Pengrajin pun Tergilas ACFTA

Oleh Hidayatullah Muttaqin

Pemerintah melalui Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu secara meyakinkan telah memutuskan untuk melanjutkan ACFTA secara penuh tanpa penundaan dan tanpa pemilahan pos tarif. Kebijakan yang tidak mewakili kepentingan dalam negeri tersebut menjadi berita buruk bagi masyarakat termasuk kalangan pengrajin.

Betapa tidak baru tiga bulan ACFTA dilaksanakan, omzet pengrajin mebel di Jawa Tengah turun drastis 50% dari Rp 50 juta menjadi Rp 25 juta. Industri kecil lainnya, omzet pengrajin batik turun 40%. Ketua Asosiasi Perajin dan Industri Kecil Kabupaten Cilacap, Sumarmo menyatakan penurunan omzet 50% juga dialami pengrajin dari bambu. Katanya: “Sebelum ACFTA bisa mencapai Rp 50 juta per bulan dengan pasar Jakarta, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta.”

Penurunan omzet pengrajin ini secara drastis akibat ACFTA menambah daftar ketidakpedulian pemerintah atas rakyatnya. Pemerintah lebih berorientasi pada kepentingan asing dengan slogan yang penting kesohor. Semua ini akibat liberalisasi ekonomi yang melanda negeri kita sebagai konsekwensi cengkraman neoimperialisme.  [Jurnal Ekonomi Ideologis / www.jurnal-ekonomi.org]

REFERENSI BERITA:

Bisnis Indonesia (7/4/2010) : Omzet Perajin Turun 50% karena ACFTA.

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *