Stimulus Hanya Panadol, Khilafah Obatnya

oleh Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI


Pemerintah dan DPR Selasa 24/2/2009 menyepakati paket stimulus fiskal senilai Rp 73,3 trilyun dalam APBN 2009. Stimulus ini terdiri dari penghematan pembayaran pajak dan subsidi pajak untuk dunia usaha dan rumah tangga sebesar Rp 56,3 trilyun. Sisanya sebesar Rp 17 trilyun dalam bentuk subsidi dan belanja negara untuk dunia usaha dan pembukaan lapangan kerja (Bisnis Indonesia, 25/2/2009).

Stimulus saat ini menjadi langkah paling populer dan paling sering dilakukan oleh banyak negara untuk menangani krisis ekonomi. Bahkan tidak ada yang dilakukan oleh suatu negara yang menghadapi krisis kecuali hanya mengeluarkan paket stimulus ekonomi. Menurut IMF stimulus adalah satu-satunya jalan untuk melakukan pemulihan (recovery) ekonomi (IMF Survey Magazine, 29/1/2009). Gubernur Bank Indonesia, Boediono mengatakan: “Ada tiga elemen yang selalu ada dalam paket penanganan krisis, yaitu pelonggaran moneter, penguatan perbankan, dan stimulus” (Bisnis Indonesia, 25/2/2009).

Stimulus Hanya Panadol

Kepercayaan pemerintah dan DPR pada paket stimulus untuk menangani krisis ekonomi dan keuangan tidak ada kaitannya dengan apa yang menjadi penyebab krisis itu sendiri. Dalam hal ini stimulus ekonomi berfungsi seperti panadol. Stimulus sifatnya meredakan dampak yang ditimbulkan oleh krisis bukan menyembuhkannya.

Stimulus hanya bekerja untuk meredakan perekonomian yang memanas. Setelah itu “pemanasan ekonomi” kembali datang lagi dengan tingkat keparahan yang lebih buruk (resesi) yang saat ini sudah menjurus ke depresi. Bahkan mungkin saja paket stimulus tidak dapat berbuat apa-apa untuk menahan krisis seperti paket stimulus yang dikeluarkan pemerintah Amerika. Paket stimulus adalah pemborosan uang rakyat sementara krisis terus datang berulang-ulang.

Kapitalisme “Biang Kerok” Krisis

Krisis global yang hampir menimpa semua negara di dunia terjadi akibat terlalu banyak toxid (racun) yang menumpuk di dalam perekonomian. Toxid-toxid tersebut diproduksi secara massal oleh sistem perekonomian dunia. Kapitalisme merupakan faktor fundamental yang menjadi penyebab krisis.

Sistem ekonomi Kapitalisme dibangun dengan memisahkan peranan Allah di dalam mengatur perekonomian. Inilah yang disebut Sekularisme. Sementara itu kegiatan ekonomi Kapitalisme didorong dengan motif mengejar keuntungan materi sebagaimana semboyan populer Kapitalisme “dengan pengorbanan sekecil-kecilnya mendapatlan untung sebesar-besarnya.”.

Perekonomian yang mengeliminir peranan Sang Pencipta dan motif materi pada akhirnya menciptakan Kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang “tamak”. Bahkan “ketamakan” merupakan bahan bakar Kapitalisme sebagaimana yang diungkapkan oleh peraih Nobel dari Bangladesh Muhamad Yunus (Spiegel, 10/10/2008).

Sebagai ideologi, Kapitalisme hidup dan berkembang dengan cara menjajah dunia (an-Nabhani, 2006). Tanpa penjajahan Kapitalisme akan mati.

Kita mengenal negara-negara Kapitalis yang kuat pada saat ini sebagai negara penjajah pada masa lalu. Pada saat ini pun mereka tetap melakukan penjajahan dengan cara yang berbeda (neoimperialisme) sehingga masyarakat dunia tidak terlalu melihat bentuk-bentuk penjajahan Barat, khususnya dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan pendidikan.

Sistem ekonomi Kapitalisme menciptakan lembaga-lembaga dan instrumen-instrumen ekonomi atas dasar ketamakan. Kapitalisme menciptakannya sebagai sarana menjajah negara lain sekaligus mengeksploitasi masyarakat dunia. Kapitalisme menciptakan mata uang fiat money, bank, instrumen moneter ribawi, dan pasar modal yang menjadi tempat berjudi dan berspekulasi. Dari sinilah toxid-toxid ekonomi diciptakan sehingga membuat perekonomian membengkak (bubble economy) dan tidak berimbang (imbalance).

Tentu saja stimulus ekonomi yang diadopsi berbagai negara di seluruh dunia tidak dapat menghentikan produksi toxid sehingga krisis tidak pernah berhenti. Krisis hanya bisa dihentikan dengan melenyapkan lembaga dan instrumen ekonomi yang memproduksi toxid. Hanya saja mustahil melenyapkan pabrik penghasil toxid dalam perekonomian jika tidak mencabut sistem ekonomi Kapitalisme.

Obat Krisis: Ya Khilafah

khilafahSistem Khilafah merupakan sistem yang digariskan dan diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada kaum Muslim di seluruh dunia. Sistem Khilafah berfungsi sebagai institusi yang menerapkan Syariah Islam. Penerapan hukum-hukum Allah ini untuk mengatur dan mengurus kaum Muslim. Di samping sebagai kewajiban, penerapan Syariah merupakan metode untuk memecahkan problem kehidupan umat manusia.

Sistem Khilafah membangun dan membina umat agar melandasi seluruh kegiatan muamalah termasuk kegiatan ekonomi atas dasar keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Sistem Khilafah mengatur agar setiap kebutuhan pokok warga negara terpenuhi dengan menjaga keseimbangan di dalam distribusi kekayaan untuk mencegah ketimpangan dan eksploitasi ekonomi. Inilah politik ekonomi Islam yang didukung oleh hukum-hukum tentang kepemilikan dan hukum Islam lainnya.

Riba dengan segala bentuknya dilarang keras dalam perekonomian Khilafah karena riba adalah instrumen dan cara bertransaksi yang eksploitatif. Khilafah mengganti sistem riba dengan memajukan sektor riil yang berbasis pada hukum halal haram.

Untuk menunjang modal kegiatan usaha, Khilafah menyediakan pinjaman tanpa bunga kepada warga melalui Baitul Mal. Khilafah juga menggerakkan kerja sama usaha melalui model syirkah (perseroan) Islam di mana dua orang atau lebih dapat berhimpun dalam kegiatan usaha atas dasar keredoan. Anggota syirkah juga dapat mengajak orang lain bergabung dengan sepengetahuan dan seijin anggota syirkah yang lain. Sehingga saham-saham dalam perseroan Islam tidak akan pernah berpindahtangan dengan cara spekulatif dan manipulatif sebagaimana perdagangan saham di pasar modal. Saham-saham tersebut bukanlah satu istilah yang menunjukkan kepada surat berharga (efek) yang dapat diperdagangkan. Saham-saham tersebut hanya menunjuk kepada pengertian proporsi pengorbanan anggota syirkah di dalam perseroan.

Untuk mendukung dan menjamin stabilitas transaksi ekonomi, Khilafah menerapkan mata uang dinar dan dirham. Ini adalah mata uang yang nilai nominalnya setara dengan nilai instrinsiknya dan warga dijamin tidak kehilangan kekayaan jika memegangnya.

Likuiditas mata uang dinar dan dirham juga terjamin dengan tidak adanya kegiatan ekonomi yang bersifat bubble sebagaimana sektor maya (virtual sector) dalam sistem keuangan Kapitalisme. Tidak ada perbankan dan pasar modal dalam Khilafah. Bahkan tidak mungkin ada transaksi derivatif yang selama ini menciptakan ekonomi super bubble.

Sistem Khilafah melarang penimbunan uang yang dalam fikih disebut kanz al-mal. Dalam al-Qur’an Surah at-Taubah: 34, Allah SWt berfirman: “Orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, kepada mereka beritahukanlah bahwa mereka akan mendapat siksaan yang sangat pedih.”

Kanz al-mal merupakan penyakit ekonomi Kapitalisme. Jika terjadi inflasi dan jika terjadi kejatuhan nilai mata uang, bank sentral justru mengajak warga negara dan penduduk asing menimbun uang di bank. Akibatnya masyarakat kesulitan likuiditas sementara dunia usaha kesulitan modal.

Di sisi lain semakin banyak uang ditimbun di bank semakin besar pula tagihan masyarakat kepada bank sebagai konsekwensi pembayaran bunga . Di sinilah uang diberanakkan dengan kuantitas melebihi ketersediaan uang kertas itu sendiri. Sehingga tidak aneh bila terjadi penarikan uang besar-besaran oleh masyarakat (rush) bank pasti tidak mampu membayarnya.

Inilah sebagian kecil contoh bagaimana pengaturan kegiatan ekonomi dalam sistem Khilafah dan inilah obat krisis global saat ini. Insya Allah Khilafah adalah kebutuhan kita semua. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]

Hidayatullah Muttaqin adalah dosen tetap Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan Ketua Lajnah Siyasiyah HTI Kalimantan Selatan. Blog www.jurnal-ekonomi.org/muttaqin/


REFERENSI

An-Nabhani , Taqiyuddin (2002), Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam (an-Nizham al-Iqtishadi fii al-Islam), cet. vii, Surabaya: Risalah Gusti.

An-Nabhani, Taqiyuddin (2006), Konsepsi Politik Hizbut Tahrir (Edisi Mu’tamadah) (Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir), cet. i, Bogor: HTI Press.

Bisnis Indonesia (25/2/2009), Stimulus tak efektif, anggaran siap dipotong

IMF Survey Magazine (29/1/2009), World Faces Deepening Crisis, IMF Chief Warns.

Spiegel Online (10/10/2008), Interview with Nobel Laureate Muhammad Yunus: Capitalism Has Degenerated into a Casino.

Author: Admin

Share This Post On

5 Comments

  1. kutipan di atas :

    “Sebagai ideologi, Kapitalisme hidup dan berkembang dengan cara menjajah dunia (an-Nabhani, 2006). Tanpa penjajahan Kapitalisme akan mati. ”

    yang menurut saya, 100% ngaco.

    saya ga mau ngungkit-ngungkit tentang perbudakan pada masa khalifah, tp klo baca sejarah khalifah. apakah mereka sama sekali bukan penjajah?

    melarang penimbunan uang? walah2, ini caranya gimana? lah penimbunan beras, minyak tanah saja sulit di awasi kok.

    Post a Reply
  2. Terima kasih atas perhatian dan tanggapan Pak Bram. Saya tidak perlu terlalu banyak menanggapi anda.

    Komentar dan ulasan-ulasan anda sangat dipengaruhi oleh “kemarahan yang meluap-luap” pada isi tulisan-tulisan di jurnal ini, tidak apa-apa.

    Dengan misi dan muatan jurnal ini, mungkin saja akan menyebabkan ada orang yang “terbakar” emosinya karena ketidaksukaan terhadap analisis-analisis ideologis kami. Atau pada mereka yang tersinggung akibat “ranah pemikiran Barat” yang berasas Sekularisme kami tandingi dengan “ranah pemikiran Islam”.

    Jurnal ini bukan jurnal ilmiah karena sudah kami jelaskan di situs kami. Ini adalah “jurnal ekonomi” dalam “perspektif ideologi Islam” bukan persfektif Kapitalisme atau yang lainnya. Namun kami selalu mengedepankan intelektualitas: akal, fakta, dan tentu saja “pisau analisisnya” Islam.

    Indonesia punya pengalaman pahit dijajah oleh penjajah Belanda, Inggris, Portugal, dan Jepang di masa imperialisme silam. Indonesia juga hingga saat ini merasakan pahitnya hidup dalam dominasi sistem Barat. Sudah banyak ulasan dan fakta yang diangkat berbagai pihak bagaimana Amerika dan negara-negara maju lainnya mengeruk dan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia, mengintervensi kebijakan dan undang-undang di Indonesia, dan penderitaan dan kezhalimanlah yang dirasakan rakyat Indonesia. Negara-negara tersebut dikenal sebagai negara Kapitalis Bung! Dan itu adalah penjajahan.

    Akhir kata, Indonesia bukan “negara Islam”, tidak menggunakan sistem Islam tidak pula menjadikan ekonomi Islam sebagai sistem ekonominya. Indonesia adalah negeri yang penduduknya mayoritas muslim, tetapi dipaksa menerapkan sistem Barat, dan memang hingga saat ini Indonesia adalah negara yang berkiblat pada sistem Barat. Jadi bagaimana mungkin kerusakan-kerusakan yang timbul di Indonesia disebabkan oleh Islam?

    Hidayatullah Muttaqin

    NB: Itulah Kapitalisme, mencegah penimbunan beras saja tidak mampu, apalagi mencegah penimbunan uang. Permasalahannya ada pada sistem, institusi, dan cara bertransaksi Kapitalisme itu sendiri.

    Post a Reply
  3. tenanga saja bung Muttaqin, emosi saya sama sekali tidak terbakar. saya membuat tulisan di sini tidak mendapat bayaran kok, rugi besar bagi saya apabila saya marah2 untuk suatu hal yg tidak signifikan bagi saya.

    anda dosen ekonomi namun anda mencampur-adukan sistem ekonomi capitalism, dengan sistem moneter, lalu sistem financial.

    definisi :

    Capitalism generally refers to an economic system in which the means of production are all or mostly privately owned and operated for profit, and in which investments, distribution, income, production and pricing of goods and services are determined through the operation of a market economy. It is usually considered to involve the right of individuals and groups of individuals acting as “legal persons” or corporations to trade capital goods, labor, land and money (see finance and credit).

    kutipan anda :
    “Sebagai ideologi, Kapitalisme hidup dan berkembang dengan cara menjajah dunia (an-Nabhani, 2006). Tanpa penjajahan Kapitalisme akan mati. ”

    nah sekarang coba jelaskan hubungan antara definisi capitalism dengan kutipan anda?

    mengenai penjajahan Inggris, Belanda memang melakukan penjajahan, namun yang perlu anda tekankan itu bukan makna dari paham capitalism, (baca kembali definisi nya). imperialism dilakukan oleh berbagai negara atau organisasi yg superior, dan itu adalah sifat alamiah manusia. dan seperti sudah saya ungkit, Khalifah pun melakukan hal yg serupa. (don’t deny it.)

    jika anda membahas tentang imperialism maka memberi contoh penjajahan Inggris, Belanda, Jepang, mungkin AS ke Indonesia pun, masih bisa dilihat reason nya, tapi anda membahas capitalism.

    ato jika anda menciptakan sendiri arti dari paham capitalism itu terserah anda, tapi karena ada pengertian capitalism yg berbeda dari yg umum dipakai di jurnal International, ya ada baiknya anda cantumkan pengertian capitalism kreasi anda.

    Post a Reply
  4. Ust. judulnya kok pake menyebut merk? Apa tidak lebih baik dihindari penggunaan merk dagang?

    Post a Reply
  5. mas bram, sampai kapanpun saya akan selalu menekankan bahwa selama syariah islam tidak ditegakan dalam setiap unsur kehidupan, krisis didunia tidak akan hilang. .

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *