Pelajaran Amerika Menuju Kebangkrutan: Pengambil Kebijakan Indonesia (Pro Amerika) Harus Cuci Otak

Oleh Cardiyan HIS

Ketika nasionalisme Indonesia mendapatkan momentum kembali, para Pengambil Kebijakan Indonesia dan antek-anteknya dengan arogan tetap mengatakan “… but the hell with the nationalism rhetoric”. Ini bukan retorika Sir, tetapi fakta sejarah.
Amerika menuju kebangkrutan!? Hampir semua orang Indonesia tak mempercayainya, paling tidak sampai enam bulan sebelumnya. Bahkan para orang “pinter” Indonesia yang alumni maupun yang masih mengikuti program pasca sarjana di World Class University (baca: Amerika Serikat) termasuk alumni ITB dengan pongahnya mengatakan: “… but the hell with the nationalism rhetoric, and did I said the hell with Jakarta, too?. Yang lain menambahkan: I dont care about Bung Karno, Freeport Case, Suharto, Mafia Berkeley etc. Beside ITB alumni had known, it does not change much. So there was a problem in the past. What are we going to do in the future? I am engineer, not leader. That is my pragmatism. I guess. Can anybody use me in Indonesia? Not a single person in Indonesia has agreed to have an intelligent discussion to identify what I can do in Indonesia, for Indonesia”.
Namun bila jauh merujuk ke jauh ke belakang ke awal tahun 1950-an, betapa Amerika Serikat ternyata telah menyimpan bom waktu yang sangat luar biasa dahsyatnya. Ternyata FED, bank sentral Amerika yang selama ini dikenal sebagai sosok yang sangat berwibawa adalah milik perusahaan swasta dan milik 300 pribadi yang sangat powerful, yang seenak dewek terus mencetak US dollar tanpa jaminan emas murni satu gram pun. Berikut penulis kutipkan tulisan Thomas D. Schauf, CPA (a national speaker to Certified Public Accountants and business leaders) berjudul “the Federal Reserve is Privately Owned” (Wisdom And Freedom produced by World Newsstand Copyright 1999. Page image by Boogie Jack), yang memuat para pemilik FED yang terdiri dari 12 bank sentral:
Rothschild Bank of London
Warburg Bank of Hamburg
Rothschild Bank of Berlin
Lehman Brothers of New York *****
Lazard Brothers of Paris
Kuhn Loeb Bank of New York
Israel Moses Seif Banks of Italy
Goldman, Sachs of New York *****
Warburg Bank of Amsterdam
Chase Manhattan Bank of New York *****
(Reference 14, P. 13, Reference 12, P. 152)

Disamping itu para pemilik FED secara pribadi sebagai berikut:

First National Bank of New York
James Stillman National City Bank, New York
Mary W. Harnman
National Bank of Commerce, New York
A.D. Jiullard
Hanover National Bank, New York
Jacob Schiff
Chase National Bank, New York
Thomas F. Ryan
Paul Warburg
William Rockefeller
Levi P. Morton
M.T. Pyne
George F. Baker
Percy Pyne
Mrs. G.F. St. George
J.W. Sterling
Katherine St. George
H.P. Davidson
J.P. Morgan (Equitable Life/Mutual Life)
Edith Brevour T. Baker
(Reference 4 for above, Reference 22 has details, P. 92, 93, 96, 179)
Thomas D. Schauf juga mengutip pendapat yang diungkapkan oleh para pemikir AS yang mengkritisi bahaya penguasaan FED oleh perusahaan swasta dan pribadi (yang terutama didominasi oleh para pengusaha Yahudi) sementara Pemerintah AS diam saja tak bisa berbuat apa-apa. Inilah pemikiran kritis para tokoh media yang sangat menyayangkan para pemilik modal media telah melakukan BLACKS OUT THE FACTS tersebut:
John Swinton, the former Chief of Staff for the New York Times, was one of New York’s best loved newspapermen. Called by his peers “The Dean of his Profession”, John was asked in 1953 to give a toast before the New York Press Club, and in so doing, made a monumentally important and revealing statement. He is quoted as follows:

“There is no such thing, at this date of the world’s history, in America, as an independent press. You know it and I know it. There is not one of you who dares to write your honest opinions, and if you did, you know beforehand that it would never appear in print. I am paid weekly for keeping my honest opinion out of the paper I am connected with. Others of you are paid similar weekly salaries for similar things, and any of you who would be so foolish as to write honest opinions would be out on the streets looking for another job. If I allowed my honest opinions to appear in one issue of my paper, before twenty-four hours my occupation would be gone. The business of the journalists is to destroy the truth; to lie outright; to pervert; to vilify; to fawn at the feet of mammon, and to sell his country and his race for his daily bread. You know it and I know it, and what folly is this toasting an independent press? We are the tools and vassals of rich men behind the scenes. We are the jumping jacks, they pull the strings and we dance. Our talents, our possibilities, and our lives are all the property of other men. We are intellectual prostitutes.

RICHARD M. COHAN, Senior Producer of CBS political news said: “We are going to impose OUR AGENDA on the coverage by dealing with issues and subjects that WE choose to deal with.”

RICHARD SALANT, former President of CBS News stated: “Our job is to give people not what they want, but what WE decide they ought to have.”

And what is “their” agenda? What do they believe we, the American people, – THE COMMON HERD, “…ought to have?” Here is the answer:

NORMAN THOMAS - For many years the U.S. Socialist Presidential candidate proclaimed: “The American people will never knowingly adopt Socialism. But under the name of “liberalism” they will adopt every fragment of the socialist program, until one day America will be a Socialist nation, without knowing what happened.”

HERMAN DISMORE, foreign editor of the New York Times from 1950 to 1960: “The New York Times is deliberately pitched to the liberal (socialist) point of view.”

WALTER CRONKITE: “News reporters are certainly liberal (socialists) and left of center.”

BARBARA WALTERS: “The news media in general are liberals (socialists).”

Liberalisme memang telah usang. Dan bom waktu ini sekarang meledak liar dan sulit untuk mampu dijinakkan oleh seorang George Bush yang pongah. Kalau pun Senat AS menyetujui voting revisi bantuan likuiditas Pemerintah AS (yang sebelumnya telah ditolak parlemen), sebesar US$700 miliar, para pakar ekonomi termasuk Joseph E. Stiglitz, pemegang Hadiah Nobel Ekonomi, tetap mengkhawatirkan Amerika Serikat akan tetap terpuruk kepada depresi hebat sepanjang sejarah Amerika karena bantuan tersebut tidak menyentuh secara mendasar kepada sektor riil pengusaha menengah/kecil.
PELAJARAN LAGI UNTUK INDONESIA
Ketika silaturahmi Lebaran, saya menemui seorang tokoh pengusaha yang tahun ini baru merayakan ulang tahun ke 60 pernikahannya (“Pernikahan Berlian”). Dia tetap menyayangkan; mengapa keterpurukan Amerika Serikat tidak menjadi berkah kepada Nilai Rupiah? Di jaman dia masih pengusaha muda di bidang industri kreatif (eksportir kerajinan tangan topi, tikar dll) dan industri tekstil adalah sebagai pemegang rupiah yang kuat. Dengan gagahnya dia hampir tiap bulan bisa keliling dunia; berbisnis sambil berwisata. Kegagahan inilah yang kini dinikmati para turis pemegang Euro (bahkan turis asal Eropa Timur), Yen, Yuan, yang bisa keliling habis Amerika sambil mencibir: “American Stupid”. Indonesia sudah saatnya mengkaji kermbali sepenuhnya menggantungkan nilai uang Rupiah hanya terkait US dollar.
Dan pelajaran sangat pahit dan sangat mahal ini sudah lama dirasakan oleh rakyat Indonesia akibat ulah para pengambil keputusan pemerintah Indonesia sejak dipelopori Suharto (dengan Mafia Berkeley yang dipimpin Widjojo Nitisastro dan yunior-yuniornya para ekonom UI) dan terus dilanjutkan oleh “budak dan antek-antek” sangat pro bahkan menjadi hamba Amerika Serikat dan atau MNC AS serta Jepang sampai sekarang, yang masih berkeliaran sebagai elite politik di pemerintahan maupun parlemen. Sumberdaya alam (SDA) Indonesia diperlakukan oleh mereka demikian rendah karena mindset-nya adalah menganggap investor-investor bule dan Jepang adalah superior dari segi duit, teknologi dan kepakaran. Mereka bukan penganut faham apalagi akan percaya; “Bagaimana Insinyur Indonesia Sesungguhnya Mampu Mencetak Nilai Tambah Kalau Mereka Dikasih Kesempatan”. Inilah persis yang disebut John Swinton, sebagai para “Pelacur Intelektual”.
Oleh karena itu menurut penulis pelajaran yang harus dipetik adalah bagaimana mengubah mindset para pengambil keputusan pada elite pemerintahan dan legislatif Indonesia untuk mengubah kembali UUD 1945 khususnya pasal-pasal yang substansinya memberdayakan kembali peruntukan sumberdaya alam Indonesia yang kaya ini agar dikelola dan diperuntukkan seoptimal mungkin oleh putra-putri terbaik Indonesia untuk Rakyat Indonesia. Oleh karena itu pula, selain telah berhasil meningkatkan Anggaran Pendidikan, pemerintah Indonesia harus mengajukan pula peningkatan belanja TNI dan Polri dengan fokus menjaga Sumberdaya Alam dan Batas-batas Wilayah Terluar Indonesia dari pencurian negara-negara asing. Kita harus dukung upaya KPK untuk memberantas korupsi dalam kondisi negara yang lemah hukum, sebelum instansi-instansi bidang hukum mampu melakukannya menuju ke “Good Corporate Governance”.
Pantaslah Bung Karno sebagai Presiden RI dan seorang intelektual alumnus pertama ITB Bandung, menyekolahkan dulu putra-putri terbaiknya ke luar negeri ke World Class University di Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Jepang, agar suatu ketika mereka mampu mengelola SDA tanpa kemudian menjadi budak dari negara adidaya tempat mereka dulu kuliah. Mengapa? Karena mereka telah dibekali dulu “Nasionalisme dan Patriotisme Indonesia” oleh Bung Karno. Mereka bila kelak menjadi pemimpin Indonesia boleh bekerja sama dengan investor asing tetapi posisi Indonesia adalah setara karena Indonesia adalah pemilik sumberdaya alam yang kaya. Sejarah berceritera lain. Suharto telah merusaknya dengan menelan bulat-bulat semua kepentingan dan apa yang diajukan atau dimaui terutama oleh kapitalis AS dan Jepang.
Kalau Bill Gates ketika ke Indonesia sudah mulai mengubah mindset-nya secara minimal dengan menyebut “Kapitalis Sosialis”. Sedangkan jauh sebelumnya Thomas D. Schauf pada tahun 1953 telah memperingatkan “The FED is slowly destroying America”. Dia telah meyakini bahwa Amerika Serikat hanya akan menjadi bangsa yang berjaya bila: “One nation under God.”

Dan disini ada preseden aktual (setelah kehebatan Bung Karno pada pertengahan abad ke 20), manakala seorang Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI, mampu mereformasi WHO dari kezaliman Amerika Serikat yang mengangkangi WHO selama 60 tahun sehingga membahayakan peradaban manusia di dunia. Setelah Reformasi berlalu lebih dari 10 tahun, maka cucilah otak para pengambil kebijakan Indonesia disini, bila sampai sekarang mereka tak juga mengamalkan ideologi negara Panca Sila dan UUD 1945 (yang pertama) yang telah menempatkan KETUHANAN YANG MAHA ESA, di atas segalanya.
Cardiyan HIS adalah alumnus Departemen Teknik Geodesi ITB, Bandung. Seorang penulis artikel, penulis buku dan editor buku antara lain buku best-sellers: “Saatnya Dunia Berubah” dan dalam bahasa Inggris “It’s Time for the World to Change” (Penerbit PT. Sulaksana Watinsa Indonesia, Jakarta 2008).

Author: Admin

Share This Post On

3 Comments

  1. Assalamu ‘alaikum Wr.Wb
    Selamat Sore;

    Data: Amerika menuju kebangkrutan!? Hampir semua orang Indonesia tak mempercayainya, paling tidak sampai enam bulan sebelumnya. Bahkan para orang “pinter” Indonesia yang alumni maupun yang masih mengikuti program pasca sarjana di World Class University (baca: Amerika Serikat) termasuk alumni ITB dengan pongahnya mengatakan: “… but the hell with the nationalism rhetoric, and did I said the hell with Jakarta, too?. Yang lain menambahkan: “I dont care about Bung Karno, Freeport Case, Suharto, Mafia Berkeley etc. Beside ITB alumni had known, it does not change much. So there was a problem in the past. What are we going to do in the future? I am engineer, not leader. That is my pragmatism. I guess. Can anybody use me in Indonesia? Not a single person in Indonesia has agreed to have an intelligent discussion to identify what I can do in Indonesia, for Indonesia”.

    Komentar : kalau bisa coba aja lagi ke sistem syariah Islam; mungkin aja kan ndak ada lagi krisis moneter di dunia , kalau ndak ada krisis kan enak rasanya selalu damai, he…………..he……………, tapi ngak mungkin kan……………….paling mimpi kali ye……………

    Terima Kasih

    Post a Reply
  2. Masa sih amerika bangkrut? orang dianya aja masih pecicilan di Iraq, Afganistan, Palestine dan Indonesia

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>