Published February 6th, 2010
Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara
Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek sebagaimana dipetik Kompas hari ini (5/2/2010) menceritakan keluh kesahnya tentang ironi pemanfaatan sumber daya alam (SDA) propinsi tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat Badan Anggaran DPR kemarin (4/2). Ia mencontohkan, bagaimana sebuah perusahaan tambang batubara di propinsi tersebut setiap tahunnya dapat menghasilkan batubara sebanyak 45 juta ton, tetapi pemasaran hasilnya hanya 5% untuk kebutuhan dalam negeri sedangkan 95% ditujukan untuk ekspor. Selama ini, daerah-daerah penghasil batubara seperti Kalimanan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan justru mendapatkan pasokan batubara yang sangat minim.
Perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dengan China atau ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) telah memasuki babak realisasi sejal januari tahun ini. Hasilnya, produk impor dari China semakin mendominasi pasar Indonesia dan mengancam eksistensi industri dan usaha menengah kecil serta kemandirian Indonesia. Kesepakatan pemerintah akan perjanjian perdagangan bebas disadari atau tidak telah membunuh ekonomi negeri ini secara perlahan namun pasti.
Hari ini (14/8) dalam pidato kenegaraan di depan Sidang Paripurna DPR RI, Presiden SBY menyampaikan pandangannya tentang paradigma dan strategi pembangunan ekonomi. Menurut SBY, Indonesia tidak boleh terjerat Kapitalisme Global.
Meskipun telah menjadi anggota WTO Cina tetap menerapkan pajak ekspor. Akibatnya harga-harga bahan mentah di pasar internasional lebih mahal dan menyulitkan industri-industri negara Barat bersaing dengan industri Cina.
Saat ini perbincangan tentang Neoliberalisme telah lepas dari akar ideologinya (Kapitalisme), sehingga banyak yang memandang Neoliberalisme hanya sebatas “isme†anti intervensi pemerintah dan anti subsidi. Karena itu pula pasangan SBY-Boediono mengklaim pemerintahannya bukanlah pemerintahan Neoliberal melainkan pemerintahan yang menjalan kebijakan ekonomi jalan tengah. SBY beralasan pemerintahannya masih menerapkan intervensi dan subsidi, termasuk program BLT dan PNPM Mandiri. 
Dalam diskusi ‘Boedionoomics’ di Hotel Borobudur (26/5/2009), Chatib mengemukakan, tidak ada jejak neoliberal pada ekonomi Indonesia sejak dulu hingga Boediono memegang jabatan tinggi dalam pemerintahan. Inilah “dusta kaum neolib” yang “banci” tidak mau mengakui bahwa mereka dan sejumlah pejabat negara adalah orang-orang neolib.
Hakikatnya, ekonomi Neoliberal dengan Kapitalismenya telah mengalami kebangkrutan ide dengan kegagalan Neoliberalisme menanggulangi krisis berdasarkan ide dasar kaum neolib, yakni laissez faire. Namun tidak bisa dipungkiri, institusi Neolib masih tegak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Hari ini (18/5/2009) di Kompas halaman 15 saya membaca sebuah tulisan seorang ekonom yang memuji setinggi langit CaWapres Boediono. Tulisan tersebut berjudul Tantangan BI Sepeninggalan Boediono. Memuji Boediono setinggi langit tentu saja sekalian bertepuk tangan atas prestasi ekonomi pemerintahan SBY.
Di tengah krisis global, perekonomian Jerman pada kuartal pertama 2009 menciut 3,8%. Kondisi ini diperparah dengan membengkaknya defisit anggaran Jerman menjadi dua kali lipat dibandingkan defisit pada masa penyatuan Jerman.
Sejak resesi mulai menimpa AS pada Desember 2007 hingga sekarang, sudah 5,7 juta warga AS yang harus meninggalkan pekerjaannya. Kondisi ini menyebabkan jumlah pengangguran terakhir meningkat menjadi 13,7 juta orang.
Presiden Amerika Serikat, Barack Husein Obama telah mencapai kesepakatan baru dengan Presiden Pakistan dan Afghanistan. Menurut Obama, ia telah mendapatkan komitmen dari kedua presiden tersebut untuk lebih agresif memerangi Taliban dan al-Qaida.
Sesuai perkiraan, suara golput akan meningkat dalam pemilu legislatif tahun ini termasuk golput di luar negeri. Namun di luar dugaan, tingkat golput di luar negeri sangat besar. Golput menang telak 77%.
Membaca judul tulisan ini, mungkin anda akan bertanya-tanya? Apa benar bankir adalah musuh bagi perekonomian suatu negara? Bukankah kebutuhan akan lembaga perbankan merupakan kebutuhan mutlak dalam sebuah perekonomian, baik untuk kebutuhan modal, penyimpanan, investasi, maupun transaksi?
Sebagaimana diberitakan oleh media internasional, KTT G-20 di London (2/4/2009) diwarnai perpecahan antara kubu Eropa yang diwakili oleh Jerman dan Perancis dengan kubu Amerika. Pelajaran apa yang kita peroleh dari pertemuan negara-negara besar tersebut?
Ketua MUI Pusat Drs. H. Amidhan menyatakan bahwa golput tidak haram. Ia menyatakan umat Islam justru wajib memilih pemimpin yang sesuai dengan kriteria Islam. Yaitu: beriman, jujur, amanah, mampu menyampaikan aspirasi, dan memiliki kompetensi yang baik (cerdas).
Siapa yang tidak kenal dengan Keynes? Atau lebih lengkapnya John Maynard Keynes. Semua mahasiswa fakultas ekonomi khususnya yang telah mengambil mata kuliah ekonomi makro pasti pernah mendengar nama kesohor ini.
Tahun 2009 ini ekonomi Indonesia menghadapi tekanan yang lebih berat dengan besarnya jumlah utang swasta yang jatuh tempo, yakni sebesar 22,6 miliar dollar AS. Padahal tahun ini pula pemerintah Indonesia menganggarkan pembayaran utang dalam APBN sebanyak Rp 172 trilyun.
Kampanye terbuka dalam rangka pemilihan umum anggota legislatif telah dibuka. Pengakuan demi pengakuan akan keberhasilan meluncur dengan derasnya. Tidak terkecuali klaim keberhasilan Presiden SBY.
Komite Pasar Terbuka Federal bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (Fed) akhirnya mengambil langkah “pragmatis” di dalam penanganan krisis keuangan di AS, yakni dengan mencetak mata uang dollar. Pencetakan dilakukan antara lain untuk membeli obligasi pemerintah AS senilai US$ 300 miliar.
Krisis keuangan Amerika Serikat telah membawa negeri itu ke titik defisit keuangan paling besar sepanjang sejarah AS. Dalam satu tahun utang pemerintah AS berkembang lebih dari 13,68% atau bertambah US$ 1,459 trilyun. Kini rasio utang publik AS mencapai 76,01% PDB sedangkan rasio seluruh utang AS -termasuk swasta- setara 350% PDB.
Dalam wawancara pertama Presiden AS Barack Obama dengan televisi al-Arabiya (27/1/2009), Obama menyatakan tugasnya adalah mengkomunikasikan bahwa rakyat Amerika memiliki hubungan yang kukuh dan luar biasa dengan kaum Muslim. Menurut Obama, Amerika bukan musuh dunia Islam. Amerika juga tidak dilahirkan sebagai penjajah.
Pengelolaan negeri ini tidak pernah dapat melepaskan diri dari kebiasaan berutang. Selain kebiasaan menyusutkan harta negara, pemerintah juga memiliki kebiasaan berutang. “Gali lobang tutup lobang” itulah pekerjaan pemerintah saat ini. Terbitkan surat utang kemudian buy back.
Makin nampak saja kerusakan ekonomi dunia. Setelah berbagai laporan dan prediksi buruk tentang perekonomian dunia bermunculan baru-baru ini, kini giliran Micahel Camdessus, mantan Managing DirectorIMF menyatakan sikap “apatisnya” terhadap ekonomi dunia.
Krisis global semakin menunjukkan kekuatannya dengan melenyeapkan aset-aset finansial dalam jumlah besar. Bank Pembangunan Asia -Asian Depevelopment Bank (ADB)- melaporkan kerugian akibat krisis keuangan global pada tahun 2008 mencapai US$ 50 trilyun atau setara Rp 600 ribu trilyun (kurs Rp 12.000/dollar AS). Kerugian ini meliputi aset dalam bentuk saham, obligasi, dan mata uang.
Kerasnya “hantaman” krisis global sudah dirasakan dunia sejak “meloncatnya” harga minyak mulai tahun 2007 lalu yang kemudian secara massive diikuti oleh kehancuran sistem keuangan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Dalam laporan terbaru Bank Dunia disebutkan ekonomi akan mengalami penciutan pertama sejak PD II.
Memburuknya perekonomian dunia sebagaimana laporan-laporan ekonomi terbaru yang dikeluarkan oleh berbagai negara, seakan-akan menjadi lebih suram dengan predeksi Nouriel Roubini. Menurut Roubini resesi global dapat berlanjut hingga akhir 2010. Hal ini disebabkan respon pemerintah dalam memperbaiki ekonomi “terlalu kecil, terlalu terlambat” kata Roubini.
Semakin dalam saja “luka” perekonomian dunia akibat “pukulan” krisis global. Setelah perekonomian AS mengalami kontraksi dan jumlah pengangguran membumbung, kini giliran perekonomian nomor dua dunia yang meradang. Defisit neraca transaksasi berjalan Jepang telah mencapai rekor baru, tertinggi sejak 1996.
Krisis global yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun semakin menunjukkan kekuatannya dalam “memukul” perekonomian dunia. Hampir tidak ada satu pun negara yang tidak terlewati “pukulan” krisis global.
Sudan merupakan negara yang kaya sumber daya alam. Di wilayah konflik, Darfur, terdapat sumber daya alam seperti minyak, uranium, dan tembaga. Wilayah ini menarik perhatian bangsa-bangsa penjajah untuk mendapatkannya dengan saling berebut pengaruh di kawasan tersebut dan menciptakan konflik di sana. Sudan merupakan satu bagian dari 50-an wilayah Islam yang terpecah belah dalam nation state. Sudan membutuhkan solusi Islam, solidaritas Islam, dan kekuatan umat. Sudan membutuhkan tegaknya Khilafah.
Setelah bulan lalu pemerintahan Presiden Barack Obama mengeluarkan paket stimulus ekonomi senilai US$ 787 miliar yang menyebabkan sistem fiskal AS mengalami defisit terbesar sepanjang sejarah US$ 1,75 trilyun, Amerika dihadapkan pada kondisi perekonomian yang semakin suram.








