar nama kesohor ini.
Kejatuhan pasar saham dunia terus berlanjut kemaren (3/3/), mengikuti keanjlokan pada hari sebelumnya. Keadaan ini terjadi setelah the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD memperingatkan bahwa resesi global akan lebih buruk dari perkiraan. “Resesi akan semakin dalam, tidak ada keraguan akan hal itu… Saya pikir pada kuartal ini akan menjadi kuartal paling buruk untuk semua,” kata Kepala Ahli Ekonomi OECD Klaus Schmidt-Hebbel.
Sebuah pernyataan sangat menarik disampaikan oleh Wakil Presiden M. Jusuf Kalla. Wapres menyatakan sistem ekonomi Islam lebih mampu bertahan di tengah krisis global dibandingkan sistem Barat (Kapitalisme). Hal ini disebabkan sistem ekonomi Islam berbasis real transactionsedangkan Barat unreal transction.
Banyak orang di seluruh dunia termasuk Indonesia berharap Obama dapat mengubah wajah Amerika yang “jahat†menjadi “baik hatiâ€. Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengatakan: “Ini memang menantang dan menarik karena ada sesuatu yang baru. Tetapi, dunia cuma bisa berharap, Obama akan menghadirkan tata dunia baru yang tidak lagi berbasis pada hegemoni arogan negara yang bernama AS ini”. Perubahan kepemimpinan di AS dari Bush ke Obama harus dilihat sebagai pergantian kepemimpinan yang biasa terjadi. Dan tentu saja setiap kebijakan dan keputusan Obama senantiasa terikat dengan fikrah dan thariqah Kapitalisme.
Bencana finansial di AS membuat beberapa pembela kapitalisme mempertahankan diri, sebagaimana Allan Greespan dan Francis Fukuyama. Mereka mengatakan bahwa krisis yang terbesar pasca Malaise (1929) itu sama sekali bukan kesalahan kapitalisme dan pasar bebas. Mereka menyebut bahwa krisis itu lebih dikarenakan kerakusan para pebisnis yang melakukan bisnis derivatif, kecerobohan masyarakat dengan sikap yang tidak “cerdas pasarâ€, serta kegagalan pemerintah melakukan good governance. Tapi tampaknya banyak yang tak percaya pada bantahan yang terkesan defensif apologetik itu. Ini karena secara fakta terdapat banyak kejanggalan dari alasan kedua fundamentalis kapitalisme itu. 













