Mengulik Peruntungan dengan Suku Bunga Negatif

Oleh M. Hatta., SE., MSI*

Di tengah semakin tidak menentunya kondisi ekonomi dunia, terkadang kita dapati ada saja peristiwa – peristiwa di bidang ekonomi yang mengejutkan. Tercatat misalnya adalah harga minyak mentah dunia yang anjlok secara drastis dari harga tertingginya yang mencapai $US115 menjadi $US28 per barrelnya. IMF bahkan memperkirakan mencapai $US20 per barrel di tahun 2016. Akibatnya, satu persatu perusahaan – perusahaan raksasa minyak dunia bertumbangan mengalami kerugian yang dalam dan akhirnya memicu PHK massal di sejumlah negara termasuk di Indonesia.

Perusahaan BP (british petroleum) misalnya, tercatat mengalami kerugian terbesar mencapai $US6,5 milyar dan telah merumahkan tidak kurang dari 1.800 karyawannya di seluruh dunia. Begitu pula perusahaan migas lainnya seperti Chevron yang merumahkan setidaknya 1.500 karyawan dan mencatat penurunan laba mencapai 76% dari sebelumnya.

Peristiwa lainnya yang tidak kalah menghenyakkan dunia adalah jatuh bangkrutnya (default) negara Yunani di paruh pertama tahun 2015 yang notabenenya adalah negara anggota dari Uni Eropa. Sebelumnya Yunani adalah negara yang memiliki predikat ekonomi yang membuat kagum banyak pihak pasca bergabungnya dengan zona Euro di tahun 2001. Namun kondisi tersebut ternyata tidak bertahan lama, data statistik yang tadinya menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang baik secara mengejutkan berubah menjadi data yang membuat pusing negara – negara anggota utama dari Uni Eropa seperti Jerman dan Perancis.

Memasuki tahun 2016, peristiwa yang mengejutkan datang dari negeri samurai Jepang. Tepat tanggal 29 Januari 2016 bank sentral Jepang telah memutuskan untuk menjalankan kebijakan suku bunga negarif. Negara samurai yang juga dijuluki dengan negara matahari ini sebelumnya juga telah menempuh berbagai kebijakan ekonomi guna mendorong roda ekonomi yang telah lama berada dalam kondisi lemah berkepanjangan sejak tahun 1992 (GDP 0,8%) dan mengalami setidaknya empat kali resesi sejak terjadinya krisis keuangan global hingga saat ini.

Beberapa tahun sebelumnya di paruh pertama tahun 2014, lebih dulu daripada Jepang, empat bank sentral (Denmark, Swiss, Swedia, dan Bank Sentral Uni Eropa) di Eropa juga telah mengambil kebijakan suku bunga negatif.

Akankah ujicoba peruntungan negara Samurai dengan kebijakan suku bunga negatifnya mampu memecah kebuntuan kondisi ekonomi yang sedang terjadi?

Menguji Suku Bunga Negatif

Suku bunga (interest rate) adalah salah satu dari sekian banyak intstrumen kebijakan moneter yang dimiliki setiap bank sentral. Bahkan, tingkat suku bunga seringkali menjadi instrumen andalan (primary) dalam mengendalikan pergerakan ekonomi moneter.

Secara teoritik, kebijakan suku bunga terbagi menjadi dua macam, yaitu kebijakan moneter longgar (easy monetary policy) dengan cara menurunkan suku bunga dan kebijakan moneter ketat (tight monetary policy) dengan cara menaikkan tingkat suku bunga. Kebijakan moneter ketat sejak awal diperuntukkan pada kondisi ekonomi dimana angka inflasi mengalami kenaikan. Harapannya, ketika tingkat suku bunga dinaikkan maka jumlah uang yang terlalu banyak mengejar barang akan berkurang dan melemah disebabkan tertariknya ke dalam lembaga keuangan.

Sebaliknya, kebijakan moneter longgar dengan cara menurunkan tingkat suku bunga ditujukan untuk mendorong roda ekonomi yang sedang berjalan lambat. Sebagai contoh adalah kebijakan moneter longgar yang dijalankan oleh negara – negara maju seperti Amerika Serikat dan sebagian negara anggota dari Uni Eropa.

Berhasilkah dua jenis kebijakan moneter tersebut?

Lahirnya kebijakan baru suku bunga negatif di dunia moneter itu sendiri sebenarnya sudah cukup sebagai dalil bahwa kebijakan moneter longgar tidak mampu menjadi obat manjur perlambatan ekonomi. Terlebih hal ini telah didukung oleh sejumlah bukti statistik yang menunjukkannya.

Tabel


Kegagalan Suku Bunga Negatif

Meskipun jepang sudah jauh – jauh hari menjalankan kebijakan moneter longgar, pergerakan GDP tampak tidak terlalu terpengaruh. Di tahun 1995, Jepang sudah pernah menetapkan suku bunga hingga 0,9%. Namun nyatanya laju roda ekonomi tampak sangat sulit untuk bisa kembali bisa melaju. Bahkan angka GDP mencapai rekor terburuk yang menyentuh minus 2,0% di tahun 1998.

Suku bunga negatif dimaksudkan untuk semakin menstimulan lembaga – lembaga keuangan meyalurkan pundi – pundi kekayaannya kepada sektor riil, bukan di eramkan di bank sentral. Dengan kata lain, suku bunga negatif diharapkan meningkatkan fungsi intermediasi yang terputus.

Gambaran sederhana dari keterputusan intermediasi lembaga keuangan perbankan tersebut seperti layaknya benalu bagi perbankan (negara). Betapa tidak, ketika seharusnya lembaga perbankan melakukan kerjasama dengan sektor riil demi mendorong pertumbuhan ekonomi yang sedang melambat bahkan stagnan, ternyata mereka hanya memikirkan bagaimana bisa meraup keuntungan sebanyak mungkin untuk diri mereka. Kesempatan mendapatkan rente ini difasilitasi oleh kebijakan bank sentral yang disebut dengan sertifikat bank Indonesia (SBI). Padahal, sumber dana bank sentral (seperti Bank Indonesia) untuk bisa membayar bunga dari uang yang dieramkan oleh perbankan tidak lain berasal dari negara (rakyat). Perilaku ini persis seperti perilaku tumbuhan benalu yg hidup dengan menghisap (parasit) makanan (air dan unsur hara) dari tumbuhan lain (inang) yang ia tumpangi.

Memang, bank sentral bisa saja untuk menurunkan suku bunga (bahkan negatif) agar perbankan tidak tertarik mengeramkan dananya di bank sentral, namun bagi perbankan kondisi itu tidak menunjukkan “dunia akan berakhir”. Perbankan masih bisa menempatkan dana besar mereka kedalam investasi – investasi lainnya yang bersedia memberikan return besar dan cepat seperti pasar modal, pasar komoditi, dan surat utang negara – negara berkembang seperti Indonesia. Dana investasi seperti inilah yang seringkali menyebabkan kurs rupiah bisa terapresiasi dengan cepat, dan sebaliknya juga mampu menghancurkan nilai rupiah (depresiasi) dalam sekejap.

Muncul pertanyaan lanjutan, kenapa negara – negara berkembang seperti Indonesia tidak menurunkan juga suku bunga acuannya?  Bisa saja itu dilakukan, namun dengan konsekuensi dolar (hot money) akan hengkang dari Indonesia dan memukul secara langsung nilai rupiah. Sebuah dilema tanpa tepi (lihat gambar Dilema Kebijakan Moneter Longgar dan Ketat).

Meskipun masih terdapat kebijakan moneter lainnya seperti limitasi pergerakan modal, baik dari sisi waktu, jumlah dan underlying transaction, yang konon dianggap banyak pihak cukup mampu meredam flight money tampaknya hanya akan menjadi obat analgesik (penahan sakit). Belum mampu mengobati akar penyakit sistem keuangan yang berjalan seperti kecendrungan perilaku menimbun kekayaan (kanz al mal), sistem cadangan sebagian (fractional reserve requirement) dan tentunya fiat money (mata uang kertas) yang berdiri kokoh menjadi bagian sistem keuangan. Padahal, tiga komponen tersebutlah yang selama ini menjadi biang keladi kemandulan kebijakan moneter.

Wallahu’alam bi as-shawab

*Dosen Tetap Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Balikpapan (STIEPAN) dan Sekjen Institut Ekonomi Ideologis (IEDe)

Bagan

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *