Syahwat Kapital dan Tauladan Kepemimpinan Rasul

KEPEMIMPINAN

oleh: Hidayatullah Muttaqin

Siapa pun tidak ada yang tidak membutuhkan harta dalam kehidupan ini. Harta atau kekayaan adalah segala sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi manusia. Dengan manfaat yang muncul dari harta tersebut manusia dapat mempertahankan hidupnya. Sebaliknya karena harta pula manusia dapat membinasakan manusia yang lain.

Dalam Islam manusia disyariatkan untuk mencari harta yakni dengan cara bekerja. Bekerja boleh dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dalam batas pekerjaan yang tidak melanggar ketentuan Allah SWT. Bagi laki-laki yang sudah memiliki tanggungan seperti istri dan anak, bekerja hukumnya menjadi wajib. Dengan bekerja diharapkan seorang kepala keluarga dapat memberikan nafkah yang layak kepada keluarganya, sehingga kebutuhan hidup yang paling mendasar seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan dapat terpenuhi dengan baik.

Namun kondisi perekonomian Indonesia yang sedang sulit saat ini menyebabkan pengangguran semakin besar sementara angkatan kerja baru semakin bertambah. Sulitnya mencari pekerjaan merupakan gambaran nyata kehidupan sehari-hari kita. Sedangkan kebutuhan pokok manusia tidak dapat ditunda-tunda pemenuhannya. Akibatnya terjadi gap antara kebutuhan dengan penghasilan.

Apabila gap ini tidak dapat segera ditutup maka yang muncul adalah kemiskinan. Kemiskinan kata Rasulullah SAW dapat mengakibatkan seseorang dekat dengan kekufuran. Bahkan Rasulullah SAW selalu berdoa sebagaimana yang diriwayatkan Abu Daud, an-Naza’i, Ibnu Majah, dan al-Hakim: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemiskinan, kekurangan, dan kehinaan. Aku pun berlindung kepada-Mu dari perbuatan zalim dan dizalimi.”

Orang yang berada dalam kemiskinan diuji Allah dengan kesempitan harta, sehingga kesabaran adalah kebutuhan utama yang harus segera dimiliki. Dengan bersabar manusia dapat mencegah dirinya berbuat kufur menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta, misalnya merampok, mencuri, menjambret, menipu, melacur, dan berjudi. Namun kesabaran membutuhkan keimanan. Sementara keimanan tidak akan mampu menciptakan kesabaran jika iman tidak dikuatkan dengan ilmu, ibadah, dan amal saleh.

Adalah Rasulullah SAW yang hidupnya berada dalam kemiskinan pada masa beliau menjadi kepala negara Islam di Madinah. Ibunda kita Aisyah Ra pernah bercerita keluarga Rasulullah SAW selama dua bulan purnama tungku api dapur di rumah istri-istri beliau tidak menyala. Rasulullah SAW dan keluarga beliau selama itu setiap hari hanya makan dan minum dengan kurma dan air yang tidak jernih. Tatkala pagi tidak ada makanan di rumah beliau pun berpuasa dan tidak pernah mengeluhkan keadaan tersebut.

Kehidupan Rasulullah yang bersahaja bukan karena beliau malas bekerja, bahkan beliau seorang pekerja keras dan cerdas. Rasulullah juga menjahit sendiri pakaian beliau yang sobek. Setiap pulang ke rumah belum ada makanan tersedia, beliau pun langsung menyingsingkan lengan bajunya sambil tersenyum membantu istrinya di dapur. Sewaktu muda beliau seorang pedagang yang kaya dan terpercaya karena keamanahan dan kejujuran beliau. Semenjak beliau diangkat Allah SWT menjadi Rasul, seluruh harta dan kekayaan beliau diinfakkan untuk kepentingan dakwah dan negara Islam.

Berbeda dengan sifat Rasulullah yang penyabar dikala sempit harta dan senantiasa langsung berinfak ketika mendapatkan harta, saat ini kita melihat fenomena banyak orang gila harta. Suasana kehidupan materialistis saat ini membimbing orang-orang mencampakkan ajaran agamanya dan menjadikan harta sebagai panglima hidupnya. Bagaimanapun caranya yang penting bagi mereka adalah uang dan harta. Akibat perilaku ekonomi Kapitalis ini, banyak orang dirugikan bahkan harta rakyat dan negara pun mereka ambil hanya untuk memuaskan keserakahan mereka. Atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi orang-orang yang duduk di pemerintahan dan dewan perwakilan mengeluarkan kebijakan ekonomi liberal sehingga kehidupan rakyat semakin sempit dan miskin.

Bila ia pengusaha, maka menipu, menyuap aparat, dan mengambil hak orang lain tak segan dilakukan. Bahkan harta rakyat dalam bentuk kepemilikan umum pun mereka ambil untuk kepentingan mereka sendiri. Tidak aneh jika kekayaan sumber daya alam di Indonesia seperti hutan dan barang tambang dikuasai segelintir orang saja. Sementara rakyat hanya mendapatkan kubangan dan jalan yang rusak. Padahal barang tambang seperti batubara ini menurut Rasulullah adalah milik umum. Artinya barang tambang tersebut hak milik rakyat, bukan milik negara apalagi swasta. Fungsi negara terhadap barang tambang hanya sebagai pengelola yang mewakili rakyat dan pemerintah bukan pemilik. Rasulullah juga melarang pertambangan besar dijual dan diserahkan ke swasta dan asing.

Bila ia politisi dan birokrat, tak segan-segan mereka melakukan kebijakan untuk memperkaya diri sendiri dan mengokohkan kekuasaan dan pengaruh mereka di tengah masyarakat. Masih ingat dalam kepala saya soal PP No 37/2006 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD. PP kontroversial ini yang kemudian direvisi Presiden SBY hanya akan menghabiskan uang rakyat untuk memuaskan “syahwat kapital” partai politik dan politisi.

Tahun 2007 lalu Dana Politik Alokatif sebesar Rp 16,9 miliar dianggarkan dalam APBD Kal-Sel. Jumlah yang tidak sedikit tentunya. Pimpinan DPRD mendapatkan dana Rp 400 juta per orang dan setiap anggota memperoleh dana Rp 300 juta. Argumentasi umum yang mereka katakan bahwa dana tersebut untuk keperluan konstituen mereka. Sejak kapan dana rakyat dapat diklaim dan dibagi-bagi atas dasar sektarianisme, yakni disalurkan untuk kepentingan yang mereka katakan konstituennya? Siapa yang memberi mandat kepada mereka untuk membagi-bagi uang rakyat untuk ini dan itu? Bukankah sewaktu pemilu rakyat yang ikut memilih hanya mencoblos gambar calon anggota DPRD dan lambang partai saja.

Orang-orang miskin, para pengangguran, anak-anak sekolah dan mahasiswa, guru dan dosen, aparat negara, dan kebutuhan fasilitas umum bagi seluruh rakyat, merekalah yang berhak atas dana APBD. Tidak malukah mereka dengan sikap Rasulullah ketika menolak bantuan para sahabat agar beliau tidak kelaparan, padahal bantuan sahabat tersebut bukan harta haram. Saat itu sahabat mengetahui setelah solat dengan Rasulullah, terlihat di balik jubah beliau sehelai kain yang berisi batu kecil melilit perut beliau yang kurus untuk menahan rasa lapar. Para sahabat menangis menyasikkan penderitaan Rasulullah, seraya membujuk beliau. Namun Rasulullah menolak dan mengatakan: Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

Subhanallah, luar biasa sikap Rasulullah. Sudah seharusnya para pemimpin kita mencontoh Rasulullah dalam memimpin pemerintahan. Jadilah pemimpin yang takut kepada Allah, takut bila hanya menjadi beban rakyat, dan malu dengan orang-orang miskin, yatim piatu, anak-anak sekolah dan mahasiswa, bila hak mereka dialihkan untuk kepentingan politik dan kelompoknya.

Harta dapat menjadi amal soleh tatkala ia hanya sarana dan redo Allah sebagai tujuan. Tetapi harta menjadi ujian berat bila pola pikir sekuler sudah menghinggapi pemahaman para penentu kebijakan. Dengan pola pikir sekuler hukum-hukum Allah SWT pun akan dicampakkan dan diganti dengan “syahwat kapital”. Bila dengan Allah SWT saja tidak takut bagaimana dengan rakyatnya? []

Hidayatullah Muttaqin, dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan pengelola website www.jurnal-ekonomi.org

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *