Stigma Demonik

StIGMA NEGATIF

oleh: Hidayatullah Muttaqin

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian. (TQS. Al-Baqarah: 208)

Terjemahan al-Qur’an Surah al-Baqarah: 208 ini dengan jelas memiliki makna seruan kepada setiap orang beriman agar masuk ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh). Masuk ke dalam Islam secara kaffah berarti beriman kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (syariat Islam). Terhadap segala perintah dan larangan Allah di dalam al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW cukup jawaban “kami mendengar, dan kami patuh” yang mesti diberikan oleh orang-orang beriman kepada Allah dan Rasul (lihat QS. An-Nur: 51).

Berdasarkan QS. Al-Baqarah: 208 ini tidak ada jalan lain bagi orang-orang beriman kecuali menjalankan seluruh syariat Islam dengan sepenuh keyakinan. Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar Juz II menegaskan jangan sampai ada keyakinan ada satu hukum yang lebih baik dari hukum Allah. Keyakinan ini memiliki konsekwensi syariat Islam harus diterapkan baik oleh individu, masyarakat, dan negara.

Beriman dan menjalankan seluruh hukum Islam serta meninggalkan pemahaman dan hukum yang tidak berasal dari Islam merupakan karakteristik muslim kaffah. Muslim kaffah meyakini pemikiran dan hukum yang tidak berasal dari Islam merupakan jalan setan.

Agama Berwajah Demonik

Garis batas mana jalan Allah dan mana jalan setan menurut al-Qur’an sudah sedemikian jelas. Namun selalu ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk mengkaburkan garis batas ini dan membawa pemahaman umat agar meninggalkan syariat Islam sedikit demi sedikit hingga akhirnya hukum Allah tidak lagi menjadi standar kehidupan umat.

Saat ini gejala infeksi penyakit spilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) begitu kentara dan membahayakan aqidah umat. Bahkan ada upaya memahamkan umat, apabila memiliki pemahaman batasan yang jelas tentang agama yakni Islam dan non Islam seraya menunjukkan identitas keislamannya (syakhsiyah Islamiyah) di tengah masyarakat diberi stigma sebagai agama yang berwajah demonik (berwajah iblis).

Seorang intelektual menulis artikel dengan judul Memaknai Natal dan Idul Adha di rubrik opini Kompas edisi Kamis 28 Desember 2006. Dalam tulisan tersebut ia menyinggung pendapat Teolog Protestan Paul Tillich yang mengemukakan agama mempunyai wajah ganda, yakni wajah suci (holy) dan wajah iblis (demonic). Wajah suci agama memiliki pesan-pesan seperti perdamaian, kasih sayang, toleransi, solidaritas, cita-cita persamaan dan keadilan. Sedangkan wajah demonik agama berupa identitas yang menjelaskan batasan penganut suatu agama dengan pemeluk agama lain.

Pembagian katagori agama berwajah suci dan demonik apabila diikuti oleh seorang muslim memiliki konsekwensi ia harus menanggalkan identitas kemuslimannya yakni meninggalkan syariat Islam sebagai aturan kehidupan. Pembagian katagori ini juga sekaligus memberi stigma muslim kaffah merupakan pemeluk agama berwajah demonik. Seolah-olah bila seorang muslim menjalankan syariat Islam secara kaffah perilakunya seperti iblis yang akan menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan umat agama lain.

Syariat terhadap Non Muslim

Kewajiban menerapkan Islam secara kaffah hakikatnya membawa kebaikan dan rahmat bagi alam semesta, termasuk kalangan non muslim (ahlu dzimmah) yang hidup di dalam sistem Islam. Karena Islam memiliki aturan yang menjamin kehidupan non muslim dan memberikan perlindungan kepada mereka dalam menjalankan ibadah agamanya.

Di dalam Islam tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam. Pemeluk agama lain tetap diberikan kebebasan untuk memeluk dan menjalankan agamanya di dalam wilayah pemerintahan Islam (khilafah Islamiyah). Mereka diberikan toleransi mengenakan identitas yang menjadi ciri khas agama mereka. Mereka diperbolehkan menjalankan syariat agama mereka di kalangan mereka sendiri. Mereka juga diberikan hak merayakan hari besar agamanya. Tempat-tempat ibadah mereka juga dijaga dan dilindungi oleh negara.

Dalam bidang peradilan, kedudukan mereka sama dengan muslimin. Siapa pun yang melakukan pelanggaran syariat Islam dalam hal pidana dan perdata diberlakukan hukum yang sama. Siapa yang terbukti bersalah di pengadilan, maka dia lah yang dihukum menurut syariat Islam tanpa pandang bulu muslim atau non muslim, pejabat negara atau rakyat jelata, kaya atau miskin.

Dalam hal kesejahteraan, jaminan negara terhadap rakyatnya meliputi seluruh warga negara muslim dan non muslim. Warga non muslim berhak mendapatkan subsidi dan fasilitas umum sebagaimana yang diperoleh warga muslim. Tidak ada perlakukan diskirminasi terhadap warga non muslim dalam menjalankan kegiatan ekonomi selama masih berada dalam koridor syariat Islam. Juga muslim dan non muslim diperbolehkan melakukan kerja sama bisnis dan perdagangan.

Kesimpulan

Upaya pengkaburan garis batas agama-agama dan stigma orang yang melaksanakan agamanya secara kaffah sebagai agama berwajah iblis merupakan pandangan sekuler yang ingin mensekulerkan agama-agama di dunia.

Dalam sudut pandang Islam, meskipun agama mewajibkan orang-orang beriman masuk ke dalam Islam secara kaffah dan mengharamkan mengambil pemikiran dan ajaran selain Islam, agama mewajibkan muslimin untuk menghormati agama selain Islam. Agama juga mewajibkan negara menerapkan syariat Islam yang menjamin hak-hak non muslim termasuk tidak mengutak-atik dan tidak mencampuri urusan agama mereka. Terhadap perbedaan agama sebagai suatu kenyataan yang pasti adanya di dunia ini, cukuplah QS. al-Kafirun ayat 6: lakum dii nukum wa liya diin (untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku) sebagai jawaban.

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *