Menyikapi Imperialisme Gaya Baru

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz, Setelah lebih dari 62 tahun Indonesia merdeka, tetapi kenapa sikap pemerintah masih mengobral kekayaan milik rakyat kepada pihak asing ?
Terima kasih atas jawabannya.

Wassalam

Th. Dini (0271-750XXX)

Jawaban :

Wa’alaikum Salam Wr. Wb.

Audzubillah, bismillah, wassholatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.

Tanya Jawab: Imperialisme Gaya Baru - Penjajahan EkonomiUkhti Dini, sebuah negara ideologis akan selalu mempunyai konsep dan metode dalam politik internasionalnya. Konsep di sini maksudnya asas yang digunakan untuk membangun hubungan internasional dengan berbagai negara lain. Adapun metode adalah cara yang digunakan untuk menerapkan konsep tersebut.
Konsep dan metode politik itu bagi sebuah negara ideologis bersifat tetap, tidak berubah-ubah. Bagi negara non-ideologis, konsep, dan metodenya dapat berubah-ubah.

Negara berideologi kapitalis, misalnya AS, konsepnya adalah menyebarkan sekularisme. Metodenya adalah penjajahan (imperialisme), yaitu pemaksaan dominasi politik, militer, budaya, dan ekonomi kepada bangsa-bangsa yang dikuasai untuk diekspolitasi. Sebaliknya, negara berideologi Islam (Khilafah), konsepnya adalah menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Metodenya adalah jihad fi sabilillah
Dalam praktiknya, konsep dan metode politik tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk garis politik dan strategi politik. Garis politik adalah politik umum yang dirancang guna mewujudkan salah satu tujuan yang dituntut oleh penyebaran ideologi atau oleh metode penyebaran ideologi. Adapun strategi politik adalah politik khusus mengenai salah satu bagian langkah yang mendukung perwujudan atau pengokohan garis politik. Contohnya, garis politik AS di Irak (2003) adalah menduduki Irak dengan atau tanpa legitimasi internasional, lalu mendirikan sebuah pemerintahan Irak yang akan mendapat legitimasi internasional (dengan resolusi PBB) dan legitimasi lokal (dari penduduk Irak). Strategi politik untuk mewujudkan legitimasi lokal itu adalah dengan melaksanakan Pemilu Irak. Kemudian pemerintahan hasil Pemilu ini akan diarahkan untuk memberikan persetujuannya terhadap pendudukan AS.

Berbeda dengan konsep dan metode politik, garis dan strategi politik ini tidaklah tetap, tetapi dapat berubah-ubah. Contoh perubahan strategi politik adalah strategi AS di Dunia Islam. Pada tahun 50-an dan 60-an AS bertumpu pada revolusi-revolusi militer untuk menempatkan agen-agennya ke kursi kekuasaan. AS juga menggunakan bantuan-bantuan ekonomi seperti utang luar negeri serta apa yang dinamakan “pembangunan”. Sekarang, strategi AS bersandar pada solusi-solusi militer dan intimidasi serta kembali bersandar pada berbagai pakta dan pangkalan militer setelah sebelumnya tidak menggunakan cara-cara tersebut.

Beda Penyikapan

Ukhti Dini, Kita yakin, semua bangsa akan menolak penjajah, kecuali para komprador yang menjadi antek-antek penjajah. Yang berbeda adalah bagaimana cara menyikapi penjajahan itu.
Pertama: bersikap fatalis. Pasrah bangsa dan negerinya dijajah. Menganggap tidak ada yang bisa diperbuat karena para penjajah sangat kuat. Berlindung di balik takdir. Bangsa seperti ini kemudian menghibur diri bahwa Tuhan pasti akan menolong mereka. Sikap seperti ini jelas tidak menolong sama sekali. Penjajahan akan terus berlangsung, kalau tidak ada yang melakukan perlawanan.

Jelas fatalisme seperti ini. Islam mengajarkan kepada kita kaidah kausalitas (sebab-akibat) yang harus kita penuhi dalam beramal. Rasulullah saw. telah memberikan contoh kepada kita. Untuk bisa memenangkan perang, di samping berdoa dengan sungguh-sungguh dan penuh harap, Rasulullah juga merancang strategi perang dan menugaskan orang-orang yang memang mumpuni dalam berperang. Beliau tidak pernah hanya berdiam diri, berharap orang lain menerima dakwahnya. Beliau secara serius dan penuh pengorbanan tidak kenal lelah berdakwah, menyampaikan Islam ke seluruh pelosok negeri.

Kedua: pragmatis. Berpikir jangka pendek dan keuntungan sesaat. Bangsa seperti ini kemudian memilih bersikap kompromistis terhadap penjajahan. Dengan alasan penjajah Barat sangat berat untuk kita lawan, lebih baik kita mengikuti mereka, bekerjasama, sambil tetap meraih keuntungan, walaupun sedikit. Pragmatisme inilah yang sekarang dipilih oleh banyak penguasa negara berkembang.

Kekayaan negara dibiarkan dirampok atas nama investas asing dan pasar bebas. Perusahaan minyak asing masuk mengekploitasi minyak, emas, batubara, dan kekayaan alam lainnya. Adapun penguasa negeri Islam cukup puas hanya dengan mendapat pajak atau pembagian keuntungan yang sangat kecil. Alasannya, daripada kita diboikot AS atau diperangi oleh AS.

Untuk mendapat simpati AS atau khawatir diserang AS, negara seperti Saudi, Bahrain, Kuwait dan Turki, alih-alih menolong Irak, malah membantu AS. Negara-negara ini mempersilakan tanah dan udaranya digunakan militer negara penjajah ini. Dari pangkalan militer inilah Irak diserang dan puluhan ribu rakyat di Irak pun tewas. Musharaf, dengan alasan takut diserang AS, memberikan fasilitas dan kelancaran bagi negara-negara penjajah menyerang rakyatnya sendiri dan Afganistan.

Ketiga: perlawanan ideologis. Menolak sama sekali hubungan dengan negara-negara penjajah. Perlawanan ideologis ini dilakukan secara total dengan cara mengganti sistem ideologi Kapitalisme yang menjadi pangkal penjajahan.

Perlawanan ideologis juga ditunjukkan dengan menolak utang luar negeri yang ditawarkan negara-negara kapitalis, karena hanya merupakan perangkap; menolak masuknya perusahaan asing yang ingin merampok kekayaan alam negeri-negeri Muslim; tidak tunduk kepada instruksi IMF, Bank Dunia, dan PBB””institusi yang sesungguhnya merupakan alat politik penjajahan negara imperialis; tidak memberikan celah sedikit pun bagi negara asing untuk menguasai negerinya, melakukan upaya pecah-belah dan disintegrasi.

Perlawanan ideologis ini juga ditunjukkan dengan cara menerapkan syariah Islam dan Khilafah yang akan menghentikan penjajahan negara-negara kapitalis.

Khilafah akan mempersatukan umat dan menjadi negara adidaya yang membebaskan negeri-negeri Islam dari penjajahan. Dengan Khilafah sebagai negara adidaya, umat akan diperhitungkan oleh negara lain. Penghinaan terhadap rakyat akan dijawab dengan seruan jihad yang memobilisasi seluruh umat di dunia. Ini jelas akan menimbulkan ketakutan bagi negara-negara Kapitalis.

Tentu, perlawanan ideologis ini membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Namun, inilah pilihan yang dalam jangka panjang dan tuntas akan menyelesaikan persoalan umat. Sangat mungkin pada tahap awal umat akan mengalami kesulitan. Namun, kesulitan ini tidak akan berlangsung lama. Tegaknya Khilafah yang menerapkan syariah secara total akan menjamin kemakmuran, kesejahteraan, dan keamanan bagi rakyat.

Sebaliknya, dengan bersikap kompromistis, seakan-akan kita mendapat keuntungan. Kita, misalnya, mendapat hibah atau bantuan utang luar negeri. Padahal utang luar negeri justru menjerat negara, menimbulkan ketergantungan, dan pada gilirannya dijadikan alat untuk mendikte negeri ini. Bagi negara kapitalis, no free lunch (tidak ada makan siang gratis); pasti ada motif di balik semua itu. Bantuan AS ini hanya gincu saja untuk menutupi agenda jahatnya. Agar tampak manis AS memberi bantuan jutaan dolar. Namun, melalui Exxon, Freeport, Caltex, Newmont, dsb, AS mendapat ratusan miliar dolar dari penguasaan sumberdaya alam di negeri ini.

Sikap pragmatis dan kompromis kepada penjajah membuat kita lemah dan tidak punya harga diri. Akibatnya, umat tampak lemah menyelamatkan saudaranya di Bosnia, Irak, Palestina dan Afganistan. Berbagai penghinaan pun terus berlangsung. Karena dikontrol oleh negara maju, penguasa negara berkembang memilih diam, mengecam seadanya, dan tidak melakukan tindakan kongkret.
Bagaimana dengan pilihan anda ? Semua pilihan pasti ada konsekuensinya yang harus dipertanggungjawabkan di akherat kelak !

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

M. Sholahuddin

Author: Admin

Share This Post On

1 Comment

  1. Salut dengan pandangan yang tajam, visioner, dan semangat memperjuangkan moral dan hati nurani dari Bapak M. Sholahuddin, di tengah kesemrawutan jaman sekarang akibat sifat terlalu materialistis dan rakus dari para neokapitalisme.
    Jonathan

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *