Mengontekstualkan Kapitalisme

PEMIKIRAN EKONOMI

oleh: M. Hatta

Seiring semakin disadari dan dirasakan oleh banyak manusia akan bau busuk dari sistem ekonomi Kapitalisme. Seiring dengan hal itupula terlahirlah banyak respon terhadapnya, ada yang merespon dengan cara menolaknya secara totalitas dan ada pula yang masih mencoba mencari yang bermanfaat darinya.

Bentuk respon yang kedua inilah yang dipilih oleh SBY setelah sebelumnya dikatakan sering kali mengambil kebijakan ala neo liberal yang merupakan salah satu varian dari Kapitalisme. Bentuk responnya itu ia namai dengan ekonomi jalan tengah.

Jauh-jauh hari sebelum SBY, Ide mengontekstualkan konsep Kapitalisme sejatinya juga sudah dilontarkan oleh beberapa ekonom yang menyadari betapa hebatnya kerusakan yang ditimbulkan dari penerapan sistem ekonomi Kapitalisme.

Selain para ekonom, di kalangan para pemikir liberal juga sering kali menggunakan ide ini dalam diskursus hukum-hukum Islam yang mereka tuduh sudah tidak lagi sejalan dengan zaman modern. Sebagai contoh adalah pendapat mereka terkait dengan hukum Islam tentang kewajiban berjilbab bagi seorang Muslimah.

Antara Mengontekstualkan dan Pragmatisme

Ide mengontekstualkan sebuah konsep sejatinya lahir dari sebuah pemikiran yang pragmatis. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works).

Dalam konteks judul artikel ini, wujud dari sikap pragmatis adalah ketiadaan standar dalam menilai mana yang harus diambil dari sistem ekonomi Kapitalisme yang kemudian dikontekstualkan dengan Bangsa Indonesia. Kalau kemudian dikatakan bahwa standar yang digunakan adalah nilai-nilai dan budaya bangsa Indonesia, nilai-nilai dan budaya Indonesia seperti apa yang hendak dijadikan standar?

Padahal, ketiadaan standar tersebut akan berdampak sangat parah. Sebagai misal, Kapitalisme mengajarkan bahwa, pasar harus dibuka seluas-luasnya bagi setiap orang untuk berusaha dan berkompetisi. Ide ini, sudah sangat dikenal oleh banyak ekonom yang jujur dan kritis adalah rusak. Lantas, bagi orang yang hendak mengontekstualkan ide ini dengan bangsa Indonesia mau menggunakan standar apa agar ide ini ketika diterapkan di Indonesia tidak membawa dampak buruk.

Singkat kata, ide mengontekstualkan sebuah konsep ditinjau dari segi epistemologi sangatlah bermasalah.

Sikap Seorang Muslim Terhadap Ide ini

Apabila diibaratkan sebuah pohon, maka Kapitalisme mulai dari akar hingga buah yang dihasilkannya sejatinya adalah racun yang bisa membunuh siapa saja dan bahkan mampu memusnahkan umat manusia. Hanya sedikit dari buahnya yang ada bisa memberikan manfaat bagi manusia, itupun apabila sebelumnya sudah diberikan pembersihan dari virus-virus yang bersarang di dalamnya dengan menggunakan anti virus.

Sebagai contoh dalam hal ini adalah ilmu manajemen. Ilmu manajemen yang ada saat ini banyak mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan ideologi Islam, sehingga harus diberi perlakuan koreksi dan internalisasi dengan nilai-nilai Islam (islamic values).

Oleh karenanya, pandangan dan respon yang tepat bagi seorang Muslim terhadap Kapitalisme adalah tidak mengambil, tidak meyakininya, serta senantiasa bersikap kritis dalam memandangnya. Lebih dari itu, seorang Muslim juga dituntut untuk terlibat aktif menjelaskan kebusukannya sekaligus menghancurkannya sampai ke akarnya. Wallahu’alam bi ash Shawab. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS/ www.jurnal-ekonomi.org]

M. Hatta adalah aktivis Hizbut Tahrir Indonesia Sleman dan mahasiswa Pasca Sarjana Magister Studi Islam Universitas Islam Yogyakarta Konsentrasi Ekonomi Islam.

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *