Sistem Ekonomi Islam, Khayalan atau Nyata?

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz, ketika saya membaca beberapa artikel Tanya jawab ekonomi Ideologis di website www.jurnal-ekonomi.org seperti membaca komik Naruto. Apakah sistem ekonomi Islam itu sekedar khayalan ataukah benar-benar nyata seperti yang dideskripsikan pengasuhnya ?

Mohon penjelasannya.

Wassalam

tut_xtan@xxxx.com

Jawaban :

Wa’alaikum salam Wr. Wb.

ABOUTMIRACLE's Weblog

Sumber foto: ABOUTMIRACLE's Weblog

Audzubillah, bismillah, wassholatu wassalamu ‘ala sayyidina Muhammadin ibni Abdillah, wa’ala alihi washahbihi waman walah, amma ba’du.

Saudaraku,

Kami tidak membuat fantasi permasalahan. Kami juga tidak ingin membicarakan fantasi-fantasi dan argumentasi-argumentasi hipotesis, namun kami berupaya memberikan alternatif penyelesaian yang nyata dari permasalahan yang nyata pula. Realitas merupakan satu-satunya fondasi kokoh untuk membangun pemikiran. Kami dapat membuktikan pendapat ini dengan banyak contoh berbeda.

Misalnya saya mengatakan kepada anda bahwa uang bukanlah suatu alat pembayaran, maka anda mengetahui bahwa faktanya tidak demikian. Dengan cara yang sama jika saya mengatakan bahwa chip silicon dapat menciptakan dirinya sendiri, maka pemikiran ini tidak pas dengan realitasnya, dengan kata lain pernyataan itu hanyalah suatu filosofi khayalan belaka.

Kami ingin melihat persoalan ekonomi dan sistem ekonomi; Kami ingin melihat peranan realitas dalam persoalan ekonomi. Kita dapat memahami ekonomi secara umum dengan menggunakan realitas, akal sehat kita, dan otak yang membedakan kita dengan binatang.

Saudaraku,

Kita dapat melihat seluruh manusia mempunyai kebutuhan dan bahwa negara-negara memiliki banyak sumber daya. Selanjutnya, bagaimanakah mendistribusikan sumber daya dan memuaskan berbagai kebutuhan tersebut? Maka kita semua dapat melihat bahwa kita mempunyai berbagai kebutuhan (seperti tempat berteduh dan makanan) dan bahwa di luar sana terdapat bermacam-macam sumber daya (padang rumput, minyak, mineral, dll). Perlukah kita mendistribusikan sumber daya tersebut untuk orang-orang miskin, yang membutuhkan, yatim piatu, para penguasa, para raja, astronot atau aristokrasi? Cara apakah yang digunakan untuk mendistribusikannya, protokol apakah yang harus kita gunakan dan ukuran-ukuran apakah yang memenuhi syarat distribusi?

Kita dapat lihat ada banyak minyak di dunia. Tetapi untuk siapakah minyak tersebut dimiliki? Apakah realitas mengatakan kepada kita bagaimana cara berdagang satu sama lainnya? Apakah realitas mengatakan kepada kita mana perkara ekonomi yang legal dan yang tidak legal? Apakah realitas mengatakan kepada kita kondisi-kondisi apa yang diperlukan dalam kontrak? Apakah realitas memberitahu kita bagaimana cara dalam berbagai lapangan hidup; sosial, ekonomi, politik, dan lainnya?

Jika diberikan suatu skenario tertentu; misalnya seorang pasien bertanya kepada doker “apakah saya menderita kanker?” dan sang dokter menjawab “tidak”. Meskipun ini keluar dari hasil penyelidikannya; kita dapat mengetahui bahwa sang dokter berbohong.

Bagaimanapun dari pandangan ini dapatkah kita mengatakan bahwa berbohong itu baik atau buruk? Beberapa dapat mengatakan pasien harus diberitahu hasil diagnosanya; yang lain mengatakan bahwa menceritakan hal sebenarnya kepada pasien merupakan suatu kejahatan besar; Maka apakah berbohong itu baik atau buruk? Berbohong di bawah sumpah pengadilan apakah benar atau salah? Berbohong ke tentara musuh apakah baik atau buruk? Apakah larangan kepemilikan individu merupakan suatu realitas yang dapat kita terima; atau apakah gagasan tentang harga dalam ekonomi Kapitalis merupakan suatu realitas yang dapat kita terima?

Poin pokok dari hal tersebut adalah bahwa studi atas realitas mustahil menyimpulkan apakah tindakan-tindakan seperti berbohong, membunuh, dermawan, dan sebagainya baik atau buruk. Adalah mustahil mengorganisir suatu sistem yang tepat sekalipun manusia mempunyai pemikiran yang jenius; karena yang diberitahukan realitas kepada kita tidak satupun berkaitan dengan legal atau illegal; tentang baik dan buruk; tentang perbuatan terpuji dan tidak.

Saudaraku,

Dan di sinilah kesalahan fundamental yang dilakukan para pemikir, ahli ekonomi dan filosof yang sudah mendapatkan kemasyuran selama beberapa abad terakhir; seperti Marx, Engels, Lenin, Trotsky, Smith, Bentham, Mill, Rousseau, Ricardo, locke, dan pemikir lainnya.

Mereka telah dikacaukan pikiran yang mencampuradukkan persoalan; mereka tidak hanya menguraikan fenomena ekonomi tetapi melewati batas dan mulai mendefinisikan legal dan ilegal, terpuji dan yang dijauhi, pembentukan ideologi buatan manusia yang oleh karena itu berani menentukan benar-salah. Jadi ternyata para pendiri dan penganjur ideologi buatan manusia seperti Kapitalisme dan Sosialisme telah mencoba memandang realitas dengan cara pandang tertentu.

Pandangan mereka mempengaruhi semua pemikiran turunannya. Sebagai contoh, Marx telah menempatkan pemikiran dialektika materialisme sebagai pandangan hidup telah merusak dan mengotori ide-ide turunannya.

Walhasil, manusia itu sangat terbatas kemampuannya. Ia tidak mampu mempelajari realitas dan menyimpulkan bagaimana dia seharusnya hidup, bagaimana dia seharusnya mendistribusikan kekayaan, siapa yang seharusnya membayar pajak, kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah.

Saudaraku,

Mempelajari ideologi buatan manusia manapun, dalam hal ini Kapitalisme dan Sosialisme, akan menunjukkan buah pemikiran yang keliru yang hadir di antara mereka dan pertentangannya dengan ideologi Islam.

Dalam Kapitalisme realitas dipelajari, sekalipun dengan cara yang dangkal, dan kemudian solusi diperoleh dari realitas permasalahan itu sendiri; tentu saja dasar Kapitalisme lahir dari kompromi antara dua pemikiran yang saling kontradiksi dan tidak dibangun di atas pemikiran rasional; dan dalam Sosialisme realitas dipelajari untuk diterapkan hipotesis mereka.

Saudaraku,

Islam adalah satu-satunya ideologi yang benar yang datang dari Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam dan mengirim Utusan-Nya Muhammad SAW untuk menjelaskan, menyebarkan dan menerapkannya kepada umat sebagai sebuah metode kehidupan dan solusi atas permasalahan hidup.

Kendati ajaran Islam sangat dalam, namun dasar-dasar Islam mudah dipahami. Manusia secara alami pasti merasakan ketidaksempurnaan dirinya, dan meyakini adanya suatu zat yang lebih besar untuk disucikan (disembah). Tidak seorangpun yang dapat menghapus naluri di dalam diri manusia ini untuk memuja Pencipta, termasuk sistem Komunis yang hanya mampu menggeser naluri manusia tersebut dari Pencipta kepada Marx, Engels dan Lenin. Mereka memuliakan Das Kapital seperti halnya orang Islam memuliakan Al Qur’an, menziarahi makam Lenin seperti halnya orang Islam mengunjungi Mekkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji.

Islam mudah dipahami, hati dan pikiran orang mudah dibuka dengan Islam. Untuk memahami Islam tidak dibutuhkan dari kalangan akademisi, ilmuwan, atau banyaknya gelar yang disandang orang tersebut. Keyakinan terhadap Islam dibangun di atas pemikiran rasional (aqliyah) dengan bukti keberadaan Allah, kebutuhan akan rasulullah, dan yakin 100% bahwa Al Qur’an itu dari Allah.

Islam merupakan ideologi yang dibuktikan manusia melalui pandangannya tentang alam semesta sebagai jawaban atas pertanyaan hidup paling dasar, yaitu dari mana alam semesta, manusia dan kehidupan berasal? Kemana ketiganya setelah berakhirnya kehidupan? Dan untuk apa manusia hidup di dunia ini?

Maka Islam menjawab bahwa alam semesta, manusia dan kehidupan diciptakan oleh satu Pencipta (Khaliq) yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak memiliki kelemahan karena Pencipta bukanlah makhluk. Semua yang diciptakan akan binasa dan kembali kepada Pencipta. Tujuan di dunia adalah untuk beribadah (menyembah) kepada Pencipta dengan menerapkan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Islam datang dengan peraturan yang rinci meliputi seluruh aspek kehidupan, seperti politik, sosial, ekonomi dan kebijakan luar negeri; perturan tentang kontrak, perusahaan (perseroan), standar uang, kepemilikan, hukum tanah, peraturan tentang komiditi, sumber-sumber penerimaan, dan lain sebagainya.

Metode Islam yang digunakan selama seribu empat ratusan tahun untuk memecahkan permasalahan ekonomi adalah sama dengan metode Islam yang digunakan untuk memecahkan berbagai permasalahan kehidupan lainnya, yaitu melalui (1) pengamatan fakta permasalahan ekonomi, (2) mencari solusinya dengan menggali nash-nash (dalil-dalil) syara’ yang bersesuaian dengan fakta permasalahan tersebut dan kemudian dilakukan istimbat (penetapan) hukum.

Kesimpulan

Saudaraku,

Realitas (fakta) merupakan pijakan untuk menilai apakah suatu ide benar atau salah. Misalnya Komunisme merupakan ideologi yang tidak sahih karena ideologi bertentangan dengan fakta, seperti tidak mengakui adanya Tuhan, padahal realitas membuktikan adanya alam semesta, manusia dan kehidupan merupakan bukti adanya Sang Pencipta.

Meskipun demikian, realitas tidak dapat dijadikan sumber pemikiran untuk menentukan standar baik dan buruk, benar dan salah. Hidayatullah Muttaqin (2004) menjelaskan dengan contoh sebagai berikut : Realitas menunjukkan pengenaan pajak atas penjualan suatu komoditas di dalam negeri dan membebaskannya dari pajak jika diekspor ke luar negeri akan merugikan produsen dan konsumen lokal yang menggunakan komoditas tersebut. Akan tetapi fakta ini tidak bisa dijadikan sumber hukum untuk menentukan peraturan pajak tersebut benar dan salah, sebab pandangan baik dan buruk tersebut datangnya dari luar fakta, yakni pemikiran manusia. Dalam Kapitalisme, metode untuk menilai suatu fakta baik dan buruk digali dari fakta itu sendiri sehingga melahirkan kontradiksi. Sementara penilaian baik dan buruk dalam Islam datangnya dari Allah SWT melalui Al Qur’an dan Sunnah.

Lain halnya dengan ilmu ekonomi. Ia adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana meningkatkan produksi, mekanisasi, dan hal-hal teknik lainnya yang dapat diterima, diolah dan dimiliki oleh siapa pun juga, sehingga ilmu ekonomi bersifat netral berbeda dengan sistem ekonomi yang sarat dengan pandangan hidup tertentu.

Hanya aqidah Islam yang dibangun (dibuktikan) dari realitas (fakta). Islam merupakan sebuah jalan hidup yang unik, sehingga standar uang dan kebijakan fiskal serta moneter Islam berbeda dengan sistem (ideologi) lainnya.

Pemikiran Islam merupakan kekayaan terbesar umat (contoh : http://www.muslimheritage.com). Kekayaan terbesar tidak terletak pada kekayaan materi berupa berlimpahnya sumber daya alam dan mesin canggih yang dimiliki. Sebab semua materi tersebut akan musnah dan habis dan tidak akan bisa diolah, dimanfaatkan serta dilestarikan tanpa adanya modal kekayaan pemikiran. Umat Islam tidak akan maju, memimpin dan mensejahterakan dunia bila belum memiliki, menggali, menerapkan dan menyebarkan pemikiran Islam secara utuh.

Islam bukanlah ideologi dan agama yang dapat dikompromikan dan dicampuradukkan dengan pandangan hidup lainnya. Ideologi Islam diterapkan secara utuh dalam sistem negara Khilafah Islamiyah. Khilafah akan memastikan kejernihan pemikiran Islam di tengah-tengah umat dan membuang ideologi buatan manusia seperti Kapitalisme dan Komunisme ke tong sampah. Khilafahlah yang akan menyebarkan (dawah) Islam ke seluruh penjuru dunia.

Wallahu a’lam bishawab.

M. Sholahuddin

Author: Admin

Share This Post On

6 Comments

  1. apakah sudah terlambat jika nantinya indonesia menerapkan ekonomi berdasarkan syari’ah islam? semua sektor BUMN (yang mengusai hajat orang banyak) sebagian sahamnya telah dijual ke pihak asing… (padahal kan dalam islam haram hukumnya)
    di samping itu indonesia pun banyak utang ke pada IMF, bank dunia dan lain2 (yang jelas disana ada hal riba yang jelas2 dilarang islam)

    Post a Reply
  2. Assalamualaikum… saya ikutan kasih komentar ya…

    sistem ekonomi islam tidak dijamin kebenarannya secara absolut, karena yang benar dan dijamin absolut kebenarannya adalah syariah islam. kebenaran syariah islam bukan khayalan,,, nyata. akan tetapi siapapun yang tidak diberikan ilmu Kalam selain Rasullullah tidak bisa dijadikan panutan. jadi klaim yang menyatakan bahwa ekonomi islam benar juga tidak bisa diterima…yang bisa diterima adalah sistem ekonomi dengan syariah islam. bayangkan saja sekarang ini begitu banyak yang menyatakan bank islam tapi masih menganut prinsip bunga (riba), tetapi dengan bangganya menyatakan sebagai bank syariah(islam). saya pernah dan sering diskusi dengan saudara Iskandar putong, beliau mengatakan bahwa tidak ada bank islam di Indonesia yang sesuai syariah islam karena atau apabila selalu menggunakan standard bunga(interest) dalam penentuan bagi hasilnya (seharusnya bagi keuntungan ya…). menurut Ridwan Saidi tidak ada yang bisa lolos dari Riba…bayangkan Riba setara dengan menzinahi ibu kandung…Subhanallah…
    jadi mari kita selalu berdoa dan mohon ampunan ALLAH SWT agar terbebas dari Riba…berarti kita harus menyingkirkan ekonomi sistem riba (kapitalis) dan berusaha untuk selalu dalam konteks Syariah islam baik ber – ekonomi maupun ber – sosial.
    terima kasih…mohon maaf bila ada kata-kata saya yang salah
    terima kasih
    wassalam

    Post a Reply
  3. @dyah
    bagaimana anda bisa menyebutkan bank syariah di Indonesia masih ada tempelan riba? bisa di jelaskan?

    Post a Reply
  4. Setelah mengikuti beberapa hari mengikuti jurnal ekonomi ideologis saya agak sedih. Forum ini cenderung hanya mengkritik bahkan memaki-maki tanpa memberikan jalan keluar. Bahasa yang digunakan sering tidak pantas bagi kaum kita.

    Post a Reply
  5. Ketika kerusakan “Jalan Lama” disampaikan dengan cara “berputar-putar” tidak segera faham, maka sah-sah saja ketika kerusakan tersebut disampaikan dengan terus terang apalagi didukung dengan landasan yang kuat sebagaimana yang ada di jurnal-ekonomi.org ini.
    Saya cermati dan saya ikuti selama berbulan-bulan, jurnal ini tidak hanya mengkritisi namun juga memberikan tawaran “JALAN BARU” yang tidak hanya pada tataran praktis bahkan sampai pada tataran paradigmatis dan filosofis.
    LANJUTKAN !

    Post a Reply
  6. terima kasih atas pertanyaan atau apalah dari saudara estina, mohon maaf baru bisa ikutan lagi dimedia ini.

    syariah islam itu tidak bisa bercampur dengan ajaran apapun yang tidak bisa ditoleransi seperti halnya islam tidak mentoleransi apapun alasannya tentang “menambah” dan “mendapatkan hasil” dengan cara yang kemungkinannya hanya 2 yaitu rugi atau untung. sebab inilah yang menjadikan mengapa riba itu dilarang dengan tegas dalam Al-quran. ayatnya muhkamat (langsung- to do point mengharamkan) siapa saja yang melakukannya, ikut mencatat, membantu dan mendukung.
    system perbankan konvensional di Indonesia semuanya merujuk pada sistem bunga, padahal sistem bunga adalah riba, sebab hanya memberikan keuntungan saja pada nasabah karena fix interest yang diterimanya. sedangkan bagi profit dalam ajaran islam nasabah bisa saja rugi, untung atau impas. perbankan kita yang katanya berprinsip syariah faktanya selalu menggunakan patokan suku bunga bank konvensional baik berdasarkan rujukan maupun berdasarkan rata-rata harmonis. itulah sebabnya setiap kita mengajukan pinjamn kepada bank syariah kita selalu membayar tetap pada bank dalam porsi sekian persen yang ditentukan, jadi dalam hal ini fihak bank pastilah untung. padahal syariah islam mengajarkan dalam berbisnis untung bukan tujuan, melainkan manfaat (ridha), sedangkan untung adalah akibat. jadi bila bank syariah sudah menetapkan keuntungan dimuka maka konsep ini tidak lepas dari riba, apalagi mematok bagi hasil berdasarkan suku bunga yang berlaku…
    itulah alasan saya mengapa saya bisa menerima pendapat saudara iskandar putong yang dalam analisis dan pada suatu seminar mengatakan mengapa bank syariah di Indonesia sampai dengan tahun 2008 berdasarkan penelitiannya belumlah berdasarkan syariah islam murni.

    terima kasih…
    wassallam
    (mohon maaf….media ini sangat bagus diteruskan tapi jangan sampai ada debat kusir, dan perlu dibedakan antara kata-kata yang berterus terang dengan kata-kata penghinaan..)terima kasih..LANJUTKAN…

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *