<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 23:25:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>Pergeseran Peradaban itu Realistis</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/15/pergeseran-peradaban-itu-realistis/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/15/pergeseran-peradaban-itu-realistis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 10:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[PERCATURAN IDEOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[Husain Matla]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=1278</guid>
		<description><![CDATA[<img align="left" title="krisis-guardian" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/krisis-guardian-300x185.jpg" alt="" width="150" height="100" />Bencana finansial di AS membuat beberapa pembela kapitalisme mempertahankan diri, sebagaimana Allan Greespan dan Francis Fukuyama. Mereka mengatakan bahwa krisis yang terbesar pasca Malaise (1929) itu sama sekali bukan kesalahan kapitalisme dan pasar bebas. Mereka menyebut bahwa krisis itu lebih dikarenakan kerakusan para pebisnis yang melakukan bisnis derivatif, kecerobohan masyarakat dengan sikap yang tidak â€œcerdas pasarâ€, serta kegagalan pemerintah melakukan good governance. Tapi tampaknya banyak yang tak percaya pada bantahan yang terkesan defensif apologetik itu. Ini karena secara fakta terdapat banyak kejanggalan dari alasan kedua fundamentalis kapitalisme itu. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--> <!--[endif]" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /" class="mcePageTitle mceItemNoResize" /--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"><br />
</span></p>
<h3 id="1278__1" style="text-align: center;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/krisis-guardian.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1277" title="krisis-guardian" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/krisis-guardian-300x185.jpg" alt="" width="300" height="185" /></a></h3>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;">
<h3 id="1278__2" ><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> </span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;">
<h3 id="1278_oleh-husain-matla_1" style="margin: 0cm 0cm 6pt; text-align: center;"><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Oleh : Husain Matla</span></span></h3>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Bencana finansial di AS membuat beberapa pembela kapitalisme mempertahankan diri, sebagaimana Allan Greespan dan Francis Fukuyama. Mereka mengatakan bahwa krisis yang terbesar pasca Malaise (1929) itu sama sekali bukan kesalahan kapitalisme dan pasar bebas. Mereka menyebut bahwa krisis itu lebih dikarenakan kerakusan para pebisnis yang melakukan bisnis derivatif, kecerobohan masyarakat dengan sikap yang tidak â€œcerdas pasarâ€, serta kegagalan pemerintah melakukan <em>good governance</em>. Tapi tampaknya banyak yang tak percaya pada bantahan yang terkesan defensif apologetik itu. Ini karena secara fakta terdapat banyak kejanggalan dari alasan kedua fundamentalis kapitalisme itu. </span></p>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Keinginan agar semua orang berpikir â€œcerdas      pasarâ€ tidak relevan karena orang-orang yang cerdas pasar justru akan      menjadikan mayoritas orang â€œbodoh pasarâ€ (Kiyosaki, <em>Rich Dad Poor Dad</em>).      Ini ditunjang oleh sistem bunga yang membuat eksploitasi itu menjadikan      bisnis tak sekedar â€œpermainanâ€ tapi â€œpembantaianâ€. Dahlan Iskan menyatakan      betapa tak adilnya orang-orang yang di sektor keuangan mendapat keuntungan      40 %, sementara orang-orang di sektor riil hanya dapat untung 20 %. Tentu      saja ini sebuah eksploitasi karena orang-orang di sektor riil bekerja jauh      lebih keras.</span></li>
</ul>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Harapan supaya para kapitalis tidak rakus      juga tidak mungkin. Ini karena selisih yang terlalu besar antara sektor      keuangan dan sektor riil menjadikan eksploitasi benar-benar di depan mata.      Faktanya, sistem bunga menjadikan jual beli uang jauh lebih menarik dari      produksi dan jual beli barang.</span></li>
</ul>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Ketika sebuah bangsa mencapai kejayaan,      mereka cenderung cinta kemewahan (Ibnu Khaldun, Mukadimah). Faktanya,      kecenderungan ini menjadikan mereka rakus dan tidak cerdas pasar. Tak ada      strategi kapitalisme untuk mengatasi kondisi ini. Mekanisme pasar tak      sanggup menghasilkan â€œtangan gaibâ€. Optimisme Adam Smith dan John Naisbitt      faktanya tak pernah terbukti. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Pesimisme David Ricardo terasa lebih realistis.</span></li>
</ul>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Tuntutan agar pemerintah melakukan <em>good      governance</em> tak akan menyelesaikan masalah. Bagaimanapun, persaingan      yang terjadi bukan persaingan sempurna. Tapi persaingan oligopolistis,      bahkan monopolistis. Faktanya, manusia kemampuannya berbeda-beda. Tak semua      mereka kuda. Sebagiannya singa dan mayoritasnya kancil. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Sikap pemerintah tak akan      mengubah suasana persaingan ini.</span></li>
</ul>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Selama ini diharapkan para pelaku bisnis      mempunyai jiwa spiritual dan sosial. Masalahnya, ini didapat dari mana?      Adanya pebisnis yang dermawan seperti Bill Gates tak bisa jadi contoh      karena bukan menjadi kecenderungan umum. Faktanya, tokoh-tokoh agama yang      diharapkan menambal kekurangan ini terbelenggu, terkalahkan dominasi      pasar. Tak pernah ada ceritanya para ulama menominasikan pengusaha yang      â€œkonsisten pada syariahâ€. Yang ada, para pengusaha menyeleksi ustadz yang      lebih â€œdisukai pasarâ€. Apalagi media dan lembaga rating selalu dikuasai      pemegang modal, bukan pemegang nilai.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Semua itu menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada sopir dan penumpangnya. Masalahnya adalah, mobil yang bernama kapitalisme ini memang menghasilkan sopir atau penumpang yang tamak, bodoh, atau tak berdaya. Adalah wajar kalau penduduk dunia semakin tak percaya pada ideology ini. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Lalu, apakah kapitalisme akan segera hancur? Dan bagaimana prospek dunia masa depan?</span></p>
<h1 id="1278_memasuki-era-stagnan_1" style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Memasuki Era Stagnan</span></h1>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Umumnya, bangkitnya peradaban dominan yang kedua kali â€“berbeda dengan periode pertama&#8211; lebih dikarenakan kepahlawanan (heroism) daripada pencerahan (aufklarung). Ini dilakukan setelah terjadi friksi internal dan â€œperang duniaâ€ yang melanda peradaban itu. Inilah yang terjadi pada peradaban Romawi setelah dilanda konflik Roma-Goth dan selanjutnya diserang Attila the Hun (</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">452 M</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">). Begitu pula yang terjadi pada peradaban Isalam setelah konflik Baghdad-Kairo dan selanjutnya diserbu Hulagu the Mongol. Peradaban kapitalis pun begitu. Konflik mazhab laissez faire (Inggris/Prancis) versus kapitalisme negara (Jerman) selanjutnya memicu Perang Dunia I dan II. Setelah itu, biasanya muncul â€œnegara intiâ€ (meminjam istilah Huntington) yang menyelamatkan dan memimpin peradaban (Bizantium, Utsmani, AS). Karenanya, pasang naik peradaban itu berikutnya lebih dilandasi kuatnya metode dan implementasi daripada ide dan formulasi. Mereka unggul dalam pengorganisasian dan militer. AS tentu saja lebih unggul daripada Kakaisaran Inggris Raya dulu, sebagaimana Utsmani lebih unggul daripada Abbasiyah. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Walau begitu, hal ini juga mempunyai imbas. Setelah peradaban itu surut, memang friksi internal (sebagaimana dalam periode pertama) tidak terlalu nampak. Namun, terjadi stagnasi. Inilah yang terjadi pada peradaban Romawi (abad VII M) dan peradaban Islam (abad XVI M) yang tampaknya besar tapi lemah dalam ide. Kecenderungan yang muncul hanyalah implementasi, bukannya internalisasi. Peradaban dilanjutkan dengan kurangnya kesadaran ideologis. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Peradaban kapitalis tampaknya sekarang juga demikian. Rusia dan China bukan negara yang â€œfundamentalisâ€ pada kapitalisme. Meraka bahkan menjalankannya dengan banyak perkecualian. Eropa selalu terombang-ambing antara Keynesian versus neoklasik. Brasil dan India tipikal khas implementator. AS pun tampaknya melanjutkan kapitalisme tak seyakin sebelumnya. Keadaannya begitu mirip dengan Bizantium, Goth, dan Franka (abad VII M) atau Utsmani, Safawi, dan Moghul (abad XVI M). Peradaban berjalan multipolar, datar, dan stagnan, walaupun sepintas tampak besar.</span></p>
<h3 id="1278_geliat-peradaban-bar_1" style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Geliat Peradaban Baru</span></h3>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Namun, kondisi ini sebenarnya sangat kondusif jika di dunia muncul sebuah konsep baru peradaban. Realitanya, itulah yang terjadi saat munculnya Islam di Madinah tahun </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">632 M</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> dan saat bangsa-bangsa Barat mengorganisasikan dirinya melalui konferensi Westphalia tahun </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">1645 M</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> yang menjadi penyangga penyebaran sekularisme-kapitalisme di Barat. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Untuk saat ini, tak ada konsep dunia lain yang siap menggantikan kapitalisme kecuali Islam. Sosialisme Amerika Latin sebanarnya hanyalah kapitalisme Keynesian dengan beberapa catatan. Itupun lebih didorong adanya orang kuat seperti Hugo Chaves dan Castro bersaudara. Tak ada prospek Amareika Latin akan memandu perubahan peradaban di dunia. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Sedangkan Islam sebaliknya. Memang mulai abad akhir XVI M melemah. Selanjutnya negeri-negeri Islam satu per satu jatuh ke dalam cengkeraman imperialisme Barat. Tapi itu sebenarnya lebih karena stagnasi. Tak berarti konsepnya hilang. Bahkan disamping konsep itu tetap ada, banyak para pengembannya yang menyoroti dengan detail akan kesalahan dan kekeliruan kapitalisme dalam memimpin dunia. Banyak konsep-konsep hasil ijtihad bermunculan, tak hanya tentang thaharah, nikah, dan pengurusan mayat. Tapi juga menyangkut sistem pemerintahan, hukum, ekonomi, serta sosial. Dua fondasi masyarakat Islam, yaitu ekonomi syariah dan sistem khilafah kembali populer. Sebagaimana survei SEM Institute dan Gerakan Mahasiswa Nasionalis, tren pro syariah di Indonesia meningkat pesat (&gt; 80 %). Dan tren ini ternyata juga menjadi tren global dunia Islam. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Dalam tahapan stagnasi kapitalisme ini, pergeseran peradaban tempaknya sangatlah realistis. Tidakkah kita berkaca pada abad VII M dan abad XVI M? </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Semarang / 12 Okt â€˜08]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: #003300;">Husain Matla, ST, MM </span></strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: #993300;">adalah penulis produktif. Beberapa buku yang bernuansa ideologis telah lahir dari pena aktivis Hizbut Tahrir Jawa Tengah yang menyelesaikan pendidikan masternya di Magister Manajemen Universitas Diponegoro Semarang (2002). Saat ini aktif sebagai Ketua Divisi URC HTI Jateng dan Direktur MATLa Institute. Pada Jurnal Ekonomi Ideologis Husain Matla mengasuh rubrik baru <strong><span style="font-family: Verdana;">Percaturan Ideologi</span></strong>.</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: #003300;"> </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Referensi:</span></strong></p>
<ul style="margin-top: 0cm;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Robert      T. Kiyosaki, <em>Rich Dad Poor Dad</em>, Gramedia 2004</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Mukadimah      Ibnu Khaldun</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">John      Naisbitt, <em>Mind Set</em>, Daras 2007</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Imam Suyuthi, <em>Tarikh Khulafa</em>, Pustaka      Al-Kautsar</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Ensiklopedia      Tematis Dunia Islam, bagian <em>Khilafah</em></span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Ensiklopedia      Tematis Dunia Islam, bagian <em>Pemikiran dan Peradaban</em></span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">An-Nabhani,      <em>An-Nizham al-Iqtishadiyu fil Islam</em></span></li>
</ul>
<h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/20/mengontekstualkan-kapitalisme/" title="Mengontekstualkan Kapitalisme">Mengontekstualkan Kapitalisme</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/14/kegagalan-kapitalisme-dan-solusi-islam-untuk-krisis-keuangan-global/" title="Kegagalan Kapitalisme dan Solusi Islam untuk Krisis Keuangan Global">Kegagalan Kapitalisme dan Solusi Islam untuk Krisis Keuangan Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/04/03/perebutan-hegemoni-kapitalisme-global/" title="G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global">G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/31/keynes-ekonom-gay/" title="Keynes Ekonom Gay">Keynes Ekonom Gay</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/17/aig-mewakili-kerakusan-kapitalisme/" title="AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme">AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/15/demokrasi-kapitalis-tidak-berkah-ekonomi-islam-khilafah-itu-berkah/" title="Demokrasi Kapitalis Tidak Berkah, Ekonomi Islam Khilafah itu Berkah">Demokrasi Kapitalis Tidak Berkah, Ekonomi Islam Khilafah itu Berkah</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/kerusakan-sistem-barat-semakin-tidak-teratasi/" title="Kerusakan Sistem Barat Semakin Tidak Teratasi">Kerusakan Sistem Barat Semakin Tidak Teratasi</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/barat-terjungkal-karena-ekonomi-non-riil/" title="Barat Terjungkal karena Ekonomi Non Riil">Barat Terjungkal karena Ekonomi Non Riil</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/15/pergeseran-peradaban-itu-realistis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stigma Demonik</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2007/08/21/stigma-demonik/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2007/08/21/stigma-demonik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 15:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KUMPULAN ARSIP e-SYARIAH]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[Stigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2007/08/21/stigma-demonik/</guid>
		<description><![CDATA[StIGMA NEGATIF oleh: Hidayatullah Muttaqin Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian. (TQS. Al-Baqarah: 208) Terjemahan al-Qurâ€™an Surah al-Baqarah: 208 ini dengan jelas memiliki makna seruan kepada setiap orang beriman agar masuk ke dalam Islam secara kaffah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">StIGMA NEGATIF</span></p>
<p>oleh: <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 36pt 0.0001pt 27pt; text-align: justify"><em><span style="font-size: 7pt; font-family: Verdana;">Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian. </span></em><span style="font-size: 7pt; font-family: Verdana;">(TQS. Al-Baqarah: 208)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Terjemahan al-Qurâ€™an Surah al-Baqarah: 208 ini dengan jelas memiliki makna seruan kepada setiap orang beriman agar masuk ke dalam Islam secara <em>kaffah</em> (menyeluruh). Masuk ke dalam Islam secara <em>kaffah</em> berarti beriman kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (syariat Islam). Terhadap segala perintah dan larangan Allah di dalam al-Qurâ€™an dan Hadis Nabi SAW cukup jawaban <em>â€œkami mendengar, dan kami patuhâ€</em> yang mesti diberikan oleh orang-orang beriman kepada Allah dan Rasul (lihat QS. An-Nur: 51).</span><span id="more-94"></span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Berdasarkan QS. Al-Baqarah: 208 ini tidak ada jalan lain bagi orang-orang beriman kecuali menjalankan seluruh syariat Islam dengan sepenuh keyakinan. Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar Juz II menegaskan jangan sampai ada keyakinan ada satu hukum yang lebih baik dari hukum Allah. Keyakinan ini memiliki konsekwensi syariat Islam harus diterapkan baik oleh individu, masyarakat, dan negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Beriman dan menjalankan seluruh hukum Islam serta meninggalkan pemahaman dan hukum yang tidak berasal dari Islam merupakan karakteristik muslim <em>kaffah</em>. Muslim <em>kaffah</em> meyakini pemikiran dan hukum yang tidak berasal dari Islam merupakan jalan setan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Agama Berwajah Demonik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Garis batas mana jalan Allah dan mana jalan setan menurut al-Qurâ€™an sudah sedemikian jelas. Namun selalu ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk mengkaburkan garis batas ini dan membawa pemahaman umat agar meninggalkan syariat Islam sedikit demi sedikit hingga akhirnya hukum Allah tidak lagi menjadi standar kehidupan umat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Saat ini gejala infeksi penyakit <em>spilis</em> (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) begitu kentara dan membahayakan aqidah umat. Bahkan ada upaya memahamkan umat, apabila memiliki pemahaman batasan yang jelas tentang agama yakni Islam dan non Islam seraya menunjukkan identitas keislamannya (<em>syakhsiyah Islamiyah</em>) di tengah masyarakat diberi stigma sebagai agama yang berwajah demonik (berwajah iblis). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Seorang intelektual menulis artikel dengan judul <em>Memaknai Natal dan Idul Adha </em>di rubrik opini Kompas edisi Kamis 28 Desember 2006. Dalam tulisan tersebut ia menyinggung pendapat Teolog Protestan Paul Tillich yang mengemukakan agama mempunyai wajah ganda, yakni wajah suci (<em>holy</em>) dan wajah iblis (<em>demonic</em>). Wajah suci agama memiliki pesan-pesan seperti perdamaian, kasih sayang, toleransi, solidaritas, cita-cita persamaan dan keadilan. Sedangkan wajah demonik agama berupa identitas yang menjelaskan batasan penganut suatu agama dengan pemeluk agama lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Pembagian katagori agama berwajah suci dan demonik apabila diikuti oleh seorang muslim memiliki konsekwensi ia harus menanggalkan identitas kemuslimannya yakni meninggalkan syariat Islam sebagai aturan kehidupan. Pembagian katagori ini juga sekaligus memberi stigma muslim <em>kaffah</em> merupakan pemeluk agama berwajah demonik. Seolah-olah bila seorang muslim menjalankan syariat Islam secara <em>kaffah </em>perilakunya seperti iblis yang akan menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan umat agama lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Syariat terhadap Non Muslim</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Kewajiban menerapkan Islam secara <em>kaffah</em> hakikatnya membawa kebaikan dan rahmat bagi alam semesta, termasuk kalangan non muslim (<em>ahlu dzimmah</em>) yang hidup di dalam sistem Islam. Karena Islam memiliki aturan yang menjamin kehidupan non muslim dan memberikan perlindungan kepada mereka dalam menjalankan ibadah agamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Di dalam Islam tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam. Pemeluk agama lain tetap diberikan kebebasan untuk memeluk dan menjalankan agamanya di dalam wilayah pemerintahan Islam (<em>khilafah Islamiyah</em>). Mereka diberikan toleransi mengenakan identitas yang menjadi ciri khas agama mereka. Mereka diperbolehkan menjalankan syariat agama mereka di kalangan mereka sendiri. Mereka juga diberikan hak merayakan hari besar agamanya. Tempat-tempat ibadah mereka juga dijaga dan dilindungi oleh negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Dalam bidang peradilan, kedudukan mereka sama dengan muslimin. Siapa pun yang melakukan pelanggaran syariat Islam dalam hal pidana dan perdata diberlakukan hukum yang sama. Siapa yang terbukti bersalah di pengadilan, maka dia lah yang dihukum menurut syariat Islam tanpa pandang bulu muslim atau non muslim, pejabat negara atau rakyat jelata, kaya atau miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Dalam hal kesejahteraan, jaminan negara terhadap rakyatnya meliputi seluruh warga negara muslim dan non muslim. Warga non muslim berhak mendapatkan subsidi dan fasilitas umum sebagaimana yang diperoleh warga muslim. Tidak ada perlakukan diskirminasi terhadap warga non muslim dalam menjalankan kegiatan ekonomi selama masih berada dalam koridor syariat Islam. Juga muslim dan non muslim diperbolehkan melakukan kerja sama bisnis dan perdagangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Upaya pengkaburan garis batas agama-agama dan stigma orang yang melaksanakan agamanya secara <em>kaffah</em> sebagai agama berwajah iblis merupakan pandangan sekuler yang ingin mensekulerkan agama-agama di dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Dalam sudut pandang Islam, meskipun agama mewajibkan orang-orang beriman masuk ke dalam Islam secara <em>kaffah</em> dan mengharamkan mengambil pemikiran dan ajaran selain Islam, agama mewajibkan muslimin untuk menghormati agama selain Islam. Agama juga mewajibkan negara menerapkan syariat Islam yang menjamin hak-hak non muslim termasuk tidak mengutak-atik dan tidak mencampuri urusan agama mereka. Terhadap perbedaan agama sebagai suatu kenyataan yang pasti adanya di dunia ini, cukuplah QS. al-Kafirun ayat 6: <em>lakum dii nukum wa liya diin </em>(untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku) sebagai jawaban.</span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p><h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/04/28/diktaktor-intelektual/" title="DIKTAKTOR INTELEKTUAL">DIKTAKTOR INTELEKTUAL</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/" title="PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang">PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/" title="Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen">Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/" title="AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika">AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/18/jangan-kambing-hitamkan-islam/" title="Jangan Kambing Hitamkan Islam">Jangan Kambing Hitamkan Islam</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2007/08/21/stigma-demonik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
