G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global

EKONOMI: G-20

Oleh Hidayatullah Muttaqin

Foto: BBC

Foto: BBC

Sebagaimana diberitakan oleh media internasional, pertemuan G-20 di London (2/4/2009) diwarnai perpecahan antara kubu Eropa yang diwakili oleh Jerman dan Perancis dengan kubu Amerika.

BBC melaporkan kubu Eropa menginginkan G-20 menghasilkan peraturan yang lebih ketat terhadap sistem keuangan dunia. Hal ini diwakili oleh sikap Jerman dan Perancis yang menolak keinginan Amerika Serikat dan Inggris untuk lebih banyak lagi mengeluarkan belanja negara untuk meningkatkan dana stimulus.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bahkan mengancam akan meninggalkan pertemuan G-20 jika regulasi sektor keuangan yang lebih ketat tidak menjadi keputusan pertemuan. Sarkozy mengatakan: “tujuan yang tidak bisa dinegosiasikan”.

Serupa dengan Sarkozy, Kanselir Jerman Angela Merkel menginginkan pengawasan sistem keuangan yang lebih kuat. Markel mengatakan: “Ini untuk memastikan bahwa tidak satu negara, produk pasar finansial atau institusi yang tidak dimonitor dan tidak transparan”.

Secara subtansial pertemuan G-20 baik yang dilakukan di Washington November tahun lalu maupun di London saat ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan problem mendasar yang menjadi penyebab krisis. Sistem keuangan yang berbasis riba (bunga) yang didukung oleh keberadaan sistem mata uang kertas (fiat money), bank sentral, perbankan, pasar modal dan pasar uang merupakan sumber krisis finansial global.

Sistem keuangan seperti inilah yang menciptakan ekonomi balon (bubble economic) sehingga perekonomian dunia bergerak dengan dominasi sektor maya (virtual sector). Atas dasar kegiatan dan transaksi berbasis ribawi ini pula para aktor pasar menggerakkan perekonomian semata-mata untuk mendapatkan profit (profit oriented) dengan menghalalkan segala cara. Sehingga perekonomian dunia dikendalikan oleh faktor keserakahan.

Selain secara substansial pertemuan G-20 tidak menyentuh akar masalah, secara geo politik ekonomi pertemuan ini menjadi ajang perebutan hegemoni dunia oleh negara-negara Kapitalis Continental dengan Anglo-Saxon.

Selama ini, sistem keuangan dunia didominasi oleh Amerika Serikat (dan Inggris) yang ditentang oleh Kapitalisme dari daratan Eropa (Continental Europe). Krisis keuangan global yang disebabkan dari keruntuhan sistem keuangan Amerika melemahkan posisi geo politik ekonomi AS di tengah percaturan keuangan dunia. Wakil Presiden AS Joe Biden sewaktu masa kampanye pemilihan presiden AS tahun lalu mengakui dampak buruk krisis keuangan ini terhadap posisi negaranya.

Sementara itu sejak puncak krisis keuangan menimpa AS Oktober tahun lalu, Jerman dan Perancis merupakan dua negara Eropa daratan yang paling getol menyatakan Amerika Serikat bukan lagi negara adi daya dalam sistem keuangan dunia. Dua negara ini pula yang paling menekankan perlunya tata sistem keuangan dunia yang baru dan menolak seruan AS untuk meningkatkan pengeluaran di dalam membeli aset-aset toxid di Amerika.

Menteri Keuangan Jerman, Peer Steinbrueck di depan parlemen Jerman September tahun lalu mengatakan: “The U.S. will lose its status as the superpower of the global financial system, not abruptly but it will erode.” Sedangkan Presiden Perancis mengatakan: “The present crisis must incite us to refound capitalism on the basis of ethics and work & Self-regulation as a way of solving all problems is finished. Laissez-faire is finished. The all-powerful market that always knows best is finished.”

Kedua negara ini jelas memiliki sikap politik dan ekonomi yang tidak menginginkan Eropa dan dunia berada di bawah dominasi AS. Meskipun demikian, dua negara Kapitalis yang pernah mendominasi dunia di era kolonialisme ini hingga saat ini tidak bisa mendepak hegemoni AS.

Di sisi lain negara-negara berkembang yang dilibatkan dalam G-20 seperti Indonesia, China, India, Brazil, dan Turki, hanyalah sebagai pelengkap untuk mendukung keberadaan salah satu kubu negara Kapitalis. Sedangkan posisi Indonesia hingga saat ini berada di belakang Amerika Serikat.

Di atas permukaan, Indonesia sepertinya mengemukakan pandangan-pandangan yang mandiri, tetapi bila dilihat secara detail dan mendalam sebenarnya pemerintahan Presiden SBYsedang berusaha merealisasikan agenda AS. Dengan kata lain negara kita menjadi “kaki tangan” AS di dalam mempertahankan hegemoninya. Karena itu Eropa sangat marah kepada Indonesia dengan memberlakukan pelarangan terbang masakapai Indonesia ke Eropa hingga saat ini.

Pelajaran yang kita peroleh dari pertemuan G-20 dan krisis global kali ini adalah, bahwa upaya-upaya penyelesaian krisis global melalui berbagai pertemuan internasional tidak akan mampu menyelesaikan masalah krisis global dan tidak juga dalam kerangka penyelesaian krisis tersebut secara tuntas. Begitu pula di balik pertemuan-pertemuan tersebut terjadi pertempuran politik ekonomi negara-negara besar untuk saling menjatuhkan dan memperebutkan hegemoni Kapitalisme Global. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS/ www.jurnal-ekonomi.org]

REFERENSI:

BBC Indonesia (1/4/2009), Perpecahan di Pertemuan G20.

Euobserver dalam Business Week (29/09/2008), France: Laissez-Faire Capitalism is Over.

Kompas (04/10/2008), Posisi AS sebagai “Superpower” Terancam Punah.

Deutsche Welle (22/09/2008), Jeman Tolak Paket Bantuan ala AS.

Market Watch (25/09/2008), U.S. losing financial superpower status: Steinbrueck.

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *