Sekdako Banjarmasin: Umat Bersatu Demi Kebangkitan Islam

HIJRAH

Liputan Tablig Akbar Mesjid Jami Banjarmasin: Menyambut Tahun Baru Islam 1429 H

HIJRAH DARI SISTEM JAHILIYAH MENUJU SISTEM ISLAM

JEINewsAhad 4 Muharram 1429 H / 13 Januari 2008 M, mulai pukul delapan pagi sekitar 1.500 jemaah yang berasal dari Banjarmasin, Marabahan, Banjarbaru, dan Martapura mulai berdatangan dan memenuhi ruang induk Mesjid Jami Banjarmasin. Mereka hadir di Mesjid bersejarah ini untuk mengikuti Tablig Akbar Menyambut Tahun Baru Islam 1429 H yang diselenggarakan oleh Forum Umat Islam Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Pemerintah Kota Banjarmasin.

Berdasarkan data panitia, masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut berasal dari birokrat dan pegawai pemko/pemda, ulama dan tokoh masyarakat, guru dan dosen, pelajar / santri dan mahasiswa, profesional dan karyawan, mubalig dan mubaligoh, pensiunan PNS dan purnawirawan TNI, dan masyarakat umum. Para peserta yang hadir berasal dari beragam organisasi dan institusi, antara lain Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Ulama Banjarmasin, NU dan GP Anshar Banjarmasin, Muhammadiyah dan Pemuda Muhammadiyah Banjarmasin, al-Wasliyah Banjarmasin, al-Irsyad, Masyarakat Ekonomi Syariah Kalsel, Komite Penaggakan Syariat Islam Kalsel, KAMMI, PITI, BKPRMI, LDK Unlam dan LDK IAIN, Gema Pembebasan, Universitas Lambung Mangkurat, IAIN Banjarmasin, Universitas Islam Kalimantan, Politeknik Negeri Banjarmasin, Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan (STIKIP) Banjarmasin, Sekolah Tinggi Agama Islam al-Jami (STIA) Banjarmasin. Acara ini juga diliput wartawan dari TVRI Kalimantan Selatan, TV Kabel Prima Channel, Trans 7, Global TV, Abdi Persada FM, Madinatus Salam FM, Banjarmasin Post, Barito Post, Harian Mata Banua, dan Serambi Ummah.

Acara tablig akbar ini merupakan acara ketiga yang digelar FUI Kalsel dalam dua minggu terakhir, setelah sebelumnya acara Evaluasi Akhir Tahun 1428 H Forum Umat Islam Kalsel: Menuju Kalimantan Selatan Lebih Baik di Aula Pencerahan Jiwa Mesjid Jami Banjarmasin pada tanggal 21 Djulhijjah 1428 H / 1 Januari 2007 M dan Apel Kebesaran Hijriyah dan Karnaval Muharram 1429 H di halaman Kantor Walikota Banjarmasin pada tanggal 2 Muharram 1429 H / 10 Januari 2008 M. Ketiga acara tersebut digelar FUI Kalsel dalam rangka membangun kesadaran umat akan makna hijrah sebenarnya yakni perubahan sistem sesuai syariat Islam sebagaimana hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Tablig akbar menghadirkan pembicara utama KH. Husin Naparin, Lc, MA (ketua FUI Kalsel), KH. Zarkasy Hasbi, LC (pengasuh Pondok Pesantren Darul Hijrah Martapura), Drs. A. Syaukani Arsyad (Kepala sekolah SMA Sabilal Muhtadin), Drs. H. Hermani Abdurrahman (Ketua MES Kalsel), dan Ust. Jumali Ahmad Thohari, S.pt, MP (Ketua DPD II Hizbut Tahrir Indonesia Kabupaten Tapin).

Tablig Akbar dibuka Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin Drs. Didit Wahyuni. Dalam sambutannya, beliau mengharapkan agar tahun baru Islam dapat menjadi momentum meninggikan syiar Islam dan diterapkannya syariat Islam sebagai konsekwensi Islam agama mayoritas di negeri ini. Beliau juga mengharapkan agar umat bersatu untuk kebangkitan Islam.

Pembicara pertama KH. Zarkasyi menyoroti keberhasilan hijrah Rasulullah dan para sahabat dalam membangun peradaban Islam disebabkan kekuatan jiwa para sahabat dibalut keimanan yang kokoh demi satu tujuan, terbangunnya sistem baru yang barokah yakni Daulah Islamiyah. Sistem yang baru tersebut mengajak manusia untuk meninggalkan penghambaan dari manusia menuju penghambaan kepada Allah SWT semata. Kata beliau: “inti dari hijrah adalah ibadah atau ketundukan / penghambaan kepada Allah SWT.”

Pembicara kedua Drs. H. Ahmad Syaukani Arsyad menekankan pentingnya perubahan pola perilaku individu dan keluarga muslim dengan kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Memang sudah seharusnya upaya perubahan di tengah masyarakat disertai dengan perubahan perilaku individu dan akhlaknya.

Pembicara ketiga Drs. H. Hermani menyoroti problem ekonomi yang dihadapi Indonesia. Sistem ekonomi ribawi yang diterapkan di Indonesia menyebabkan malapetaka dan kesengsaraan umat. Sistem yang menjadi bagian Kapitalis ini sangat menghisap. Contohnya saat masyarakat banyak yang miskin dan melarat, beban hidupnya makin hari bertambah berat, pemerintah Indonesia justru memberikan suntikan subsidi pada perbankan nasional sebesar Rp 650 trilyun. Pada akhirnya subsidi tersebut jatuh ke tangan pemilik modal yang memiliki deposito dan simpanan milyaran dan trilyunan rupiah di bank ribawi, serta para investor asing yang membeli bank-bank ribawi dari pemerintah dengan harga obral. Karena itu kita harus berhijrah. Hijrah memiliki semangat heroik. Hijrah membebaskan umat manusia dari penindasan dan kezaliman. Hijrahnya Rasulullah juga dengan menghilangkan sistem ribawi jahiliyah menuju sistem ekonomi yang berlandaskan syariat Islam.

Pembicara keempat Ust. Jumali Ahmad Thohari, S.pt, MP menyimpulkan berbagai problem kehidupan yang dihadapi umat disebabkan tidak diterapkannya syariat Islam. Kata beliau, saat ini umat dipasung oleh sistem Kapitalis-Sekuler. Inilah sistem jahiliyah modern yang merusak akidah umat, menghancurkan moral dan tatanan sosial masyarakat, mengubur akses ekonomi masyarakat, menciptakan kriminalitas, dan berbagai kezaliman lainnya.

Dalam orasinya, beliau memaparkan data-data yang memilukan. Menurut beliau sejak tahun 2001 hingga 2006 di Indonesia bermunculan 250 aliran sesat. Di bidang ekonomi, tingkat kemiskinan versi BPS di Kalsel pada tahun 2007 mencapai 31%. Proporsi penduduk miskin ini dua kali lipat dari tingkat kemiskinan nasional. Padahal Kalsel provinsi kaya sumber daya alam. Sementara itu jumlah pengangguran terbuka dan setengah menganggur di Indonesia tahun 2007 mencapai 40,38 juta orang. Di bidang keamanan, di provinsi ini setiap hari terjadi 13,69 kali tindak kejahatan. Berdasarkan data Polda Kalsel tingkat kriminalitas tahun 2006 mencapai 4.714 kasus meningkat menjadi lebih dari 5.000 kasus tahun 2007 ini. Maraknya pergaulan bebas dan perslingkuhan menyebabkan perzinaan baik di kalangan remaja maupun orang dewasa. Akibatnya jutaan manusia dibunuh sebelum mereka dilahirkan karena takut menanggung malu. Menurut data WHO, di Indonesia setiap tahun terjadi 750 ribu – 1,5 juta kasus aborsi. Kondisi ini sangat kejam, lebih jahiliyah dari zaman jahiliyah di masa dakwah Rasulullah SAW.

Ustad Jumali menyerukan satu-satunya cara untuk keluar dari permasalahan umat adalah dengan berhijrah meninggalkan sistem jahiliyah modern Kapitalis-Sekuler. “Kita harus meninggalkan sistem yang berasal dari Barat dan berhijrah untuk menegakan syariat Islam dalam Khilafah Islamiyah,” seru beliau kepada peserta.

Pembicara terakhir, KH. Husin Naparin, Lc, MA, mengajak para peserta merenungi perjalanan hidup mereka. “Kita mengaku beriman, tapi sudahkan kita benar-benar beriman kepada Allah SWT ? Sudahkah kita berbuat untuk umat ? Sudahkah kita menjadi bagian dari upaya penegakan syariat Allah ?” kata beliau.

Beliau menggambarkan kondisi umat yang sangat memilukan dengan tayangan audio visual. Di Palestina, Irak, dan Afganistan umat Islam saat ini dibantai tanpa perlawanan berarti, tanpa pertolongan dari penguasa-penguasa negeri muslim. Beliau juga menggambarkan bagaimana beratnya perjuangan Rasulullah berhijrah dari kepungan dan kejaran kafir Qurais di Mekkah menuju Madinah. Hingga akhirnya Rasullah mendapatkan sambutan hangat kaum Ansar di Madinah. Di kota Yastrib inilah Rasulullah mulai membangun peradaban Islam. Akhirnya hijrah menghasilkan kemuliaan dan kejayaan Islam selama 12 abad lebih. Kini setelah hakikat hijrah ditinggalkan umat, negeri-negeri Islam pun terpuruk penuh dengan kehinaan dan kebodohan.

Dalam acara tablig akbar ini, FUI Kalsel mengeluarkan dua buah pernyataan sikap. Pertama, pernyataan sikap FUI Kalsel tentang kasus Ahmadiyah. FUI Kalsel mendukung penuh fatwa MUI tentang penyimpangan Ahmadiyah karena meyakini ada nabi dan rasul selain Muhammad SAW. Mengecam sikap kelompok-kelompok HAM dan liberal sekuler yang menuding fatwa MUI sebagai penyebab kekerasan, karena sikap kelompok-kelompok ini tidak lain hanya sebagai upaya stigmatisasi untuk menjelek-jelekan citra MUI dan ormas-ormas Islam. Meminta kepada pemerintah untuk menindak tegas kelompok-kelompok yang telah menyimpang dari akidah Islam. Menyerukan kepada umat Islam untuk mewaspadai motif politik di balik isu Ahmadiyah. Dalam kesempatan ini FUI Kalsel juga melakukan aksi tanda tangan untuk mendukung fatwa MUI tentang kesesatan Ahmadiyah.

Kedua, pernyataan sikap FUI Kalsel Menyambut Tahun Baru Islam 1429 H dengan tema Hijrah dari Sistem Jahiliyah Menuju Sistem Islam. Dalam pernyataannya, FUI Kalsel memandang kondisi menyedihkan kondisi umat yang menyedihkan disebabkan terpasungnya umat pada sistem jahiliyah, yakni sistem Kapitalis-Sekuler yang berasal dari Barat. Untuk itu FUI Kalsel menyatakan:

  1. Tidak ada cara untuk melakukan perbaikan yang tepat kecuali melakukan hijrah sebagaimana hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Yakni berhijrah meninggalkan sistem dan gaya hidup jahiliyah modern, meninggalkan sistem Kapitalis-Sekuler menuju sistem Islam sebagaimana yang dicontohkan Nabi SAW di Madinah dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah dan menjadikan akidah Islam sebagai dasar negara. Sistem Islam itu adalah sistem Khilafah Islamiyah.

  2. Hijrahnya kaum muslimin dimulai dengan terbangunnya kesadaran Islami pada diri umat, yakni mereka menyadari setiap perbuatannya, kehidupan keluarga dan sosial masyarakatnya, serta ketatanegaraan pemerintahannya diatur menurut perintah Allah dan Rasul-Nya. Karena itu Forum Umat Islam Kalsel mengajak para ulama, ormas, politisi dan birokrat, dan seluruh komponen masyarakat, untuk berkerjasama, bersinergis membangun kesadaran Islami di tengah-tengah masyarakat.

  3. Proses hijrah akan terhambat apabila pemahaman umat tentang agama masih dangkal sebagaimana pemahaman kebanyakan orang saat ini bahwa Islam hanya mengurus masalah ritual saja seperti ibadah shalat, puasa, dan haji. Akibatnya dalam urusan politik dan pemerintahan, bisnis dan perekonomian, pendidikan dan kesehatan, kehidupan sosial dan kemasyarakatan, konsep dan pengaturannya diserahkan kepada paham-paham sesat Kapitalis-demokrasi-Sekuler yang berasal dari Barat yang notabene adalah negara-negara penjajah. Padahal Islam luas mengatur seluruh aspek kehidupan. Setiap aspek kehidupan yang diatur menurut syariat Islam merupakan ibadah kepada Allah SWT. Untuk itu dakwah yang mengikis pemahaman keliru ini harus dilakukan oleh dan untuk seluruh komponen umat tidak hanya menjadi tugas beberapa orang atau sekelompok ormas saja.

  4. Proses hijrah membutuhkan persatuan umat dan ukhuwah Islamiyah. Karenanya, Forum Umat Islam Kalsel menyerukan seluruh komponen umat untuk bersatu dalam ikatan akidah Islam, menghilangkan sekat-sekat yang memisahkan umat, jangan mempertentangkan permasalahan yang bersifat khilafiyah karena perbedaan tersebut tidak bisa disatukan. Tetapi umat Islam harus bersatu dalam masalah-masalah pokok yaitu akidah dan syariat Islam.

  5. Berkembanganya ratusan aliran sesat di Indonesia merupakan ancaman terhadap akidah umat. Forum Umat Islam Kalsel menyerukan pemberantasan aliran sesat melalui tindakan tegas pemerintah dengan membubarkan dan melarang ajaran dan organisasi-organisasi yang membawa aliran sesat. FUI Kalsel juga meminta kepada pemerintah untuk segera membubarkan dan melarang Jemaah Ahmadiyah yang sudah jelas-jelas sesat karena mengakui pendirinya Mirza Ghulam Ahmad yang juga antek Inggris sebagai Nabi dan Rasul. (Selengkapnya pernyataan sikap FUI Kalsel)

Sementara itu ketika diwawancarai wartawan media cetak dan elektronik, selaku ketua FUI Kalsel KH. Husin Naparin mengatakan kegiatan tablig akbar diselenggarakan sebagai syiar Islam yang bertujuan untuk membangun kesadaran umat tentang makna hijrah sebenarnya. Beliau juga mengharapkan agar momen tahun baru Islam dapat dijadikan sarana persatuan umat. Dalam forum ini berhimpun beragam organisasi dan ormas Islam.

Dalam rubrik berita Habar Banua 14 Januari 2008, TVRI Kalimantan Selatan memberitakan FUI Kalsel menyelenggarakan acara Tablig Akbar Menyambut Tahun Baru Islam 1429 H dalam rangka membangun kesadaran umat, mengajak mereka berhijrah dari sistem jahiliyah Kapitalis-Sekuler menuju sistem Islam sebagaimana hijrah yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sistem Islam itu adalah sistem Khilafah Islamiyah.

Sebelumnya pada tanggal 10 Januari 2008, TVRI Kalimantan Selatan juga mengundang DPD I HTI Kalsel untuk berbicara tentang Hijrah dan perubahan bersama Rektor IAIN Banjarmasin Prof. Dr. H. Kamrani Buseri, dan pengurus al-Irsyad Kalsel Abdurrahman Maliki. Dalam kesempatan tersebut, HTI yang diwakili Ketua DPD I HTI Kalsel Ustad Baihaki al-Munawar menyampaikan secara syar’i hijrah bermakna keluar dari darul kufur menuju darul Islam. Hijrahnya Rasullah adalah untuk memberantas segala bentuk kemaksiatan dan kejahiliyahan dengan penegakan syariat Islam dalam daulah.

Umat Islam bersatulah dan berhijrah menuju sistem Khilafah Islamiyah ! [hm/JEINews]

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *