Sistem Ekonomi Neoliberalis Kapitalisme dalam Perspektif Nilai-Nilai Etik Islam

oleh: M. Hatta

A. PENDAHULUAN

Bumi, tempat kita menginjakkan kaki saat ini telah berubah begitu nyata. Berubah kearah yang semakin hari semakin membuat kita ingin terus menangis, hingga mengeringkan air mata. Hampir diseluruh wilayah bumi yang kita tempati saat ini bisa ditemukan kehancuran yang luar biasa. Kehancuran akibat dari ulah tangan manusia itu sendiri. Sungguh benar sebagaimana yang di Firmankan oleh Allah Swt.

“Telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan oleh karena tangan-tangan manusia”

Di daratan, banyak sekali bukti yang menunjukkan kepada kita bahwa telah terjadi kehancuran yang luar biasa tersebut, contoh paling nyata yakni kasus banjir lumpur panas Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur. Seolah  tidak mau kalah, kerusakan yang terjadi di lautan juga tidak kalah hebatnya, contohnya, banyaknya gletser (sungai es) mencair dengan tingkat kecepatan yang jauh lebih besar dari tingkat rata-rata sepanjang sejarah.

Berkenaan dengan kerusakan itu, sebagian orang ada yang beranggapan bahwa penyebabnya hanyalah pada level permukaan (skin) saja, dan sebagian lagi menganggap itu disebabkan oleh hal atau perkara yang sangat mendasar (basic), dengan kata lain penyebabnya adalah filosofi yang melandasinya. Kedua pandangan ini kiranya berangkat dari hal yang sama, yakni keprihatinan dalam melihat tingkat kehancuran yang terjadi dan bagaimana caranya agar dunia menjadi damai dan aman bagi makhluk hidup yang mendiaminya. Namun, kedua pandangan ini memberikan solusi yang berbeda.

Penulis menyebut orang-orang yang bergerak pada level “permukaan” dengan kalangan “reformis”, sedangkan yang bergerak dari level “dasar” disebut dengan kalangan “revolusionis”.

Kalangan “reformis” mengatakan, bahwa kehancuran yang terjadi hanyalah diakibatkan dari persoalan-persoalan manajemen dan sifatnya tekhnis saja. Oleh  karena itu, solusi yang mereka tawarkan pun tidak lebih dari hal  tersebut. Dengan kata   lain, yang dilakukan adalah cukup dengan melakukan perbaikan saja, dengan cara “tambal sulam”. Membuat sistem yang ada dan telah diterapkan menjadi lebih humanis, tanpa harus merubah keseluruhan.

Adapun kalangan “revolusionis” beranggapan, bahwa segala persoalan yang terjadi saat ini adalah diakibatkan oleh permasalahan yang sangat mendasar, yakni permasalahan sistem yang bobrok. Mereka yakin, bahwa ini semua terjadi akibat dari penerapan sistem yang nyata-nyata salah, yaitu diterapkannya sistem neo-liberalis-kapitalisme.   

Sesungguhnya persoalan yang terjadi bukanlah perkara humanis atau tidak. Melainkan adalah  persoalan yang lebih bersifat sistemik. Sehingga, solusi yang ditawarkan hendaknya terlahir dari pandangan seperti ini, pandangan mendasar (cemerlang).

 Sifat dasar dari sistem neo-liberalis kapitalisme  sedari awalnya memang sudah tidak adil atau diskriminatif. Hal ini disebabkan keberpihakannya kepada kalangan pemilik modal saja.

Bahkan lebih dari itu, kegiatan ekonomi yang dijalankan hanya semata-mata untuk meraih nilai-nilai materi saja, terlepas (apapun dilakukan demi mendapatkan rupiah atau dolar)  dari nilai-nilai transendental . Akhirnya yang terjadi adalah kerusakan dimana-mana.

Untuk itulah kiranya, Prof. Naqvi mengatakan, bahwa aktivitas ekonomi saat  ini sudah saatnya untuk memasukkan nilai-nilai etik atau seperangkat aksioma Islam (Unity, Equilibrium, Free Will, And Responsibility).

Nilai-nilai etik (yang terpadu dalam sebuah sistem) yang membuat aktivitas ekonomi dapat berhasil dengan baik, tidak hanya bertujuan meraih nilai materi (duniawi) namun juga bertujuan ukhrawi dan kebarokahan dari Allah Sang Pencipta Alam Semesta (spiritual). Inilah nilai-nilai etik yang membuat manusia bahagia baik di dunia dan akhirat.

Berdasarkan paparan di atas, penulis bermaksud “membedah” sistem ekonomi neo liberalis-Kapitalisme berdasar pada nilai-nilai etik terebut di atas secara umum, sebagaimana yang dinyatakan oleh Prof. Naqvi.

 

A.     PEMBAHASAN

1. Paradigma Ekonomi neo-Liberalis Kapitalisme

Pembahasan segala  sesuatu hendaklah kiranya berlandaskan pada hal yang mendasarinya (asas atau aqidah). Hal ini penting, mengingat “mewabahnya” ilmu pegetahuan yang sarat dengan nilai-nilai yang tidak layak diambil. Sehingga mengharuskan kita untuk menelaah kembali atau menyaring ilmu pengetahuan. Atau dalam konteks Islam adalah dengan melakukan Islamisasi Ilmu pengetahuan.

Ekonomi neo-Liberalis kapitalisme pada dasarnya berasaskan pada sekulerisme (Fashluddin anil hayah), yakni memisahkan nilai-nilai agama (transendental) dari kehidupan dalam hal ini adalah dunia (teori dan praktik) ekonomi.

 Sekulerisme, sebagaimana jamak orang mengetahuinya, ia adalah pengalaman (pahit) lokal eropa dan barat dalam menghadapi situasi pergolakan sosial yang terjadi. Dimana pada saat itu telah terjadi pertentangan antara agama (dogma gereja) dengan sejumlah filsuf dan scientist. 

Adian Husaini dalam bukunya “Wajah Peradaban Barat” mengutip perkataan seorang pemikir politik paling berpengaruh, Bernard Lewis, “Sejak awal mula, kaum kristen diajarkan (dalam persepsi dan praktis) untuk memisahkan antara Tuhan dan Kaisar dan dipahamkan tentang adanya kewajiban yang berbeda antara keduanya”.

Di atas sekulerisme inilah, akhirnya dibangun suatu sistem ekonomi kapitalisme yang digagas oleh Adam Smith. Sistem ini mengajarkan, bahwa peran negara dalam hal ekonomi hanyalah sebagai “wasit” dengan kata lain serahkan semuanya kepada pasar, liberalisme. Inilah ciri pokok dari sistem ekonomi kapitalisme.

 

2. Sistem Ekonomi Kapitalisme dalam Pandangan Nilai-nilai Etik Islam

a.   Unity (Tauhid). Dalam setiap aktivitas, seorang muslim senantiasa berlandaskan  pada aqidah Islam. Tidak satupun terlepas darinya. Termasuk dalam hal ini adalah melakukan kegiatan ekonomi, setiap muslim harus senantiasa terikat padanya. Hal ini adalah merupakan konsekwensi dari keyakinan seorang muslim kepada Allah Swt. Dimana Allah Swt telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang dituurnkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir dan dzalim”

Sebagaimana yang telah kami tulis pada awal pembahasan, berbeda halnya dengan sistem ekonomi Islam, sistem ekonomi kapitalisme memisahkan aktivitas ekonomi dari nilai-nilai transendental. Hal ini memang merupakan keharusan bagi Eropa dan Barat dimana agama (Nasrani) yang mayoritas mereka anut memiliki banyak nilai-nilai problematis dan cenderung bersifat individual atau hanya mengatur dalam perkara privat saja. Sehingga meniscayakan keberadaan sekulerisme. Berawal dari sinilah kesalahan mutlak yang telah dilakukan oleh orang Eropa dan Barat, yakni dengan mengadopsi sekulerisme.

 Maka dari itu, tujuan dari segala kegiatan ekonomi yang mereka jalankan hanyalah bermuara pada satu hal yaitu bagaimana caranya mendapatkan materi sebesar-besarnya. Tanpa mempedulikan apakah itu usaha yang halal atau haram (menghalalkan segala cara). Tidak peduli apakah usaha itu akan menyebabkan kerusakan alam dan lingkungan atau tidak. Yang ada dalam benak para penganut kapitalisme hanyalah profit dan profit. Ini adalah suatu konsekwensi logis dari tidak adanya nilai-nilai transendental (ruhiyah).

b.   Keadilan dan Kesejajaran (Equilibrium).

Sistem ekonomi kapitalisme dengan doktrinnya  “Liberalisme” memang telah mampu membuat kemajuan dan kekayaan (membuat dunia menjadi gemerlap). Namun, hendaknya kita tidak terjebak pada “tampilan” luarnya saja, karena sesungguhnya yang terjadi dilapangan tidaklah demikian. Dengan kata lain, ia hanyalah kemajuan yang semu. Sesungguhnya kemajuan yang terjadi hanyalah milik segilintir orang saja, yakni bagi mereka yang “berkantong besar”. Kemajuan dan kekayaan memang sangat nampak. Gedung-gedung pencakar langit dapat kita lihat di berbagai kota di dunia. Mobil-mobil mewah bertebaran dimana-mana. Namun, pada saat bersamaan banyak kita jumpai orang-orang yang mati karena kelaparan dan mal nutrisi di Asia dan Afrika. Inilah hakikat dari nilai liberalisme yang mereka anut dan sebarkan ke negara lain, sangat jauh dari keadilan. 

c.   Free Will (Kehendak Bebas)

Prof. Naqvi mengatakan, bahwa manusia pada dasarnya diberikan potensi untuk dapat memilih antara yang benar dan yang salah. Hal ini benar selama menyangkut perkara keyakinan (aqidah), karena memang dalam Islam sendiri tidak ada paksaan dalam beragama. Namun, ketika seorang manusia sudah menyatakan ke imanannya terhadap Allah Swt (agama Islam), maka ia wajib menyandarkan segala pilihannya (dalam  menentukan mana yang benar dan  mana yang salah) adalah berdasarkan pada sumber-sumber hukum (al-Qur’an dan as-Sunnah) yang ada dalam Islam itu sendiri. Untuk itu, menurut hemat penulis, istilah free will di atas sebaiknya diganti dengan konsep Khalifatullah di muka bumi. Konsep ini meniscayakan tiga hal, yakni: pertama, manusia harus membangun bumi. Kedua, manusia memiliki harta sebagai wakil dari Allah. Ketiga, manusia berhak memiliki, menggunakan serta mengembangkan sesuai dengan kedudukannya sebagai wakil dari Allah Swt.

Sementara itu, dalam sistem ekonomi Kapitalisme terdapat prinsip kebebasan mutlak yang notabenenya sangat berbeda dengan konsep Islam tersebut di atas. Hal ini menyebabkan kekacauan dalam lingkungan sosial atau masyarakat. Pada saat ini dapat kita lihat dengan mudah hal sepeti itu. Di dalam mendapatkan sejumlah materi seorang bisa saja melakukan pekerjaan yang memang pada dasarnya dibenci oleh setiap manusia. Contohnya adalah bisnis pornografi yang ada di dunia barat. Ini adalah ekses langsung dari adanya kebebasan mutlak yang diterapkan. 

d.   Tanggung Jawab (Responsibility)

Konsep ini memiliki dua aspek fundamental, yakni: pertama, tanggung jawab menyatu dengan status ke Khalifahan manusia. Kedua, konsep tanggung jawab dalam Islam merupakan suatu keharusan, maksudnya adalah setiap manusia wajib bertanggung jawab atas segala apa yang pernah dilakukan selama di muka bumi.

Hal ini tentu berbeda dengan apa yang ada dalam sistem kapitalisme. Konsep tanggung jawab cendrung bersifat materi saja, dalam artian ia hanya sebatas bertanggung jawab apabila ada kerugian secara materi, tanpa pertanggung jawaban secara moral. Oleh karena itu, kita dapati dalam sistem kapitalisme banyak praktik “kecurangan”. Misalnya, seandainya dalam melakukan sesuatu itu menguntungkan walaupun dilakukan dengan jalan tidak jujur maka akan tetap mereka lakukan.

C.     KESIMPULAN

Keberadaan sistem Kapitalisme dalam aktivitas ekonomi saat ini sudah nyata-nyata menimbulkan kerusakan dimana-mana. Sistem Kapitalisme secara filosofi memang sudah cacat sejak lahir, karena ia terlahir dari paradigma sekulerisme.

Sebagai alternatif, Islam memberikan solusi atas kerusakan yang telah terjadi dengan menerapkan Sistem Ekonomi yang berbasis kepada Wahyu, yaitu Sistem Ekonomi Islam (SEI).

M. Hatta: Mahasiswa Magister Studi Islam Konsentrasi Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al Jawi, M. Shiddiq. 2005. Paradigma Ekonomi Islam, 9 september. www. Khilafah1924.org

Buketin Dakwah Al-Islam. Edisi 319XIII

Chapra, M. Umer. 2000. Islam and Economic Challenge, alih bahasa Ikhwan Abidin Basra. Jakarta: Gema Insani Press

Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat dari hegemoni kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal. Jakarta: Gema Insani Press

Husain Matla. 2005. Antara Ekonomi Budak dan Ekonomi Orang Merdeka -Antara Ekonomi Kapitalis dan Eonomi Islam. Semarang: Magnificient Publishing

International Forum on Globalization. 2004. Does Globalization Help the Poor?, Alih bahasa A. Widyamartaya dan AB. Widyanta. Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas

Muhamad. 2003. Metodologi Penelitian Pemikiran Ekonomi Islam. Yogyakarta: Ekonisia

Muhammad dan Alimin. 2004. Etika dan Perlindungan Konsumen dalam Ekonomi Islam, Yogyakarta: BPFE

Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam, Islamia. Thn I No 6, Juli- September 2005

Naqvi, Syed Nawab Haider. 2003. Islam,  Economics, and Society. Alih bahasa oleh M. Saiful Anam dan Muhammad Ufuqul Mubin. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Yusanto, Ismail dan M. Karebet Widjajakusuma. 2002. Pengantar Manajemen Syariat. Jakarta Selatan: Khairul Bayan

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>