<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS &#187; Eknomi Islam</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/tag/eknomi-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 23:25:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>Meluruskan Persepsi Keliru terhadap Ekonomi Islam</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2004/05/12/meluruskan-persepsi-keliru-terhadap-ekonomi-islam/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2004/05/12/meluruskan-persepsi-keliru-terhadap-ekonomi-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2004 02:27:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KUMPULAN ARSIP e-SYARIAH]]></category>
		<category><![CDATA[SISTEM EKONOMI SYARIAH]]></category>
		<category><![CDATA[Eknomi Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2004/05/12/meluruskan-persepsi-keliru-terhadap-ekonomi-islam/</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Hidayatullah Muttaqin Ketika krisis moneter merembet kepada krisis ekonomi terjadi mulai pertengahan tahun 1997, masyarakat melihat suatu realita bank syariâ€™ah di Indonesia tetap tegar menghadapi badai krisis. Ini menunjukkan suatu fenomena unik di tengah keambrukan perbankan nasioanal. Sejak saat itu, wacana ekonomi Islam semakin berkibar, terutama di kampus-kampus yang memiliki fakultas ekonomi. Seminar-seminar ekonomi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Ketika krisis moneter merembet kepada krisis ekonomi terjadi mulai pertengahan tahun 1997, masyarakat melihat suatu realita bank syariâ€™ah di </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> tetap tegar menghadapi badai krisis. Ini menunjukkan suatu fenomena unik di tengah keambrukan perbankan nasioanal.</span><span id="more-65"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Sejak saat itu, wacana ekonomi Islam semakin berkibar, terutama di kampus-kampus yang memiliki fakultas ekonomi. Seminar-seminar ekonomi Islam baik tingkat lokal maupun nasional mulai banyak digelar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Namun di tengah bergulirnya wacana ekonomi Islam dan semangat sebagian kaum muslimin untuk kembali kepada Islam, diikuti dengan timbulnya <span style="text-decoration: underline;">kesalahan persepsi dalam melihat ekonomi Islam</span> itu sendiri. <span style="text-decoration: underline;">Mereka berpandangan bahwa ekonomi Islam merupakan hanya suatu perekonomian non riba plus zakat yang ditandai dengan bank syariâ€™ah dan BMT (Baitul Mal Tanwir) ataupun BPR syariâ€™ah</span>. Di samping itu aspek moral dan kejujuran dalam kegiatan bisnis/ perdagangan menjadi ciri khasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Untuk itu melalui tulisan ini, kami berusaha meluruskan persepsi yang keliru terhadap ekonomi Islam baik itu dari kalangan muslim yang mempunyai <em>ghiroh</em> tinggi maupun kaum apatis terhadap ekonomi Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Berbicara tentang ekonomi Islam, maka kita akan membincangkan suatu sistem yang mengatur permasalahan ekonomi, baik dalam aspek mikro maupun makro, yang berdasarkan kepada syariâ€™at Islam. Suatu hal yang pasti, sumber pemikiran ekonomi Islam adalah aqidah dan ideologi Islam. Sehingga ekonomi Islam bersifat khas, unik dan berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis ataupun sistem ekonomi sosialis/komunis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dari sini dapat dinyatakan, bahwa ekonomi Islam bukan merupakan <em>sistem ekonomi campuran</em> (yang biasa disebut dalam berbagai literatur dengan â€œsistem ekonomi jam bandulâ€). Sering dikatakan kalangan akademisi, sistem ekonomi Islam lebih condong ke arah sosialis karena mengangkat persamaan dan keadilan sehingga sistem ekonomi Islam dilukiskan dengan jam bandul yang bergerak/condong ke kiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify" align="center"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"><img src="file:///F:/DATABASE%20WEBSITE/TSAQOFAH%20ISLAM/E-SYARIAH.ORG%20-%20POLITIK%20EKONOMI%20ISLAM/www.khilafah.e-syariah.net/img/bandul.html" border="0" alt="" hspace="0" align="bottom" /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Pendapat mereka tersebut di dasarkan kepada hanya ada dua macam sistem perekonomian di dunia yaitu sitem ekonomi kapitalis (arah kanan dalam jam bandul) dan sistem ekonomi sosialis/komunis (arah kiri dalam jam bandul), dan saat ini sistem perekonomian dunia tidak murni masing-masing sistem ekonomi tersebut, tetapi sudah bercampur/berkolaborasi di antara bagian-bagian sistem ekonomi yang ada membentuk sistem ekonomi campuran. Sistem ekonomi campuran ini berada di antara dua kutub (kapitalis dan sosialis/komunis) tergantung ke arah mana condongnya. Jadi para pengikut pendapat ini, tidak mengakui keberadaan sistem ekonomi lain selain ke dua sistem ekonomi tersebut dan kalaupun diakui maka akan digolongkan sebagai sistem ekonomi campuran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Pendapat ini lemah argumentasinya, pengikutnya cenderung hanya mengekor ekonom-ekonom Barat yang sengaja membatasi hanya dua sistem ekonomi, sehingga sistem ekonomi kapitalis sebagai sistem ekonomi yang menguasai dunia tetap memegang hegemoninya. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Para</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> pengikut pendapat ini tidak mempunyai kemandirian dalam memegang suatu prinisip ideologis, karena mereka memandang permasalahan ekonomi dari sudut kapitalis sedangkan mereka sendiri tidak secara keseluruhan menganut kapitalis dan tidak memahami realitas metode berpikir ideologi kapitalis. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin: 0cm 0cm 12pt"><strong><span style="font-family: Times New Roman;">Kekhasan Ekonomi Islam yang Membedakannya dengan Sistem Ekonomi Lainnya.<span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin: 0cm 0cm 12pt 18pt; text-indent: -18pt"><span>1.</span><span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: 'Times New Roman';"> </span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Ekonomi Islam memisahkan pembahasan ilmu ekonomi dengan sistem ekonomi.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Hal-hal tentang pengadaan dan produksi barang/jasa merupakan bagian dari ilmu ekonomi. Dengan demikian ilmu ekonomi hanya sebagai teknologi dan sains murni yang mempelajari bagaimana manusia dapat meningkatkan, mengembangkan produksi baik dari segi kuantitas dan kualitas serta berlangsung dengan efisien dan efektif. Sehingga ilmu ekonomi termasuk ilmu alam yang tidak dipengaruhi oleh ideologi atau nilai-nilai pandangan hidup tertentu dan bisa dimiliki oleh bangsa atau umat manapun tergantung kemampuan manusia dalam mengolah dan mengembangkan ilmu alam.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0cm 24.85pt 12pt 27pt; text-indent: 0cm"><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œ(Dan) Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya.â€<strong>(Al Jatsiah 13)</strong></span></em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0cm 0.85pt 12pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dalam suatu riwayat Nabi saw. pernah memberi nasihat kepada orang yang melakukan penyerbukan kurma. Setelah orang tersebut mengikuti nasihat Nabi saw. ternyata ia mengalami kegagalan panen. Kemudia orang tersebut menyampaikannya kepada Nabi saw., beliau bersabda :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0cm 24.85pt 12pt 27pt; text-indent: 0cm"><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œKalian yang lebih tahu tentang (urusan) dunia kalianâ€ (HR Muslim dari Anas ra.)</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0cm 0.85pt 12pt 0cm; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Maksudnya adalah urusan tentang masalah bagaimana teknik memproduksi dan meningkatkan kualitas barang dan jasa, Nabi menyerahkan sepenuhnya kepada manusia. Di sinilah Islam memberikan kebebasan kepada manusia dalam mengembangkan ilmu ekonomi sebagai sains murni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dalam pembahasan sistem ekonomi yang sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup, maka Islam mengaturnya. Sistem ekonomi Islam mengatur tentang : <em>tata cara perolehan harta </em>(<strong>konsep kepemilikan</strong>) ; <em>tata cara pengelolaan harta</em> <em>mulai dari pemanfaatan </em>(<strong>konsumsi</strong>), <em>pengembangan kepemilikan harta</em> (<strong>inivestasi</strong>) ; serta<em> tata cara pendistribusian harta di tengah-tengah masyarakat.</em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Semua tata cara tersebut diatur menurut syariâ€™at Islam. Dalam bahasa yang sederhana, bagaimana kita memperoleh dan mengelola harta, tidak boleh ada unsur riba, judi, penipuan, dan lain-lainya. Transaksi-taransaksi yang terjadi harus sah menurut Islam dan jenis usaha yang dilakukanpun harus jenis usaha yang halal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Pendistribusian harta di masyarakat merupakan perkara yang sangat penting. Hal ini disebabkan Islam</span><span> </span>memandang permasalahan ekonomi muncul jika individu-individu tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok hidupnya yang meliputi pakaian, makanan, perumahan, pendidikan dan kesehatan serta jaminan keamanan. Maka jalan pemecahannya adalah dengan mengatur pendistribusian harta di tengah-tengah masyarakat agar berjalan dengan adil dan benar dan negara wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap warga negaranya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Jadi masalah pokok ekonomi adalah jika ada manusia apalagi banyak manusia yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Masalah pokok ekonomi tidak terletak pada faktor kelangkaan. Misalkan saja di Inidonesia, sebagian besar anggota masyarakat masih banyak yang miskin. Apakah permasalahan tersebut timbul karena faktor kelangkaan barang dan jasa di </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> ? Tidak ! Karena kita bisa melihat banyak anggota masyarakat yang miskin tetapi kita juga bisa melihat banyak orang yang mempunyai kekayaan yang sangat berlebihan dan kita juga bisa melihat banyak sumber daya-sumber daya (resources) yang tersedia dengan melimpah, namun banyak anggota masyarakat yang tidak mampu memanfaatkannya karena kemiskinannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Jelas, sumber permasalahan ekonomi tersebut bukan faktor kelangkaan. Penyebab yang sebenarnya karena pemerintah tidak menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap warga negaranya dan negara tidak mengatur pendistribusian akan barang serta pendapatan dengan benar dan adil, malah mencari jalan keluar dengan cara kapitalis yakni dengan mengejar pertumbuhan ekonomi dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada segilintir orang pemilik kapital untuk menguasai aset-aset milik rakyat (barang-barang publik) dan melakukan monopoli, serta menggencet jalan mayoritas masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Pemisahan pembahasan antara ilmu ekonomi dengan sistem ekonomi inilah yang menjadi salah satu pembeda sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Ekonomi kapitalis misalnya, mencampuradukkan antara permasalahan yang seharusnya dibahas dalam ilmu ekonomi dengan permasalahan yang diatur sistem ekonomi. Begitu pula dalam memandang permasalahan ekonomi, sistem ekonomi kapitalis memasukkannya dalam pembahasan ilmu ekonomi sekaligus menjadi definisiniya, yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana usaha manusia untuk memenuhi <strong>kebutuhannya yang tak terbatas</strong> sedangkan sumber-sumber yang tersedia terbatas adanya (<em>scarcity). </em>Sistem ekonomi ini menyamakan antara kebutuhan dengan keinginan, padahal diantara keduanya terdapat perbedaan yang jelas. Kebutuhan sifatnya terbatas dan pasti, bila sudah terpenuhi maka seseorang tidak memerlukan lagi barang atau jasa yang dibutuhkannya sampai jangka waktu tertentu hingga ia membutuhkannya kembali. Sebaliknya keinginan bagi seseorang memungkinkan tidak ada batasnya. Bila mendapatkan sesuatu ia ingin mendapatkan yang lebih baik dan lebih tiniggi lagi. Jadi inilah yang dimaksud dengan keinginan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Melihat realitas tersebut, kita selama ini tidak sadar mempelajari dan mengaplikasikan sistem ekonomi kapitalis yang dikira sebagai ilmu ekonomi tanpa pemahaman bahwa ilmu ekonomi yang dipelajari di sekolah dan perguruan tinggi merupakan bagian sistem ekonomi kapitalis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Kekeliruan dalam memandang permasalahan ekonomi menyebabkan kekeliruan pula dalam memecahkan permasalahan ekonomi. Sistem ekonomi kapitalis menganggap permasalahan ekonomi muncul karena kelangkaan sumber-sumber sedangkan kebutuhan manusia tidak terbatas. Maka sistem ekonomi ini memberikan jalan keluar dengan cara bagaimana manusia dapat meningkatkan produksi sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan yang menurutnya tidak terbatas. Dalam tingkat makro jalan ini diaplikasikan dengan mengejar pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya. Tentu saja masalah apakah kebutuhan setiap individu terutama kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi atau belum, tidak diperhatikan sistem ekonomi kapitalis. Tetapi yang diperhatikan adalah pemilik modal supaya mereka dapat meningkatkan dan memperluas skala produksinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify"><span>2.</span><span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: 'Times New Roman';"> </span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Sistem ekonomi Islam hanya bisa diterapkan jika <em>daulah Khilafah Islamiyah</em> sudah ditegakkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Penerapan sistem ekonomi Islam merupakan bagian integral dari penerapan syariâ€™at Islam sehingga sistem ekonomi Islam merupakan bagian yang tak terlepaskan dengan syariâ€™at-syariâ€™at Islam lainnya. Penerapan syariâ€™at Islam dalam perekonomian merupakan suatu kewajiban seperti halnya kewajiban setiap muslim untuk melaksanakan shalat, puasa, zakat dan haji. Sehingga tidak patut bagi kita dalam kegiatan ekonomi mengabaikan syariâ€™at Islam dengan mengambil, melaksanakan dan mengagungkan sistem ekonomi lainnya yang berlandaskan hukum kufur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 24.85pt 12pt 27pt; text-align: justify"><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œ(Dan) tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.â€<strong>(Al Ahzab 36)</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 24.85pt 12pt 27pt; text-align: justify"><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œApakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?â€<strong>(Al Maidah 50)</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Konsekwensi logis dari upaya penerapan sistem ekonomi Islam maka negara atau <em>daulah</em> harus menerapkan syariâ€™at Islam secara menyeluruh termasuk sistem negaranya yaitu <em>daulah Khilafah Islamiyah</em>. Jadi upaya penerapan sistem ekonomi Islam secara bersamaan harus dilakukan pula usaha membentuk dan mendirikan <em>daulah Khilafah Islamiyah</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Karena itu, penegakkan <em>daulah Khilafah Islamiyah</em> merupakan syarat mutlak bagi adanya sistem ekonomi Islam. Sebab tidak mungkin sistem ekonomi Islam dapat diterapkan oleh negara yang tidak melaksanakan sistem Islam. Misalnya Negara kapitalis Amerika Serikat tidak mungkin menerapkan sistem ekonomi Islam dalam perekonomiannya selain hanya sistem ekonomi kapitalis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Tidak mungkin pula sistem ekonomi Islam diterapkan dalam negara sistem republik. Karena sistem republik berdiri di atas pilar demokrasi yang hanya memberikan hak kepada rakyat melalui wakil-wakilnya di parlemen untuk membuat dan menentukan hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Sistem ekonomi Islam juga tidak bisa diterapkan di atas negara yang menganut sistem kerajaan. Karena sistem ini menjadikan raja berada di atas perundang-undangan dan menentukan hukum itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Sedangkan dalam Islam manusia tidak berhak membuat dan menentukan hukum karena itu hanyalah hak Allah saja. Sehingga tidak bisa dikatakan ketika bank-bank syariâ€™ah berdiri di suatu negara sedangkan sistem hukum, sistem negaranya dan ideologinya bukan Islam, negara tersebut menerapkan sistem ekonomi Islam. Tapi memang benar bahwa bank syariâ€™ah dalam â€œhal tertentuâ€ merupakan suatu kegiatan ekonomi yang berlandaskan syariâ€™at Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Bagi kaum muslimin jangan berpuas hati atau hanya berjuang sampai pada banyak berdirinya bank syariâ€™ah dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Tetapi terus berjuang sampai diterapkannya Islam secara menyeluruh sebagai ideologi negara, sistem negara, dan sistem hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Alasan lainnya bahwa sistem ekonomi Islam membutuhkan negara, karena negara mempunyai kekuatan untuk menerapkan sistem ekonomi. Negara lah yang menjadi pelaksana sistem ekonomi. Dengan adanya <em>daulah Khilafah Islamiyah</em>, maka pengaturan perekonomian secara makro dan mikro dapat dilakukan dengan sempurna sehingga sistem ekonomi Islam membawa efek yang sempurna pula bagi kesejahteraan negara dan masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify"><span>3.</span><span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: 'Times New Roman';"> </span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Kegiatan ekonomi Islam didasarkan pada halal dan haram, bernilai ibadah serta membawa maslahat.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Setiap muslim yang meyakini kebenaran akidah Islam, menjadi kewajiban bagi semuanya untuk selalu terikat dengan hukum syaraâ€™ (syariâ€™at islam) ketika melakukan perbuatan dengan hanya berdasarkan standar halal dan haram yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Maksudnya kita semua wajib melaksanakan segala perintah Allah SWT (perbuatan halal) dan menjauhi segala larangan-Nya (perbuatan haram).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Maka dalam melakukan kegiatan ekonomi pun kita wajib terikat dengan hukum syaraâ€™, yaitu harus memilih dan melakukan kegiatan ekonomi yang halal dan meninggalkan serta menghancurkan kegiatan ekonomi yang diharamkan oleh Allah SWT. Hal ini sebagai implimentasi dari aqidah Islam setiap muslim, sebagai wujud ketaatan dan bagian dari ibadah kepada Allah. Di sisi Allah SWT, tindakan/perbuatan tersebut mempunyai nilai yang menjadi bekal akhirat nanti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 30.85pt 12pt 27pt; text-align: justify"><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œSesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.â€ <strong>(Al Baqarah 277)</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Melakukan kegiatan ekonomi yang dihalalkan oleh Allah SWT, mendapatkan nilai pahala di sisi Allah dan dijanjikan surga-Nya kepada kaum muslimin. Sebaliknya melakukan kegiatan ekonomi yang diharamkan oleh Allah, hanya akan mendapatkan dosa dengan ancaman siksa neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Adapun kegiatan ekonomi yang dihalalkan seperti pertanian, perdagangan, industri, dan seluruh kegiatan ekonomi sektor riil yang termasuk jenis usaha yang halal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 30.85pt 12pt 27pt; text-align: justify"><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œMakanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.â€<strong>(Al Baqarah 168)</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Sedangkan kegiatan ekonomi yang diharamkan antara lain ; semua kegiatan produksi dan perdagangan yang menyangkut barang atau jasa yang diharamkan (seperti babi, minuman keras, pelacuran, perjudian, dll). Contoh lainnya diharamkannya riba, sehingga bunga bank tidak boleh kita ambil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 30.85pt 12pt 27pt; text-align: justify"><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œHai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.â€ <strong>(AlBaqarah 278)</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Karena Allah SWT Maha mengetahui, maka syariâ€™at Islam pasti mengandung maslahat (manfaat). Jadi penerapan sistem ekonomi Islam sudah pasti akan membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Kalau kita teliti berbagai krisis ekonomi yang melanda dunia sejak awal abad ke 20 sampai sekarang, semuanya bersumber pada ketidakadilan (<em>menyangkut masalah distribusi</em>) dan diterapkannya sistem ekonomi ribawi (<em>sistem bunga</em>) dalam perekonomian yang berakibat pada biaya ekonomi tinggi</span><span> </span>dan tumbuhnya kegiatan spekulasi di pasar uang dan pasar modal.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Sistem ribawi ini mengakibatkan transaksi dan kegiatan ekonomi sektor moneter (sektor maya)</span><span> </span>menggelembung berpuluh kali lipat dibandingkan dengan transaksi dalam kegiatan ekonomi sektor riil. Padahal yang menopang perekonomian suatu negara adalah sektor riil.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Jadi memang terbukti diharamkannya sistem ekonomi ribawi, karena riba membawa mudharat (keburukan) yang sangat besar bagi negara dan masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Di sinilah bedanya sistem ekonomi kapitalis dengan sistem ekonomi Islam. Dalam sistem ekonomi kapitalis, kegiatan ekonomi dilakukan semata-mata karena faktor manfaat dan materi saja, sehingga tidak memperhatikan kepentingan orang banyak selain kepentingan pribadi, kelompok yang merasa diuntungkan. Juga tidak ada jaminan kesempurnaan sistem ekonomi ini bahkan membawa bencana yang menyengsarakan rakyat. Masalah lainnya, amaliyah yang berdasarkan sistem ekonomi kapitalis adalah sia-sia, tidak punya nilai di sisi Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Kesimpulan</span></strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-indent: 0cm"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Sistem ekonomi Islam bukanlah sistem ekonomi non riba plus zakat tetapi lebih luas dari itu, bukan pula sistem ekonomi campuran, dan bukan pula sistem ekonomi tanpa negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Tetapi sistem ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang diatur menurut syariâ€™at Islam secara menyeluruh baik dalam aspek mikro maupun makro yang mengatur tentang konsep kepemilikan, tata cara pengelolaan dan pengembangan harta dan tata cara pendistribusiannya di tengah-tengah masyarakat. Dianut oleh negara dengan ideologi, sistem hukum dan sistem negara berdasarkan Islam yaitu <em>daulah Khilafah Islamiyah</em>.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Sumber : </span></strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">HU. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Kalimantan</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> Post 4-5 November 2001</span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p><h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/02/06/negeri-kaya-tambang-miskin-batubara/" title="Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara">Negeri Kaya Tambang Miskin Batubara</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2010/01/10/bunuh-diri-ekonomi-indonesia/" title="Bunuh Diri Ekonomi Indonesia">Bunuh Diri Ekonomi Indonesia</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/" title="PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang">PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/" title="Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen">Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/" title="AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika">AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/18/jangan-kambing-hitamkan-islam/" title="Jangan Kambing Hitamkan Islam">Jangan Kambing Hitamkan Islam</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/15/indonesia-diam-dengan-genosida-muslim-uighur/" title="Indonesia Diam dengan Genosida Muslim Uighur">Indonesia Diam dengan Genosida Muslim Uighur</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2004/05/12/meluruskan-persepsi-keliru-terhadap-ekonomi-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
