Simalakama Formula Kenaikan Harga BBM

Sumber gambar: Republika

Vivanews.com melansir pernyataan Menteri BUMN Dahlan Iskan perihal betapa seriusnya pemerintah (berdiskusi siang malam) agar kenaikan harga BBM bulan April ini tidak menambah jumlah orang miskin. Meskipun demikian ternyata formula harganya belum berhasil ditemukan sampai sekarang.

Mengapa pemerintah kesulitan membuat formula harga BBM? Bukankah begitu banyak Profesor dan para ahli di bidangnya yang setiap saat dapat diminta untuk melakukan rumusan formula?

Membuat formula harga BBM sebenarnya bukanlah perkara sulit, namun memang memerlukan dua syarat yang tidak mudah, yaitu kemerdekan mental dan raga. Nah, pangkal masalah sulitnya pemerintah membuat formula harga BBM adalah bermuara pada dua syarat di atas.

Apakah berarti pemerintah (presiden dan para menterinya) belum merdeka mental dan raganya? Dari segi badan boleh jadi dapat dikatakan sudah merdeka. Namun dari segi mental dan pikiran belumlah merdeka 100%.

Pikiran pejabat negeri ini sesungguhnya masih dijajah oleh pemikiran asing, bahkan boleh jadi mereka adalah (kepanjangan tangan) asing itu sendiri. Tidak akan mungkin pemerintah mampu membuat rumusan atau formula harga BBM, kalau tujuannya memuaskan kedua belah pihak, di satu sisi menguntungkan pengusaha ritel (SPBU) asing dengan jalan liberalisasi migas di sektor hilir, dan di sisi lain tidak memberatkan rakyat.

Kalau pemerintah berpihak kepada rakyat, maka formula untuk harga dasarnya adalah:

Asumsi: minyak yang diambil dari dalam perut bumi Indonesia

Ongkos produksi (pengeboran & pengolahan) + Distribusi 

Adapun apabila minyak diimpor dari luar negeri:

  • Yang diimpor adalah minyak mentah:
    Harga Impor/liter + Ongkos Produksi (pengolahan) + Distribusi
  • Yang diimpor BBM:
Harga Impor + Distribusi

Dalam sistem ekonomi Islam tidak ada pajak sebagaimana pajak dalam ekonomi Kapitalis. Karena itu, beban pajak tidak masuk dalam komponen yang mempengaruhi harga BBM. Adapun margin dapat ditambahkan ke dalam komponen harga BBM dengan tujuan, agar ada keuntungan negara dari penjualan BBM yang kemudian dapat digunakan untuk membiayai anggaran negara lainnya. Persyaratan margin tersebut dilakukan oleh negara adalah selama tidak memberatkan masyarakat dan perekonomian.

Namun apabila pemerintah berpihak kepada pengusaha migas asing, maka formulanya adalah:

Baik itu minyak mentahnya di ambil dari perut bumi Indonesia maupun impor

Ongkos Produksi/Harga Impor + Distribusi + Pajak + Margin Kontraktor + Margin Pemerintah/Pertamina 

Perhitungan tersebut masih bersifat umum. Dalam Islam, sektor hulu migas merupakan harta milik umum, sehingga harus dikelola negara. Karena itu, minyak mentah dan BBM yang diimpor hanya untuk menutupi kekurangan dari total produksi dalam negeri. Artinya, pengaruh harga dunia tidak 100 persen, hanya sejumlah nilai BBM yang harus diimpor.

Sedangkan dalam ekonomi Kapitalis, sektor hulu migas hingga hilirnya dapat dikuasai swasta dan asing. Akibatnya, tidak semua minyak produksi dalam negeri digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Oleh kontraktor asing, sebagian produksi mereka diekspor, sehingga Indonesia kekurangan minyak mentah dan BBM dalam jumlah yang lebih besar dari seharusnya dan rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Maka di sinilah letak simalakama penetapan harga BBM sekarang ini.  [Jurnal Ekonomi Ideologis/Hatta]

Referensi:

Vivanews.com, Pemerintah Pusing Pikirkan Formula Harga BBM, 25/2/2012

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *