Makin Terpuruk Bersama IMF

oleh: Joseph Stigliz

Pertemuan IMF selama dua pekan (Juni 2000 — red) di Washington akan merangsang kedatangan sebagian besar demonstran yang sama, yang telah menghebohkan pertemuan WTO di Seattle musim gugur yang lalu. Mereka akan menuduh bahwa IMF (amat) angkuh. Mereka akan mengatakan bahwa IMF tidak sungguh-sungguh mendengarkan (keluhan) dari negeri-negeri yang sedang berkembang yang harus ditolongnya.

Mereka akan mengatakan bahwa (sidang-sidang IMF) bersifat rahasia dan terisolir dari pertanggungjawaban demokratik. Mereka akan mengatakan bahwa ‘resep’ IMF seringkali menyebabkan lebih memburuknya keadaan — kelambatan ekonomi menjadi resesi, dan resesi menjadi depresi.

Dan, ada kebenaran dalam apa yang mereka katakan itu. Saya pernah menjadi ahli ekonomi senior pada World Bank antara tahun 1996 sampai bulan Nopember 1999, selama krisis ekonomi global yang paling parah dalam setengah abad terakhir ini. Saya menyaksikan bagaimana caranya IMF memberikan reaksi terhadap krisis tersebut, bergandengan tangan dengan Departemen Keuangan Amerika Serikat. Dan saya sangat kaget.

Krisis ekonomi global ini bermula di Thailand pada tanggal 2 Juli 1997. Negara-negara di Asia Timur telah mengalami kemajuan yang sangat mengesankan selama tiga dasawarsa: pendapatan telah meningkat, kesehatan menbaik, kemiskinan telah berkurang secara amat dramatis. Dewasa ini tidak hanya melek huruf sudah amat meluas, tetapi juga (kaum muda) negeri-negeri itu telah mengalahkan Amerika Serikat dalam pertandingan sains dan matematik. Beberapa di antara negeri-negeri itu tidak pernah sekali pun mengalami resesi dalam 30 tahun.

Namun, bibit malapetaka telah lama ditanamkan. Awal dasawarsa 90-an, negeri-negeri Asia Timur telah meliberalisasikan pasar keuangan dan pasar modal mereka, bukan karena mereka memerlukan tambahan dana, tetapi karena tekanan internasional, termasuk tekanan dari Departemen Keuangan Amerika Serikat. Perubahan ini telah merangsang masuknya modal berjangka pendek — jenis modal yang mencari keuntungan sebesar-besarnya pada hari, minggu, atau bulan berikutnya (setelah kedatangan mereka), dan bukannya pada investasi berjangka panjang seperti membangun pabrik-pabrik.

Di Thailand, modal berjangka pendek itu telah mendorong keangkitan pasar real estate yang tidak berkelanjutan. Lagi pula, sebagaimana telah dialami dengan getir di seluruh dunia, setiap gelembungan real estate akhirnya akan meletus, sering dengan akibat yang merupakan malapetaka. Seperti mendadaknya kedatangan modal ke suatu negeri, (dengan mendadak juga) ia keluar. Dan pada saat setiap orang menarik dananya keluar negeri, pada watu yang sama ia menyebabkan timbulnya masalah ekonomi (di dalam negeri).

Kebijakan Moneter
Rangkaian krisis finansial terjadi di Amerika Latin dalam dasawarsa 80-an, pada saat defisit keuangan negara menggelembung dan kebijakan moneter yang amat longgar telah mengakibatkan inflasi yang tidak terkendali. Di kawasan itu, secara tepat IMF telah menekankan kebijakan fiskal yang ketat dan kebijakan moneter yang lebih ketat, yang menekan seluruh pemerintah untuk mematuhi kebijakan-kebijakan tersebut sebagai syarat untuk menerima bantuan.

Karena itu, dalam tahun 1997 IMF mendesakkan kebijakan yang sama di Thailand. Para petinggi IMF menyatakan bahwa penghematan akan memulihkan kepercayaan pada ekonomi Thailand. Bersamaan dengan menyebarnya krisis ke bangsa-bangsa Asia Timur lainnya — dan bahkan sewaktu meningkatnya bukti kegagalan tersebut — IMF sama sekali tidak bergeming, memberikan resep yang sama pada setiap (utusan) bangsa yang (ekonominya) sudah parah yang datang ke muka pintu kantornya (untuk meminta bantuan).

Saya kira sikap ini keliru. Salah satu di antaranya, berbeda dengan bangsa-bangsa Amerika Lain, negeri-negeri Asia Timur sudah mempunyai surplus anggaran. Di Thailand, pemerintah mempunyai demikian banyak surplus anggaran, sehingga dalam kenyataannya telah merugikan ekonomi untuk melakukan investati dalam bidang pendidikan dan infrastruktur, yang keduanya sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi. Lagi pula, bangsa-bangsa Asia Timur sudah mempunyai kebijakan uang ketat: inflasi rendah dan menurun terus. Misalnya di Korea Selatan, angka inflasi adalah empat persen, yang sungguh baik.

Masalahnya bukanlah pemerintahan yang tidak hati-hati seperti di Amerika Latin; masalahnya adalah sektor swasta yang tidak hati-hati — misalnya seluruh bankir dan debitur yang berjudi dengan gelembungan real estate tersebut.

Saya khawatir, bahwa dalam keadaan demikian, kebijakan yang ketat tidak akan mampu menghidupkan kembali perekonomian Asia — kebijakan tersebut (bahkan) akan mencemplungkannya ke dalam resesi atau bahkan ke dalam depresi. Bunga uang yang tinggi bahkan akan menghancurkan perusahaan-perusahaan Asia Timur yang sarat dengan hutang, yang akan menyebabkan semakin banyaknya kebangkrutan dan kegagalan membayar kembali kredit bank. Berkurangnya pengeluaran negara hanya akan menciutkan ekonomi lebih lanjut.

Karena itu, saya mulai mengadakan lobi untuk mengubah kebijakan IMF tersebut. Saya berbicara dengan Stanley Fisher, seorang mantan gurubesar ekonomi Massachussetts Institute of Technology dan mantan ahli ekonomi senior pada World Bank, yang menjabat sebagai deputi kepala managing director dari IMF. Saya juga berbicara dengan sesama ahli ekonomi pada World Bank yang mungkin mempunyai kontak atau pengaruh pada IMF, mendorong mereka untuk melakukan segala hal untuk mengubah birokrasi IMF.

Tidaklah terlalu sukar meyakinkan tokoh-tokoh World Bank terhadap analisis saya; tapi mengubah pikiran tokoh-tokoh IMF sungguh mustahil. Sewaktu saya berbicara dengan pejabat-pejabat senior IMF — misalnya menjelaskan bagaimana suku bunga yang tinggi dapat meningkatkan kebangkrutan, yang selanjutnya akan menyebabkan semakin sulitnya memulihkan kepercayaan pada ekonomi Asia Timur — mulanya mereka akan membantah. Lalu, sewaktu mereka tidak mampu memberikan kontra-argumen yang efektif, mereka akan mundur ke respons lainnya: (dengan mengatakan bahwa) seandainya saja saya mengerti (besarnya) tekanan dari dewan direktur eksekutif IMF — suatu badan yang diangkat oleh para menteri keuangan dari negara-negara industri maju — yang berwenang menyetujui semua kredit IMF (saya akan memahami penolakan mereka). Maksud mereka sangat jelas.

Kebijakan Tertutup
Kecenderungan dewan eksekutif IMF tersebut lebih ganas; (sehingga pendapat) para pejabat senior (IMF) ini sesungguhnya justru menyumbangkan sikap yang moderat. Hal ini sungguh mengesalkan, bukan karena kelambatan IMF sungguh sulit untuk dihentikan, tetapi juga karena sungguh mustahil untuk mengetahui siapakah yang merupakan penghambat perubahan, karena seluruh rapat IMF berlangsung di balik pintu tertutup. Apakah staf yang mendorong para direktur eksekutif itu, ataukah para direktur eksekutif itu yang mendorong stafnya? Saya masih merasa tidak tahu.

Sudah barang tentu, setiap orang di IMF mencoba meyakinkan saya bahwa mereka akan bersikap fleksibel: yaitu jika kebijakan mereka ternyata sungguh-sungguh menyebabkan mengerutnya (ekonomi), yang menyebabkan ekonomi negara-negara Asia Timur semakin jatuh dalam resesi dari sewajarnya, maka mereka akan mengubahnya (secara mendasar). Pernyataan itu menimbulkan keringat dingin saya. Salah satu kuliah pertama yang diajarkan pada mahasiswa pasca-sarjana oleh para gurubesar ekonomi adalah pentingnya memperhitungkan faktor kelambanan (lag): diperlukan waktu antara 12-18 bulan sebelum perubahan kebijakan moneter sebelum dampaknya dapat dirasakan secara penuh.

Sewaktu saya bekerja di Gedung Putih sebagai ketua Dewan Penasihat Ekonomi (dari Presiden Amerika Serikat) kami memusatkan seluruh energi untuk meramalkan kemana arah ekonomi di masa depan, sehingga kami tahu apa yang akan disarankan pada saat ini. Bermain spekulasi adalah merupakan kebodohan yang amat sangat. Dan justru itulah persisnya yang diusulkan oleh pejabat-pejabat IMF.

Saya seharusnya tidak demikian terkejut. IMF lebih suka jika orang luar tidak terlalu banyak bertanya mengenai apa yang sedang mereka kerjakan. Dalam teori, lembaga keuangan itu mendukung institusi-institusi demokrasi di negara-negara yang dibantunya. Dalam prakteknya, IMF merusak proses demokrasi dengan cara mendesakkan kebijakan-kebijakannya. Sudah tentu resminya IMF tidak ‘menekan’ apa pun juga. Ia ‘merundingkan’ syarat-syarat untuk menerima bantuan. Tetapi semua kekuatan dalam negosiasi itu hanya berada pada suatu sisi — sisi IMF — dan lembaga keuangan tersebut jarang sekali memberikan waktu yang cukup untuk menumbuhkan konsensus atau bahkan untuk mengadakan konsultasi yang luas baik dengan dewan perwakilan rakyat atau dengan masyarakat sipil. Kadang-kadang IMF sama sekali mengabaikan keterbukaan dan menegosiasikan perjanjian-perjanjian rahasia.

Sewaktu IMF memutuskan untuk membantu suatu negara, ia mengirimkan suatu ‘misi’ ahli ekonomi. Seringkali para ahli ekonomi ini kurang mempunyai pengetahuan yang luas mengenai negeri itu; lebih mungkin mereka mempunyai pengetahuan langsung mengenai hotel-hotel bintang lima dari pada hotel-hotel lain yang tersebar di seluruh negara itu. Mereka bekerja keras, menekuni angka-angka sampai jauh tengah malam. Namun, tugas mereka mustahil (untuk mencapai hasil).

Dalam kurun waktu selama beberapa hari, atau paling-paling beberapa minggu, mereka ditugasi untuk mengembangkan suatu program yang koheren, yang cukup peka untuk kepentingan negara yang bersangkutan. Tak usah dikatakan lagi, bahwa sekedar usaha mengotak-atik angka-angka belaka jarang sekali menghasilkan kearifan yang diperlukan untuk mengembangkan strategi pembangunan untuk seluruh bangsa. Lebih buruk dari itu, otak-atik angka tidak pernah bisa diandalkan. Berbagai model matematik yang digunakan IMF seringkali mempunyai kekurangan atau sudah ketinggalan zaman.

Pengeritik menuduh lembaga itu menggunakan pendekatan asal-asalan dalam menangani masalah ekonomi. Sudah diketahui bahwa tim yang dikirim IMF ke suatu negara sudah menyiapkan laporan sebelum mereka berangkat ke negara itu. Saya tahu mengenai kisah suatu insiden yang menyedihkan, sewaktu anggota tim menyalin sebagian besar dari teks laporan suatu negara dan mengalihkannya secara utuh (begitu saja) untuk (menyusun) laporan negeri lain. Mereka mungkin [akan] berhasil melakukannya, sekiranya fungsi komputer untuk mengganti suatu kata dengan kata lainnya (fungsi ‘Replace’) tidak mengalami kerusakan, sehingga nama asli negeri yang terdapat dalam laporan yang disalin itu masih tertinggal di sana-sini.n

Tidaklah adil jika dikatakan bahwa para ahli ekonomi IMF tidak acuh terhadap warga negara-negara yang sedang berkembang. Namun orang-orang tua yang menjadi pejabat IMF — dan mereka telah menjadi semakin tua — berperilaku seakan-akan mereka mengemban ‘misi orang kulit putih’ yang digambarkan penulis Rudyard Kipling. Ahli-ahli IMF percaya bahwa mereka lebih pintar, lebih terdidik, dan motivasi politik mereka tidak setinggi para ahli ekonomi dari negara yang mereka kunjungi.

Pada kenyataannya para pemimpin ekonomi dari negeri-negeri tersebut lumayan baik — dalam banyak hal bahkan lebih tinggi pendidikannya dari staf IMF, yang seringkali (hanya) merupakan mahasiswa kelas tiga dari universitas-universitas kelas satu. (Percayalah kepada saya; saya telah mengajar di Oxford University, MIT, Stanford University, Yale University, dan Princeton University, dan IMF hampir tidak pernah berhasil merekrut mahasiswa terbaik mana pun juga).

Musim panas yang lalu, saya mengadakan seminar di Cina tentang kebijakan kompetisi dalam bidang telekomunikasi. Tiga orang ahli ekonomi Cina di antara para hadirin mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama sofistikasinya dengan pertanyaan yang dapat diajukan oleh ahli-ahli terbaik di negara-negara Barat.

Dengan berlalunya waktu, saya semakin frustrasi. (Orang mungkin menduga, bahwa karena Bank Dunia secara harfiah menyumbangkan miliaran dollar AS pada paket penyelamatan, suaranya akan didengar IMF. Namun pandangan Bank Dunia hampir selalu diabaikan IMF secara tegas, seperti juga halnya dengan suara penduduk negeri-negeri berkembang yang bersangkutan). IMF mengatakan satu-satunya yang mereka tuntut dari negara-negara Asia Timur hanyalah agar mereka menyeimbangkan anggaran negaranya pada saat resesi.

Hanya? Bukankah pemerintahan Clinton baru saja melakukan perdebatan keras dengan Kongres, untuk menggagalkan amandemen anggaran berimbang di negeri ini? Dan bukankah argumen pokok pemerintahan adalah bahwa sekedar pengeluaran defisit mungkin diperlukan dalam menghadapi resesi? Inilah yang telah saya ajarkan selama 60 tahun kepada para mahasiswa pasca sarjana, bersama-sama dengan para ahli ekonomi lainnya. Terus terang, seorang mahasiswa yang menyerahkan jawaban IMF dalam menjawab pertanyaan ujian: “apakah seharusnya yang merupakan kebijakan fiskal Thailand menghadapi kemerosotan ekonomi? ” sudah pasti akan gagal dan mendapat nilai F.

Sewaktu krisis ini menyebar ke Indonesia, saya semakin risau. Kajian baru pada World Bank menunjukkan bahwa resesi di negeri yang dari segi etnik demikian majemuk dapat mencetuskan berbagai gejolak sosial dan politik. Begitulah, pada akhir tahun 1997, dalam pertemuan antara para menteri keuangan dan para gubernur bank sentral di Kuala Lumpur, saya telah mengeluarkan suatu pernyataan World Bank yang dipersiapkan dengan hati-hati. Saya mengingatkan bahwa program kontraksi moneter dan fiskal yang berkelebihan dapat menimbulkan huruhara politik dan sosial di Indonesia.1)

Sekali lagi, IMF tidak bergeming. Dalam pertemuan tersebut, Michael Camdessus, direktur pelaksana IMF, menyampaikan apa yang pernah disampaikannya di depan umum: Asia Timur harus melalui penderitaan itu, seperti yang (juga) sudah dialami Meksiko.2) Meksiko muncul lebih kuat setelah melalui pengalaman itu.

Namun analogi ini amat aneh. Pemulihan ekonomi Meksiko bukanlah karena IMF (berhasil) memaksa negara itu untuk memperkuat sistem finansialnya, karena sistem keuangannya itu masih tetap lemah (juga) bertahun-tahun setelah krisis. Negeri itu pulih karena meningkatnya ekspor dengan cepat ke Amerika Serikat, yang dapat terjadi karena boom ekonomi Amerika Serikat dan karena sudah berfungsinya zona ekonomi bebas Amerika Utara (NAFTA). Sebaliknya, partner dagang Indonesia, Jepang, yang pada saat itu dan sampai sekarang, masih mengalami kesulitan ekonomi.

Lebih dari itu, dibandingkan dengan Meksiko, dari segi politik dan sosial Indonesia jauh lebih eksplosif, karena adanya sejarah pertentangan antar sukubangsa yang lebih mendalam. Dan kambuhnya pertentangan ini akan menimbulkan pelarian modal (yang dipermudah oleh dilonggarkannya pembatasan arus mata uang seperti dianjurkan IMF). Namun tidak satu pun argumen ini yang diperhatikan mereka. IMF maju terus, menuntut dikuranginya anggaran belanja pemerintah. Dan, demikianlah subsidi untuk kebutuhan dasar seperti untuk pangan dan bahan bakar dilenyapkan, justru persis pada saat subsidi seperti itu malah harus diberikan untuk mengimbangi kebijakan kontraksi itu.

Sekitar bulan Januari 1998, keadaan sedemikian buruknya, sehingga wakil presiden World Bank untuk Asia Timur, Jean Michel Severino, telah menggunakan istilah resesi dan depresi untuk menggambarkan malapetaka ekonomi di Asia. Deputi Menteri Keuangan Amerika Serikat, Lawrence Summers, menentang Severino karena menurut Summers, Severino terlalu melebih-lebihkan gambaran keadaan dari apa yang sesungguhnya terjadi, tetapi apakah ada cara lain untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi? Produktivitas pada beberapa negeri yang terkena krisis ini jatuh 16 persen atau lebih.

Separo jumlah bisnis di Indonesia telah bangkrut atau hampir bangkrut, dan sebagai akibatnya negeri itu tidak dapat memanfaatkan peluang ekspor yang terbuka akibat menurunnya nilai tukar uang. Pengangguran meningkat hebat, bertambah sepuluh kali lipat, dan nilai upah riil merosot — di negeri-negeri dimana pada dasarnya tidak ada jaringan sosial.

Bukan saja IMF tidak berhasil memulihkan kepercayaan pada ekonomi Asia Timur, badan itu juga telah telah merusak ikatan sosial negeri-negeri tersebut. Dan setelah itu, pada musim semi dan musim panas tahun 1998, krisis itu menyebar ke luar Asia Timur menuju negeri yang paling eksplosif di seluruh dunia — Rusia.

Banyak persamaan antara ciri-ciri malapetaka yang dialami Rusia dengan malapetaka yang terjadi di Asia Timur — setidak-tidaknya tentang peranan yang dimainkan oleh kebijakan IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat dalam memperburuknya. Tetapi, di Rusia faktor penyebab kemerosotan tersebut telah berlangsung lebih awal. Menyusuli runtuhnya Tembok Berlin, telah muncul dua aliran pikiran berkenaan dengan transisi Rusia menuju ekonomi pasar. Salah satu di antara aliran pikiran itu, yang saya setujui, terdiri dari pendapat sebarisan ahli mengenai kawasan itu, pemenang Hadiah Nobel seperti Kenneth Arrow dan lain-lainnya.

Kelompok ini menekankan pentingnya dibangun infrastruktur kelembagaan untuk ekonomi pasar, sejak dari struktur hukum yang mampu melaksanakan kontrak, sampai struktur peraturan yang memungkinkan berfungsinya sistem finansial. Tuan Arrow dan saya merupakan bagian dari suatu kelompok ahli Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional, yang satu dasawarsa sebelumnya telah membahas strategi transisi dengan tokoh-tokoh Cina.

Kami menekankan pentingnya membangun persaingan – dan bukannya mengadakan privatisasi badan-badan usaha milik negara – dan lebih menyukai suatu transisi secara berangsur-angsur menuju ekonomi pasar, walau pun kami setuju bahwa upaya-upaya yang lebih tegas sesekali mungkin diperlukan untuk menghadapi hiperinflasi.

Kelompok kedua terdiri dari para ahli ekonomi makro, yang ‘iman’-nya terhadap pasar bebas] tidak diimbangi oleh apresiasi [mereka] terhadap persyaratan yang harus dibangun, yaitu terhadap kondisi yang diperlukan untuk mengoperasikan pasar bebas itu. Secara khas, para ahli ekonomi makro ini sedikit sekali pengetahuannya mengenai sejarah atau detail ekonomi Rusia, dan susahnya, mereka tidak percaya bahwa mereka memerlukan pengetahuan itu. Kekuatan utama, dan juga kelemahan puncak, dari doktrin-doktrin ekonomi yang diandalkan mereka adalah bahwa doktrin-doktrin itu adalah — atau dianggap — bersifat universal. Lembaga, sejarah, dan bahkan distribusi pendapatan sama sekali tak ada nilainya.

Para ahli ekonomi yang baik mengetahui kebenaran universal dan mampu melihat apa yang dibelakang fakta dan hal-hal detail yang mengaburkan kebenaran ini. Dan kebenaran universal itu adalah bahwa kebijakan yang berwujud kejutan keras justru berguna untuk negeri-negeri yang sedang berada dalam transisi: semakin keras obatnya dan semakin pedih reaksinya, semakin cepat pemulihan. Kira-kira demikianlah bunyi argumen itu.

Sungguh sial bagi Rusia; aliran faham yang kedua di atas justru memenangkan perdebatan di Departemen Keuangan Amerika Serikat dan di IMF. Atau agar lebih tepat, Departemen Keuangan Amerika Serikat dan IMF mengupayakan sedemikian rupa sehingga tidak ada perdebatan terbuka mengenai kebijakan itu, dan setelah itu secara membuta mengikuti rute kedua ini. Mereka yang menentang rute kedua ini, atau sama sekali tidak diajak berkonsultasi, atau tidak begitu lama diajak berkonsultasi.

Pada Dewan Penasihat Ekonomi Presiden Amerika Serikat, misalnya, ada seorang ahli ekonomi yang brilian, Peter Orszag, yang menjabat sebagai penasehat dekat terhadap pemerintah Rusia dan pernah bekerja dengan demikian banyak ahli ekonomi muda yang akhirnya menduduki jabatan-jabatan yang berpengaruh di negeri itu. Ia jelas merupakan jenis tokoh yang keahliannya amat dibutuhkan Departemen Keuangan dan IMF. Namun, mungkin karena ia mengetahui terlalu banyak, Departemen Keuangan Amerika Serikat dan IMF hampir tidak pernah mengadakan konsultasi dengan yang bersangkutan.n

***

Catatan dari Penerjemah

1) Ramalan Stiglitz, yang ditolak IMF, ternyata benar, dan kita mengalaminya samppai saat ini, lima tahun setelah peringatan itu disampaikannya.

2) Kita layak bertanya: apakah tidak ada sanksi professional terhadap orang ini, karena kebijakannya yang keliru, yang berujung pada apa yang disebut sebagai malpractice dalam dunia kedokteran? Bagaimana kalau kita tuntut IMF untuk melakukan haircut sebesar 50% terhadap hutang luar negeri kita, yang sampai sekarang demikian berat menghimpit bangsa kita?

***

Dalam pemilihan bulan Desember 1993, para pemilih Russia (yang merasa lebih dimiskinkan oleh resep IMF) memukul mundur kaum reformis, yang sejak itu tidak pernah pulih kembali. Strobe Talbott, pada saat itu memimpin aspek non-ekonomis dari kebijakan Russia, mengakui (tentang shock therapy IMF tersebut) bahwa Rusia mengalami “terlalu banyak shock dan terlalu sedikit therapy”.

Dan seluruh kebijakan IMF yang menimbulkan kejutan tersebut sama sekali tidak mendorong Rusia ke arah ekonomi pasar. Privatisasi cepat yang didorongkan kepada Rusia oleh IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat telah memungkinkan sekelompok kecil kaum oligarki untuk menguasai aset negara. IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat telah merekayasa kembali insentif ekonomi Rusia. Hal itu sudah benar, hanya arahnya yang salah.

Oleh karena amat sedikit memberikan perhatian terhadap infrastruktur kelembagaan yang akan memungkinkan berkembangnya sebuah ekonomi pasar — dan dengan mempermudah mengalirnya modal masuk dan keluar Rusia — IMF dan Departemen Keuangan Rusia telah meletakkan landasan perampokan (ekonomi Rusia) oleh kaum oligarki. Pada saat pemerintah (Rusia) kekurangan dana untuk membayar para pensiunan, kaum oligarki ini mengirimkan uang ke nomer rekening bank di Siprus dan Swiss, yang diperoleh dengan mengorbankan aset dan menjual sumber daya nasional yang tidak ternilai harganya itu.

Amerika Serikat terlibat dalam keseluruhan perkembangan yang mengerikan ini. Pertengahan tahun 1998, Summers, yang segera akan diangkat sebagai pengganti Menteri Keuangan Amerika Serikat, secara mencolok tampil di depan umum dengan Anatoly Chubais, arsitek utama kebijakan privatisasi Russia. Dengan berbuat seperti itu, Amerika Serikat terlihat bersekutu dengan kekuatan-kekuatan yang telah memiskinkan rakyat Rusia. Tidaklah mengherankan mengapa sikap anti-Amerika menyebar bagaikan suatu kebakaran hutan.

Walaupun dengan adanya pengakuan Talbott tersebut bahwa resep IMF terlalu banyak memberi kejutan namun terlalu sedikit memberi kesembuhan, namun para penganut fanatik (dari kebijakan privatisasi) di Departemen Keuangan Amerika Serikat dan di IMF berkeras kepala mempertahankan bahwa masalahnya sesungguhnya bukanlah terlalu banyak therapy tetapi terlalu sedikit shock. Namun, selama pertengahan dasawarsa 90an, ekonomi Rusia terus menciut. Produksi anjlok sampai setengah.

Sewaktu hanya dua persen penduduk yang hidup dalam kemiskinan bahkan pada saat-saat terakhir dari kurun Soviet yang menyedihkan itu, ‘reformasi’ menyaksikan angka kemiskinan melonjak sampai 50 persen, dan lebih dari separo kanak-kanak Rusia hidup di bawah garis kemiskinan. Baru akhir-akhir ini saja IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat mengakui bahwa terapi mereka kurang dihargai — walau pun mereka bersikeras bahwa sudah lama mereka telah mengatakan hal itu.

Masih menyedihkan

Dewasa ini, Rusia masih berada dalam keadaan yang amat menyedihkan. Harga minyak bumi yang melangit dan devaluasi mata uang rubel yang sejak lama ditentang telah menolong negara itu untuk pulih sekedarnya. Namun taraf hidup tetap berada di bawah standar sewaktu masa transisi dimulai. Bangsa Rusia hidup dalam kesenjangan yang luar biasa besarnya, dan sebagian besar orang Rusia telah kehilangan kepercayaan terhadap pasar bebas, karena pengalaman mereka yang amat pahit itu. Turunnya harga minyak secara drastis hampir pasti akan membalikkan sedikit kemajuan yang sudah dicapai selama ini.

Asia Timur agak lebih baik, walau pun mereka juga masih harus bergulat. Hampir 40 persen dari pinjaman luar negeri Thailand tidak menunjukkan manfaat. Indonesia masih terjerat erat dalam resesi. Angka pengangguran berada dalam taraf yang lebih tinggi dari angka sebelum terjadinya krisis, termasuk di Korea, negara Asia yang paling tinggi prestasinya. Para pedukung IMF menafsirkan bahwa berakhirnya resesi merupakan bukti efektifnya kebijakan badan dunia tersebut. Omong kosong. Setiap resesi akhirnya akan berakhir. Apa yang telah dilakukan IMF adalah menyebabkan resesi negara-negara Asia semakin berat, semakin lama, dan semakin getir. Bahkan prestasi Thailand, yang secara hampir persis mengikuti resep IMF, lebih buruk dari Malaysia dan Korea Selatan, yang mengikuti langkah yang lebih independen.

Sering saya ditanya seberapa pintar — bahkan seberapa brilian — orang-orang yang telah menciptakan kebijakan yang demikian buruk. Salah satu alasannya adalah karena orang-orang pintar tidak menggunakan ekonomi pintar. Berkali-kali saya merasa kesal dengan demikian kunonya — dan demikian terpisahnya dari kenyataan — model-model ekonomi yang dipergunakan para ekonom Washington. Misalnya, gejala mikroekonomik seperti kebangkrutan dan kekhawatiran membayar kembali kredit merupakan masalah sentral dari krisis ekonomi Asia. Namun, model-model makroekonomi yang digunakan untuk menganalisa krisis-krisis ini sama sekali tidak bertumpu pada dasar-dasar mikro, sehingga mereka tidak memperhitungkan terjadinya kebangkrutan.

Namun, ilmu ekonomi yang buruk hanyalah sekedar gejala dari masalah sesungguhnya, yaitu kerahasiaan. Orang-orang pintar akan lebih mungkin melakukan tindakan yang bodoh pada saat mereka menutup diri dari kritik dan saran dunia luar. Jika ada sesuatu yang saya pelajari dari pengalaman di pemerintahan, hal itu adalah bahwa keterbukaan amat penting dalam hal-hal yang menghendaki keahlian yang bermutu tinggi. Seandainya IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat mengundang kajian yang lebih mendalam dari fihak luar, kebodohan mereka akan dapat terlihat lebih jelas dan dalam waktu yang lebih awal.

Para pengeritik dari aliran kanan, seperti Martin Feldstein, ketua Dewan Penasihat Ekonomi dari Presiden Reagan, bergabung dengan Jeff Sachs, Paul Krugman dan saya, dalam mengutuk kebijakan-kebijakan IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat tersebut. Namun, karena IMF tetap bersikeras bahwa kebijakan-kebijakannya tidak ada cacatnya — dan karena tidak ada struktur kelembagaan yang dapat memaksanya untuk memberikan perhatian — maka kritik-kritik kami tidak ada gunanya.

Lebih menakutkan lagi, bahkan pandangan kritis dari dalam lembaga itu sendiri, khususnya yang berkenaan dengan pentingnya akuntabilitas demokrasi langsung, disimpan demikian saja. Departemen Keuangan Amerika Serikat demikian angkuhnya mengenai analisa dan resep-resep ekonominya sehingga ia sering mengendalikan secara amat ketat — bahkan terlalu ketat — tentang apa yang boleh dibaca oleh Presiden Amerika Serikat.

Diskusi terbuka akan mengangkat masalah-masalah mendasar yang sering amat sedikit memperoleh perhatian dari pers Amerika Serikat, yaitu sampai berapa jauh IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat mendorong kebijakan-kebijakan yang sesungguhnya meningkatkan kerusakan hebat ekonomi global? (Departemen Keuangan Amerika Serikat mendorong liberalisasi di Korea dalam tahun 1993 dengan menolak perlawanan dari Dewan Penasihat Ekonomi Presiden. Departemen Keuangan itu memenangkan pertentangan internal di Gedung Putih, tetapi Korea – dan dunia seluruhnya-membayar harga yang lebih mahal).

Apakah kritik keras IMF terhadap negara-negara Asia Timur dimaksudkan sebagai upaya mengalihkan perhatian dari kekeliruan badan itu sendiri? Lebih penting lagi, apakah Amerika Serikat — dan IMF — oleh karena kita, atau mereka, percaya bahwa kebijakan-kebijakan tersebut akan menolong Asia Timur atau karena kita percaya bahwa kebijakan-kebijakan itu akan memberi manfaat bagi kepentingan finansial Amerika Serikat dan dunia industri maju lainya? Dan, jika kita percaya bahwa kebijakan-kebijakan kita itu sedang menolong Asia Timur, manakah buktinya? Sebagai salah seorang peserta dalam rangkaian perdebatan tersebut, saya harus melihat buktinya. Sama sekali tidak ada.

Sejak berakhirnya perang dingin, kekuasaan besar telah mengalir kepada orang-orang yang dipercaya membawa ‘dakwah’ pasar bebas ke seluruh pelosok dunia. Para ekonom, birokrat, dan pejabat-pejabat ini bertindak atas nama Amerika Serikat dan negara-negara industri maju lainnya, namun mereka berbicara dalam bahasa yang hanya dimengerti sedikit sekali oleh orang biasa dan sedikit sekali para perumus kebijakan yang mau menerjemahkannya.

Dewasa ini kebijakan ekonomi mungkin merupakan bagian paling penting dari interaksi Amerika Serikat dengan bagian dunia lainnya. Namun, budaya yang berkembang dalam proses penyusunan kebijakan ekonomi internasional dalam negara Amerika Serikat sebagai negara demokratik dunia yang paling kuat sama sekali tidaklah demokratik.

Inilah yang diupayakan meneriakkannya oleh para demonstran di luar gedung IMF. Sudah tentu, jalanan bukanlah tempat yang terbaik untuk membahas masalah-masalah yang amat kompleks ini. Beberapa pemrotes tersebut tidaklah lebih berminat dalam adanya perdebatan terbuka dibandingkan dengan para pejabat IMF. Dan tidak seluruh yang dikatakan pemrotes itu adalah benar. Namun, jika orang yang kita percayai mengurus ekonomi global — di IMF dan di Departemen Keuangan Amerika Serikat — tidak mau memulai dialog dan menerima secara sungguh-sungguh kritik yang dialamatkan kepada mereka, keadaan (yang buruk ini) akan berlanjut dalam waktu yang lama, bahkan amat lama. Saya telah menyaksikan hal itu terjadi.

Mantan Wakil Presiden Bank Dunia, dan
Guru Besar Ekonomi pada Standford University

Judul asli artikel ini adalah What I Learned at the World Economic Crisis: The Insider karya Joseph Stiglitz, dipublikasikan di Internet pada situs www.oneworld.net/cgi. Tulisan ini diterjemahkan oleh Dr Saafroedin Bahar — Ketua Kelompok Kerja Ekonomi, Sosial dan Budaya, Komnas HAM — untuk Republika.

Sumber: Republika online 18,19 dan 20 November 2002

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *