<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS &#187; Globalisasi</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/tag/globalisasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 23:25:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>GLOBALISASI, KEMISKINAN, DAN AGAMA : Respon Hizbut Tahrir</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/07/15/globalisasi-kemiskinan-dan-agama-respon-hizbut-tahrir/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/07/15/globalisasi-kemiskinan-dan-agama-respon-hizbut-tahrir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 23:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ismail Yusanto]]></category>
		<category><![CDATA[Kemiskinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=900</guid>
		<description><![CDATA[<img style="border: 2px solid black; margin: 3px; float: left;" title="globalisasi" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/07/globalisasi.jpg" alt="" width="135" height="90" />Tulisan ini bertujuan menjelaskan 3 (tiga) poin yang saling terkait dalam konteks globalisasi, kemiskinan, dan agama; yaitu : (1) bagaimana hubungan globalisasi dan kemiskinan, (2) bagaimana respon agama (atau agama-agama) terhadap globalisasi, (3) bagaimana respon Hizbut Tahrir terhadap globalisasi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<p style="text-align: left;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Oleh : H.  Ir. Muhammad Ismail Yusanto, MM</strong></span></p>
<p style="text-align: left;">
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Pengantar</strong></span></p>
<p align="justify"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/07/globalisasi.jpg"><img style="border: 2px solid black; margin: 3px; float: left;" title="globalisasi" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/07/globalisasi.jpg" alt="" width="135" height="90" /></a><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Bagi negara-negara  Dunia Ketiga, globalisasi tiada lain adalah imperialisme baru yang menjadi  mesin raksasa produsen kemiskinan yang kejam dan tak kenal ampun. Jerry  Mander, Debi Barker, dan David Korten tanpa ragu menegaskan,&#8221;Kebijakan  globalisasi ekonomi, sebagaimana dijalankan oleh Bank Dunia, IMF, dan  WTO, sesungguhnya jauh lebih banyak menciptakan kemiskinan ketimbang  memberikan jalan keluar.&#8221; (<em>The International Forum on Globalization</em>,  2004:8). Jadi, globalisasi adalah produsen kemiskinan. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Namun ada yang  belum jelas, yaitu bagaimana hubungan globalisasi dan kemiskinan di  satu sisi, dengan agama (atau agama-agama) di sisi lain. Memang respon  umum agama-agama adalah sikap resistensi terhadap globalisasi. Karena  globalisasi dapat dikatakan sebagai ekspansi budaya Barat yang sekularistik,  materialistik, dan liberal. Secara demikian, globalisasi dipastikan  akan mengikis dan menggerus nilai-nilai spiritualitas dan religiusitas  berbagai agama. Anis Malik Toha (2005:48) menerangkan di antara dampak  globalisasi adalah,&#8221;&#8230;manusia harus mengubah (<em>revise</em>) atau  merombak (<em>deconstruct</em>) pemikiran-pemikiran dan keyakinan-keyakinan  agama tradisional agar seirama dengan semangat zaman, <em>zeitgeist</em>,  dan nilai-nilai yang diyakini &#8220;universal.&#8221;" </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Maka nilai-nilai  agama yang dikatakan tradisional seperti penolakan aborsi, homoseksual,  dan lesbianisme, dapat luntur ketika berhadapan dengan globalisasi yang  tak mengenal moral. Namun persoalannya, apakah respon resistensi (penolakan)  sudah cukup? Jelas tidak. Yang diperlukan tak sekedar menolak atau mengkritik  globalisasi, tapi juga bagaimana solusi alternatif yang dapat diajukan,  termasuk jalan untuk menuju solusi itu. Inilah perkara yang belum jelas  ketika kita berbicara kaitan agama dengan globalisasi dan kemiskinan. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Maka dari itu,  tulisan ini bertujuan menjelaskan 3 (tiga) poin yang saling terkait  dalam konteks globalisasi, kemiskinan, dan agama; yaitu : </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Pertama</em>,  bagaimana hubungan globalisasi dan kemiskinan. Akan dijelaskan dan dibuktikan  bahwa globalisasi hanyalah penghasil kemiskinan bagi kebanyakan manusia  di muka bumi. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Kedua</em>,  bagaimana respon agama (atau agama-agama) terhadap globalisasi. Akan  dijelaskan bagaimana peta gerakan anti globalisasi, sehingga dapat diketahui  di mana dan bagaimana posisi agama-agama terhadap globalisasi. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Ketiga</em>,  bagaimana respon Hizbut Tahrir terhadap globalisasi. Akan dijelaskan  bagaimana Hizbut Tahrir dengan konsepnya yaitu Islam sebagai ideologi  dan pemikiran menyeluruh (<em>fikrah kulliyah</em>) tentang alam semesta,  manusia, dan kehidupan, kiranya akan dapat menjadi harapan umat manusia  untuk membebaskan diri dari neo imperialisme global yang menjadi substansi  globalisasi.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Globalisasi  dan Kemiskinan</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Globalisasi  adalah penghasil kemiskinan, karena globalisasi adalah neo imperialisme  yang dilaksanakan negara-negara kapitalis untuk menghisap dan mengeksploitasi  dunia. Itulah yang ingin kami tegaskan. Untuk itu, akan dijelaskan secara  ringkas definisi globalisasi dan bukti globalisasi menjadi penghasil  kemiskinan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Globalisasi  memang suatu realitas global yang yang rumit, kompleks, dan multi-dimensional.  Karena itu, tidak mudah menemukan satu definisi tunggal yang dapat mencakup  semua gejala dan fenomena globalisasi. Definisi globalisasi banyak sekali.  Sebuah buku berjudul <em>Globalization</em> karya Alex Mac Gillivray (2006)  menerangkan betapa banyaknya buku tentang globalisasi. Dikatakannya  ada sekitar 3.300 buku berbahasa Ingris, 700 buku berbahasa Perancis,  670 buku berbahasa Jerman, dan ratusan buku lainnya dalam bahasa Rusia,  Arab, India, China, Spanyol, dan lain-lain yang bicara seputar globalisasi.  Karena itu wajar ada ratusan definisi globalisasi. (Rais, 2008:11; Sejati  &amp; Martanto, 2006:1,66, &amp; 118; Salim, tanpa tahun:2; Winarno,  2004:39).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kami tidak  akan terlalu jauh membahas macam-macam definisi globalisasi dengan berbagai  macam kategorisasi dan perspektifnya. Namun memang benar, harus ada  sebuah definisi tentang globalisasi yang diadopsi, karena kejelasan  definisi ini akan menentukan arah pembahasan dan penyikapan terhadap  globalisasi. Bahkan pemahaman kita terhadap definisi globalisasi ini  menentukan bagaimana arah masa depan kita. Menurut kami, substansi globalisasi  adalah imperialisme baru, bukan yang lain. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Syaikh Fathi  Muhammad Salim, seorang ulama dan pemikir terkemuka dari Hizbut Tahrir,  telah menganalisis secara mendalam macam-macam definisi globalisasi  dalam kitabnya <em>Al-&#8217;Aulamah </em>(globalisasi). Judul bukunya menggambarkan  substansi pemahamannya yang akurat dan <em>precise</em> terhadap globalisasi.  Bukunya secara lengkap berjudul <em>Al-&#8217;Aulamah Hiya Adah Ar-Ra`sumaliyah  al-Haditsah li As-Saitharah &#8216;Ala Al-&#8217;Alam</em>, yang berarti : globalisasi  adalah alat kapitalisme modern untuk menguasai dunia. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Syaikh Salim  pertama-tama mendeskripsikan realitas globalisasi dengan cermat dengan  menyatakan, &#8220;Pengertian globalisasi ringkasnya adalah : suatu proses  memudarnya tapal batas antar negara-negara baik secara ekonomi, budaya,  ideologi, maupun sosial, serta kondisi dunia global yang menjadi bagaikan  kampung kecil di hadapan hegemoni kapitalisme, dengan sistem ekonominya  yang penuh dengan keburukan, kezaliman, kerakusan, dan eksploitasi,  juga sistem pemikirannya yang destruktif terhadap berbagai ideologi,  moral, dan nilai lain.&#8221;  (Fathi Salim, <em>Al-&#8217;Aulamah, </em> hlm. 2). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Syaikh Salim  lalu mendefinisikan globalisasi dengan redaksi lain. Fokusnya adalah  pada dua dimensi, yaitu dimensi ideologi dan ekonomi. Dalam dimensi  ideologi, Syaikh Salim menegaskan, &#8220;Globalisasi adalah suatu proses  menjadikan ideologi kapitalisme sebagai ideologi universal yang harus  dianut oleh semua bangsa secara sukarela atau terpaksa, serta pemaksaan  peradaban Barat dan nilai-nilainya kepada dunia.&#8221; Sementara dalam  dimensi ekonomi, Syaikh Salim mengatakan,&#8221;Globalisasi adalah proses  menjadikan sistem ekonomi kapitalis ala Amerika Serikat sebagai sistem  dominan di dunia, dengan mengintegrasikan perekonomian lokal ke dalam  tatanan perekonomian global melalui privatisasi, pasar bebas, dan mekanisme  pasar pada semua perekomian negara-negara di dunia. Ini berarti penghapusan  semua batasan dan hambatan terhadap arus perpindahan barang, modal,  dan jasa yang bersandar pada kekuatan pengaruh Amerika Serikat. WTO,  Bank Dunia, dan IMF tiada lain hanyalah alat untuk memaksakan kekuatan  Amerika Serikat itu.&#8221; (Fathi Salim, <em>Al-&#8217;Aulamah </em> hlm. 8).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Jadi, apa substansi  globalisasi? Syaikh Salim kemudian menyimpulkan,&#8221;<em>Fa-hiya bi  ikhtishar isti&#8217;mar jadid</em>.&#8221; (Jadi, globalisasi ringkasnya adalah  imperialisme baru). (Fathi Salim, <em>Al-&#8217;Aulamah</em>,<em> </em> hlm. 18). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Penilaian bahwa  globalisasi identik dengan imperialisme baru ini sebenarnya bukan pandangan  yang keterlaluan atau berlebihan, karena memang demikianlah faktanya.  Tak sedikit intelektual dan akademisi yang &#8211;sejalan dengan kesimpulan  Syaikh Salim ini&#8211; menyimpulkan globalisasi adalah neo imperialisme  atau neo kolonialisme. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya <em>Al-Muslimun  wa Al-â€™Aulamah</em> hlm. 17 menyatakan bahwa globalisasi adalah bentuk  baru atau penghalusan bahasa dari imperialisme yang telah di-<em>make-up</em> wajahnya. (Usman, 2003:262)  Menurut Khor (1995) dan Ling (2000), globalisasi  bagi negara-negara dunia ketiga sama saja dengan kolonialisasi. (Sejati  &amp; Martanto, 2006:3). Jeffrey Sachs, profesor ekonomi dari Universitas  Colombia Amerika Serikat, menilai bahwa globalisasi tak lain adalah  bungkus baru dari developmentalisme yang merupakan episode lanjutan  dari imperialisme yang gagal dalam bentuk awalnya. (Prasetyantoko, 2001:15).  Budi Winarno (2004) menulis buku dengan judul yang terus terang tanpa  tedeng aling-aling : <em>Globalisasi Wujud Imperialisme Baru. </em> Amien Rais dalam bukunya <em>Selamatkan Indonesia!</em> (2008:27) menyatakan  pula bahwa globalisasi yang dikembangkan Amerika hakekatnya adalah sebuah  neo imperialisme. Mansour Fakih menegaskan hal serupa dengan menyatakan,â€Globalisasi  yang ditawarkan sebagai jalan keluar bagi kemacetan pertumbuhan ekonomi  bagi dunia ini&#8230;telah dicurigai sebagai bungkus baru dari imperialisme  dan kolonialisme.â€ (Fakih, 2001:211).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kesimpulannya,  globalisasi tiada lain adalah neo imperialisme. Inilah definisi yang  paling tepat dan pantas untuk globalisasi, tak lebih dan tak kurang.  Dengan demikian, akan mudah dipahami bagaimana hubungan globalisasi  dengan kemiskinan. Globalisasi sungguh adalah penghasil kemiskinan dunia.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Memang globalisasi  selalu digembar gemborkan oleh para aktornya sebagai sesuatu yang menguntungkan  karena menghasilkan kemakmuran dunia. Kapitalisme sebagai ideologi dasar  globalisasi diklaim oleh Robert Gilpin dan Jean Millis Gilpin sebagai,â€pencipta  kesejahteraan paling berhasil yang pernah dikenal dunia.â€ (Gilpin  &amp; Gilpn, 2002:xv). Namun persoalan sesungguhnya adalah distribusi  dari kesejahteraan itu. Jadi yang harus dipersoalkan bukanlah apakah  globalisasi menghasilkan kemakmuran atau tidak, melainkan apakah kemakmuran  itu didistribusikan secara adil atau tidak. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Faktanya, globalisasi  hanya menguntungkan negara-negara industri kaya. Sementara hanya sedikit  negara berkembang (itu pun hanya segelintir penduduknya) yang mendapatkan  manfaat globalisasi. Joseph Stiglitz, pemenang Nobel bidang ekonomi  tahun 2001, dalam bukunya <em>In the Shadow of Globalization </em> dengan terus terang mengatakan pemenang globalisasi adalah negara-negara  industri (lama dan baru), sementara sebagian besar negara berkembang  menjadi pecundang. (Hadar, 2004:42). Banyak data menunjukkan fakta keras  ini.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Laporan <em> United Nations Human Development </em> tahun 1999 menyebutkan, seperlima orang terkaya dari penduduk dunia  mengkonsumsi 86 % semua barang dan jasa. Sedangkan seperlima yang termiskin  hanya mendapatkan 1 % lebih sedikit. Seperlima yang terkaya juga menikmati  82 % perdagangan dan 68 % Investasi Asing Langsung (<em>FDI=Foreign Direct  Investment</em>), sedang seperlima yang termiskin hanya mendapatkan 1  % lebih sedikit. (<em>The International Forum on Globalization</em>, 2004:31). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Data kesenjangan  tahun 1999 ini tidak banyak berubah jika dibanding data tahun 1980 ketika  globalisasi mulai beroperasi dengan neoliberalismenya, saat Margaret  Thatcher dan kemudian Ronald Reagan menduduki kursi kekuasaan. (Wibowo  &amp; Wahono, 2003:20). Robert H. Strahm menggambarkan data tahun 1980  dengan berkata,â€Kita hidup dalam sebuah dunia, di mana 26 % penduduknya  (di negara-negara industri Blok Barat dan Blok Timur) menguasai lebih  dari 78 % produksi, 81 % penggunaan energi, 70 % pupuk, dan 87 % persenjataan  dunia. Sementara 74 % penduduk dunia di negara-negara berkembang (Afrika,  Asia, dan Amerika Latin) hanya mendapat seperlima produksi dan kekayaan  dunia.â€ (Strahm, 1999:3). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Walhasil, di  satu sisi, globalisasi memang sangat menguntungkan negara-negara kapitalis,  khususnya perusahaan-perusahaan multinasional (<em>MNCs=multi national  corporations</em>). Menurut catatan Duncan McLaren dan Willmore (2003:3),  pada tahun 2003 lima ratus perusahaan multinasional mengontrol hampir  dua pertiga perdagangan dunia. Bahkan lima perusahaan multinasional  terbesar dunia secara bersama-sama menghasilkan angka penjualan tahunan  yang lebih besar dibanding pendapatan 46 negara termiskin di dunia.  (Sejati &amp; Martanto, 2006:72). Pada tahun 1999, hasil penjualan dari  lima korporasi papan atas (General Motors, Wal-Mart, Exxon-Mobil, Ford  Motor, dan Daimler-Chrysler) lebih besar dibanding GDP 182 negara. (<em>The  International Forum on Globalization</em>, 2004:41).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Namun di sisi  lain, globalisasi hanya menghasilkan kemiskinan untuk negara-negara  berkembang. Pada pertengahan 1990-an, dengan standar kemiskinan ekstrim  yakni konsumsi sebesar satu dolar AS per hari, kurang lebih 33 % penduduk  negara-negara berkembang hidup dalam kemiskinan. Dari jumlah itu, 550  juta jiwa ada di Asia Selatan, 215 juta jiwa ada di Sub-Sahara Afrika,  dan 150 juta jiwa di Amerika Latin. (Castel, 2000:243, dikutip oleh  Sejati &amp; Martanto, 2006:75).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kesenjangan  kaya miskin sebagai akibat globalisasi juga dapat dilihat dari data  yang mengiris hati berikut. Untuk perbaikan pendidikan dasar di seluruh  negara berkembang, dibutuhkan dana 6 miliar USD setahun. Jumlah ini  lebih sedikit dibanding dana 8 miliar USD  setahun untuk belanja komestik  di AS saja. Untuk instalasi air dan sanitasi seluruh negara berkembang,  diperlukan 9 miliar USD setahun, lebih kecil dari dana konsumsi es krim  di Eropa yang besarnya 11 miliar USD setahun. Untuk pemeliharaan kesehatan  dan nutrisi, seluruh negara berkembang perlu  13 miliar USD setahun,  lebih kecil dibanding dana untuk pakan hewan piaraan (anjing dan kucing)  di Eropa dan AS yang besarnya 17 miliar USD setahun. (Rais, 2008:22). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Itulah hakikat  globalisasi yang jahat, yaitu neo imperialisme negara-negara kapitalis  untuk menghisap dan mengeksploitasi negara-negara berkembang. Globalisasi  adalah penghasil kemiskinan. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Respon Agama  : Memahami Peta Gerakan Anti Globalisasi</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dikarenakan  berbagai dampak buruk globalisasi, wajar kalau muncul respon berupa  protes dan kritik tajam terhadap globalisasi, yang disimbolkan dengan  berbagai simptomnya, seperti WTO dan berbagai <em>summit</em> yang dilakukan  oleh G-8, IMF, EU, APEC, AFTA, dan seterusnya. Gelombang protes atas  globalisasi di Seattle pada Nopember 1999, berlanjut di kota-kota besar  lain tempat berbagai pertemuan internasional berlangsung, seperti Washington,  Millan, Melbourne, Prague, Nice, Gothenburg, Quebec City, Genoa, London,  Barcelona, Doha, dan Cancun. (Sejati &amp; Martanto, 2006:91).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Bagaimana peta  gerakan anti globalisasi yang ada? Lalu di mana posisi agama dalam peta  gerakan tersebut? Eric Hiariej dalam artikelnya <em>Gerakan  Anti Kapitalisme Global</em> telah mencoba membuat peta gerakan anti  globalisasi itu, namun memang tidak jelas di mana posisi atau peran  agama dalam peta yang dibuatnya tersebut. (Sejati &amp; Martanto, 2006:85-107).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Hiariej mengutip  klasifikasi gerakan anti globalisasi menurut Manfred Steger (2002) dan  Callinicos (2003). Dalam versi Manfred Steger, gerakan ini secara sederhana  dipilah mengikuti pemilahan klasik â€œkananâ€ dan â€œkiriâ€ sebagai  berikut : </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Pertama, <em> kelompok kanan</em>, yaitu para <em>proteksionis nasionalis</em>, yang  cenderung menyalahkan globalisasi sebagai biang penyebab berbagai penyakit  sosial, ekonomi, dan politik yang menimpa masyarakat di negara asalnya.  Mereka mencela perdagangan bebas, kekuatan investor global, dan perusahaan  multinasional yang dianggap menyumbang kerusakan sosial di negara mereka.  Para proteksionis nasionalis menuntut keutuhan bangsa dan negaranya  dari elemen-elemen asing. Menurut Steger, mereka ini contohnya adalah  Patrick Buchanan, Jorg Haidar, Jean-Marie Lepen, Gerhard Frey dan Gianfranco  Fini.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Kedua,  kelompok kiri</em>, yang disebut Steger <em>egalitarian internasionalis</em>.  Mereka ini meliputi partai-partai politik progresif dengan visi dunia  yang lebih adil dan merata antara Utara dan Selatan, serta berbagai  NGO yang mengusung isu-isu lingkungan, HAM, buruh, dan perempuan. Para  egalitarian internasionalis menuduh para elit penggerak globalisasi  telah memaksakan neoliberalisme yang menjadi sumber ketimpangan global,  pengangguran, degradasi lingkungan, dan matinya kesejahteraan sosial.  Kelompok kiri ini bermaksud mengambil alih proses globalisasi dari tangan  para pengambil kebijakan neoliberal dan pemilik modal. Menurut Steger,  mereka ini contohnya adalah aktivis anti korporasi Ralph Nader, kelompok  pergerakan seperti Zapatista (Meksiko) dan Chipko (India), dan berbagai  NGO seperti <em>International Forum on Globalization, Global Exchange,</em> dan <em>Focus on the Global South.</em> (Sejati &amp; Martanto, 2006:97-98).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Sementara menurut  Callinicos (2003) gerakan anti globalisasi dipilah lebih lengkap menjadi  enam kelompok :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Pertama</em>,  kelompok <em>reaksioner</em>, atau para <em>romantic capitalism</em>. Mereka  memperjuangkan masyarakat baru berdasarkan kerinduan akan masa lalu  yang ideal tanpa sepenuhnya menolak modernitas. Contohnya kelompok dengan  ideologi Kanan Jauh di Amerika yang memandang integrasi transnasional  sebagai ancaman serius. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Kedua</em>,  para borjuis penentang kapitalisme. Mereka ini contohnya Norena Heertz  yang posisi ideologisnya sebenarnya tidak anti kapitalisme. Bagi Hertz,  yang menjadi soal bukan korporasi besar, tapi perimbangan antara politik  dan pasar. Mengingat globalisasi menempatkan politik di bawah kendali  pasar, maka kelompok ini menyerukan harus ada perimbangan politik dan  pasar, agar korporasi besar tidak mengendalikan negara demi kepentingannya  sendiri.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Ketiga,</em> kelompok <em>localist anti-capitalism</em>. Kelompok ini mencakup aktivis  dan intelektual yang memperjuangkan mekanisme pasar yang diperbarui  dan lebih terdesentralisasi sebagai jawaban terhadap globalisasi. Mereka  mengajukan <em>localization</em>, sebagai alternatif globalisasi. Gagasan  ini diwujudkan dalam bentuk <em>fair trade </em> pada level mikro antara produsen dan konsumen. Konsumen di Utara harus  mengutamakan hubungan dagang yang  lebih adil terhadap produsen  di Selatan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Keempat, </em> kelompok reformis. Mereka merupakan kelompok gerakan buruh yang reformis,  dengan mengacu pada strategi demokrasi sosial (sosdem) untuk menggapai  sosialisme lewat jalan parlementer. Mereka ingin membuat kapitalisme  yang lebih manusiawi, atau lebih terregulasi. Contoh figurnya adalah  James Tobin dan Susan George, yang menghendaki kembalinya kapitalisme  Keynesian yang diperbarui, bukan hanya untuk Amerika dan Eropa, tapi  juga untuk seluruh dunia.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Kelima</em>,  para otonomis. Dengan inspirasi gerakan <em>Tute Bianche</em> di Italia  dan <em>Zapatista</em> di Mexico, kelompok otonomis menolak sentralisasi  kekuatan dan justru mengedepankan metode yang berbeda-beda dalam mengorganisir  berbagai aksi perlawanan. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Keenam</em>,  para sosialis.  Mereka adalah sisa-sisa elemen sosialis sekitar  gerakan buruh dan organisasi revolusioner, setelah surutnya sosialisme.  Sebagian besar mereka adalah kaum sosialis yang mewarisi tradisi Trotskyisme,  terutama yang berada di Eropa Barat. (Sejati &amp; Martanto, 2006:98-101). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dari paparan  Eric Hiariej di atas, baik versi Steger maupun Callinicos, tidak nampak  bagaimana respon  atau sikap agama dalam peta gerakan-gerakan yang  menentang globalisasi. Namun dalam pemetaan yang dilakukan Mansour Fakih  (2001:223-226), agak sedikit lebih jelas di mana peran agama dalam penentangan  terhadap globalisasi. Menurut Fakih, para penentang globalisasi dapat  diidentifikasikan dalam tiga kelompok :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Pertama</em>,  kelompok gerakan kultural dan agama. Menurut Fakih, sebagai bentuk resistensi  terhadap globalisasi, gerakan berbasis agama timbul di mana-mana. Dia  contohkan, di Mesir, kekecewaan terhadap pembangunan telah melahirkan  gerakan berbasis keagamaan yang dilabeli dengan <em>fundamentalis Islam.</em> Di India, resistensi terhadap globalisasi nampak pada kelompok Hindu  Revivalis (<em>Rashtriya Swayamsewak Sangh</em>) yang mendesak India untuk  memboikot barang buatan asing. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Kedua</em>,  kelompok <em>new social movement</em> dan <em>global civil society. </em> Mereka adalah gerakan yang menentang pembangunan dan globalisasi, seperti  gerakan hijau, feminisme, dan gerakan masyarakat akar rumput. Contohnya  adalah KAU (Koalisi Anti Utang) di Indonesia, serta berbagai koalisi  LSM yang menentang WTO.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Ketiga</em>,  kelompok lingkungan. Mereka berupaya untuk memberdayakan rakyat (eko-populisme)  dan membongkar kerusakan ekosistem dunia yang diakibatkan oleh praktik  ekonomi modern di bawah pengaruh globalisasi. Contohnya gerakan Chipko  (<em>Chipko Movement</em>) di India, yang menentang perusahaan penebangan  hutan. WALHI di Indonesia juga merupakan salah satu contohnya. (Fakih,  2001:223-226). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dari deskripsi  Mansour Fakih di atas, menjadi agak jelas bagaimana posisi dan respon  agama dalam menghadapi globalisasi. Agama-agama, khususnya Islam, ternyata  menunjukkan sikap menolak dan melawan globalisasi, meski Fakih masih  terjebak dalam kerangka tipologi intelektual Barat yang menyebut gerakan-gerakan  Islam (<em>al-harakah al-Islamiyah</em>) sebagai kelompok <em>Fundamentalisme  Agama</em> yang berkonotasi negatif. (Adams, 2004:425-458). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dapat ditambahkan,  respon agama terhadap globalisasi juga dilukiskan oleh Norena Heertz  ketika dia menyayangkan bagaimana terkikisnya identitas masyarakat Budha  di kerajaan Bhutan. Kerajaan yang terletak di antara Tibet dan India  ini, berubah gaya hidupnya dari sederhana menjadi konsumtif dan hedonis  gara-gara globalisasi. (Wahono &amp; Wibowo, 2003:13-46). Respon kalangan  Katolik terhadap globalisasi, juga dapat ditunjukkan sebagaimana disinggung  sekilas oleh Gilpin dan Gilpin (2002). Paus Johannes Paulus II dianggap  sebagai penentang globalisasi dari kelompok Komunitarian, yakni kelompok  yang menginginkan kembalinya komunitas-komunitas lokal, mandiri, dan  terjalin erat, bukan komunitas yang didominasi perusahaan multinasional,  pasar modal, dan birokrat internasional seperti IMF dan WTO. (Gilpin  &amp; Gilpin, 2002:332-335). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Bagi umat Islam,  globalisasi memang sangat berbahaya. Sebab umat Islam tidak hanya merasakan  bahayanya dari sudut ekonomi, seperti kemiskinan, namun juga bahayanya  secara ideologi, yakni terancamnya orisinalitas ajaran Islam. Contohnya  adalah penyelenggaraan Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan  (ICPD) oleh PBB di Kairo, September 1994. Konferensi itu sangat membahayakan  karena berusaha melegalkan zina, homoseksual, lesbianisme, aborsi. Padahal  semua itu haram menurut Islam. (Usman, 2003:262-263). Contoh lainnya  adalah bagaimana agen-agen globalisasi juga merusak ajaran Islam lewat  pendidikan. Di negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, Kuwait, Yordania,  Mesir, dan lain-lain telah dilakukan perubahan kurikulum Islam dengan  dalih perkembangan jaman. Arab Saudi mengubah materi <em>al-wala` wa  al-bara`</em> (loyalitas dan disloyalitas). Sementara Yordania, Mesir,  dan Kuwait mengubah materi tentang jihad dan perang melawan kafir agresor,  seperti Yahudi dan Nasrani. Negara-negara itu juga mengubah konsep-konsep  Islam yang dibenci AS. (An-Nabhani, 2006:103).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dari uraian  di atas, jelaslah bahwa agama-agama dunia (Islam, Katolik, Hindu, Budha)  pada umumnya menentang globalisasi. Namun penentangan Islam, nampaknya  merupakan penentangan paling kuat (Hizbut Tahrir, 1996:6). Mengapa?  Karena Islam sesungguhnya adalah sebuah ideologi, suatu level yang setara  dengan kapitalisme mazhab neo-liberalisme yang menjadi ideologi dasar  globalisasi. Agama-agama selain Islam tidak mencapai level ideologi,  namun hanya sebatas agama dalam arti terbatas (hanya terfokus mengatur  hubungan privat manusia dengan Tuhan). Karena itu, Hizbut Tahrir sebagai  gerakan Islam internasional pengemban ideologi Islam perlu dikaji untuk  mengetahui responnya terhadap globalisasi. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Respon Hizbut  Tahrir terhadap Globalisasi</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Menurut Hizbut  Tahrir, perlawanan terhadap globalisasi tidak akan berhasil, kecuali  jika dilakukan dengan serius dan komprehensif. Untuk itu, perlawanan  terhadap globalisasi hendaknya memenuhi paling tidak 3 (tiga) kriteria  berikut :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Pertama</em>,  hendaknya ada kritik yang memadai terhadap globalisasi;</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Kedua</em>,  hendaknya ada solusi alternatif yang memadai<em>, </em> yaitu suatu kondisi ideal yang diharapkan;</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Ketiga</em>,  hendaknya ada peta jalan (<em>road map</em>) yang jelas, berupa strategi  yang dapat ditempuh untuk mengubah kondisi yang ada menuju kondisi ideal.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Itulah tiga  kriteria yang kiranya dapat menjadi standar umum untuk menilai sejauh  mana keseriusan kita untuk menentang globalisasi. Setiap respon, perlawanan,  atau penentangan terhadap globalisasi, baik oleh individu, kelompok,  atau negara yang tidak memenuhi tiga kriteria di atas, dapat dianggap  cacat atau gagal. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Sebagai kelompok  Islam yang sangat serius melawan globalisasi, Hizbut Tahrir berusaha  memenuhi tiga kriteria di atas. Ini dapat dilihat dari tiga bukti atau  argumen berikut, mengikuti tiga kriteria di atas :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Pertama</em>, <strong> HT telah memberikan kritik yang memadai terhadap globalisasi.</strong> Ini  bisa dilihat dari berbagai analisis dan kritik tajam tentang globalisasi,  baik berupa kitab-kitab yang secara resmi dikeluarkan oleh HT, maupun  yang ditulis oleh para syabab (<em>aktivis</em>) HT. Pada tahun 1996-1998  HT secara berturut-turut menerbitkan tiga buku yang mengkritik globalisasi.  Tahun 1996 HT menerbitkan <em>Al-Hamlah Al-Amirikiyah li Al-Qadha` &#8216;Ala  Al-Islam</em> (Serangan Amerika untuk Menghancurkan Islam). Dalam buku  ini HT mengkritik empat konsep Amerika yang dijajakannya untuk menyerang  Islam, yaitu demokrasi, pluralisme, HAM, dan pasar bebas (sebagai salah  satu alat dalam globalisasi). Tahun 1997 HT mengeluarkan <em>Hazzatul  Aswaq al-Maliyah  Asbabuha wa Hukm Asy-Syarâ€™i fi Hadzihi Al-Asbab</em> (Kegoncangan Pasar Modal, Sebab-Sebabnya, dan Hukum Syariah untuk Sebab-Sebab  Ini). Dalam buku ini HT membuat analisis mendasar bahwa penyebab krisis  keuangan global tahun 1997, adalah tiga faktor internal yang terdapat  secara inheren dalam sistem ekonomi kapitalisme (yang menjadi motor  globalisasi). Ketiga faktor itu adalah : sistem moneter yang berbasis  uang kertas, bunga (riba), dan sistem perseroan terbatas (PT). HT mengajukan  solusi, yaitu sistem moneter harus berbasis mata uang emas dan perak,  bunga harus dihapuskan dalam segala transaksi ekonomi, dan institusi  PT harus dihapuskan dan diganti dengan sistem perusahaan Islami (<em>syirkah</em>).  Lalu tahun 1998 HT menerbitkan kitab <em>Mafahim Khathirah li Dharb Al-Islam  wa Tarkiz Al-Hadharah Al-Gharbiyah </em> (Persepsi-Persepsi Berbahaya Untuk Menghantam Islam dan Mengokohkan  Peradaban Barat). Dalam buku ini HT membongkar dan mengkritik sejumlah  konsep yang digunakan Barat untuk menyerang Islam dan umat Islam. Buku  itu secara telak telah menyingkap bahaya dari ide-ide Amerika yaitu  : Dialog Antar Agama, Terorisme, Fundamentalisme, Jalan Tengah (Moderasi),  dan Globalisasi. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Selain buku  yang resmi dikeluarkan HT, ada pula berbagai buku yang ditulis oleh  para aktivis HT seputar globalisasi. Salah satunya adalah yang sudah  dikutip sebelumnya, yaitu kitab <em>Al-&#8217;Aulamah Hiya Adah Ar-Ra`sumaliyah  al-Haditsah li As-Saitharah &#8216;Ala Al-&#8217;Alam (</em>Globalisasi Adalah Alat  Kapitalisme Modern Untuk Menguasai Dunia). Ini adalah karya Syaikh Fath  Muhammad Salim, seorang ulama dan pemikir terkemuka Hizbut Tahrir dari  Timur Tengah.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kritikan dari  HT bukan sekedar dalam ranah pemikiran atau intelektual berupa perang  ideologi (<em>ash-shira` al-fikri</em>), seperti yang dijelaskan di atas.  Lebih dari itu, HT juga mewujudkan kritikannya dalam bentuk pertarungan  politik (<em>al-kifah as-siyasi</em>) yang dimensi waktunya lebih pendek  dan lebih langsung ditujukan kepada para penguasa, baik penguasa negeri-negeri   Islam maupun penguasa dari negara-negara penjajah, khususnya Amerika  Serikat. Dalam konteks Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah  melakukan serangkaian aktivitas politik mengkritik pemerintah dan DPR  karena membuat dan menjalankan berbagai undang-undang yang pro-globalisasi.  Contohnya, RUU Penanaman Modal Asing (PMA), RUU Ketenagalistrikan, dan  RUU Sumber Daya Air. HTI juga menentang RUU Kesehatan Reproduksi (Kespro)  yang berusaha melegalkan aborsi. HTI tak ketinggalan menentang pornografi  dan pornoaksi, dengan mengawal RUU-APP (RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi)  agar sejalan dengan Syariah Islam yang mengharamkan pornografi dan pornoaksi.  HTI juga menentang rencana pemerintah RI untuk melakukan privatisasi  BUMN dan memecah (<em>un-bundling</em>) kesatuan institusi PLN. HTI juga  menentang naiknya harga BBM, karena kebijakan ini bukan untuk menyelamatkan  APBN, bukan pula karena naiknya harga minyak dunia, melainkan untuk  melancarkan program liberalisasi migas di sektor hilir, sebuah agenda  yang jelas-jelas merupakan dikte dari globalisasi. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Semua langkah  ini didasarkan pada persepsi HT, bahwa globalisasi hanyalah satu bentuk  dari sekian bentuk penjajahan (<em>imperialisme, istiâ€™mar</em>) yang  dilancarkan oleh negara-negara kafir penjajah atas dunia. Padahal bagi  HT, penjajahan dalam segala bentuknya harus dihapuskan dari muka bumi,  baik di bidang militer, budaya, politik, ekonomi, maupun di bidang lainnya  (seperti kesehatan dan energi). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Bagi HT alasan  menentang penjajahan bukan sekedar bertolak dari argumen empiris, seperti  terjadinya kemiskinan, namun lebih karena argumen normatif, yakni menentang  karena Allah. Sebab bagi HT penjajahan adalah suatu kondisi yang diharamkan  dalam Islam, karena Allah SWT tidak membenarkan adanya dominasi atau  hegemoni kaum kafir atas kaum muslimin, sebagaimana firman Allah SWT  :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>â€œDan Allah  sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk  memusnahkan /menguasai orang-orang yang beriman.â€</em> (<strong>QS An-Nisaa`  [4] : 141</strong>).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Kedua</em>, <strong> HT telah memberikan solusi alternatif yang memadai. </strong> Ini bisa dibuktikan baik solusi secara global maupun terperinci. Secara  global, HT mempunyai prinsip bahwa apa pun masalahnya, solusinya haruslah  Syariah Islam, bukan yang lain. Bagi HT Syariah Islam dari Allah SWT  adalah satu-satunya solusi untuk segala problematika manusia (<em>muâ€™alajat  li masyakil al-insan</em>). Dan yang sangat prinsipil bagi HT, Syariah  Islam ini dilaksanakan karena alasan iman, bukan karena alasan kemaslahatan.  HT percaya, bahwa di mana syariah, maka di situ ada kemaslahatan. (<em>Haitsuma  yakunu asy-syarâ€™u takunu al-mashlahatu</em>). Firman Allah SWT :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>â€œMaka  demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan  kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan&#8230;â€</em> (<strong>QS An-Nisaa` [4] : 65</strong>).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Secara rinci,  solusi syariah untuk globalisasi setidaknya terdapat dalam 3 (tiga)  agenda perjuangan yang ditawarkan HT kepada dunia :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Pertama</em>, <strong> menegakkan negara Khilafah</strong> yang akan mempersatukan kaum muslimin  di seluruh dunia dan menjadi negara adidaya yang akan mampu menghadang  dan menggagalkan globalisasi dalam politik internasional. (An-Nabhani,  2006:105).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Kedua</em>, <strong> menerapkan sistem ekonomi Islam</strong> dalam negara Khilafah yang akan  menerapkan sistem ekonomi yang adil, manusiawi, menyejahterakan, dan  bermartabat, sekaligus akan menghancurkan sistem ekonomi lama yang menjadi  basis globalisasi, yaitu sistem ekonomi kapitalisme.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Ketiga</em>, <strong> menghapuskan tiga sumber penderitaan dunia</strong> (termasuk sumber globalisasi),  yang akan menjadi agenda Khilafah nanti, yaitu : (1) adanya PBB dan  UU internasional, (2) adanya koalisi negara-negara adidaya, (3) adanya  imperialisme, yang telah menjadi metode tetap dalam penyebaran kapitalisme.  (An-Nabhani, 2006:201-222). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Maka bagi HT,  demi lepasnya dunia dari penderitaan, PBB berikut seluruh organnya (seperti  Bank Dunia dan IMF) harus dibubarkan, seluruh hukum dan undang-undang  internasional yang ada (seperti Piagam PBB) harus dihentikan, dan koalisasi  negara-negara adidaya seperti WTO dan NATO, harus dimusnahkan. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Lebih dari  itu, imperialisme yang menjadi bagian integral ideologi kapitalisme  berikut negara pengembannya, khususnya Amerika Serikat, harus dihancurkan  atau dilumpuhkan tanpa kompromi lagi. Karena ideologi kapitalisme itulah  yang menjadi sumber penderitaan dan kesengsaraan seluruh umat manusia  di dunia. Memang saat ini Amerika Serikat sedang meluncur menuju jurang  kehancurannya. (Shoelhi, 2007;  Shutt, 2005). Namun demikian, nampaknya  masih perlu satu tangan kuat lagi perkasa untuk memukulnya. Dan hanya  Khilafah kiranya yang mampu memikul tugas suci itu, <em>insya Allah.</em> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Hizbut Tahrir  dalam bukunya <em>Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir (Konsep Politik  Hizbut Tahrir)</em> tanpa ragu menegaskan :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">â€Penderitaan  dan kesengsaraan dunia yang dihasilkan dari negara-negara kapitalis,  khususnya AS, tidak akan lenyap kecuali dengan tegaknya negara Khilafah  yang akan menerapkan ideologi yang haq, yaitu Islam yang agung yang  diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai <em>rahmatan lil  â€™alamin.</em> Pada saat itu, keadilan Islam akan dapat membongkar kebobrokan  kapitalisme, dalam pemikirannya yang materialistik dan metodenya yang  imperialistik. Demikian pula, kekuatan Islam yang baik akan menghancurkan  kesombongan dan arogansi AS, serta akan memaksa AS untuk kembali ke  isolasinya dan Dunia Barunya, jika Dunia Baru itu masih ada. Kemudian  kebaikan akan tersebar luas ke seluruh penjuru dunia dan dunia pun akan  dapat bernafas lega setelah lama menderita dan sengsara.â€ (An-Nabhani,  2006:105-106). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Ketiga</em>, <strong> HT telah menjelaskan peta jalan yang harus ditempuh</strong>. Untuk mewujudkan  kondisi ideal seperti baru saja diterangkan, HT telah menerangkan langkah-langkah  yang harus ditempuh.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dalam kitab <em> Nazharat Siyasiyah li Hizbit Tahrir</em> hlm. 78-80, HT menerangkan ada  2 (dua) hal yang menjadi kewajiban umat Islam (<em>wajibul ummah al-islamiyah</em>),  yaitu :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Pertama</em>,  umat Islam wajib melakukan pembebasan atau penyelamatan atas dirinya  sendiri (<em>tahrir al-ummah / inqaadzu al-ummah</em>) lebih dahulu. Caranya  adalah dengan menerapkan kembali Islam secara utuh, baik Aqidah Islam  maupun Syariah Islam, dalam negara Khilafah Islam.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Kedua</em>,  setelah itu, umat Islam wajib melakukan pembebasan atau penyelamatan  dunia (<em>tahrir al-â€™alam / inqaadzu al-â€™alam</em>). Caranya adalah  dengan mengemban dakwah Islam (<em>haml ad-daâ€™wah al-islamiyah</em>)  ke seluruh dunia dengan jalan jihad fi sabilillah.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Adapun langkah-langkah  untuk kembali menerapkan Islam seutuhnya dalam wadah negara Khilafah,  HT juga telah menerangkannya dengan jelas dan rinci. Antara lain dalam  kitab <em>Manhaj Hizb At-Tahrir fi At-Taghyir</em> <em>(Strategi Dakwah  Hizbut Tahrir)</em> (1989:38). Ringkasnya sebagai berikut :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Pertama</em>,  tahap pembinaan (<em>tatsqif</em>) untuk membentuk kader-kader dakwah  yang berkepribadian Islam (<em>syakhshiyah Islam</em>) yang mempercayai  pemikiran (<em>fikrah</em>) dan metode (<em>thariqah</em>) Hizbut Tahrir  dalam rangka untuk membentuk sebuah kelompok kepartaian (<em>al-kutlah  al-hizbiyah</em>);</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Kedua</em>,  tahap interaksi dengan umat (<em>tafaâ€™ul maâ€™a al-ummah</em>) agar  terwujud opini umum dan kesadaran umum tentang Islam di tengah umat,  sehingga umat turut memperjuangkan dan mewujudkan Islam dalam kehidupan  bernegara dan bermasyarakat; </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>Ketiga</em>,  tahap penerimaan kekuasaan (<em>istilaam al-hukm</em>), yaitu penerapan  Islam secara menyeluruh oleh negara Khilafah dan penyebaran Islam sebagai  risalah untuk seluruh umat manusia dengan jalan jihad fi sabilillah.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>Penutup</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Globalisasi  sungguh merupakan bencana bagi umat manusia, karena globalisasi sebenarnya  adalah neo imperialisme yang jahat dan kejam. Globalisasi telah menjadi  mesin kapitalis raksasa yang memproduksi kemiskinan global struktural  yang memaksa sebagian besar umat manusia untuk hidup menderita.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Hizbut Tahrir  percaya, Islam adalah kebaikan yang diturunkan Allah bukan hanya untuk  umat Islam, namun juga untuk seluruh manusia. Karena itu, Hizbut Tahrir  tidak hanya ingin membebaskan umat Islam dari cekikan globalisasi, namun  juga seluruh manusia di dunia. Firman Allah SWT :</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><em>â€Dan kami  tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada umat manusia seluruhnya  sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi  kebanyakan manusia tidak mengetahui.â€</em> <strong>(QS Saba` [34] : 28)</strong>.  [  ]</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">= = = = = </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">*Makalah disampaikan  dalam Konferensi Internasional dengan tema <em>Globalization : Challenge  and Opportunity for Religions</em>, diselenggarakan oleh Center for Religious  and Cross-Cultural Studies (CRCS)<em> Gadjah Mada University &amp;</em> Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS-Yogya)<em> Gadjah Mada  University, State Islamic University Sunan Kalijaga, Duta Wacana Christian  University in cooperation with</em> HIVOS and The Oslo Coalition, pada  2 Juli 2008, di Graduate School of Gadjah Mada University 5 th Floor. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">**Juru Bicara  Hizbut Tahrir Indonesia.</span></p>
<p align="center"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></span></p>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Adams,  Ian, <em>Ideologi Politik Mutakhir (Political Ideology Today)</em>, Penerjemah  Ali Noerzaman, (Yogyakarta : Penerbit Qalam), 2004</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">An-Nabhani,  Taqiyuddin, <em>Nazharat Siyasiyah li Hizbit Tahrir</em>, Cetakan I, (Tanpa  tempat penerbit : Hizbut Tahrir), 1973</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8212;&#8212;&#8212;-, <em> Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir</em>, Cetakan IV, (Beirut : Darul  Ummah), 2005</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8212;&#8212;&#8212;-, <em> Konsepsi Politik Hizbut Tahrir (Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir)</em>,  Penerjemah M. Shiddiq Al-Jawi, Cetakan I, (Bogor : HTI Press), 2006</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Fakih,  Mansour, <em>Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi</em>, Cetakan  I, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar), 2001</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Gilpin,  Robert &amp; Gilpin, Jean Millis, <em>Tantangan Kapitalisme Global :  Ekonomi Dunia Abad Ke-21 (The Challenge of Global Capitalisme)</em>,  Penerjemah Haris Munandar &amp; Dudy Priatna, Cetakan I, (Jakarta :  PT RajaGrafindo Persada), 2002</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Hadar,  Ivan A., <em>Utang, Kemiskinan, dan Globalisasi</em>, Cetakan I, (Yogyakarta  : Lapera Pustaka Utama), 2004<em> </em></span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Hizbut  Tahrir, <em>Manhaj Hizb At-Tahrir fi At-Taghyir</em>, (Tanpa tempat penerbit  : Hizbut Tahrir), 1989</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8212;&#8212;&#8212;-, <em> Al-Hamlah Al-Amirikiyah li Al-Qadha` &#8216;Ala Al-Islam</em>, (Tanpa tempat  penerbit : Hizbut Tahrir), 1996</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8212;&#8212;&#8212;-, <em> Hazzatul Aswaq al-Maliyah  Asbabuha wa Hukm Asy-Syarâ€™i fi Hadzihi  Al-Asbab</em>, (Tanpa tempat penerbit : Hizbut Tahrir), 1997</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8212;&#8212;&#8212;-, <em> Mafahim Khathirah li Dharb Al-Islam wa Tarkiz Al-Hadharah Al-Gharbiyah</em>,  (Tanpa tempat penerbit : Hizbut Tahrir), 1998</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Prasetyantoko,  A., <em>Arsitektur Baru Ekonomi Global : Belajar dari Keruntuhan  Ekonomi Asia Tenggara</em>, (Jakarta : PT Elex Media Komputindo), 2001</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Rais, Mohammad  Amien, <em>Agenda-Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!</em>, Cetakan  Ekstra, (Yogyakarta : PPSK Press), 2008</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Salim,  Fathi Muhammad, <em>Al-&#8217;Aulamah Hiya Adah Ar-Ra`sumaliyah al-Haditsah  li As-Saitharah &#8216;Ala Al-&#8217;Alam</em>, <a href="http://www.alokab.com/" target="_blank">www.alokab.com</a></span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Sejati,  Nanang Pamuji &amp; Martanto, Ucu (Ed.), <em>Kritik Globalisasi dan Neoliberalisme</em>,  Cetakan I, (Yogyakarta : Fisipol UGM), 2006</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Shoelhi,  Mohammad, <em>Di Ambang Keruntuhan Amerika</em>, Cetakan I, (Jakarta :  Grafindo Khazanah Ilmu), 2007</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Shutt,  Harry, <em>Runtuhnya Kapitalisme (The Decline of Capitalism)</em>, Penerjemah  Hikmat Gumilar, Cetakan I, (Jakarta : Teraju), 2005</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Strahm,  Rudolf H., <em>Kemiskinan Dunia Ketiga : Menelaah Kegagalan Pembangunan  di Negeri Berkembang (Warum Sie So Arm Sind),</em> Penerjemah Rudy Bagindo  dkk, (Jakarta : PT Pustaka CIDESINDO), 1999</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">The International  Forum on Globalization, <em>Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan (Does  Globalization Help the Poor?)</em>, Penerjemah A. Widyamartaya &amp;  AB Widyanta, (Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas), 2004</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Toha, Anis  Malik, &#8220;Konsep World Theology dan Global Theology Eksposisi Doktrin  Pluralisme Agama, Smith dan Hizk&#8221;, Jurnal <em>Islamia</em>, Tahun  I No 4, Januari â€“ Maret 2005, (Jakarta : Institute for the Study of  Islamic Thought and Civilization (INSISTS) dan Khairul Bayan), 2005,  hal. 48-60.</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Usman,  Muhammad Nuroddin, <em>Menanti Detik-Detik Kematian Barat</em>, Cetakan  I, (Solo : Era Intermedia), 2003</span></p>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Wibowo,  I. &amp; Wahono, Francis (Ed.), <em>Neoliberalisme</em>, (Yogyakarta :  Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas), 2003 </span></p>
</ul>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Winarno,  Budi, <em>Globalisasi Wujud Imperialisme Baru : Peran Negara dalam Pembangunan</em>,  Cetakan I, (Yogyakarta : Tajidu Press), 2004</span><br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/bps-tertimpa-neolib/" title="BPS Tertimpa Neolib">BPS Tertimpa Neolib</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/09/g-8-bertemu-75-000-anak-meninggal/" title="G-8 Bertemu, 75.000 Anak Meninggal ">G-8 Bertemu, 75.000 Anak Meninggal </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/20/bagaimana-agar-tragedi-zakat-pasuruan-tidak-terulang-lagi/" title="Bagaimana Agar &#8220;Tragedi Zakat Pasuruan&#8221; Tidak Terulang Lagi?">Bagaimana Agar &#8220;Tragedi Zakat Pasuruan&#8221; Tidak Terulang Lagi?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/02/apakah-jumlah-penduduk-menjadi-penyebab-kemiskinan-krisis-pangan-dan-kerusakan-lingkungan/" title="Apakah Jumlah Penduduk Menjadi Penyebab Kemiskinan, Krisis Pangan, dan Kerusakan Lingkungan?">Apakah Jumlah Penduduk Menjadi Penyebab Kemiskinan, Krisis Pangan, dan Kerusakan Lingkungan?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/08/25/liberalisasi-ekonomi-biang-pemiskinan/" title="Liberalisasi Ekonomi Biang Pemiskinan ">Liberalisasi Ekonomi Biang Pemiskinan </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/07/15/bagaimana-solusi-kesenjangan-akibat-neoimperialisme/" title="Bagaimana Solusi Kesenjangan Akibat Neo Imperialisme ?">Bagaimana Solusi Kesenjangan Akibat Neo Imperialisme ?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/27/jubir-hti-liberalisasi-sektor-migas-sangat-mengkhawatirkan/" title="JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan">JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/01/05/ironi-provinsi-kaya-sebagian-penduduknya-miskin/" title="Ironi Provinsi Kaya Sebagian Penduduknya Miskin">Ironi Provinsi Kaya Sebagian Penduduknya Miskin</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/15/daftar-40-orang-terkaya-indonesia-2007-versi-forbes-dan-ketimpangan/" title="Kemiskinan dan Bangkitnya Orang-Orang Kaya Indonesia">Kemiskinan dan Bangkitnya Orang-Orang Kaya Indonesia</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/14/kapitalisme-sekulerisme-penyebab-utama-kemiskinan/" title="Kapitalisme &#8211; Sekularisme Penyebab Utama Kemiskinan">Kapitalisme &#8211; Sekularisme Penyebab Utama Kemiskinan</a></li>
</ul>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2008%2F07%2F15%2Fglobalisasi-kemiskinan-dan-agama-respon-hizbut-tahrir%2F&amp;linkname=GLOBALISASI%2C%20KEMISKINAN%2C%20DAN%20AGAMA%20%3A%20Respon%20Hizbut%20Tahrir"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/07/15/globalisasi-kemiskinan-dan-agama-respon-hizbut-tahrir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
