Siapapun Gubernurnya, Rupiah Tetap akan Menjadi Pecundang

MONETER

oleh: M. Hatta *

Bank Indonesia kembali melaksanakan pemilihan gubernur. Harapan publik terhadap gubernur BI yang akan terpilih adalah yang mampu mengawal BI dalam menjaga stabilitas nilai rupiah. Sebagai sebuah harapan tidaklah salah kiranya. Namun, akankah harapan itu dapat terwujud???

Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, ada beberapa hal yang sekiranya dapat membawa kita kepada jawaban yang tepat, yaitu:

Tugas BI

Sejak diterapkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia disebutkan bahwa tugas pokok BI berubah yaitu dari multiple objective (mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memelihara kestabilan nilai rupiah) menjadi single objective (mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah).[1]

Dikatakan pula bahwa, Sasaran akhir kebijakan moneter BI di masa depan pada dasarnya lebih diarahkan untuk menjaga inflasi. Pemilihan inflasi sebagai sasaran akhir sejalan pula dengan kecenderungan perkembangan terakhir bank-bank sentral di dunia, dimana banyak bank sentral yang beralih untuk lebih memfokuskan diri pada upaya pengendalian inflasi.[2]

Rupiah Sebagai Fiat Money

Setelah kita mengetahui bahwa tugas utama BI adalah menjaga stabilitas nilai rupiah. Maka selanjutnya yang perlu kita ketahui adalah hakikat dari rupiah itu sendiri. Rupiah adalah termasuk ke dalam jenis uang kertas (fiat money), sama halnya seperti dolar dan Yen.[3] Hanya bedanya, apabila dolar AS dan Yen termasuk kedalam jenis hard currency, sedangkan rupiah adalah soft currency.[4]

3 lawan 1

Dalam menjaga stabilitas nilai Rupiah BI mempunyai sejumlah strategi, diataranya: menaikkan suku bunga dan pengetatan likuiditas perbank-kan, mengkaji efektivitas instrumen moneter dan jalur transmisi kebijakan moneter, menentukan sasaran akhir kebijakan moneter, mengidentifikasi variabel yang menyebabkan tekanan-tekanan inflasi, memformulasikan respon kebijakan moneter.[5]

Di lain pihak, pemerintah juga memiliki strategi dalam mengawal rupiah, yaitu: menerapkan kenaikan prosentase pungutan pajak, mengadakan pinjaman sukarela atau pinjaman paksa, memotong uang, membekukan sebagian atau seluruhnya simpanan-simpanan (deposito) pihak-pihak partikulir (bukan punya pemerintah) yang ada dalam bank-bank, serta penurunan pengeluaran pemerintah.[6] Dari sisi non moneter juga diterapkan strategi untuk mengawal rupiah, yaitu: Menaikkan hasil produksi, kebijaksanaan upah, pengawasan harga dan distribusi barang.[7]

Gambar Dampak tidak adanya nilai intrinsik yang dikandung Fiat Money

hatta-fiatmoney.gif

Sumber: Diolah Sendiri

Namun, walaupun sudah menggunakan strategi multi kebijakan rupiah masih sangat sulit untuk dikontrol. Terbukti setiap tahun, BI dan Pemerintah senantiasa dipusingkan dengan begitu mudahnya nilai rupiah terkoreksi.

Kondisi ini tentunya membuat kita bertanya, apa gerangan yang menyebabkan nilai rupaih mudah terkoreksi?

Fiat Money, Interest, Fractional Reserve Requirement (Three Pillars of Evil)

Riawan Amin dalam bukunya Satanic Finance, True Conspiracies mengatakan, bahwa tiga hal tersebut di ataslah akar dari segala penyebab gonjang-ganjingnya ekonomi dunia.[8] Tiga pilar setan tersebut semakin dikokohkan geraknya dengan adanya floating exchange rate system[9] (sistem nilai tukar mengambang). Fiat money dengan tiga faktor pendukungnya semakin membuat fiat money mudah terjerumus menjadi Empat hal inilah sejatinya yang menjadi peneyebab kekacauan ekonomi dunia

Sebagaimana yang dapat kita lihat pada gambar 1 di atas, puncak atau akar dari segala permasalahan moneter adalah rupiah itu sendiri dan sistem per-bank-kan yang berlaku (interest, fractional reserve requirement) serta sistem nilai tukar mengambang. Tetapi, pemerintah dan dibantu BI hanya sebatas melakukan perbaikan pada tataran teknis semata. Dengan kata lain hanya mengatasi gejalanya (simtomp) saja, sedangkan akar dari penyakitnya sendiri tidak dilenyapkan.

Dengan demikian, wajar apabila segala kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan BI hanya bersifat sementara keampuhannya. Selanjutnya akan kembali bergejolak seperti orang kerasukan setan (sebagaimana Al Qur’an menyindir sistem ribawi).

Dapatkah Gubernur BI yang baru menjaga nilai rupiah tetap stabil atau bahkan menjadikan rupiah mata uang yang kokoh sepanjang masa? Jawabnya tentu saja tidak. Karena akar masalahnya ada pada rupiah itu sendiri, bukan pada gubernurnya.

*Mahasiswa Magister Studi Islam UII, Yogyakarta.

Wallahu’alam bi ash-shawab


[1] Peranan Bank Indonesia Dalam Pengendalian Inflasi, 24 Mei 2007, http://www.bi.go.id

[2] Ibid.,

[3] Fiat money= mata uang yang diterbitkan oleh pemerintah yang tidak didukung atau dijamin oleh emas atau surat-surat berharga lainnya yang dipegang oleh pemerintah.

[4] Hard currency= suatu mata uang yang permintaannya kuat tetapi penawarannya sedikit di pasar valuta asing. Soft currency= suatu mata uang yang berada dalam tingkat permintaan yang lemah, tetapi dalam tingkat penawaran yang berlebihan pada pasar nilai tukar mata uang asing. Lengkapnya lihat Christoper Pass dan Bryan Lowes, Collins (Kamus Lengkap Ekonomi), cet. IX (Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 272 dan 610.

[5] Ibid.,

[6] M. Manullang. Ekonomi Moneter, cet. XIII (Jakarta: Ghalia, 1993), hal. 93-96

[7] Ibid., hal. 96-98

[8] A. Riawan Amin. Satanic Finance, True Conspiracies, cet. I (Jakarta: Celestial, 2007), hal. 13

[9] Suatu mekanisme untuk mengkoordinasi nilai tukar (exchange rate) mata uang negara-negara yang meliputi nilai mata uang setiap negara yang diukur dengan nilai mata uang negara lain yang ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran mata uang di pasar valuta asing (foreign exchange rate). Ibid., Christoper Pass dan Bryan Lowes, Collins, hal. 241

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *