Mengkaji Ulang Metode Ilmiah Sebagai Asas dalam Berpikir

PARADIGMA PEMIKIRAN

Oleh: M. Hatta

Dewasa ini, ada kecendrungan-kalau tidak mau dikatakan sepenuhnya- para pemikir atau ilmuan berpersepsi bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya metode yang diterapkan dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Bahkan, ia juga dijadikan landasan atau sebagai asas dalam berpikir. Lebih dari itu, terjadi pensakralan terhadapnya.

A. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kita ketahui bersama, bahwa di era post-modern saat ini telah begitu banyak ditemukan penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan tersebut dapat kita rasakan hampir dalam segala bidang dan lingkungan di mana kita berada. Misalnya, keberadaan ilmu tekhnologi yang semakin hari semakin canggih.

Hasil penemuan baru tersebut tentunya melalui sejumlah proses yang memakan waktu cukup relatif panjang. Hal ini (semakin pesatnya penemuan-penemuan baru) merupakan suatu yang tidak dapat terelakkan lagi, karena ia merupakan tuntutan dari keberadaan manusia itu sendiri, yakni keberadaan kebutuhan dan keinginan manusia yang semakin tinggi dan beragam.

Di dalam proses penemuan sains tersebut kita mengenal yang namanya metode ilmiah sebagai jalan untuk meraih hasil yang sesuai “standar” ke Ilmuan. Sains yang terus berkembang bisa dikatakan merupakan impac dari adanya revolusi industri yang terjadi di Eropa. Revolusi industri membawa perubahan besar dalam berbagai aspek. Corak-corak metodologis yang dikembangkan menyebabkan ilmu pengetahuan bersifat posivistik, deterministik, evolusionistik, sehingga segala sesuatu harus dijelaskan dengan metode kuantitatif dan eksperimental melalui observer.

Dewasa ini, ada kecendrungan-kalau tidak mau dikatakan sepenuhnya- para pemikir atau ilmuan berpersepsi bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya metode yang diterapkan dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Bahkan, ia juga dijadikan landasan atau sebagai asas dalam berpikir. Lebih dari itu, terjadi pensakralan terhadapnya.

Rumusan Masalah

Makalah ini bermaksud ingin mengkaji ulang apakah metode ilmiah layak untuk dijadikan sebagai basis (asas) dalam aktivitas berpikir atau tidak? Serta sejauh mana sebenarnya cakupan dari metode Ilmiah dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai ilmu pengetahuan? Dan metode berpikir apa yang layak dijadikan sebagai basis dan landasan dalam berpikir?

B. PEMBAHASAN

1. Hakekat Berpikir

Dalam keseharian kita, ketika beraktivitas dalam lingkungan masing-masing, bisa dipastikan bahwa aktivitas tersebut tidak bisa lepas dari yang namanya berpikir. Hanya saja memang, tingkat daya pikir tersebut masing-masing berbeda pada setiap orang.

Berpikir bisa dikatakan merupakan suatu aktivitas yang sangat penting. Karena tanpanya, manusia akan berada dalam suasana yang gelap dan hampa. Manusia tidak akan mampu mengenal lingkungan tempat dia tinggal, siapa pencipta alam jagad raya ini, bahkan ia pun tidak akan mampu mengenal dirinya dan hakikat keberadaannya di dunia tanpa melalui sebuah aktivitas berpikir.

Berpikir juga bisa dikatakan suatu hal yang alamiah (fitrah atau natural) bagi setiap manusia -yang sehat atau tidak gila- dikarenakan adanya “unsur-unsur” ciptaan yang telah diciptakan oleh Allah Swt.

Dalam proses berpikir, sejatinya melibatkan unsur-unsur tertentu, yakni:

a. Otak yang sehat

b. Panca indra

c. Informasi sebelumnya

d. Adanya fakta

Dari empat unsur di atas dapat kita rangkai sebuah definisi sebagai berikut: “Pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak yang disertai adanya informasi-informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut”. Definisi ini sekaligus juga merupakan definisi bagi akal, pemikiran, proses berpikir.

2. Metode Berpikir Rasional dan Metode Berpikir Ilmiah

2.1 Definisi Dari Metode

Dalam kamus besar bahasa Indonesia di sebutkan, bahwa metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dsb) atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Peter R. Senn mengatakan, metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Dan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut.

Dari dua macam pendapat di atas dapat kita padukan menjadi; metode adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai dan mengetahui maksud atau tujuan yang telah ditentukan yang dengannya tujuan tersebut dapat dicapai dengan mudah.

2.2 Metode Berpikir Ilmiah

Istilah dari Metode berpikir ilmiah ini sebenarnya dipinjam dari tulisannya Taqiyuddin an-Nabhani dalam bukunya at-Tafkir. Ia menyebut metode ilmiah dengan metode berpikir ilmiah.

Penelitian sebagai suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia ke ilmuan disebut metode. Dan untuk menegaskan bidang ke ilmuan itu seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).

Dictionary of Behavioral Science memberikan definisi metode ilmiah dengan “Tekhnik-tekhnik dan prosedur-prosedur pengamatan dan percobaan yang menyelidiki alam yang dipergunakan oleh ilmuawan-ilmuwan untuk mengolah fakta-fakta, data, dan penafsirannya sesuai dengan asas-asas dan aturan-aturan tertentu.

Arturo Rosenblueth mengatakan “Metode ilmiah adalah suatu prosedur dan ukuran yang dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dalam penyusunan dan pengembangan cabang pengetahuan khusus mereka”.

Selanjutnya, James B. Conant memberikan rumusan metode ilmiah menjadi delapan langkah, yakni sebagai berikut:

a. Kenali bahwa suatu situasi yang tak menentu ada. Ini merupakan suatu situasi bertentangann atau kabur yang mengharuskan penyelidikan.

b. Nyatakan masalah itu dalam istilah spesifik

c. Rumuskan suatu hipotesis kerja

d. Rancang suatu metode penyelidikan yang terkendalikan dengan jalan pengamatan atau dengan jalan percobaan ataupun kedua-duanya.

e. Kumpulkan dan catat bahan pembuktian atau data “˜kasar’.

f. Alihkan data kasar ini menjadi suatu pernyataan yang mempunyai makna dan kepentingan.

g. Tibalah pada suatu penegasan yang tampak dapat dipertanggungjawabkan. Kalau penegasan itu betul, ramalan-ramalan dapat dibuat darinya.

h. Satu padukan penegasan yang dapat dipertanggungjawabkan itu, kalau terbukti merupakan pengetahuan baru dalam ilmu, dengan kumpulan pengetahuan yang telah mapan.

2.2.1 Kelemahan-kelemahan dari Metode Berpikir Ilmiah

Kelemahan metode ilmiah dapat kita lihat dari segi cakupan atau jangkauan dari kajiannya, asumsi yang melandasinya, dan kesimpulannya bersifat relatif. Dengan penjelasan sebagai berikut:

a. Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objek-objek material yang dapat di indera. Metode ini khusus untuk ilmu-ilmu eksperimental. Ia dilakukan dengan cara memperlakukan materi (objek) dalam kondisi-kondisi dan faktor-faktor baru yang bukan kondisi dari faktor yang asli. Dan melakukan pengamatan terhadap materi tersebut serta berbagai kondisi dan faktornya yang ada, baik yang alami maupun yangtelah mengalami perlakuan. Dari proses terhadap materi ini, kemudian ditarik suatu kesimpulan berupa fakta materialyang dapat diindera.

b. Metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapusan seluruh informasi sebelumnya tentang objek yang akan dikaji, dan mengabaikan keberadaannya. Kemudian memulai pengamatan dan percobaan atas materi. Ini dikarenakan metode ini mengharuskan kita untuk menghapuskan diri dari setiap opini dan keyakinan si peneliti mengenai subjek kajian. Setelah melakukan pengamatan dan percobaan, maka selanjutnya adalah melakukan komparasi dan pemeriksaan yang teliti, dan akhirnya merumuskan kesimpulan bersarkan sejumlah premis-premis ilmiah.

c. Kesimpulan yang didapat ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan).

Kelemahan-kelemahan yang ada pada metode ilmiah ini juga diungkapkan dalam literatur lain. Dikatakan, bahwa “…Pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat konkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Secara ontologi, ilmu membatasi dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal inilah yang memisahkan antara ilmu dan agama…perbedaan antara lingkup permasalahan yang dihadapinya juga menyebabkan berbedanya metode dalam memecahkan masalah tersebut”.

Dikatakan pula, “…proses pengujian ini tidak sama dengan pengujian ilmiah yang berdasarkan kepada tangkapan pancaindra, sebab pengujian kebenaran agama harus dilakukan oleh seluruh aspek kemanusiaan kita seperti penalaran, perasaan, intuisi, imajinasi di samping pengalaman”. “Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kelompok ilmu…demikian juga halnya dengan bidang sastra yang termasuk dalam humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuaannya”.

Muhammad Abdurrahman dalam bukunya at-Tafkeer juga mengatakan hal senada dengan yang telah disebutkan di atas. Ia mengatakan, bahwa metode ilmiah tidak bisa diterapkan pada ilmu yang termasuk dalam humaniora, hal ini dikarenakan bidang-bidang yang termasuk ke dalam humaniora tidak membahas perkara-perkara fisik yang dapat diukur dan diujicobakan. Meskipun demikian, beberapa aspek pengetahuan tersebut dapat menerapkan metode ilmiah dalam pengkajiaannya, misalnya saja aspek pengajaran bahasa sastra dan metematika. Dalam hal ini masalah tersebut dapat dimasukkan ke dalam disiplin ilmu pendidikan yang mengkaji secara ilmiah berbagai aspek proses belajar-mengajar.

2.3 Metode berpikir Rasional; Asas Dalam Berpikir

Metode rasional adalah metode tertentu dalam pengkajian yang ditempuh untuk mengetahui realitas suatu yang dikaji, dengan jalan memindahkan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak, disertai dengan adanya sejumlah informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut, selanjutnya, otak akan memberikan penilaian terhadap fakta tersebut. Penilaian ini adalah pemikiran atau kesadaran rasional.

Tidak sebagaimana halnya metode ilmiah, metode rasional dapat diterapkan pada objek-objek material yang dapat diindera, namun, juga dapat diterapkan pada objek non material atau yang dikenal dengan namanya humaniora dan pemikiran-pemikiran. Metode berpikir rasional adalah suatu proses berpikir tentang realitas atau masalah yang dihadapi sebagaimana adanya.

Metode rasional indentik dengan definisi dari akal itu sendiri. Dengan menggunakan metode ini, manusia akan mencapai sebuah kesadaran tentang hal apa pun. Metode ini merupakan saatu-satunya metode berpikir. Adapun metode ilmiah (scientific method) dan yang disebut dengan metode logika (logical method) adalah merupakan cabang dari meode rasional atau merupakan salah satu cara yang dituntut dalam pengkajian sesuatu.

2.3.1 Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Penggunaan Metode Rasional

Dalam menggunakan metode berpikir rasional ada beberapa hal yang patut untuk kita perhatikan, yakni:

a. Dalam pendefinisian metode rasional harus membedakan antara opini (pendapat) terdahulu tentang sesuatu dengan informasi terdahulu tentang sesuatu atau tentang apa yang berkaitan dengan sesuatu itu. Yang ada pada metode rasional haruslah informasi terdahulu bukan opini terdahulu atau pendapat. Opini terdahulu tidak boleh masuk dalam aktivitas berpikir, apabila ini terjadi -yakni adanya informasi terdahulu dalam berpikir- maka akan mengakibatkan kekeliruan dalam memahami sesuatu.

b. Kesimpulan (konklusi) yang telah dihasilkan dari metode berpikir rasional harus dilihat terlebih dahulu berkenaan dengan penilaian terhadap objek yang menjadi penilaian. Jika kesimpulan tersebut adalah hasil dari penilaian atas keberadaan (ekisistensi) sesuatu, maka kesimpulannya adalah bersifat pasti (definite).

Adapun, jika kesimpulan terebut adalah hasil dari penilaian atas realitas (al-Haqiqah) dari sesuatu, atau sifat (karakteristik) dari sesuatu, maka kesimpulan tersebut bersifat dugaan, yang mengandung kemungkinan salah. Akan tetapi, kesimpulan yang ada tetap merupakan pemikiran yang tepat hingga terbukti kesalahannya.

C. KESIMPULAN

Berdasarkan paparan penulis di atas maka, dapat kita simpulkan bahwa metode berpikir ilmiah tidaklah layak untuk dijadikan sebagai asas bagi metode berpikir. Hal ini disebabkan, ia hanya dapat diterapkan pada objek-objek material yang dapat di indera, dan kesimpulan yang dihasilkan darinya tidaklah bersifat pasti. Dengan kata lain, metode ilmiah hanya dapat diterapkan pada ilmu yang sifatnya adalah eksperimental atau non-humaniora.

Metode berpikir ilmiah dianut dan dikembangkan oleh orang-orang Barat setelah mereka menyadari pengaruhnya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Namun kemudian, penggunaan dari metode ini mengalami perluasan -diterapkan pada hal-hal yang tidak bisa menggunakan metode ini-. Akibatnya, terjadi pencampuradukan antara science dan bidang pengetahuan yang bukan termasuk science yang notabenenya tidak dapat menggunakan metode yang sama.

Adapun metode berpikir yang layak untuk dijadikan sebagai asas dalam metode berpikir adalah metode berpikir rasional. Metode berpikir inilah kiranya yang harus menjadi metode berpikir setiap manusia terlebih-lebih bagi kaum Muslimin.

M. Hatta adalah mahasiswa MSI UII Yogyakarta Konsentrasi Ekonomi Islam

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. 2005. At-Tafkeer, Alih bahasa oleh Abu Faiz. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah

An-Nabhani, Taqiyuddin. 2003. At-Tafkir, alih bahasa oleh Taqiyuddin as-Siba’I. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah

Abdullah, Muhammad Husain. 2003. Mafahim Islamiyah; Menajamkan Pemahaman Islam. Bangil: Al-Izzah

Athiyat, Ahmad. 2004. At-Thariq, alih bahasa oleh Dede Koswara. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah

Departemen Pendidikaan dan Kebudayaan. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Universitas Terbuka. 1985. Materi Dasar Pendidikan Program Akta Mengajar V

Gie, Liang. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta

Ismail, Muhammad Muhammad. 2004. Al-fikru al- Islamy, alih bahasa oleh A. Haidar. Bangil: Al- Izzah

Unal, Ali. 1998. Islam Addresses Contemporary Issues. Turkey: Caglayan A.S

Author: Admin

Share This Post On

2 Comments

  1. aww. akhi
    tadinya sy mo masuk ke e-syariah.org, tp pas mau log in ternyata ada rekomendasi ke situs ini. sy sungguh appreciate pada tulisan akhi pertahankan situs ini. jazakalloh khoir
    good abizz

    Terima kasih. Salam dari Jurnal Ekonomi Ideologis

    Post a Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. Mengkaji Ulang Metode Ilmiah Sebagai Asas dalam Berpikir | demiosteven - [...] Mengkaji Ulang Metode Ilmiah Sebagai Asas dalam Berpikir, dari situs jurnal-ekonomi.org [...]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *