Pemikiran Ekonomi Ideologis

oleh: Imran Wahid

Allah SWT berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenkmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (TQS. Al-Qashash: 77)

Tentu kita tidak ingin membicarakan fantasi-fantasi dan argumentasi-argumentasi hipotesis, namun kita harus membicarakan sesuatu yang benar-benar menggambarkan realitas. Realitas merupakan satu-satunya fondasi kokoh untuk membangun pemikiran. Kami dapat membuktikan pendapat ini dengan banyak contoh berbeda.

Misalnya Inggris sebagai sebuah model negara komunis, meskipun pernyataan ini keluar dari pakar ekonomi, tetap saja akan dibantah oleh realitas bahwa Inggris bukanlah negara Komunis.

Jika saya mengatakan kepada anda bahwa uang bukanlah suatu alat pembayaran, maka anda mengetahui bahwa faktanya tidak demikian.

Dengan cara yang sama jika saya mengatakan bahwa chip silicon dapat menciptakan dirinya sendiri, maka pemikiran ini tidak pas dengan realitasnya, dengan kata lain hanyalah suatu filosofi khayalan belaka.

Jadi yang kita bicarakan dibangun di atas realitas karena dasar pemikiran lainnya tidak membolehkan kita untuk datang dengan kesimpulan yang dalam dan kokoh dan menjadi suatu diskusi filosofis yang tidak menghasilkan apa-apa.

Saya ingin melihat persoalan ekonomi dan sistem ekonomi; Saya ingin melihat peranan realitas dalam persoalan ekonomi.

Masing-masing di antara kita dapat memahami ekonomi secara umum dengan menggunakan realitas, akal sehat kita, dan otak yang membedakan kita dengan binatang.

Misalnya, kita menemui bahwa masyarakat mempunyai sumber daya tertentu dan individu-individu di dalamnya mempunyai berbagai kebutuhan; maka kita semua dapat melihat fakta bahwa Somalia memiliki cadangan uranium atau Inggris mempunyai Minyak Laut Utara; tidak seorangpun yang benar-benar berbeda dengan pendapat tersebut.

Kita dapat menyetujui semua jalan dalam membuat produksi yang lebih efisien; bagaimana proses pembuatan yang lebih canggih teknologinya; bagaimana mekanisme dan penggunaan robot dapat meningkatkan produktivitas bagi kebanyakan industri; kita dapat me    ngerti bagaimana berbagai penemuan ilmiah sudah mengubah sangat banyak proses pabrikasi.

Hal ini adalah semua isu pemahaman tentang realitas; yang tidak seorang pun benar-benar berbeda dengan apa yang dapat terlihat dengan jelas; setiap orang menyetujui bahwa alkohol memuaskan dahaga dan daging menghilangkan lapar; tetapi tidak semua orang minum alkohol dan makan daging.

Jika kita sekarang mengambil pemahaman ini maka satu langkah lebih lanjut kita akan mulai ke permasalahan.

Kita dapat melihat seluruh manusia mempunyai kebutuhan dan bahwa negara-negara memiliki banyak sumber daya. Selanjutnya, bagaimanakah mendistribusikan sumber daya dan memuaskan berbagai kebutuhan tersebut? Maka kita semua dapat melihat bahwa kita mempunyai berbagai kebutuhan (seperti tempat berteduh dan makanan) dan bahwa di luar sana terdapat bermacam-macam sumber daya (padang rumput, minyak, mineral, dll).

Perlukah kita mendistribusikan sumber daya tersebut untuk orang-orang miskin, yang membutuhkan, yatim piatu, para penguasa, para raja, astronot atau aristokrasi? Cara apakah yang digunakan untuk mendistribusikannya, protokol apakah yang harus kita gunakan dan ukuran-ukuran apakah yang memenuhi syarat distribusi?

Kita dapat lihat ada banyak minyak di dunia. Tetapi untuk siapakah minyak tersebut dimiliki? Apakah realitas mengatakan kepada kita bagaimana cara berdagang satu sama lainnya? Apakah realitas mengatakan kepada kita mana perkara ekonomi yang legal dan yang tidak legal? Apakah realitas mengatakan kepada kita kondisi-kondisi apa yang diperlukan dalam kontrak?

Sungguhkah realitas memberitahu kita bagaimana cara dalam berbagai lapangan hidup; sosial, ekonomi, politik, dan lainnya?

Sebagai contoh kita semua dapat menerima bahwa sebuah sel somatic memiliki 46 kromosom pada laki-laki; kita dapat menerima bahwa proses cloning genetik seorang manusia ada dengan mempelajari jaringan otot di bawah mikroskop dan dengan metode empiris; bagaimanapun hanya dengan pemahaman genetika molekul manusia yang memungkinkan pengambilan keputusan penggunaan teknik-teknik ini.

Jika diberikan suatu skenario tertentu; misalnya seorang pasien bertanya kepada doker “apakah saya menderita kanker?” dan sang dokter menjawab “tidak”. Meskipun ini keluar dari hasil penyelidikannya; kita dapat mengetahui bahwa sang dokter berbohong.

Bagaimanapun dari pandangan ini dapatkah kita mengatakan bahwa berbohong itu baik atau buruk? Beberapa dapat mengatakan pasien harus diberitahu hasil diagnosanya; yang lain mengatakan bahwa menceritakan hal sebenarnya kepada pasien merupakan suatu kejahatan besar; Maka apakah berbohong itu baik atau buruk? Berbohong di bawah sumpah pengadilan apakah benar atau salah? Berbohong ke tentara musuh apakah baik atau buruk? Apakah baik menembak seorang wanita atau apakah benar menembak Adolf Hitler?

Dengan jalan yang sama di mana Universitas Leicester adalah suatu realitas, atau gravitasi; apakah larangan kepemilikan individu merupakan suatu realitas yang dapat kita terima; atau apakah gagasan tentang harga dalam ekonomi Kapitalis merupakan suatu realitas yang dapat kita terima?

Poin pokok dari hal tersebut adalah bahwa studi atas realitas mustahil menyimpulkan apakah tindakan-tindakan seperti berbohong, membunuh, dermawan, dan sebagainya baik atau buruk. Adalah mustahil mengorganisir suatu sistem yang tepat sekalipun anda mempunyai pemikiran yang jenius; karena yang diberitahukan realitas kepada anda tidak satupun tentang legal atau illegal; tentang baik dan buruk; tentang perbuatan terpuji dan tidak.

Dan di sinilah kesalahan fundamental yang dilakukan para pemikir, ahli ekonomi dan filosof yang sudah mendapatkan kemasyuran selama beberapa abad terakhir; seperti Marx, Engels, Lenin, Trotsky, Smith, Bentham, Mill, Rousseau, Ricardo, locke, dan pemikir lainnya.

Mereka telah dikacaukan pikiran yang mencampuradukkan persoalan; mereka tidak hanya menguraikan fenomena ekonomi tetapi melewati batas dan mulai mendefinisikan legal dan ilegal, terpuji dan yang dijauhi, pembentukan ideologi buatan manusia yang oleh karena itu menentukan kesalahan.  

Jadi para pendiri dan penganjur ideologi buatan manusia seperti Kapitalisme dan Sosialisme mencoba memandang realitas dengan cara pandang tertentu.

Tidak bisa diacuhkan, pandangan mereka mempengaruhi semua pemikiran di bawahnya; sehingga fakta bahwa Bentham yang telah mengambil atas dirinya sendiri definisi suatu kriteria tindakan utilitarianism mempengaruhi semua pandangan ideologi Kapitalis; sehingga mereka tidak menghiraukan jika seseorang setuju mengeksploitasinya, atau jika seseorang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Jadi fakta bahwa Marx telah menempatkan pemikiran dialektika materialisme sebagai pandangan hidup telah merusak dan mengotori ide-ide berikutnya (di bawahnya).

Di sinilah masalah pokok bahwa manusia tidak dapat untuk mempelajari realitas dan menyimpulkan bagaimana dia seharusnya hidup, bagaimana dia seharusnya mendistribusikan kekayaan, siapa yang seharusnya membayar pajak, kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah.

Sehingga “kekeliruan Marx yang utama” tidaklah pada pandangannya atas kepemilikan individu tetapi pandangan hidup yang diadopsinya saling kontradiksi dengan realitas itu sendiri. Dan kekeliruan Adam Smith bukanlah esensial pada keyakinannya tentang pasar bebas, tetapi keyakinannya atas tingkah dan keinginannya dan kepercayaanya dalam kemampuannya mendefinisikan bagi manusia tentang suatu sistem kehidupan.

Mempelajari ideologi buatan manusia manapun, dalam hal ini Kapitalisme dan Sosialisme, akan menunjukkan buah pemikiran yang keliru yang hadir di antara mereka dan pertentangannya dengan ideologi Islam.

Dalam Kapitalisme realitas dipelajari, sekalipun dengan cara yang dangkal, dan kemudian solusi diperoleh dari realitas permasalahan itu sendiri; tentu saja dasar Kapitalisme lahir dari kompromi antara dua pemikiran yang saling kontradiksi dan tidak dibangun di atas pemikiran rasional; dan dalam Sosialisme realitas dipelajari untuk diterapkan hipotesis mereka.

Islam adalah satu-satunya ideologi yang benar yang datang dari Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam dan mengirim Utusan-Nya Muhammad SAW untuk menjelaskan, menyebarkan dan menerapkannya kepada umat sebagai sebuah metode kehidupan dan solusi atas permasalahan hidup.

Kendati ajaran Islam sangat dalam, namun dasar-dasar Islam mudah dipahami. Manusia secara alami pasti merasakan ketidaksempurnaan dirinya, dan meyakini adanya suatu zat yang lebih besar untuk disucikan (disembah). Tidak seorangpun yang dapat menghapus naluri di dalam diri manusia ini untuk memuja Pencipta, termasuk sistem Komunis yang hanya mampu menggeser naluri manusia tersebut dari Pencipta kepada Marx, Engels dan Lenin. Mereka memuliakan Das Kapital seperti halnya orang Islam memuliakan Al Qur’an, menjiarahi makam Lenin seperti halnya orang Islam mengunjungi Mekkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji.

Islam mudah dipahami, hati dan pikiran orang mudah dibuka dengan Islam. Untuk memahami Islam tidak dibutuhkan dari kalangan akademisi, ilmuwan, atau banyaknya gelar yang disandang orang tersebut. Keyakinan terhadap Islam dibangun di atas pemikiran rasional (aqliyah) dengan bukti keberadaan Allah, kebutuhan akan rasulullah, dan Al Qur’an dari Allah.

Islam merupakan ideologi yang dibuktikan manusia melalui pandangannya tentang alam semesta sebagai jawaban atas pertanyaan hidup paling dasar, yaitu dari mana alam semesta, manusia dan kehidupan berasal? Kemana ketiganya setelah berakhirnya kehidupan? Dan untuk apa manusia hidup di dunia ini?

Maka Islam menjawab bahwa alam semesta, manusia dan kehidupan diciptakan oleh satu Pencipta (Khaliq) yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak memiliki kelemahan karena Pencipta bukanlah makhluk. Semua yang diciptakan akan binasa dan kembali kepada Pencipta. Tujuan di dunia adalah untuk beribadah (menyembah) kepada Pencipta dengan menerapkan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Islam datang dengan peraturan yang rinci meliputi seluruh aspek kehidupan, seperti politik, sosial, ekonomi dan kebijakan luar negeri; perturan tentang kontrak, perusahaan (perseroan), standar uang, kepemilikan, hukum tanah, peraturan tentang komiditi, sumber-sumber penerimaan, dan lain sebagainya.

Metode Islam yang digunakan untuk memecahkan permasalahan ekonomi adalah sama dengan metode Islam yang digunakan untuk memecahkan berbagai permasalahan kehidupan lainnya, yaitu melalui (1) pengamatan fakta permasalahan ekonomi, (2) mencari solusinya dengan menggali nash-nash (dalil-dalil) syara’ yang bersesuaian dengan fakta permasalahan tersebut dan kemudian dilakukan istinbat hukum.

Kesimpulan

Realita (fakta) merupakan pijakan untuk menilai apakah suatu ide benar atau salah. Misalnya Komunisme merupakan ideologi yang tidak sahih karena ideologi bertentangan dengan fakta, seperti tidak mengakui adanya Tuhan, padahal realitas membuktikan adanya alam semesta, manusia dan kehidupan merupakan bukti adanya Sang Pencipta.

Meskipun demikian, realitas tidak dapat dijadikan sumber pemikiran untuk menentukan standar baik dan buruk, benar dan salah. (Misalnya: fakta menunjukkan pengenaan pajak atas penjualan suatu komoditas di dalam negeri dan membebaskannya dari pajak jika diekspor ke luar negeri akan merugikan produsen dan konsumen lokal yang menggunakan komoditas tersebut. Akan tetapi fakta ini tidak bisa dijadikan sumber hukum untuk menentukan peraturan pajak tersebut benar dan salah, sebab pandangan baik dan buruk tersebut datangnya dari luar fakta, yakni pemikiran manusia. Dalam Kapitalisme, metode untuk menilai suatu fakta baik dan buruk digali dari fakta itu sendiri sehingga melahirkan kontradiksi. Sementara penilaian baik dan buruk dalam Islam datangnya dari Allah SWT melalui Al Qur’an dan Sunnah. – red).  

Sedangkan ilmu ekonomi adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana meningkatkan produksi, mekanisasi, dan hal-hal teknik lainnya yang dapat diterima, diolah dan dimiliki oleh siapa pun juga, sehingga ilmu ekonomi bersifat netral berbeda dengan sistem ekonomi yang sarat dengan pandangan hidup tertentu.

Hanya aqidah Islam yang dibangun (dibuktikan) dari realitas (fakta). Islam merupakan sebuah jalan hidup yang unik, sehingga standar uang dan kebijakan pendidikan Islam berbeda dengan sistem (ideologi) lainnya.

Pemikiran Islam merupakan kekayaan terbesar umat Islam. Kekayaan terbesar tidak terletak pada kekayaan materi berupa berlimpahnya sumber daya alam dan mesin canggih yang dimiliki. Sebab semua materi tersebut akan musnah dan habis dan tidak akan bisa diolah, dimanfaatkan serta dilestarikan tanpa adanya modal kekayaan pemikiran. Umat Islam tidak akan maju, memimpin dan mensejahterakan dunia bila belum memiliki, menggali, menerapkan dan menyebarkan pemikiran Islam secara utuh.

Islam bukanlah ideologi dan agama yang dapat dikompromikan dan dicampuradukkan dengan pandangan hidup lainnya. Ideologi Islam diterapkan secara utuh dalam sistem negara Khilafah Islamiyah. Khilafah akan memastikan kejernihan pemikiran Islam di tengah-tengah umat dan membuang ideologi buatan manusia seperti Kapitalisme dan Komunisme ke tong sampah. Khilafahlah yang akan menyebarkan (dawah) Islam ke seluruh penjuru dunia. (pei/hm)

Disarikan dari artikel “Debate – Islamic Economic System versus Western Economic System” yang dipublikasikan di Khilafah.Com

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *