Pertumbuhan Ekonomi: Fatamorgana Ekonomi Balon

oleh: News Economic Foundation

Analisa Terbaru Menunjukkan Produktivitas dan Efisiensi Ekonomi Riil Merosot Selama 30 Tahun Globalisasi

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di era globalisasi hanyalah sebuah “fatamorgana ekonomi” (mirage economy), menurut laporan tahunan terbaru yang dipublikasikan nef. Konsensus bersama para ekonom ortodoks bahwa globalisasi telah mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi yang berdasarkan pada analisa “fatamorgana ekonomi”, yang ditopang oleh gelembung kredit raksasa (a masive credit bubble).

Laporan tahunan nef yang bertajuk “Real Wordl Economic Outlook” (RWEO) diterbitkan oleh Ann Pettifor, dan “IMF’s Annual Economic Outlook”, menunjukkan bahwa :

Tahun 2000, aset keuangan (financial) di lima ekonomi utama tiga kali dari nilai aset riilnya. Aset keuangan ini disalurkan pada investasi di sektor proverti, pasar modal (stock market) baik saham meupun obligasi, spekulasi mata uang dan investasi lainnya di sektor keuangan, yang menciptakan aset baru. Hasil kesalahan menginvestasikan sektor keuangan ini adalah jatuhnya investasi di sektor riil. Di negara-negara anggota G7, kecuali Jerman, investasi pada tahun 1990-an lebih rendah daripada tahun 1980-an. Meskipun terjadi bom pasar modal (stock market boom) pada tahun 1990-an, tingkat investasi jatuh antara satu hingga pertengahan dua dekade di semua negara G7 kecuali AS yang digenjot oleh pertumbuhan komputer.

Produktivitas pertumbuhan ekonomi juga menyusut dari 2,5% pada tahun 1945 dan 1973 menjadi 1,2% pada tahun 1990. Kejatuhan ini terjadi meskipun telah lahir “keajaiban produktivitas” sebagai hasil penemuan teknologi mutakhir.

Pada waktu yang sama, pengangguran di perekonomian utama dunia tersebut dengan mantap terus bertambah sejak tahun 1970-an.

Sumbangan para pekerja terhadap PDB dalam bentuk upah atau gaji menurun lebih dari tiga dekade terakhir. Di setiap negeri laju pertumbuhan upah riil jatuh ketingkat yang lebih rendah dari yang rendah.

Perekonomian sektor keuangan (sektor non riil) secara besar-besaran digenjot oleh bank sentral dan kebijakan pemerintah sendiri, dan telah memisahkannya dengan perekonomian sektor riil. Investasi di sektor keuangan yang menggantikan investasi di sektor yang produktif menciptakan “gelembung” (bubble) dengan menuangkan aliran modal ke sektor proverti, spekulasi dan perjudian, seperti yang dikatakan oleh Ann Pettifor yang juga kepala Jubilee Research.

Kegiatan di sektor non riil ini semakin menjadi-jadi dengan menggelembungnya bursa saham, telekomunikasi, bisnis dot.com, dolar dan real estate. Tetapi para investor mengambil pelajaran dari masalah tersebut, bahwa penggelembungan tersebut adalah hantu bagi ekonomi global. Keadaan tersebut menggambarkan banyaknya gelembung yang siap meledak – dan masih banyak lagi orang selain para investor yang akan menderita ketika kenyataan menyingsing kembali.

Romilly Greenhill, ekonom senior nef mengatakan :

Kita harus hati-hati dalam memperbaiki pertumbuhan ekonomi. Adalah penting untuk memahami dan melihat bagaimana liberalisasi pasar dan kebijakan pasar bebas telah menjatuhkan pertumbuhan ekonomi, dan tidak memberikan stimulasi. Para ekonom dan para aktivis anti globalisasi menyatakan kekeliruan pasar bebas ketika menuduh neo-liberal sedang dihantui oleh pertumbuhan ekonomi. Kebenaran bukan milik mereka. Mereka dihantui dengan memperkaya orang-orang yang kaya.

Para ekonom dari IMF dan pejabat keuangan G7, memaksa kebijakan pertumbuhan yang culas tersebut kepada negara-negara pengutang. Di negara-negara kaya kita harus memperingatkan para politikus dan ekonom kita agar bertanggungjawab atas kemunduran ekonomi dan investasi, juga secara konsisten berusaha meningkatkan pertumbuhan upah riil dan pekerjaan.

Sumber : New Economics Foundation

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *