Subsidi BBM Dinikmati Orang Kaya, Apa Makna Sebenarnya?

oleh: Syahrituah Siregar

Headline BPost, 13 Mei 2008 yang berjudul Subsidi Bagi Orang Kaya Rp.300T mengangkat tema yang sering dijadikan propaganda pendukung pencabutan subsidi BBM disamping subsidi yang dibakar rakyat. Makna yang dibangun dengan ini adalah betapa sia-sianya nilai tersebut untuk dibagikan kepada kalangan mampu ditengah merebaknya kemiskinan dan pengangguran. Lebih lanjut dalam berita tersebut, Khrisnamurti, Deputi Menko Perekonomian menjelaskan sekitar 70 persen BBM bersubsidi yang nilainya Rp.250-300 triliun hanya dinikmati oleh 40 persen orang kaya. Setelah itu, kelas menengah menikmati 10 persen dan warga miskin hanya menikmati 7 persennya. Secara absolut subsidi untuk orang miskin hanya Rp 75 triliun.

Pengamat ekonomi, Faisal Basri, juga mengamini hal tersebut. Menurutnya, selama ini subsidi BBM lebih banyak dinikmati orang kaya yang jumlahnya 10%, sebesar 45%, sementara 10% orang miskin menikmati kurang dari 1%. Kesimpulannya, subsidi BBM merupakan pemborosan sehingga sebaiknya harus segera dicabut.

Akan tetapi, kesimpulan tersebut sebenarnya terlalu terburu-buru bahkan tidak diambil secara sistematis, jumping conclusion. Secara intuisi saja terlihat betapa masyarakat banyak sangat merasakan manfaat dari ketersediaan BBM bersubsidi. Sebaliknya, jika BBM dinaikkan, fakta didepan mata berbicara, dampaknya begitu besar dalam menambah keterpurukan mereka. Kajian tentang seberapa besar akses masyarakat terhadap manfaat BBM bersubsidi kemungkinan besar belum pernah dilakukan. Itulah sebabnya kebanyakan orang gagal mejelaskan pentingnya menjaga harga BBM agar tetap terjangkau malah langsung termakan oleh alasan kesia-siaan subsidi tersebut.

Hal pertama yang perlu difahami adalah bahwa data penikmatan subsidi itu diambil dari assumsi perbandingan porsi konsumsi BBM berdasarkan kelas masyarakat. Jadi, semakin besar konsumsi BBMnya, akan semakin besar pula meraup subsidi, pihak tersebut adalah golongan kaya. Namun, tidak ada yang mengejutkan dari fakta ini karena memang kue pembangunan kita hanya dinikmati segelintir the have sejak 40 tahun yang lalu. Ketimpangan konsumsi BBM adalah bagian dari ketimpangan-ketimpangan lain akibat kegagalan pembangunan. Kalau logika ini yang diambil, bukan saja harus menghentikan subsidi BBM tapi kita juga tidak usah membangun karena hanya akan dimakan oleh 200-an konglomerat semata. Ini lebih patut dibaca sebagai pengungkapan borok parahnya ketimpangan yang diciptakan.

Hal kedua, ukuran makro mengatakan rakyat kecil hanya menikmati sebagian kecil subsidi BBM sehingga hanya sedikit manfaatnya. Jika ini jadi sandaran kebijakan, betapa absurd. Data ini tidak memperhitungkan keuntungan masyarakat secara tidak langsung. Meskipun sedikit porsinya, penggunaan BBM oleh masyarakat kecil dinikmati secara bersama-sama dan memberikan manfaat yang berantai. Hal ini misalnya dalam bentuk tersedianya ongkos transport dan harga kebutuhan yang terjangkau. Mereka jadi lebih leluasa mengembangkan produktifitas disemua bidang, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Jadi, tidak sama antara pola penggunaan BBM orang miskin dan orang kaya yang cenderung dinikmati secara perorangan. Satu liter premium orang miskin jauh lebih bermanfaat dari satu liter milik orang kaya. Bayangkan jika harganya dinaikkan maka akan membunuh banyak manfaat bagi orang miskin.

Kajian tentang dampak negatif kenaikan BBM maupun TDL telah banyak dilakukan. Hasilnya selalu menunjukan dampak yang kontraproduktif. UMKM lebih kuat menahan krisis moneter dibanding energi dan bahan bakan. Bagi rumah tangga miskin, komponen BBM meliputi bagian signifikan pengeluarannya. Jika harganya naik, maka akan memporak-porandakan komposisi belanja rumah tangga mereka.

Dampak kenaikan harga BBM bagi ekonomi dan masyarakat kecil merupakan bencana yang tidak akan teratasi dengan BLT-Plus. Biaya hidup dan ongkos usaha kecil yang naik berlipat-lipat akan menurunkan daya beli dan kemampuan produksi mereka. Dikhawatirkan ini akan menjadi bentuk pemiskinan permanen.

Kenapa untuk menarik subsidi yang salah sasaran harus lewat penaikan harga BBM? Ini justru melanjutkan tradisi pengorbanan rakyat yang terus berlangsung. Perpajakan progressif bagi penghasilan orang-orang kaya dan kekayaannya adalah satu cara langsung diantara mekanisme lainnya yang bisa dilakukan. Bukankan data diatas seolah bisa menunjukkan mana golongan kaya itu secara definitif. Banyak cara lain untuk menyelamatkan keadaan. Namun tim pemerintah ingin menyelesaikan persoalan urgen ini dalam suatu setting di belakang meja semata.

Ditinjau dari platform perekonomian nasional, perkara pokok sebenarnya adalah bagaimana cara pandang terhadap BBM, apakah sebagai komoditas pasar atau amanah publik. Sangat diragukan masih ada sense pemerintah untuk memakmurkan rakyat melalui kekayaan alam miliknya sendiri. Tak ada rasa bersalah dari para elit negara yang telah menelantarkan rakyat dalam penjajahan ekonomi ditanahnya sendiri. Justru yang kentara adalah naiknya harga minyak dijadikan momentum untuk mengabdi pada pasar bebas dengan ideologi anti subsidi.

Syahrituah Siregar, SE, MASyahrituah Siregar adalah pengamat ekonomi dari Banjarmasin dan dosen program studi Ekonomi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat menyelesaikan pendidikan master di AS. Blog pribadi www.another-view.org

Author: Admin

Share This Post On

6 Comments

  1. Saat ini pemerintah sangat terpaku pada regim APBN, sehingga minus langkah alternatif, kalau tidak ingin dikatakan kedodoran.

    Kenaikan BBM, sepertinya sudah menjadi arus kuat pemerintah. Oleh karena itu, delivery policy menuntut penguatan, misalnya pemerintah harus memangkas pengeluaran tidak efisien demi kebijakan yang tidak jelas seperti BLBI, pengawasan ketat distribusi BBM, dan tangkap & tindak para spekulan (disinyalir berasal dari dalam Pertamina), dll.

    Satu hal yang pasti, pencabutan subsidi jelas semakin menurunkan derajat hidup masyarakat, terutama masyarakat dari golongan menengah ke bawah.

    Post a Reply
  2. Sudah pastilah kenaikan BBM memporak-porandakan komposisi belanja rumah tangga rakyat kelas bawah. Wong…. BBM gak naik aja keadaan rakyat udah jungkir balik kayak sirkus apalagi jika dinaikkan. Tapi seperti kata pepatah ” biarkan anjing menggonggong khafilah tetap berlalu”. Faktanya suka atau tidak, rakyat harus bisa nerimo. Decision makers ditangan para elite bukan rakyat. Namanya juga pemimpin2, tentu mereka merasa paling pinter, paham dan akurat analisanya. Tugas rakyat hanya menjalankan policy pemerintah. Soal apakah akibat dari policy tersebut rakyat jumpalitan, terseok-seok, itu mah.. urusan rakyat. Oh….ya, sebagai informasi aja. Dikompleks perumahan saya setiap hari ada kegiatan rutin dari pemulung2. Biasanya mereka mengais barang2 bekas atau apa saja di tong sampah yang terdapat didepan rumah masing2 warga. Dan karena saya bukan wanita karier (ibu rumah tangga) tentu saja saya memiliki waktu untuk mengamati mereka. Dan akhirnya jadi kebiasaan saya juga ikut memilah-milah barang2 bekas seperti botol, plastik, kertas atau apa saja yang bisa dimanfaatkan oleh pemulung. Setelah terkumpul saya berikan kepada salah seorang pemulung yang sudah berusia lanjut, kira2 diatas 50thn-an. Saya bangga dan simpati dgn bapak tersebut. Dengan terseok-seok ia berjuang dengan caranya sendiri agar keluarganya bisa survive. Namun beberapa minggu belakangan ini pemulungnya bertambah lagi. Seorang wanita menenteng anak perempuan usia 5 thn plus usia 1 thn-an didalam gendongan. Yang ingin saya katakan adalah inilah salah satu contoh kehidupan real yang dilalui rakyat kecil. Entah kapan mereka bisa menikmati hidup layak di negeri yang kaya ini.Wallahu ‘Alam.

    Post a Reply
  3. Menurut Kalkulasi Kwik Kian Gie paling tinggi biaya produksi BBM perliternya adalah Rp.740, sedangkan pemerintah menjual ke masyrakat sekarang Rp.6000/liter. jadi untung Rp.5260/liternya.

    sedangkan konsumsi RI perhari 190.800.000 liter/hari. jadi Untung tuh pemerintah, dan sebenarnya yang membiayai subsidi minyak itu rakyat sendiri bukan pemerintah, terbukti dari keuntungan perliter itu.

    Waduh2, bener2 negara ini diurus oleh orang2 BOD***OH, PANTESAN HANCUR.

    MAKA,BENERLAH sabda Rasul SAW : Barang siapa yang mengurus sesuatu bukan oleh ahlinya maka tunggulah kehancurannya (Al-Hadits).

    Post a Reply
  4. Apakah biaya produksi minyak itu hanya Rp740/L. Kalau harga segitu industri minya akana bangkrut. Hati2 dalam mengambil data. harga Rp740/L itu hanya ongkos mengolah dari Minyak bumi menjadi bahan bakar (bensin, minyak tanah dll).
    Kalau anda meyakini bahwa bijkin mnyak tanah itu Rp740/L, akan saya tantang anda untuk memproduksinya dan saya akan membelinya 1 juta liter pada anda. Dan saya akan bagikan ke warga yang miskin. Siapa yang bisa….? mohon dijawab

    Post a Reply
  5. Terima kasih Tuan Komentator untuk komentarnya. Kami sangat menghargai pendapat anda. Silahkan berbeda dengan keyakinan yang anda miliki.

    Salam,
    HM

    Post a Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. Subsidi BBM Dinikmati Orang Kaya, Apa Makna Sebenarnya? « Info Indonesia - [...] http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/21/subsidi-bbm-dinikmati-orang-kaya-apa-maka-sebenarnya/ [...]
  2. Ekonomi-Politik Kebutuhan Pokok * « Teguh Iman Prasetya - [...] http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/21/subsidi-bbm-dinikmati-orang-kaya-apa-maka-sebenarnya/ [...]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>