Dialog Intern Umat Islam se-Kalimantan Selatan

Forum Kerukunan Umat Beragama Banjarbaru Kalimantan Selatan pada Sabtu 8 Desember 2007 menyelenggarakan kegiatan Dialog Intern Umat Islam se-Kalimantan Selatan di Aula Gawi Sabarataan Pemko Banjarbaru. Acara yang menghadirkan KH. M. al-Khaththath(Pengurus MUI Pusat/Sekjen Forum Umat Islam/DPP), Drs. H. Anwar Abbas, M.Ag(Sekretaris MUI Pusat/PP Muhammadiyah), Prof. Dr. Said Agil Sirajd, MA
(PB Nahdlatul Ulama)

fkub1.jpg fkub1.jpg
fkub1.jpg fkub1.jpg
fkub1.jpg fkub1.jpg

Dialog “Mencari Format Ummatan Wahidah“

fkub-banjarbaru1.jpg

Banjarbaru, DPD II HTI Bjb. Press. Di penghujung tahun 2007 ini, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Banjarbaru Kalsel dengan bekerja sama PC NU Kota Banjarbaru, Muhammadiyah Kota Banjarbaru, dan DPD II HTI Banjarbaru menggelar kegiatan dialog yang bertema “Mencari Format Kerukunan Ummatan Wahidah“ tepatnya pada Sabtu, 8 Desember 2007. Kegiatan yang diselenggarakan dengan cakupan setingkat Kalsel ini menghadirkan Prof. DR. KH. Said Agil Siradj, MA (Ketua PBNU), Drs. H. Anwar Abbas, M.Ag, MM (Sekretaris MUI Pusat/PP Muhammadiyyah), dan KH Muhammad Al Khaththath (Sekjen FUI/MUI Pusat/DPP HTI) sebagai pembicara. Audiens yang dihadirkan juga sangat beragam dari berbagai kalangan internal umat Islam, yaitu MUI se-Kalsel, FKUB se-Kalsel, NU, Muhammadiyah, HTI, Alirsyad, penyuluh agama Depag, dan berbagai forum serta tokoh umat islam.

KH. M. al Khaththath dalam pengantarnya menjelaskan bahwa saat ini kaum muslimin terpecah-pecah baik dalam kelompok-kelomok maupun negara-negara kecil. Sehingga mudah diadu domba. Beliau menjelaskan bahwa di dalam sejarahnya, bentuk nyata dari persatuan kaum muslimin sejak jaman Rasulullah adalah dalam satu kesatuan Negara Islam. Kesatuan tersebut pascawafatnya Rasulullah dilanjutkan para sahabat dalam bentuk Khilafah. Oleh sebab itu perjuangan menyatukan kaum muslmin saat ini tidak terlepas dari upaya menegakkan Khilafah Islamiyah itu sendiri. Itulah sejatinya bentuk persatuan dan kesatuan kaum muslimin.

Anwar Abbas, sebagai pembicara kedua, menilai bahwa forum diskusi yang diselenggarakan FKUB bersama ormas Islam ini sangat positif. “Saya memandang apa yang dilakukan oleh kawan-kawan di Banjarbaru ini adalah sesuatu hal yang positif dan (sesuatu) pikiran yang mulia. Semakin kuat persatuan dan kesatuan kita semakin kuatlah kita, semakin lemah persatuan dan kesatuan kita maka semakin amburadullah kita semua”, demikian papar beliau. Bapak yang aktif di bidang ekonomi Islam praktis ini juga selalu menekankan dan mendorong agar kaum muslimin memperhatikan dan membangun ekonominya. Beliau mengingatkan bahwa kefakiran akan mendekatkan kepada kekufuran.

Dari berbagai pemaparan pembicara, pernyataan dan pertanyaan audiens, serta penjelasan atas pertanyaan audies, banyak sekali bekal dan ilmu yang dapat diambil. Misalnya tentang isu penerapan syariat Islam. Seperti yang dipahami selama ini bahwa isu penerapan syariat Islam merupakan isu bersama. Hampir semua ormas Islam menginginkannya. Tak terkecuali NU. Seperti yang diungkapkan oleh KH. Said Agil Siradj bahwa NU juga menginginkan pelaksanaan Syariat Islam. Hal tersebut ditekankan beliau berkali-kali dalam berbagai kesempatan ketika menyampaikan pengantar maupun menjawab pertanyaan peserta. “NU memperjuangkan agar syariat Islam berlaku ditengah-tengah masyarakat Indonesia”, terang beliau. Di kesempatan yang lain beliau mengatakan, “NU berlandaskan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, memperjuangkan berlakunya Syariat Islam. Jadi NU berjuang agar syariat Islam berlaku”. Beliau juga menyatakan bahwa, “Saya juga NU, memperjuangkan agar masyarakat Islam menjalankan syariat Islam”.

fkub-banjarbaru2.jpg

Dialog berjalan sangat seru, isu mengalir dan mengkristal tentang syariat Islam. Ketika diserukan oleh salah seorang peserta untuk memperjuangkan “rumah yang kokoh” -sebagai analogi oleh Said Agil untuk suatu rumah yang terdiri dari pondasi (berupa aqidah) yang kokoh, dinding (berupa akhlaq) yang kuat, dan atap (berupa syariat Islam) yang bagus- Said Agil juga mengamininya. Beliau berkata, “Kita harus memperjuangkan rumah yang kokoh tersebut! Rumah yang kokoh itu apa? Pondasi aqidah kokoh, akhlaq (dinding) yang kuat, dan syariat yang dijalankan, berupa atapnya”.

Said Agil Siradj memandang bahwa sinergi antar ormas harus dibangun. Ketika ditanya bagaimana menyatukan umat Islam oleh salah seorang audiens, beliau menjawab, “Saling menghargai!”. NU dengan Muhammadiyah harus saling menghargai, saling membangun kepercayaan. Saya dengan Muhammadiyah saling menghormati. Saya dengan Hizbut Tahrir sama, saling menghargai tidak saling memojokkan dan tidak saling mengecilkan. Masalah-masalah masa lalu ditinggalkan saja, tahlil ga tahlil, yang terawih 8 yang terawih 20 silakan, usholli-kah ga usholli-kah silakan!” demikian jawab beliau.

Meskipun terdapat beberapa pandangan yang berbeda dalam menyikapi fakta sejarah dan kondisi umat saat ini, semua menyadari bahwa pembinaan umat merupakan tanggung jawab bersama. Dan menjadi tugas bersama untuk memperjuangkan kemulian Islam.

[LI DPD II Banjarbaru]

Author: Admin

Share This Post On

2 Comments

  1. Ass…
    alhamdulillah…semoga ukhuwah yang hakiki akan terwujud dalam bingkai sinergi dakwah antar elemen umat menuju tatanan syariah dan khilafah…amin…
    wass…

    Post a Reply
  2. Aww..
    Ya begitulah semestinya kaum muslimin, saling bersatu… Jangan saling fitnah. Saat ini musuh kita jelas, Amerika bersama anteknya, itulah musuh bersama… Mari bersatu memeranginya!

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *