Sumber Daya Migas Harus Dikuasai dan Dikelola oleh Negara

MEREKA BICARA : KONVERSI MINYAK TANAH

Banjarmasin Post – Rabu, 02-04-2008 | 00:30:05
Program konversi minyak tanah ke gas yang digulirkan pemerintah masih menuai masalah. Kelangkaan minyak tanah bahkan terjadi di daerah yang nonkonversi.

Masyarakat Belum Siap

Hidayatullah Muttaqin (Pengamat Ekonomi)

Secara ekonomi, penggunaan elpiji memang lebih efisien dibanding minyak tanah. Karena itu, pemerintah mulai melakukan konversi ke elpiji yang diketahui lebih bersih dan efisien.

Namun secara kultur, masyarakat kita masih ada yang belum siap mengganti minyak tanah dengan elpiji. Akibatnya timbul pro dan kontra di masyarakat.

Dampaknya, sekarang tak hanya minyak tanah yang langka, pasok elpiji sempat berkurang, menyusul kebijakan Pertamina mengurangi distribusi minyak tanah ke sejumlah daerah.

Memang cukup ironi, Indonesia sebagai negara penghasil migas justru mengalami kelangkaan BBM maupun gas. Seandainya pengelolaan migas tak diserahkan ke investor asing, mungkin pasokan migas di dalam negeri bisa terpenuhi.

Sekarang investor asing lebih suka menjual migas ke pasar dunia, karena dinilai lebih menguntungkan dibanding mengutamakan pasok untuk dalam negeri.

Pemerintah bisa berpikir lebih cerdas untuk bisa memenuhi kebutuhan migas bagi masyarakat secara memadai dengan harga murah.

Sumberdaya alam migas sebaiknya dikuasai negara dan dikelola oleh negara, bukannya diserahkan ke investor asing. (mia)

Harus Lebih Peka

Susan SH MH (Anggota DPRD Kalsel)

Krisis minyak tanah dan energi lain berdampak pada panjangnya anterian minyak tanah menjadi pemandangan sehari-hari di seluruh Indonesia, termasuk di Kalsel. Masyarakat harus antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan minyak tanah. Fakta ini menambah catatan buruk dari pengelolaan energi yang tidak konsisten.

Sebaiknya sebelum kebijakan konversi minyak tanah diberlakukan, persoalan lain seperti tingginya harga sembilan kebutuhan bahan pokok (sembako) bisa teratasi. Sekarang tekanan ekonomi masyarakat makin besar di tengah ketidakstabilan harga kebutuhan pokok, terjadi kelangkaan minyak tanah.

Tak hanya masyarakat, kalangan dunia usaha, khususnya industri kecil dan menengah juga mengalami kesulitan akibat ketidakpastian pasokan energi. Memang kenyataan yang aneh, Indonesia sebagai penghasil sumber daya alam (ter-masuk migas) justru mengalami krisis.

Sekarang muncul kebijakan konversi minyak tanah oleh pemerintah yang justru lebih me-nyengsarakan masyarakat. Seharusnya kebijakan transisi energi ini didukung kesadaran, bahwa seluruh masyarakat memang memerlukan energi yang sehat. Jadi peme-rintah harus lebih peka melihat persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini. Jangan sampai kebijakan justru membawa sengsara bagi masyarakat. (mia)

Bebani Masyarakat

Rusmas (Ibu Rumah Tangga)

Program konversi minyak tanah ke gas yang digulirkan pemerintah ditentang sejumlah kalangan. Harga minyak tanah menjadi mahal dan sulit didapat.

Warga yang masih menggunakan minyak tanah tentu merasa terbebani oleh masalah itu. Untuk menggunakan elpiji terus terang belum berani meski secara ekonomis katanya lebih efisien dibanding minyak tanah.

Seharusnya pemerintah melakukan adaptasi kebijakan sebelum melakukan konversi minyak tanah secara menyeluruh. Jangan langsung mengurangi pasok minyak tanah.

Karena tak semua warga bisa mengganti minyak tanah dengan elpiji terutama kalangan keluarga miskin. Apalagi sekarang daya beli masyarakat menurun akibat melonjaknya harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng, gula dan sebagainya.

Kapan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bisa menyejahteraan masyarakat secara langsung? Misalnya kebijakan menurunkan harga barang, sehingga tekanan ekonomi masyarakat tak semakin besar. (mia)

Author: Admin

Share This Post On

1 Comment

  1. Saya sangat setuju kalau urusan Migas seharusnya dikelola atau dimonopoli oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat tapi dengan catatan harus transparan, dan tidak ada KKN.
    kalau pemerintah selalu mengiyakan apa kata Washington, IMF, WB maka kita tinggal tunggu kehancuran negara ini.
    Orang kita tidak hanya yang miskin akan tetapi yang kelas menengah pun dimakan oleh investor2 raksasa dari luar.

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *