KTT G-20 London: Konfrensi Sia-Sia

EKONOMI: G-20

oleh Ahmad Rizky Risani

Foto: BBC

Foto: BBC

Di kota London, Inggris, baru saja selesai pertemuan Negara-negara maju dan berkembang yang disebut dengan G-20. Negara-negara peserta tersebut adalah : Amerika Serikat, Argentina, Australia, Brazil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, dan Uni Eropa.

Pertemuan pemimpin G-20 sebelumnya telah diawali dengan pertemuan menteri keuangan negara G-20 pada 14 Maret 2009 di Horsham, London. Inggris sebagai tuan rumah diwakili oleh PM Gordon Brown. Tujuan dari adanya pertemuan G-20 ini adalah untuk mencari jalan keluar dari krisis finansial global yang menimpa Dunia mulai oktober 2008 lalu.

Tapi, para pengamat ekonomi pesimis akan tercapainya jalan keluar krisis finansial global, ini ditandai dengan perbedaan pendapat, dan hubungan yang memanas yang terjadi diantara para pemimpin yang hadir, seperti saya kutif dari BBC Indonesia, yaitu antara PM Perancis, Nicholas Sarkozy dan Kanselir Jerman, Angela Merkel, melawan Amerika Serikat yang diwakili Presiden Barack Obama dan Inggris. Perancis dan Jerman ingin pengawasan yang lebih ketat dalam sistem keuangan Dunia, sementara Amerika dan Inggris menekankan pembelanjaan (konsumsi) guna mendorong perekonomian Dunia. Kemudian saya kutif dari Okezone.com, rabu (01/04/09) “AS menginginkan stimulus yang lebih besar dari negara-negara lain, tapi eropa menentangnya dengan mengatakan langkah itu ibarat jalan menuju neraka, Eropa mengatakan hal yang terpenting adalah pembahasan reformasi arsitektur keuangan global. Akan tetapi Eropa sadar kalau hal itu pasti akan menemui hambatan dari AS. Dari paragrap diatas saja dapat kita lihat bahwa kerja sama, yang seharusnya lebih diutamakan malah tidak diindahkan oleh para pemimpin negara maju tersebut, sebaliknya perpecahan lah yang tampak mengemuka.

Pertemuan puncak resmi sendiri akan berlangsung hari Kamis, 2 April 2009 di gedung ExCel Centre di wilayah Docklands, London. Pertemuan G-20 ini antara lain membahas keinginan dari negara-negara anggota, seperti yang saya kutip dari Kompas, Jum’at (03/04/09), yaitu :

1. IMF akan mendapatkan dana ekstra USD 750 Milyar untuk menolong negara-negara yang menghadapi pelarian modal (capital outflow). Bank Dunia juga akan mendapatkan dana ekstra.

2. Penjualan cadangan emas milik IMF dibahas untuk meningkatkan cadangan dana.

3. Negara-negara “surga pajak” (tax heaven country) yang merupakan surga bagi kejahatan kerah putih akan segera di-umumkan.

4. Sekitar USD 250 Milyar dana akan disiapkan untuk pembiayaan perdagangan dunia khusus bagi negara berkembang.

5. Pengetatan aktivitas lembaga keuangan dicanangkan.

6. Rusia mengusulkan mata uang baru dunia sebagai pengganti USD dalam rangka transaksi internasional. Tapi ide ini tidak bergema.

7. PM Inggris, Gordon Brown, mengingatkan agar bantuan dari G-20 kepada negara miskin jangan dilupakan.

8. Pembicaraan soal liberalisasi perdagangan dunia, yang sedang terhenti, akan dibahas dalam pertemuan G-20 berikutnya di Italia, Juni 2009.

9. China siap membantu mengatasi krisis keuangan dunia. China menjadi andalan karena memiliki cadangan devisa USD 1.9 Trilyun (terbesar di dunia). Imbalannya, suara China dan negara berkembang akan lebih besar di IMF.

10. Sekjen PBB, Ban Ki-Moon, mengingatkan, kegagalan G-20 bertindak mengatasi krisis akan menyebabkan keresahan sosial di banyak negara.

11. Direktur pelaksana IMF, Dominique Strauss-Kahn mendorong G-20 agar mempercepat penyelamatan perbankan.

12. Presiden AS, Barack Obama, mengakui lemahnya peraturan keuangan di AS sebagai pemicu krisis keuangan global.

Dari beberapa hasil pertemuan G-20 diatas, dapat saya simpulkan bahwa para pemimpin dunia tidak berhasil menemukan akar permasalahan krisis yang tengah mendera dunia saat ini, para pemimpin itu hanya bisa meredam krisis dengan menambah jumlah dana kepada dana moneter internasional (IMF). Padahal seperti kita ketahui selama ini, program-program penyelamatan dan bantuan (baca : utang) dari IMF tidak pernah berhasil menolong negara-negara berkembang, malah membuatnya semakin terikat pada bantuan tersebut, dan jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Pengumuman negara-negara surga pajak memang sekilas bisa membantu untuk mengurangi sedikit masalah pelarian dana oleh para investor, tapi apakah itu akan menyelesaikan masalah ? pasti para investor itu akan tetap mencari negara yang lain untuk menyelamatkan dana nya dari pajak.

Pernyataan dari Rusia yang menginginkan ditetapkannya mata uang baru dunia juga tidak di dengar, padahal menurut perspektif saya ini bagus, karena selama ini, dunia hanya bergantung pada dollar AS (USD / US$) saja, sementara mata uang yang lain seperti tidak berharga dihadapan dollar AS. Sudah saat nya kita mengganti mata uang kita dari fiat money atau uang kertas, kepada standar emas (dinar dan dirham) / emas dan perak, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umat muslim dulu dalam bertransaksi, karena emas dan perak memiliki nilai yang stabil, dan makin kuat walau terkena pengaruh inflasi.

Peran IMF semakin besar sebagai hasil pertemuan G-20

Seperti dikutif dari BBC Indonesia, “IMF didirikan untuk membantu negara-negara yang terlanda krisis finansial jangka pendek karena tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar tagihan. Sebagai imbalan, IMF menerapkan persyaratan ketat terhadap negara tersebut seperti mengurangi defisit anggaran. Kini, dengan semakin mendalamnya krisis finansial dan semakin banyak negara yang berpaling ke IMF untuk meminta bantuan, dana untuk pinjaman itu bisa habis.

Itu sebabnya G20 sepakat IMF harus meningkatkan pinjamannya tiga kali lebih besar agar dana yang ditawarkan untuk dipinjam tetap ada”.

Untuk membantu negara-negara yang ekonominya terganggu, Dana Moneter Internasional, IMF, akan mendapat dana tambahan sebesar $750 miliar (dengan total dana USD 1 Trilyun), dikutif dari BBC Indonesia.

Rincian pendanaan

USD 500 milyar bagi IMF untuk dipinjamkan ke negara yang kesulitan.

USD 250 miliar untuk mendorong perdagangan dunia.

USD 250 miliar untuk fasilitas penarikan lebih besar IMF..

USD 100 miliar yang bisa dipinjamkan bank pembangunan internasional ke negara miskin.

USD 6 miliar tambahan bagi pinjaman ke negara miskin.

Masya Allah, peran IMF semakin besar dan semakin berpeluang menjerumuskan dunia kedalam jebakan utang (debt trap), dengan ditambahkan nya sejumlah dana besar kedalam tubuh organisasi internasional tersebut, IMF pasti akan langsung mencari berbagai negara yang bisa di jebak dengan utang, tentu dengan persyaratan yang ketat dan berat, seperti program penyesuaian struktural yang biasanya di ikuti dengan deregulasi, privatisasi dan peyerahan aset kepada asing yang menyimpan dana di IMF. Mengapa untuk melepaskan diri dari krisis global dan meyelamatkan perekonomiannya negara berkembang malah diberi hadiah utang oleh negara-negara maju dalam pertemuan G-20 di London ? Inikah hasilnya pertemuan yang di demonstrasi oleh ribuan orang karena mereka merasa marah dan kecewa, karena negara-negara G-20 menolong para perusahaan yang menyebabkan terjadinya krisis dengan paket stimulus senilai USD Trilyunan ! kenapa mereka tidak mencari akar permasalahan yang merupakan kesalahan dari sistem ekonomi kapitalis yang pada awal dekade 1990an berubah menjadi super-kapitalis yang menyebabkan orang semakin rakus akan materi dan spekulan dimana-mana ? Demonstarn itu marah karena terjadi PHK dimana-mana, nasib mereka tidak jelas, jadi wajar mereka melakukan itu… Apakah hanya itu hasil pertemuan yang menyedot dana sangat besar, seperti dikutif dari detik finance, (02/04/09) : “Perdana Menteri Inggris Gordon Brown pun akhirnya mengumumkan berapa angka yang dikeluarkan untuk acara puncak pertemuan G20 yang dianggap sebagai biaya paling minimalis dibanding acara sejenis sebelumnya.

Juru bicara kementerian luar negeri Inggris Mark Malloch-Brown mengungkapkan biaya untuk pertemuan G-20 pekan depan sekitar 19 juta poundsterling atau US$ 27 juta atau 20 juta euro (dalam kurs 11.500/USD sekitar Rp 310 miliar)”.

Indonesia berjaya di pertemuan G-20 (dapat utang baru lagi !!!)

Indonesia memanfaatkan betul pertemuan G-20 di London, Inggris, sebagai media untuk mendapatkan pinjaman terbaru, dalam hal ini dari Jepang. Dikutif dari BBC Indonesia, Kamis, (02/04/09) “Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pertemuan dengan sejumlah pemimpin negara.

Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang, Taro Aso, dicapai kesepakatan bantuan dana dari negara itu.

Jepang mengucurkan bantuan kepada Indonesia bernilai total 14,5 miliar dollar Amerika untuk mengatasi krisis keuangan global.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bantuan itu terdiri dari bilateral swap facility, dukungan dana siaga APBN berbentuk obligasi samurai bond yang bisa diterbitkan pemerintah Indonesia di Jepang, pinjaman reguler tahun ini dan bantuan pembiayaan perdagangan.

Selain itu, Jepang juga memberi bantuan bernilai 2,4 miliar dollar Amerika untuk pembiayaan berbagai macam proyek”.

Pemerintah kita lagi-lagi tidak belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu, tapi tanpa malu-malu pemerintah kita mengadahkan tangan meminta bantuan dari Jepang, yang kita ketahui merupakan negara yang memberikan utang luar negeri terbesar kepada Indonesia. Sebagai imbal balik, Jepang pasti akan makin dengan mudah mengatur Indonesia untuk kepentingan-kepentingannya secara khusus, dan kepentingan Barat pada umumnya. Padahal kita semua tahu, Jepang adalah salah satu negara yang sangat terpukul dan terkena imbas besar dari krisis keuangan global, karena Jepang menyandarkan ekonomi nya kepada ekspor. Dengan adanya krisis keuangan global, yang menurunkan daya beli masyarakat dunia pada umumnya, maka ekspor jepang pasti akan terkontraksi. Tapi mengapa Jepang di saat krisis ini masih mau mengeluarkan uang dengan jumalh yang sangat banyak buat negar seperti Indonesia ? Ini karena pasar Indonesia masih besar untuk produk-produk Jepang, dan dengan adanya utang ini, Jepnag akan mudah mendikte Indonesia agar peraturan penghalang masuknya barang-barang nya dihapuskan. Dan untang Indonesia semakin menumpuk, plus bunganya (riba)… Astagfirullah al Adziim [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS/ www.jurnal-ekonomi.org]

Ahmad Rizky Risani adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan.

Sumber Referensi :

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2009/04/090401_g20francegerman.shtml

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/04/01/277/206710/ketegangan-warnai-saat-menjelang-ktt-g20/ketegangan-warnai-saat-menjelang-ktt-g20

Kompas, Jum’at (03/04/09) : Sekilas Pertemuan G20 Pada Hari Pertama

http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2009/04/090402_imfg20.shtml

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2009/04/090402_g20deal.shtml

http://www.detikfinance.com/read/2009/03/28/123334/1106353/4/pertemuan-g20-makan-biaya-19-juta-pounds

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2009/04/090401_g20francegerman.shtml

Author: Admin

Share This Post On

3 Comments

  1. G-20 emang benar-benar sia-sia

    Post a Reply
  2. terlepas dari konteksnya: sepertinya tulisan ini butuh editan lebih lanjut ya mengenai EYD *no offense* :)

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *