<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS &#187; Dialog Politik Ekonomi</title>
	<atom:link href="http://jurnal-ekonomi.org/tag/dialog-politik-ekonomi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal-ekonomi.org</link>
	<description>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 23:25:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>KARENA AMNESIA PEMERINTAH LUPA RAKYAT</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/24/karena-amnesia-pemerintah-lupa-rakyat/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/24/karena-amnesia-pemerintah-lupa-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 May 2008 01:25:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[LIPUTAN KEGIATAN]]></category>
		<category><![CDATA[BBM]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Politik Ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=741</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/sby-jk.gif"><img style="border: 1px solid black; margin: 5px; float: left;" title="sby-jk" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/sby-jk.gif" alt="Presiden SBY-JK" height="146" width="200"/></a>Kebijakan zalim pemerintah yang sudah melampaui batas dengan menaikan harga BBM diakibatkan oleh penyakit â€˜amnesiaâ€™ yang diderita pemerintah. Menurut Hidayatullah, <i>â€œAmnesia pemerintah adalah penyakit yang menyebabkan pemerintah lupa siapa dirinya, lupa bahwa dirinya adalah penanggungjawab dan pengatur urusan rakyatnya, lupa bahwa dirinya harus melindungi dan mensejahterakan rakyatnyaâ€.</i>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 id="741_liputan-kegiatan_1"><strong>Liputan Kegiatan</strong></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left;"><strong><span style="font-family: Verdana;"><span style="color: #800000;">Dialog Politik Ekonomi: Pro Kontra Penaikan Harga BBM, Apa Akar Masalahnya?</span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Jurnal-ekonomi.org </span></strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">: Selasa (20 Mei) HTI Kalsel bekerja sama dengan Komite Penegakan Syariah (KPSI) Kalsel melakukan Dialog Politik Ekonomi: <em>Pro Kontra Penaikan Harga BBM, Apa Akar Masalahnya? </em>Di Aula Rumah Sakit Islam lt III. Acara ini digagas sebagai respon terhadap kebijakan pemeritah menaikan harga BBM dengan memberikan penjelasan akar permasalahannya kepada para tokoh dan intelektual di </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Banjarmasin</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/dialogprokontrabbm20mei2008-4.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-736" style="border: 1px solid black; margin: 5px; float: right;" title="dialogprokontrabbm20mei2008-4" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/dialogprokontrabbm20mei2008-4-300x224.jpg" alt="Dialog Politik Ekonomi: Pro kontra Penaikan Harga BBM, Apa Akar Masalahnya?" width="300" height="224" /></a><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dialog menghadirkan narasumber Syahrituah Siregar, SE, MA pengamat ekonomi dan dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Banjarmasin</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> dan Hidayatullah Muttaqin, SE aktivis HTI Kalsel dan dosen Ekonomi Pembangunan Unlam. Acara yang dihadiri sekitar 30 peserta dan diliput puluhan wartawan media elektronik dan cetak ini dipandu oleh Akhid Yulianto, SE, M.Sc dosen Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unlam yang juga aktivitas HTI Kalsel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">BBM adalah Amanah Publik dan Milik Rakyat </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Berkaitan dengan pro kontra penaikan harga BBM, Syahrituah Siregar memandang seharusnya BBM dilihat sebagai â€œamanah publikâ€ bukan â€œkomoditas pasarâ€. Selama ini dalam <em>platform</em> perekonomian nasional BBM dipandang sebagai komoditas pasar, akibatnya subsidi dipandang sebelah mata oleh pemerintah, bahkan dalam kerangka â€œKonsensus </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Washington</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€ subsidi harus dihapuskan oleh pemerintah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Sementara itu Hidayatullah Muttaqin menjelaskan BBM yang diolah dari minyak mentah yang diangkat (<em>lifting</em>) dari dalam perut bumi, asal kepemilikannya adalah milik rakyat, sebab Rasulullah SAW bersabda <em>â€œKaum Muslimin berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput, dan apiâ€ </em>(HR. Abu Dawud). Dalam hadis lain Anas meriwayatkan dari Ibnu Abbas <em>â€œdan harganya adalah haramâ€</em>, maksudnya tidak boleh diserahkan kepada swasta dan asing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Hadis ini menunjukkan BBM sebagai produk olahan yang digali dari dalam perut bumi merupakan barang tambang migas yang menjadi hak umat baik kepemilikannya maupun kemanfaatannya. Dengan demikian subsidi BBM adalah hak rakyat, bahkan secara hakikat bukan negara yang mensubsidi rakyat tetapi rakyat mensubsidi negara dengan masuknya perolehan migas ke dalam APBN. <em>â€œAdalah naif sekali jika pemerintahan sekarang memandang pemerintah yang mensubsidi rakyat, apalagi kemudian memandang subsidi sebagai beban pemerintahâ€</em>, kata pengamat ekonomi Unlam yang juga aktivis HTI ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Pemerintah Biarkan Rakyat Digoreng Spekulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Alasan utama kebijakan pemerintah menaikan harga BBM adalah melonjaknya harga BBM hingga di atas US $100 per barrel yang berakibat bertambah beratnya beban subsidi dalam APBN, karena itu harga BBM harus disesuaikan dengan harga internasional. Menurut Syahrituah Siregar, pemerintah mengesampingkan lonjakan harga minyak mentah (<em>crude oil</em>) internasional telah lepas dari kebutuhan dan permintaan riil minyak mentah dunia. Kepada para tokoh dan intelektual yang menghadiri acara dialog ini, pengamat ekonomi dari Unlam tersebut menjelaskan bagaimana teknis perdagangan di bursa komoditi dunia yang menyebabkan terjadinya ledakan harga minyak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Syahrituah menyatakan sesungguhnya kenaikan harga minyak akibat permainan spekulasi oleh para kapitalis di bursa komoditi. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Para</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> kapitalis mendesain tingkat permintaan minyak mentah di bursa melonjak drastis sehingga menggerek harga ke tingkat yang sangat tinggi. Menurut dosen Fakultas Ekonomi Unlam ini, spekulasi menyebabkan minyak mentah yang masih berada dalam perut bumi pun sudah diperjualbelikan sementara jual beli di bursa hanya berupa jual beli kertas saja. </span><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">â€œJadi tidak ada kaitan sama sekali antara harga minyak mentah saat ini dengan kebutuhan riil duniaâ€</span></em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">, katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dari sisi motif desain penaikan harga minyak mentah dunia di bursa komoditas, Syahrituah menjelaskan para spekulan (<em>fund manager</em>) di pasar modal telah mengalami kerugian ratusan milyar dolar sebagai akibat jatuhnya nilai surat-surat berharga berbasis <em>suprime mortgage</em> (kredit perumahan kelas dua) di AS dan Eropa. Krisis <em>suprime mortgage</em> berlanjut kepada krisis yang lebih luas yakni krisis finansial. Bahkan pada periode Januari 2008, krisis finansial mengakibatkan pasar modal di seluruh dunia mengalami kerugian senilai 5,2 trilyun dollas AS. Jadi para spekulan yang telah mengalami kerugian besar di bursa saham berpindah ke bursa komoditas dan mempermainkan harga komoditas migas sebagai upaya mereka untuk mengganti kerugian dari â€perjudianâ€ mereka di pasar modal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Hidayatullah menambahkan, spekulasi komoditas minyak di bursa tidak pernah berhenti bahkan pada tahun ini merupakan momen bagi para spekulan untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan penduduk dunia. Dengan dukungan media kapitalis, mereka memanfaatkan berbagai isu politik dan ekonomi untuk terus menggerek harga minyak. Di hadapan masyarakat dunia mereka menjadikan permasalahan politik dan ekonomi sebagai pembenar terjadinya kenaikan harga minyak dunia, padahal kita semua tahu produksi minyak dunia sangat mencukupi kebutuhan riil dunia. Seperti rilis Kantor Berita Antara kemaren (21/5/2008) Sekjen Opec Abdalla Salem el-Badri menyatakan pasokan minyak mentah sudah cukup memenuhi kebutuhan dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Menurut Hidayatullah, permainan spekulasi di bursa komoditas memiliki kecenderungan mengangkat harga minyak mentah hingga lebih dari US $200 per barrel dalam 6 bulan ke depan. Bahkan ada analis yang memprediksi harga minyak dapat bertengger pada angka US $300 di tahun 2009. Kecenderungan ini menunjukkan apabila pemerintah menetapkan harga BBM menyesuaikan harga internasional, maka yang terjadi adalah kenaikan harga BBM secara terus menerus. <em>â€Kebijakan ini sama saja membiarkan rakyat â€™digorengâ€™ oleh para spekulanâ€</em>, katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Jika pemerintah ingin melindungi rakyat dari dampak permainan spekulasi di bursa komoditas, maka pemerintah harus menjauhkan harga BBM nasional dari harga minyak dunia yang dikendalikan para spekulan. Hal ini sangat memungkinkan, sebab Indonesia memiliki ladang-ladang migas tidak seperti Jepang yang tidak memiliki sama sekali. <em>â€Bagaimana mungkin barang yang dibutuhkan masyarakat bahan bakunya ada di sini, tapi harga bahan bakunya mengikuti harga yang ada di New York?â€</em>, imbuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia Masih Produsen Migas</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Selama ini penurunan produksi minyak mentah Indonesia dijadikan pembenar pemerintah untuk menyatakan Indonesia <em>net importir</em>, sehingga atas dasar ini pemerintah berargumentasi harga BBM harus disesuaikan dengan harga internasional agar beban subsidi tidak terlalu menekan defisit APBN. Bahkan Presiden SBY melontarkan pernyataan kemungkinan Indonesia keluar dari keanggotaan OPEC dengan alasan kebutuhan minyak mentah Indonesia lebih besar dari produksi. </span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border: medium none; border-collapse: collapse; margin-left: 7.2pt; margin-right: 7.2pt;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 104.4pt;" width="174">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Keterangan</span></strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">2007</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(juta   barrel)</span></strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Jan-Maret   2008</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">(juta   barrel)</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 104.4pt;" width="174" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Produksi</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">347,493</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">84,822</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 104.4pt;" width="174" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Kebutuhan</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">321,302</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">76,714</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 104.4pt;" width="174" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Surplus   Produksi</span></strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">26,191</span></strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">8,108</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 104.4pt;" width="174" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Ekspor</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">127,134</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">29,623</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 104.4pt;" width="174" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Impor</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">110,448</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">23,224</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 104.4pt;" width="174" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Surplus Ekspor</span></strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">16,686</span></strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt;" width="135" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">6,399</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 266.4pt;" colspan="3" width="444" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Sumber: <a href="http://www.esdm.go.id/">www.esdm.go.id</a></span></em></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Menanggapi argumentasi ini, Hidayatullah mengatakan <em>â€memang produksi minyak mentah </em></span><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span></em><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> mengalami penurunan, hanya saja hingga saat ini produksi minyak mentah lebih besar dari kebutuhan nasional, begitu pula ekspor lebih besar dari imporâ€</span></em><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dengan menggunakan data dari Departemen ESDM, dapat dibuktikan posisi Indonesia bukan <em>net importir</em>. Tahun 2007 produksi minyak mentah Indonesia mencapai 347,493 juta barrel dengan tingkat kebutuhan 321,302 juta barrel. Data ini menunjukkan Indonesia mengalami surplus produksi sebesar 26,191 juta barrel. Begitu pula ekspor Indonesia lebih besar dari impor minyak dengan posisi surplus sebesar 16,686 juta barrel. Pada 3 bulan pertama tahun 2008, surplus produksi minyak Indonesia mencapai 8,108 juta barrel dan surplus ekspor 6,399 juta barrel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><img style="border: 1px solid black; margin: 5px; vertical-align: top;" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/produksi-kebutuhan-minyak-mentah-indonesia.png" alt="" width="603" height="290" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Kebohongan Fiskal</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Selama ini pemerintah mengembangkan opini di tengah masyarakat bahwa subsidi BBM sangat membebani keuangan negara, apalagi dengan melonjaknya harga minyak dunia hingga lebih dari US $100 per barrel yang kini sudah bertengger di angka US $ 135 per barrel. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memberikan subsidi paling besar. Kata Wapres, kalau harga BBM tidak dinaikan beban subsidi BBM dalam APBN dapat membengkak hingga Rp 300 trilyun.<em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Menurut Syarituah, cara pandang pemerintah tentang subsidi BBM salah besar. Subsidi BBM harus dipandang sebagai â€amanah publikâ€ bukan â€komoditas pasarâ€, sehingga biaya yang dikeluarkan dalam APBN untuk penyediaan BBM bagi masyarakat tidak boleh dipandang dari aspek finansial semata namun juga harus dilihat kebaikan-kebaikan yang diperoleh masyarakat baik dari aspek perekonomian maupun kehidupan sosial dengan harga BBM yang dapat mereka jangkau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Hidayatullah menambahkan, opini pemerintah ingin memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa subsidi BBM merupakan penyebab defisit APBN dan jika diteruskan dapat membatasi anggaran lainnya. Pandangan ini menyesatkan, sebab dalam APBN 2008 sebelum diubah menjadi APBN-P 2008 pos terbesar pengeluaran negara ada pada pos pembayaran cicilan pokok dan bunga utang luar negeri dan utang domestik. Dalam APBN 2008, pos subsidi berjumlah Rp 97,87 trilyun sedangkan pos utang mencapai Rp 151,023 trilyun yang terdiri atas Rp 91,365 trilyun untuk cicilan pokok dan Rp 59,658 trilyun pembayaran bunga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Jika pada pos subsidi BBM pemerintah ingin sekali menghapusnya bahkan sudah ada rencana membuat undang-undang penghapusan subsidi, maka terhadap pos pembayaran utang pemerintah tidak mau sama sekali mengutak-atiknya. Bahkan ketika sebuah organisasi kemahasiswaan menemui Wapres untuk meminta pemerintah menunda pembayaran utang, Wapres dengan tegas menolak permintaan organisasi tersebut. Menurut Wapres, negara kita tidak termasuk negara miskin sehingga tidak mungkin kreditur bersedia kita menunda pembayaran utang. Begitu pula kalau Indonesia menunda pembayaran utang, Indonesia akan sulit mendapatkan kepercayaan para investor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Alasan pemerintah tersebut menunjukan betapa rusaknya <em>mindset</em> pengelola negeri ini dengan menjadikan APBN tunduk pada kepentingan investor. Akibatnya, kebijakan fiskal selalu berorientasi <em>market friendly </em>atau <em>investor friendly </em>bukan <em>people friendly</em>. Ini semua karena kapitalisme dengan ekonomi neoliberalnya, menjadikan pos-pos pembiayaan kebutuhan publik sebagai â€musuh negaraâ€ sementara pos-pos yang berhubungan dengan kepentingan investor diproteksi oleh pemerintah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Misalnya biaya <em>cost recovery</em> di sektor hulu migas yang dikeluarkan para investor harus ditanggung negara. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Tahun 2007 <em>cost recovery</em> mencapai US $8,338 milyar atau setara Rp 76,709 trilyun. Menurut Hidayatullah, ini merupakan suatu bentuk penjajahan yang benar-benar nyata. Rakyat telah dirampok dengan penguasaan ladang-ladang migas oleh perusahaan-perusahaan kapitalis tersebut, kemudian pemerintah membuat aturan setiap biaya kegiatan investasi mereka ditanggung oleh negara sehingga pendapatan migas dalam APBN dikurangi biayai <em>cost recovery</em>. <em>â€œPemerintah benar-benar melakukan kebohongan fiskal, semoga Allah membalasnya dengan balasan yang setimpalâ€</em>, seru Hidayatullah.<em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Pemerintah Menderita Amnesia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dalam presentasinya, Syahrituah Siregar menyampaikan secara pribadi ia merasa â€œsangat emosionalâ€ dengan kebijakan pemerintah yang penuh kebohongan, apalagi â€œkebohongan pemerintahâ€ ini didukung penuh sebagian besar media. Sementara itu Hidayatullah menyatakan sebagai manusia dirinya â€œstressâ€ memikirkan â€œkezaliman pemerintahâ€ yang sudah melampaui batas kemampuan ekonomi masyarakat. <em>â€œKalau saya saja â€˜stressâ€™, bagaimana dengan masyarakat yang memiliki â€˜kadar intelektualâ€™ yang lebih rendah? Bagaimana dengan masyarakat yang menghadapi kezaliman ini tanpa adanya kekuatan keimanan kepada Allah? Apa yang akan terjadi dengan mereka?â€</em>, seru Hidayatullah. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Hidayatullah menyampaikan, <em>â€œkebijakan zalim pemerintah yang sudah melampaui batas ini diakibatkan oleh penyakit â€˜amnesiaâ€™ yang diderita pemerintahâ€.</em> Menurut Hidayatullah, <em>â€œAmnesia pemerintah adalah penyakit yang menyebabkan pemerintah lupa siapa dirinya, lupa bahwa dirinya adalah penanggungjawab dan pengatur urusan rakyatnya, lupa bahwa dirinya harus melindungi dan mensejahterakan rakyatnyaâ€</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Padahal Rasulullah SAW bersabda: <em>â€œSeorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terjadap rakyatnyaâ€.</em> (HR Bukhari-Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Penyakit ini disebabkan oleh rusaknya sistem yang diterapkan pemerintah, seperti sistem ekonomi Kapitalis yang menyebabkan ketimpangan dan kezaliman, dan faktor psikologis pemerintah yang terlalu ketakutan jika tidak melakukan kebijakan â€œpro investorâ€.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Penyakit amnesia pemerintah menyebabkan pemerintah selalu lupa rakyatnya dan selalu ingat investor. Begitu pula pemerintah lupa bahwa </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> memiliki ladang-ladang migas sehingga senantiasa mengaitkan harga BBM di negeri sendiri dengan harga minyak mentah yang ada di </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">New York</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">. Pemerintah lupa kebijakan liberalisasi sektor migas menyebabkan sektor hulu migas dikuasai asing sedangkan investor sektor hilir menginginkan harga BBM tidak disubsidi agar mereka dapat bersaing dengan Pertamina dan memperoleh keuntungan yang besar dari â€œjerit tangis kelaparanâ€ rakyat Indonesia. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Karena amnesia, pemerintah menjadi kaki tangan asing dan antek penjajahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Ganti Sistem</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Pemerintah yang ada saat ini merupakan pemerintahan yang rusak baik penguasanya maupun sistemnya, karena itu harus diganti secara keseluruhan. Hidayatullah menyerukan kita harus melakukan â€œrevolusi pola pikirâ€ mengubah <em>mindset</em> kapitalisme pemerintahan dan kapitalisme kebijakan publik menjadi bermindset Islam dengan paradigma syariah. Revolusi ini harus memiliki tujuan revolusi sistem, menjadikan negeri kaum Muslimin ini sebagai negeri yang menerapkan syariah secara kaffah di bawah sistem Khilafah. Sementara itu Syahrituah berpendapat sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan oleh pemerintah merupakan sistem zalim dan harus diganti dengan sistem Syariah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Semua peserta dalam dialog politik ekonomi ini sepakat bahwa sistem Kapitalisme harus diganti dengan sistem Syariah. Hanya Syariah yang dapat menyelamatkan kita dan menyelesaikan persoalan migas dan BBM. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/dialogprokontrabbm20mei2008-2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-733" style="border: 1px solid black; margin: 5px; float: right;" title="dialogprokontrabbm20mei2008-2" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/dialogprokontrabbm20mei2008-2-300x224.jpg" alt="Dialog Politik Ekonomi: Pro Kontra Penaikan Harga BBM, Apa Akar Masalahnya?" width="300" height="224" /></a><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Berkaitan dengan permasalahan sistem, Bapak Abdurahman al-Maliki dari KPSI menegaskan setelah begitu jelas akar masalah BBM yang berasal dari kerusakan sistem Kapitalisme maka tidak ada pilihan lain kecuali ganti sistem â€œsyetanâ€ ini dengan sistem Islam. Sementara salah satu peserta yang lain menambahkan negara ini perlu â€œdiruqyahâ€, supaya setan-setan yang bersemayam dalam tubuh pemerintahan ini keluar dan diisi dengan Syariah Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Pernyataan Sikap HTI Kalsel dan KPSI Kalsel</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dalam kesempatan acara tersebut HTI Kalsel dan KPSI Kalsel mengelu</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">arkan pernyataan </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">sikap dengan menyebut kebijakan pemerintah menaikan harga BBM sebagai â€œkebijakan zalimâ€ yang â€œmelampaui batas kemampuan ekonomi masyarakatâ€. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Dua organisasi ini menolak kebijakan pemerintah dan menuntut diturunkannya harga BBM yang sedang berlaku saat ini. Mereka juga mendesak agar negara menerapkan sistem Islam untuk menggantikan sistem Kapitalis yang rusak dan menzalimi rakyat Indonesia, sehingga politik migas Islam dapat menjadikan migas sebagai milik rakyat dengan manfaat sebesar-besarnya untuk kemaslahatan hidup rakyat. Setelah pembacaan pernyataan sikap, para peserta membubuhkan tanda tangan mendukung pernyataan sikap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Semoga Allah SWT memberikan pertolongan kepada para pengemban dakwah untuk meyakinkan umat mengganti sistem Kapitalisme ini dengan Syariah dan Khilafah. Amiin. [<strong>Redaksi Jurnal Ekonomi Ideologis</strong>].</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/dialogprokontrabbm20mei2008.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-732" title="dialogprokontrabbm20mei2008" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/dialogprokontrabbm20mei2008.jpg" alt="Dialog Politik Ekonomi: Pro Kontra Penaikan Harga BBM, Apa Akar Masalahnya?" width="448" height="336" /></a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/dialogprokontrabbm20mei2008-4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-736" title="dialogprokontrabbm20mei2008-4" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/05/dialogprokontrabbm20mei2008-4.jpg" alt="Dialog Politik Ekonomi: Pro kontra Penaikan Harga BBM, Apa Akar Masalahnya?" width="448" height="336" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/" title="BBM Langka dan Mahal karena Negara Lepas Tanggung Jawab">BBM Langka dan Mahal karena Negara Lepas Tanggung Jawab</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/" title="Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM">Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/" title="Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &#038; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD">Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &#038; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/" title="Kapitalisme di Balik Kebijakan Penaikan Harga dan Pengurangan Subsidi BBM">Kapitalisme di Balik Kebijakan Penaikan Harga dan Pengurangan Subsidi BBM</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/26/bagaimana-sikap-umat-seharusnya-terhadap-kebijakan-penaikan-harga-bbm/" title="Bagaimana Sikap Umat Seharusnya terhadap Kebijakan Penaikan Harga BBM?">Bagaimana Sikap Umat Seharusnya terhadap Kebijakan Penaikan Harga BBM?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/30/surat-untuk-komprador/" title="SURAT UNTUK KOMPRADOR">SURAT UNTUK KOMPRADOR</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/29/indonesia-keluar-dari-opec-ada-apa/" title="Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?">Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/27/pemerintah-lakukan-pelanggaran-konstitusi/" title="Pemerintah Lakukan Pelanggaran Konstitusi">Pemerintah Lakukan Pelanggaran Konstitusi</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/27/jubir-hti-liberalisasi-sektor-migas-sangat-mengkhawatirkan/" title="JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan">JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/26/komentar-pemerintah-makin-provokativ-ada-apa/" title="Komentar Pemerintah Makin Provokativ, Ada Apa?">Komentar Pemerintah Makin Provokativ, Ada Apa?</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/24/karena-amnesia-pemerintah-lupa-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 18:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[LIPUTAN KEGIATAN]]></category>
		<category><![CDATA[BBM]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Politik Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayatullah Muttaqin]]></category>
		<category><![CDATA[Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/faktor-faktor-penyebab-kelangkaan-dan-kenaikan-bbm/</guid>
		<description><![CDATA[Ada tiga faktor penyebab langka dan mahalnya BBM di Indonesia, yaitu: faktor teknis, faktor spekulatif, dan faktor politik ekonomi. Dari ketiga faktor tersebut, faktor politik ekonomi merupakan faktor utama terjadinya kelangkaan dan kenaikan harga BBM tersebut.  ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">BBM</span></p>
<p>oleh: <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></p>
<p><span style="color: #800000;">Catatan Dialog Politik Ekonomi HTI Kal-Sel: Analisis Politik Ekonomi di Balik Kenaikan Harga BBM 2007</span></p>
<p>Mengenai penyebab terjadinya kenaikan harga dan kelangkaan BBM, saya menyimpulkan ada tiga faktor penyabab, yaitu: faktor teknis, faktor spekulatif, dan faktor politik ekonomi. Pertama, dari sisi teknis, kelangkaan BBM terjadi karena supply BBM bersubsidi berkurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan lokal dan nasional. Berkurangnya supply BBM disebabkan adanya program konversi minyak tanah ke gas LPG dan terjadinya goncangan harga minyak dunia. Meningkatnya harga minyak dunia sebesar 40% hanya dalam waktu empat bulan, menyebabkan kemampuan finansial Pertamina mengimpor minyak mentah dan BBM menjadi sangat terbatas. Akibatnya Pertamina tidak dapat memenuhi kebutuhan kilang minyaknya yang berdampak pada berkurangnya pasokan BBM. Dalam APBN 2007, alokasi BBM bersubsidi sudah dikurangi pemerintah dari semula 37,9 juta kilo liter pada tahun 2006 menjadi 36,9 juta kilo liter pada tahun ini.</p>
<blockquote><p><span style="color: #0000ff;"><a href="../wp-content/uploads/2007/12/dialog-politik-ekonomi-analisis-kelangkaan-kenaikan-bbm.zip" target="_blank">Download slide presentasi Analisis Politik Ekonomi d Balik Kenaikan dan Kelangkaan BBM 2007</a></span></p></blockquote>
<p align="left">
<blockquote><p><span style="color: #000080;"><strong>Navigasi tulisan:</strong></span></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/">BBM Langka dan Mahal karena Pemerintah Lepas Tanggung Jawab</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/">Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/">Kepentingan Kapitalisme di Balik Kebijakan Kenaikan dan Pengurangan Subsidi BBM</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/">Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &amp; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD</a></p></blockquote>
<p>Kedua, faktor spekulatif yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri. Di dalam negeri adanya BBM bersubsidi dan BBM tidak bersubsidi untuk industri menyebabkan disparitas harga. Misalnya berdasarkan harga yang ditetapkan Pertamina tanggal 15 Desember 2007 untuk wilayah I, harga solar bersubsidi Rp 4.300 per liter sedangkan harga solar non subsidi mencapai Rp 8.235 per liter. Perbedaan harga ini menyebabkan terjadinya pasar gelap BBM. Sehingga sebagian pasokan BBM untuk masyarakat pada tahap distribusi diselewengkan ke industri, apalagi tingkat kenaikan harga BBM non subsidi pada Desember ini mencapai 21% lebih. Jadi kebijakan pemerintah menghapuskan sebagian subsidi memiliki dampak buruk yakni ekonomi gelap.</p>
<p>Dalam pengamatan saya yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga minyak dunia bukan negara eksportir minyak tetapi perusahaan-perusahaan pemilik ladang eksplorasi dan industri pengilangan minyak, serta para broker (spekulan). Sebagai gambaran, meskipun negara-negara OPEC menguasai 2/3 cadangan minyak dunia dan volume ekspor minyak mentahnya 40% dari ekspor dunia, negara-negara OPEC hanya memiliki sarana pengolahan minyak 10% saja. Sedangkan negara-negara maju menguasai 60% industri pengolahan minyak dunia yang mayoritas dimiliki beberapa perusahaan saja seperti Chevron, ExxonMobil, ConocoPhilips, Sheel, Texaco, BP, UNOCAL, dan Hallilburton.</p>
<p>Ketiga, faktor politik ekonomi sangat menentukan penguasaan dan harga minyak dunia. Faktor ini pula yang menyebabkan spekulasi lokal dan internasional, dan supply yang tidak berimbang di tingkat nasional. Di Indonesia sejak Orde Baru pemerintah telah meliberalisasi sektor hulu (upstream) migas sehingga hampir 90% produksi minyak Indonesia dikuasai asing. Paska reformasi, pemerintah dan DPR kebablasan dengan mengeluarkan UU Migas no 22 tahun 2001. Undang-undang yang draftnya dibuat oleh Amerika melalui lembaga bantuannya USAID dan Bank Pembangunan Asia semakin memantapkan liberalisasi di sektor hulu dan memberikan jalan bagi swasta dan asing berinvestasi dalam bisnis SPBU dan pendristibusian BBM. Liberalisasi sektor hilir (downstream) migas ini mendorong pemerintah untuk menaikan harga BBM dengan cara mengurangi subsidi untuk menarik investor asing.</p>
<p>Pada tahun 2007 undang-undang Penanaman Modal disahkan oleh DPR. Undang-Undang Penanaman Modal tidak membedakan lagi kedudukan investor dalam negeri dengan investor asing  dan hampir semua sektor perekonomian dibuka untuk investor asing kecuali sektor-sektor yang tidak memberikan keuntungan. Dengan diundangkannya Undang-Undang Penanaman Modal arus liberalisasi semakin kuat. Liberalisasi khususnya terjadi pada sektor-sektor strategis dan memberikan keuntungan besar seperti sektor hilir migas. Karenanya pemerintah sangat berkepentingan menaikkan harga BBM sehingga margin keuntungan bisnis hilir BBM semakin tinggi. Margin keuntungan yang tinggi inilah yang diharapkan pemerintah dapat memberikan daya tarik besar kepada investor asing. Jadi tidak benar alasan pemerintah mengurangi subsidi untuk menghemat anggaran.</p>
<p>Dengan politik ekonomi yang bertumpu pada liberalisasinya Kapitalisme, sesungguhnya pemerintah telah memantapkan konsep laissez faire-nya Adam Smith dalam urusan publik. Konsep ini mengharuskan urusan publik diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar (swasta dan asing) tanpa campur tangan pemerintah. Setiap orang menurut Adam Smith harus diberikan kebebasan berproduksi dan berusaha, bila dibatasi berarti melanggar hak asasi manusia.</p>
<p>Konteks politik ekonomi laissez faire yang diterapkan pemerintah, menjadikan pemerintah memandang permasalahan pertumbuhan ekonomi sebagai permasalahan utama dibandingkan permasalahan kemiskinan, pengangguran, pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, dan pemerataan kesejahteraan. Politik ekonomi ini menempatkan aspek material lebih tinggi dibandingkan aspek kemanusiaan, sehingga tidaklah aneh masalah peningkatan produksi dan distribusi BBM dengan cara menarik investor asing lebih diperhatikan pemerintah dibandingkan masalah mahal dan langkanya harga BBM dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pemerintah lebih memilih menjadi penjaga malam daripada menjadi ibu bagi masyarakat yang senantiasa merawat dan menjaga pemenuhan kebutuhan anak-anaknya. Seorang ibu sangat berkepentingan anak-anaknya tumbuh sehat dan cerdas, memiliki akhlak yang mulia, dan mampu menjadi manusia yang berguna bagi agama. Sementara pemerintah sebagai penjaga malam, pekerjaannya hanya menjaga dan melayani harta para investor.</p>
<p>Politik ekonomi Kapitalis ini juga tidak hanya diterapkan di Indonesia, tetapi hampir seluruh dunia, kecuali di Venezuela dan Bolivia. Di kedua negara ini, pemerintah berperan aktif mengelola ladang-ladang migas negara mereka. Sama dengan di Indonesia di negara-negara anggota OPEC dan non OPEC, pemerintah setempat menyerahkan penguasaan ladang-ladang migas kepada para investor asing. Akibatnya meskipun mayoritas eskportir migas adalah negara-negara berkembang, tetapi keuntungan dan penguasaan perdagangan migas ada di tangan perusahaan-perusahan multinasional dari Amerika, Inggris, Belanda, dan negara-negara maju lainnya.</p>
<p><em>Lihat lanjutan tulisan ini</em>: <strong><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/">Kepentingan Kapitalisme di Balik Kebijakan Kenaikan dan Pengurangan Subsidi BBM</a></strong></p>
<h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/30/surat-untuk-komprador/" title="SURAT UNTUK KOMPRADOR">SURAT UNTUK KOMPRADOR</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/29/indonesia-keluar-dari-opec-ada-apa/" title="Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?">Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/27/pemerintah-lakukan-pelanggaran-konstitusi/" title="Pemerintah Lakukan Pelanggaran Konstitusi">Pemerintah Lakukan Pelanggaran Konstitusi</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/24/karena-amnesia-pemerintah-lupa-rakyat/" title="KARENA AMNESIA PEMERINTAH LUPA RAKYAT">KARENA AMNESIA PEMERINTAH LUPA RAKYAT</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/01/26/masya-allah-pemerintah-sangat-liberal/" title="Masya Allah! Pemerintah Sangat Liberal">Masya Allah! Pemerintah Sangat Liberal</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/01/04/kapitalisasi-bbm/" title="Kapitalisasi BBM">Kapitalisasi BBM</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/" title="BBM Langka dan Mahal karena Negara Lepas Tanggung Jawab">BBM Langka dan Mahal karena Negara Lepas Tanggung Jawab</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/" title="Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &#038; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD">Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &#038; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/" title="Kapitalisme di Balik Kebijakan Penaikan Harga dan Pengurangan Subsidi BBM">Kapitalisme di Balik Kebijakan Penaikan Harga dan Pengurangan Subsidi BBM</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/09/15/membedah-latar-belakang-kenaikan-bbm-tdl-dan-telpon-2003-tinjauan-politik-ekonomi/" title="Membedah Latar Belakang Kenaikan BBM, TDL, dan Telpon 2003: Tinjauan Politik Ekonomi">Membedah Latar Belakang Kenaikan BBM, TDL, dan Telpon 2003: Tinjauan Politik Ekonomi</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &amp; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 17:05:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[LIPUTAN KEGIATAN]]></category>
		<category><![CDATA[BBM]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Politik Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Tekanan terhadap Pmerintah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/</guid>
		<description><![CDATA[BBM oleh: Hidayatullah Muttaqin Catatan Dialog Politik Ekonomi HTI Kal-Sel: Analisis Politik Ekonomi di Balik Kenaikan Harga BBM 2007 Dalam sesi dialog yang dapat saya rangkum, mantan Rektor Uniska Bapak Alfian menyampaikan pandangan bahwa kebijakan pemerintah yang menyebabkan rakyat sengsara tidak dapat dilepaskan dari sistem politik yang dianut negara kita. Karenanya perbaikan sisi ekonomi harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BBM</p>
<p>oleh: <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></p>
<p><span style="color: #800000;">Catatan Dialog Politik Ekonomi HTI Kal-Sel: Analisis Politik Ekonomi di Balik Kenaikan Harga BBM 2007</span></p>
<p>Dalam sesi dialog yang dapat saya rangkum, mantan Rektor Uniska Bapak Alfian menyampaikan pandangan bahwa kebijakan pemerintah yang menyebabkan rakyat sengsara tidak dapat dilepaskan dari sistem politik yang dianut negara kita. Karenanya perbaikan sisi ekonomi harus disertai dengan perbaikan sistem politik. Saya sangat setuju dengan pandangan beliau, karena hakikatnya segala produk perundangan-undangan dan kebijakan pemerintah lahir dari proses politik. Untuk itu wajib bagi kita semua untuk mengubah paradigma politik sekuler dengan paradigma Islam, yakni kekuasaan merupakan sarana untuk memelihara dan mengatur urusan rakyat dengan syariat Islam. Melalui syariat Islam permasalahan masyarakat dapat terpecahkan, kehidupan bernegara dan bermasyarakat menjadi barokah sebagaimana yang telah disampaikan Bapak Hermani Abdurrahman sebelumnya.</p>
<blockquote><p><span style="color: #0000ff;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2007/12/dialog-politik-ekonomi-analisis-kelangkaan-kenaikan-bbm.zip" target="_blank">Download slide presentasi Analisis Politik Ekonomi d Balik Kenaikan dan Kelangkaan BBM 2007</a></span></p></blockquote>
<p align="left">
<blockquote><p><span style="color: #000080;"><strong>Navigasi tulisan:</strong></span></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/">BBM Langka dan Mahal karena Pemerintah Lepas Tanggung Jawab</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/">Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/">Kepentingan Kapitalisme di Balik Kebijakan Kenaikan dan Pengurangan Subsidi BBM</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/">Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &amp; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD</a></p></blockquote>
<p>Selaras dengan pandangan Bapak Alfian, Bapak Abdurrahman Malik dari KPSI Kal-Sel yang juga pengurus al-Irsyad Banjarmasin mengemukakan problem BBM yang kita hadapi, termasuk problem-problem lainnya, berakar pada problem sistem. Indonesia selama ini menerapkan sistem Kapitalis sehingga negara kita menjadi subordinasi asing khususnya Amerika Serikat. Padahal sistem yang bukan dari Islam merupakan sistem syaitan. Mengapa negeri ini begitu bodohnya menerapkan sistem syaitan? Tanya beliau kepada peserta dialog.</p>
<p>Sementara itu Bapak Syahrituah Siregar yang juga dosen di Fakultas Ekonomi Unlam, menyampaikan pandangan pentingnya rumusan strategis untuk memberikan masukan kepada pemerintah daerah dalam menangani gejolak BBM, termasuk permasalahan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam. Menurut saya pandangan beliau perlu ditindaklanjuti. Kita perlu menyusun konsep yang dapat digunakan pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan. Sudah saatnya bagi kita untuk mencangkokkan paradigma syariah ke dalam pemahaman pengambil kebijakan.</p>
<p>Menanggapi pencangkokan paradigma syariah ke tubuh pemerintahan, salah seorang peserta dialog yang juga praktisi bank syariah mengatakan hal itu tidak penting sebab gubernur kita pasti paham syariah. Sebab beliau berasal dari orang yang berlatarbelakang agama yang kuat. Mengenai hal ini saya jelaskan bahwa yang dimaksud pencangkokan paradigma syariah adalah para pengambil kebijakan menjadikan syariat Islam sebagai landasan dan aturan dalam mengatur urusan publik. Percuma punya pemimpin puasa senin kemis tetapi menjadi Kapitalis ketika mengatur pemerintahan.</p>
<p>Dari berbagai pendapat yang muncul dalam dialog, para peserta menginginkan diskusi ini ditindaklannjuti dengan langkah action. Mereka bersepakat perlunya penuangan konsep yang dapat diajukan kepada pengambil kebijakan, dan pressure secara terus-menerus terhadap pemerintah dan DPRD Kalimantan Selatan.</p>
<p>Alhamdulillah, semoga Allah SWT memudahkan jalan bagi umat untuk kembali kepada Islam. Amin. [Jurnal Ekonomi Ideologis]</p>
<p class="MsoNormal"><a title="kalseldiskusi01.jpg" href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi01.jpg"><img src="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi01.jpg" alt="kalseldiskusi01.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Pembicara Bapak Hermani Abdurrahman dan Hidayatullah Muttaqin dipandu oleh Akhid Yulianto, Se, MSc (Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Unlam)</span></p>
<p class="MsoNormal"><a title="kalseldiskusi02.jpg" href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi02.jpg"><img src="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi02.jpg" alt="kalseldiskusi02.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Mengapa pemerintah dan para ekonomnya lebih memilih pandangan Adam Smith seorang profesor yang benar-benar linglung, hidup tidak teratur dan berantakan (lihat buku Sejarah Pemikiran Ekonomi: Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern karangan Mark Skousen) dibandingkan dengan pandangan Rasulullah yang berakhlak mulia dan selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan umat?</span></p>
<p class="MsoNormal"><a title="kalseldiskusi03.jpg" href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi03.jpg"><img src="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi03.jpg" alt="kalseldiskusi03.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Peserta Dialog Politik Ekonomi sedang menyimak presentasi pembicara</span></p>
<p class="MsoNormal"><a title="kalseldiskusi04.jpg" href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi04.jpg"><img src="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi04.jpg" alt="kalseldiskusi04.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="kalseldiskusi05.jpg" href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi05.jpg"><img src="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi05.jpg" alt="kalseldiskusi05.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><a title="kalseldiskusi06.jpg" href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi06.jpg"><img src="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/kalseldiskusi06.jpg" alt="kalseldiskusi06.jpg" /></a></p>
<p><em>Kembali ke halaman depan tulisan ini:</em> <a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/">BBM Langka dan Mahal karena Pemerintah Lepas Tanggung Jawab</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p><h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/24/karena-amnesia-pemerintah-lupa-rakyat/" title="KARENA AMNESIA PEMERINTAH LUPA RAKYAT">KARENA AMNESIA PEMERINTAH LUPA RAKYAT</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/" title="BBM Langka dan Mahal karena Negara Lepas Tanggung Jawab">BBM Langka dan Mahal karena Negara Lepas Tanggung Jawab</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/" title="Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM">Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/" title="Kapitalisme di Balik Kebijakan Penaikan Harga dan Pengurangan Subsidi BBM">Kapitalisme di Balik Kebijakan Penaikan Harga dan Pengurangan Subsidi BBM</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/26/bagaimana-sikap-umat-seharusnya-terhadap-kebijakan-penaikan-harga-bbm/" title="Bagaimana Sikap Umat Seharusnya terhadap Kebijakan Penaikan Harga BBM?">Bagaimana Sikap Umat Seharusnya terhadap Kebijakan Penaikan Harga BBM?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/30/surat-untuk-komprador/" title="SURAT UNTUK KOMPRADOR">SURAT UNTUK KOMPRADOR</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/29/indonesia-keluar-dari-opec-ada-apa/" title="Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?">Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/27/pemerintah-lakukan-pelanggaran-konstitusi/" title="Pemerintah Lakukan Pelanggaran Konstitusi">Pemerintah Lakukan Pelanggaran Konstitusi</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/27/jubir-hti-liberalisasi-sektor-migas-sangat-mengkhawatirkan/" title="JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan">JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/26/komentar-pemerintah-makin-provokativ-ada-apa/" title="Komentar Pemerintah Makin Provokativ, Ada Apa?">Komentar Pemerintah Makin Provokativ, Ada Apa?</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapitalisme di Balik Kebijakan Penaikan Harga dan Pengurangan Subsidi BBM</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 16:56:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[LIPUTAN KEGIATAN]]></category>
		<category><![CDATA[BBM]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Politik Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Hidayatullah Muttaqin Catatan Dialog Politik Ekonomi HTI Kal-Sel: Analisis Politik Ekonomi di Balik Kenaikan Harga BBM 2007 Sejak reformasi kita selalu mendengar pernyataan-pernyataan pejabat negara yang begitu membosankan, yakni subsidi terlalu besar sehingga sangat membebani keuangan negara dan menyebabkan kemampuan pemerintah membiayai anggaran publik seperti pendidikan menjadi sangat terbatas. Di samping itu mereka juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></p>
<p><span style="color: #800000;">Catatan Dialog Politik Ekonomi HTI Kal-Sel: Analisis Politik Ekonomi di Balik Kenaikan Harga BBM 2007</span></p>
<p>Sejak reformasi kita selalu mendengar pernyataan-pernyataan pejabat negara yang begitu membosankan, yakni subsidi terlalu besar sehingga sangat membebani keuangan negara dan menyebabkan kemampuan pemerintah membiayai anggaran publik seperti pendidikan menjadi sangat terbatas. Di samping itu mereka juga mengatakan selama ini yang menikmati subsidi bukan masyarakat dari kalangan menengah ke bawah tetapi orang-orang kaya.</p>
<blockquote><p><span style="color: #000080;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2007/12/dialog-politik-ekonomi-analisis-kelangkaan-kenaikan-bbm.zip" target="_blank">Download slide presentasi Analisis Politik Ekonomi d Balik Kenaikan dan Kelangkaan BBM 2007</a><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color: #000080;"><strong>Navigasi tulisan:</strong></span></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/">BBM Langka dan Mahal karena Pemerintah Lepas Tanggung Jawab</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/">Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/">Kepentingan Kapitalisme di Balik Kebijakan Kenaikan dan Pengurangan Subsidi BBM</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/">Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &amp; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD</a></p></blockquote>
<p align="left">
<p>Dari sisi tingkat konsumsi BBM memang kalangan menengah atas lebih besar dibandingkan kelangan menengah bawah yang jumlahnya mayoritas di negeri ini. Tetapi permasalahan ini harus dilihat dari dua sisi, pertama menaikkan harga BBM berdampak buruk pada kesejahteraan masyarakat dan dunia usaha. Pada tahun 2005 pemerintah telah menaikkan harga BBM sekitar 50% pada bulan Maret dan lebih dari 100% pada bulan Oktober. Hasilnya menurut Presiden SBY sendiri dalam Pidato Awal Tahun 2007 menyatakan pada tahun 2005 ada 76 ribu rakyat Indonesia yang mengalami busung lapar.</p>
<p>Untuk dunia usaha kenaikan harga BBM non subsidi sebesar 21% pada bulan Desember sudah menyebabkan dunia usaha meradang. Usaha kecil dan menengah merupakan kelompok usaha yang pertama kali mengalami pukulan. Padahal kelompok usaha ini menyumbang 98% penyerapan tenaga kerja dari 108,13 juta angkatan kerja tahun 2007. Kemudian pada perusahaan berskala besar, sebagaimana yang dikatakan Sofyan Wanandi (ketua Apindo), mau tidak mau mereka akan menaikkan harga jual pada awal 2008 dan melakukan efisiensi usaha. Efisiensi dilakukan dengan cara pengurangan ship kerja dan PHK.</p>
<p>Keadaan ini mencerminkan prospek tahun 2008 sangat suram jika gejolak kenaikan harga BBM tidak dikendalikan dan diturunkan pemerintah. Sebab pendapatan masyarakat turun, pengangguran semakin besar, dan harga-harga barang kebutuhan pokok ikut-ikutan merambat naik. Menurut data BPS awal tahun 2007 pengangguran terbuka mencapai 10,55 juta orang, sementara angkatan kerja baru tahun ini diperkirakan 2,1 juta. Padahal pada tahun 2006, 1% pertumbuhan ekonomi hanya berkolerasi dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 48 ribu orang. Dengan demikian tahun 2008 akan terjadi ledakan kemiskinan yang pada tahun 2006 saja jumlahnya mencapai 128,94 juta orang. Jadi sangat tidak tepat menaikan harga BBM untuk menghemat anggaran dan melindungi kepentingan orang-orang miskin. Masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah harus diproteksi dengan harga BBM yang murah dan pasokan yang lancar.</p>
<p>Dari sisi beban anggaran, memang kenaikan harga minyak mentah dunia berdampak pada besaran subsidi. Hanya saja opini yang ingin dibentuk pemerintah bahwa beban subsidi merupakan penyebab defisit APBN adalah opini yang salah kaprah. Namun opini pemerintah yang didukung para ekonom liberal selama ini berhasil menyesatkan pandangan publik. Padahal kalau APBN kita cermati, maka akan terungkap pos hutang pemerintahlah yang menjadi penyebab APBN defisit.</p>
<p>Dalam APBN 2007, pemerintah dan DPR menganggarkan pinjaman luar negeri sebesar Rp 40,27 trilyun, pinjaman dalam negeri dalam bentuk penerbitan Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp 55,06 trilyun. Jadi total hutang yang akan dipinjam pemerintah mencapai Rp 95,33 trilyun. Sementara itu jumlah cicilan pokok hutang luar negeri yang jatuh tempo mencapai Rp 54,83 trilyun, pembayaran cicilan bunga hutang luar negeri dan hutang obligasi sebesar Rp 85,08 trilyun. Dengan beban pembayaran hutang sebesar Rp 139,91 trilyun, hakikatnya APBN kita tidak menerima pemasukan baik dari pinjaman luar negeri maupun penerbitan SUN. Sebaliknya APBN 2007 tekor sebesar Rp 44,58 trilyun. Fakta pos hutang pemerintah yang membebani anggaran negara tidak pernah diungkap secara luas oleh pemerintah kepada masyarakat. Pemerintah selalu menyalahkan subsidi.</p>
<p>Di bagian akhir pengantar dialog, saya berkesimpulan kunci permasalahan kenaikan dan kelangkaan BBM terdapat pada penguasaan sumber-sumber migas dan industri pengolahannya oleh asing baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Sehingga merekalah yang mengendalikan harga dan pasar BBM dunia. Dari sisi konsep permasalahan ini sangat mudah dipecahkan. Dengan mengikuti pandangan Rasulullah saw, maka seharusnya ladang-ladang migas dan industri pengolahannya dikuasai oleh negara sebagai wakil umat atas harta milik umum. Negara-lah yang harus berinvestasi untuk menemukan dan mengeksplorasi ladang migas. Negara juga yang memproduksi BBM dan mendistribusikannya dengan harga murah.</p>
<p>Namun konsep yang sederhana ini secara aplikatif sulit dilaksanakan selama pemerintah kita mengadopsi Kapitalisme dan rakyat Indonesia membiarkannya. Karenanya, kerja keras memecahkan permasalahan ini adalah dengan mengingatkan dan memberikan tekanan kuat utamanya oleh masyarakat luas bahwa kebijakan pemerintah yang berkiblat pada Kapitalisme tidak akan pernah memecahkan permasalahan yang dihadapi rakyat. Justru dengan kebijakan Kapitalisnya, pemerintah telah menjadi pelayan kepentingan asing bukan pelayan kepentingan rakyat.</p>
<blockquote><p>Mengapa pemerintah dan para ekonomnya lebih memilih pandangan Adam Smith seorang profesor yang benar-benar linglung, hidup tidak teratur dan berantakan (lihat buku Sejarah Pemikiran Ekonomi: Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern karangan Mark Skousen) dibandingkan dengan pandangan Rasulullah yang berakhlak mulia dan selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan umat?  <em><br />
</em></p></blockquote>
<p><em>Lanjutan tulisan ini:</em> <strong><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/">Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &amp; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD</a> </strong></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p><h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/24/karena-amnesia-pemerintah-lupa-rakyat/" title="KARENA AMNESIA PEMERINTAH LUPA RAKYAT">KARENA AMNESIA PEMERINTAH LUPA RAKYAT</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/" title="BBM Langka dan Mahal karena Negara Lepas Tanggung Jawab">BBM Langka dan Mahal karena Negara Lepas Tanggung Jawab</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/" title="Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM">Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/" title="Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &#038; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD">Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &#038; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/12/22/g20-sarana-baru-imperialisme-barat/" title="G20: Sarana Baru Imperialisme Barat">G20: Sarana Baru Imperialisme Barat</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/20/mengontekstualkan-kapitalisme/" title="Mengontekstualkan Kapitalisme">Mengontekstualkan Kapitalisme</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/14/kegagalan-kapitalisme-dan-solusi-islam-untuk-krisis-keuangan-global/" title="Kegagalan Kapitalisme dan Solusi Islam untuk Krisis Keuangan Global">Kegagalan Kapitalisme dan Solusi Islam untuk Krisis Keuangan Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/04/03/perebutan-hegemoni-kapitalisme-global/" title="G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global">G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/31/keynes-ekonom-gay/" title="Keynes Ekonom Gay">Keynes Ekonom Gay</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BBM Langka dan Mahal karena Negara Lepas Tanggung Jawab</title>
		<link>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/</link>
		<comments>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 00:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[LIPUTAN KEGIATAN]]></category>
		<category><![CDATA[BBM]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Politik Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Negara Lepas Tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/</guid>
		<description><![CDATA[BBM oleh: Hidayatullah Muttaqin Catatan Dialog Politik Ekonomi HTI Kal-Sel: Analisis Politik Ekonomi di Balik Kenaikan Harga BBM 2007 Download slide presentasi Analisis Politik Ekonomi d Balik Kenaikan dan Kelangkaan BBM 2007 Navigasi tulisan: BBM Langka dan Mahal karena Pemerintah Lepas Tanggung Jawab Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM Kepentingan Kapitalisme di Balik Kebijakan Kenaikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">BBM<br />
</span></p>
<p>oleh: <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></p>
<p><span style="color: #800000;">Catatan Dialog Politik Ekonomi HTI Kal-Sel: Analisis Politik Ekonomi di Balik Kenaikan Harga BBM 2007</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #0000ff;"><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2007/12/dialog-politik-ekonomi-analisis-kelangkaan-kenaikan-bbm.zip" target="_blank">Download slide presentasi Analisis Politik Ekonomi d Balik Kenaikan dan Kelangkaan BBM 2007</a></span></p></blockquote>
<blockquote>
<p align="left">
<p><span style="color: #000080;"><strong>Navigasi tulisan:</strong></span></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/">BBM Langka dan Mahal karena Pemerintah Lepas Tanggung Jawab</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/">Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/">Kepentingan Kapitalisme di Balik Kebijakan Kenaikan dan Pengurangan Subsidi BBM</a></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/">Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &amp; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD</a></p></blockquote>
<p>Selasa 25 Desember Hizbut Tahrir Indonesia Kal-Sel berkerjasama dengan Masyarakat Ekonomi Syariah Kal-Sel dan KPSI Kal-Sel mengadakan DIALOG POLITIK EKONOMI dengan tema Analisis Politik Ekonomi di Balik Kelangkaan dan Kenaikan Harga BBM 2007. Acara yang bertempat di Rumah Makan Bubur Ayam Arjuna Banjarmasin diikuti kalangan intelektual dari HTI, MES, KPSI, Bappeda Banjarmasin, dosen Fakultas Ekonomi Unlam, dosen Politeknik Negeri Banjarmasin, Mantan Rektor Universitas Islam Kalimantan, PDAM Banjarmasin, praktisi Bank Syariah, dll. Dialog ini juga dihadiri wartawan media cetak Banjarmasin Post, Barito Post, Kalimantan Post, Serambi Ummah. Dari media elektronik Trans 7, RRI, Radio Abdi Persada FM, Nirwana FM, dan Madinatus Salam FM. Dialog ini menghadirkan Drs Hermani Abdurrahman (Mantan Dirut BPD Kal-Sel/Ketua MES Kal-Sel) dan saya sendiri Hidayatullah Muttaqin (Departemen Politik HTI Kal-Sel/Staf Pengajar Ekonomi Pembangunan Unlam) sebagai pembicara. Berikut catatan yang dapat saya himpun dari kegiatan tersebut:</p>
<p>Dalam pemaparannya Bapak Hermani Abdurrahman menyatakan BBM langka dan mahal karena negara kita tidak diberokahi Allah SWT. Indonesia meskipun mayoritas penduduknya muslim, para pemimpinnya tidak becus mengelola negara. Mereka meninggalkan syariat Islam dan memilih produk kebijakan Kapitalisme Barat. Akibatnya berbagai kebijakan di negeri ini tunduk pada kepentingan asing. Ia mencontohkan bagaimana IMF menekan Indonesia dengan 140 item LoI-nya. Dalam LoI tersebut salah satunya IMF memaksa Indonesia untuk mencabut subsidi dan menaikkan harga BBM. Kebijakan penghapusan subsidi sampai sekarang terus berlanjut meskipun kesepakatan dengan IMF tidak diperpanjang lagi.</p>
<p>Mengenai kelangkaan BBM di Kalimantan Selatan, beliau mendapatkan informasi dari suatu sumber bahwa Pertamina UPms Banjarmasin memang mengurangi jatah pasokan BBM bersubsidi untuk SPBU. Jatah yang seharusnya dapat memenuhi kebutuhan selama satu tahun tetapi sudah habis pada bulan Oktober. Akibatnya persediaan BBM di SPBU tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga terjadi kelangkaan dan kenaikan harga. Menurut data Pertamina UPms Banjarmasin, setiap hari kebutuhan BBM di Kalimantan Selatan untuk premium 900 kilo liter, minyak tanah 540 kilo liter, solar 1.800 kilo liter. Beliau menambahkan problem ketidakcukupan pasokan BBM ini juga disebabkan kesalahan manajemen Pertamina, karena memberikan ijin pendirian SPBU-SPBU baru tanpa memperhitungkan berapa penambahan supply BBM yang mencukupi kebutuhan SPBU seluruhnya.</p>
<p>Mantan Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah Kal-Sel menyayangkan sikap Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang lamban menyikapi kelangkaan BBM dan seolah-olah berlepastangan dengan alasan masalah supply BBM bukan kewenangan pemerintah provinsi. Beliau mengatakan di Kalimantan Tengah kelangkaan BBM hanya terjadi dalam satu hari saja, sementara di Kalimantan Selatan krisis BBM sudah berlangsung dua minggu.</p>
<p>Sementara itu saya dalam pengantar dialog menyayangkan kelangkaan dan lonjakan harga BBM tidak disertai adanya tanggung jawab dari pihak-pihak yang semestinya bertanggungjawab. Pertamina selaku BUMN yang diberikan kewenangan mendistribusikan BBM selalu menyalahkan masyarakat dengan alasan pasokan BBM cukup dan lancar padahal di lapangan hampir setiap hari warga antri di SPBU. Sedangkan Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Arifin meskipun geram terhadap kinerja Pertamina tidak mau bertanggungjawab dengan alasan supply dan distribusi BBM bukan kewenangannya. Rudy Arifin malah berencana mengundang investor baru untuk mendirikan SPBU-SPBU. Ia menyebut PT Global Artha Borneo sudah melirik Kalimantan Selatan, dan berharap para investor asing seperti Petronas, Sheel, dan Cevron juga berinvestasi di daerah ini. Di sisi lain kesulitan masyarakat mendapatkan BBM sama sekali tidak mendapatkan respon pemerintah pusat. Pemerintah pusat selaku pengambil kebijakan tertinggi senantiasa mendudukan dirinya hanya sebagai penonton dengan alasan semuanya sudah diatur sesuai mekanisme pasar.</p>
<p>Hal yang menarik dari pernyataan Gubernur Rudy Arifin, bahwa anggapan dia Pertamina tidak becus sehingga dia akan mengundang dan mempermudah investor asing dan swasta untuk menggarap sektor hilir migas di Kalimantan Selatan. Apakah masalah kelangkaan dan kenaikan harga BBM merupakan rekayasa untuk membuat Pertamina tersudut dan menjadi pembenar bagi pemerintah untuk memasukkan investor asing di bisnis vital dan sangat menguntungkan ini?</p>
<p>Masalah kelangkaan BBM di Kalimantan Selatan dan berbagai daerah lainnya, seiring dengan rencana pemerintah untuk membatasi pemakaian premium bersubsidi yakni yang beroktan 88 dan dialihkan ke premium non subsidi yang beroktan 90 dan pertamax. Kemungkinan terkaitnya masalah kelangkaan BBM dengan rencana pemerintah ini sangat besar. Namun beberapa waktu yang lalu di media Wapres Jusuf Kalla menyatakan rencana pembatasan pemakaian BBM bersubsidi ini belum matang masih berupa konsep. Jadi alangkah malangnya rakyat Indonesia diberi kabar buruk, sebab pemerintah dengan gampangnya menyatakan kepada masyarakat akan melakukan kebijakan ini, padahal rencana pembatasan dan pengalihan tersebut masih dalam pengkajian. Saya sangat ingat dengan sabda Rasulullah, Jadilah seorang yang memberi kabar baik (mubasyir), dan janganlah menjadi seorang yang menakutkan (munaffir). Mudahkanlah dan jangan mempersulit (HR Bukari).</p>
<p><em>lanjutan tulisan ini:</em> <a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/"><strong>Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM</strong></a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p><h3  class="related_post_title">Tulisan terkait lainnya ....</h3><ul class="related_post"><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/24/karena-amnesia-pemerintah-lupa-rakyat/" title="KARENA AMNESIA PEMERINTAH LUPA RAKYAT">KARENA AMNESIA PEMERINTAH LUPA RAKYAT</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/" title="Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM">Faktor-Faktor Penyebab Kelangkaan dan Kenaikan BBM</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-3/" title="Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &#038; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD">Peserta Dialog: Perlu Langkah Nyata &#038; Tekanan terhadap Pemerintah dan DPRD</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-2/" title="Kapitalisme di Balik Kebijakan Penaikan Harga dan Pengurangan Subsidi BBM">Kapitalisme di Balik Kebijakan Penaikan Harga dan Pengurangan Subsidi BBM</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/26/bagaimana-sikap-umat-seharusnya-terhadap-kebijakan-penaikan-harga-bbm/" title="Bagaimana Sikap Umat Seharusnya terhadap Kebijakan Penaikan Harga BBM?">Bagaimana Sikap Umat Seharusnya terhadap Kebijakan Penaikan Harga BBM?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/30/surat-untuk-komprador/" title="SURAT UNTUK KOMPRADOR">SURAT UNTUK KOMPRADOR</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/29/indonesia-keluar-dari-opec-ada-apa/" title="Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?">Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/27/pemerintah-lakukan-pelanggaran-konstitusi/" title="Pemerintah Lakukan Pelanggaran Konstitusi">Pemerintah Lakukan Pelanggaran Konstitusi</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/27/jubir-hti-liberalisasi-sektor-migas-sangat-mengkhawatirkan/" title="JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan">JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan</a></li><li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/26/komentar-pemerintah-makin-provokativ-ada-apa/" title="Komentar Pemerintah Makin Provokativ, Ada Apa?">Komentar Pemerintah Makin Provokativ, Ada Apa?</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
