Perbankan Ribawi dan Tamaknya Deposan Kakap

Dalam Islam, sifat tamak jelas begitu dikecam dan dihukumi dengan haram. Tapi tidak dalam Kapitalisme, bahkan justru mendapat tempat istimewa.

Sebagaimana yang dilansir oleh situs inilah.com, terdapat kecendrungan bahwa sebagian BUMN hanya meng-idlekan ratusal triliun duitnya di instrumen deposito perbankan dalam negeri. Akibatnya, suku bunga kredit atau pinjaman pun sulit untuk diturunkan sebagai akibat langsung dari tingginya bunga yang harus diberikan kepada deposan (kakap) BUMN tersebut.Tidak hanya deposan yang berasal dari BUMN, deposan di luar BUMN juga melakukan hal yang sama. Dalam konteks ini, menurut Kepala Biro Pengaturan Bank BI, Irwan Lubis memperkirakan, potensi dana deposan kakap tahun ini bisa mencapai Rp 2.700 triliun.

Mengapa deposan kakap leluasa untuk menjadi tamak dalam Kapitalisme? Maka jawabnya tidak lain dan tidak bukan disebabkan adanya sistem keuangan yang ribawi.

Dalam hal ini Riawan Amin mengatakan, setidaknya terdapat 3 pilar atau asas dari sistem keuangan ribawi (setan), yaitu: riba (bunga bank), fiat money (uang kertas), dan sistem cadangan sebagian yang di anut oleh Perbankan.

Pertanyaan lebih lanjutnya adalah, mungkinkah 3 pilar tersebut dihapus dengan mekanisme demokrasi? Untuk menjawab pertanyaan ini ada satu hal penting yang perlu diingat, dalam Demokrasi sebuah kebenaran sangat tergantung atau ditentukan oleh suara mayoritas. Bukan oleh kebenaran itu sendiri. [Jurnal Ekonomi Ideologis/Hatta]

REFERENSI:

Inilah.com, Tamaknya Deposan Kakap, 6 Februaru 2012.

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *