Liputan & Foto Shalat Idul Adha di Banjarmasin

Ustad M. Sholeh Abdullah: Berkorban untuk Menegakkan Syariah dan Khilafah

Di pagi hari yang bahagia, bertepatan dengan tanggal 10 Djulhijjah 1428 H (19 Desember 2007) kaum muslimin dari Banjarmasin dan sekitarnya berdatangan di halaman Gedung Wanita yang terletak di Jl. Hasan Basri Banjarmasin untuk mengikuti shalat Idul Adha yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia Kalimantan Selatan. Meskipun langit berawan hendak turun hujan, namun tidak menyurutkan langkah-langkah kaki kaum muslimin untuk menuju ke tempat shalat Idul Adha. Alhamdulillah hingga usai khutbah hujan tidak turun kegiatan shalat Idul Adha berjalan baik baik lancar.

Shalat Idul Adha yang diikuti hampir 1000 kaum muslimin ini dipimpin Imam shalat Ustad Basiran, SPd dengan Khatib Ustad M. Sholeh Abdullah, SPd. Dalam khutbahnya Ustad M. Sholeh Abdullah mengingatkan bahwa makna hari raya Idul Adha adalah kurban. Sebagaimana tauladan yang diberikan oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Atas perintah Allah SWT Nabi Ibrahim as rela kehilangan putranya, dan Nabi Ismail as rela kehilangan nyawanya. Karena ketaatan keduanya kepada Allah SWT dengan mengorbankan apapun yang dimiliki untuk memenuhi perintah Allah SWT, Allah SWT mengganti pengorbanan mereka dengan hewan sembelihan.

Sebagai seorang muslim kita wajib dan segera menjalankan perintah Allah SWT dengan segala pengorbanan yang mesti kita lakukan sebagaimana pengorbanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Menjalankan syariat Islam adalah kewajiban seluruh kaum muslimin, sedangkan kewajiban menjalankan syariat Islam tidak akan terpenuhi dengan sempurna tanpa ada institusi yang menerapkannya yakni Daulah Khilafah Islamiyah.

Seiring tidak diterapkannya syariat Islam sebagai sistem dan Khilafah sebagai institusi, kaum Muslimin hidup terpecah-pecah ke dalam lebih dari 50 negara atas dasar nasionalisme. Sementara kaum muslimin menerapkan sistem yang tidak berasal dari Islam yakni sistem Kapitalisme dan Sekularisme. Akibatnya tidak ada lagi yang melindungi kaum muslimin dari kejahatan bangsa-bangsa kafir, tidak ada lagi kehormatan yang meninggikan harkat derajat umat Islam. Untuk itu Ustad M. Sholeh Abdullah dalam khutbahnya menyerukan penting dan wajibnya pengorbanan kaum muslimin demi tegaknya syariah dan khilafah Islamiyah. [Teks Khutbah dapat didownload di sini dan rekaman audio khutbah Idul Adha Ustad M. Sholeh Abdullah dapat didownload di sini]

Sebelum shalat Idul Adha dimulai, Humas HTI Kal-Sel Ustad Hidayatul Akbar menyampaikan penyataan sikap dari Kantor Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia berkaitan dengan terjadinya perbedaan penetapan hari raya Idul Adha 1428 H. Dalam pernyataan sikapnya, Hizbut Tahrir Indonesia memandang keputusan pemerintah melalui Departemen Agama yang menetapkan tanggal 20 Desember sebagai waktu jatuhnya hari raya Idul Adha sebagai peristiwa yang menyedihkan dan memalukan kaum muslimin. HTI menyatakan: pertama, pilar dan inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di tanah suci sedang melakukan wukuf di Arafah. Kedua, Menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia agar kembali kepada ketentuan Syariah, baik dalam melakukan puasa Arafah maupun Idul Adha 1428 H, dengan merujuk pada ketentuan ru’yat untuk wuquf di Arafah. Ketiga, Menyerukan kepada umat Islam di Indonesia khususnya untuk menarik pelajaran dari peristiwa ini, bahwa demikianlah keadaan umat bila tidak bersatu. Umat akan terus berpecah belah dalam berbagai hal, termasuk dalam perkara ibadah. Bila keadaan ini terus berlangsung, bagaimana mungkin umat Islam akan mampu mewujudkan kerahmatan Islam yang telah dijanjikan Allah? Karena itu, perpecahan ini harus dihentikan. Caranya, umat Islam harus bersungguh-sungguh, dengan segala daya dan upaya masing-masing, untuk berjuang bagi tegaknya kembali Khilafah Islam. [Selengkapnya bisa didownload di sini]

Shalat Idul Adha yang diselenggarakan HTI Kal-Sel ini juga diliput para wartawan media cetak dan elektronik. Seusai shalat Idul Adha kaum muslimin satu dengan yang lainnya saling berangkulan dan bermaafan. Sementara itu para wartawan media elektronik dari ANTV, LatiVI, MetroTV, dan Trans 7 mewawancarai Humas HTI Kal-Sel Ustad Hidayatul Akbar berkaitan dengan aliran sesat Ahmadiyah. Menurut Humas HTI Kal-Sel, Ahmadiyah adalah sesat karena menganggap pendirinya sebagai Nabi padahal tidak ada lagi Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad SAW. Untuk itu pemerintah harus segera bertindak tegas kepada Ahmadiyah dengan melarang keberadaan mereka di Indonesia dan mengajak jemaah Ahmadiyah untuk segera bertaubat kepada Allah SWT. Hal ini harus segera dilakukan pemerintah, sebab bila pemerintah tidak tegas apalagi cenderung mendiamkan dan takut pada Barat dikhawatirkan masyarakat akan bertindak dengan caranya sendiri. [Hidayatullah/Jurnal Ekonomi Ideologis]

3.000-an Jamaah HTI Shalat Idul Adha

Rabu, 19-12-2007 | 12:10:58

BANJARMASIN, BPOST – Sekitar 3.000 jemaah Hizbut Thahrir Indonesia (HTI) Banjarmasin, Banjarbaru, Batola dan sekitarnya, melaksanakan Shalat Idul Adha 1428 Hijriyah, di Halaman Gedung Wanita, Jalan Hassan Basry, Banjarmasin.

Shalat yang dimulai pukul 07.30 itu berlangsung khidmat. Bertindak sebagai khatib pada shalat itu adalah Ustad M Sholeh Abdullah. Sedangkan sebagai imam, Ustad Basiran.

Pada khutbahnya, Ustad M Soleh Abdullah mengajak umat Islam untuk meneladani ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim yang telah rela mengorbankan anaknya Nabi Ismail.

Menurutnya, sikap ikhlas dan taat Nabi Ibrahim saat mendapat perintah Allah agar mengorbankan anak satu-satunya, Nabi Ismail untuk dikorbankan, harus diteladani umat Islam untuk menghadapi kehidupan saat ini.

Sementara, sebelum pelaksanaan shalat, Ketua HTI Kalsel, Baihaqi Al Munawar memberikan pernyataan sikap mengenai pelaksanaan Shalat Hari Raya Idul Adha yang dilaksanakan HTI pada Rabu (19/12). Menurutnya, pihaknya mendasarkan wukuf sesuai syariah yang telah disepakati para ulama.

Baihaqi mengatakan, pelaksanaan Idul Adha didasarkan pada wukuf di Arab Saudi. Karena wukuf di Arab Saudi jatuh pada Selasa (18/12), dengan begitu HTI memutuskan Idul Adha pada Rabu (19/12).

Selain berjalan khidmat, pelaksanaan Shalat Idul Adha yang berlangsung sekitar satu jam itu juga tak mendapat pengamanan ketat pihak kepolisian. Hanya dua personel polisi yang berjaga di sekitar lokasi. (ais)

http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/10150/180/

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *