Krisis Utang Ribawi di Barat

Oleh Hidayatullah Muttaqin

Krisis keuangan global 2008 yang memukul perekonomian dunia khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa sudah 4 tahun berlalu. Meski berhasil meredam dampak krisis melalui paket dana talangan trilyunan dollar, krisis yang lebih besar justru datang menghadang negara-negara Barat. Direktur IMF, Christine Lagarde mengatakan “tidak ada satu pun negara di dunia yang kebal dari krisis yang terus meningkat.” Lagarde menekankan, semua negara dimulai dari Eropa harus bertindak jika ingin menghindari krisis yang lebih dalam yakni depresi global (BBC Indonesia, 16/12/2011).

Namun jangankan memperoleh solusi, negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa justru menghadapi perpecahan dalam menyikapinya. Langkah Jerman dan Perancis dalam KTT Uni Eropa Desember tahun lalu untuk menciptakan aturan penghematan anggaran dan pajak transaksi keuangan yang mengikat gagal setelah ditentang keras oleh Inggris. Perdana Menteri Inggris, David Cameron menyatakan kebijakan keuangan liberal yang radikal sebagai jalan keluar. Menaggapi kegagalan tersebut, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengatakan “Ancaman disintegrasi Eropa sangat besar. Eropa tengah menghadapi situasi yang sungguh berbahaya” (BBC Indonesia, 8/12/2011).

Buntunya jalan penyelesaian krisis menyebabkan kekhawatiran demi kekhawatiran di kalangan para pemimpin Eropa. Presiden Portugal Anibal Cavaco Silva menyatakan agar Uni Eropa harus segera berpindah dari krisis. Hal serupa juga disuarakan Presiden Italia Giogio Napolitano. Sedangkan pemerintah Yunani lebih bergulat pada upaya meyakinkan legislatif dan rakyatnya agar menyetujui paket penghematan yang menjadi syarat bantuan talangan. Perdana Menteri Lucas Papademos menyatakan Yunani akan mengalami petualangan yang membawa bencana jika tidak mampu membayar utang-utangnya kepada para kreditor (VOA, 10/2/2012).

Krisis yang terjadi sekarang telah menempatkan negara-negara Barat dalam zona merah. Mereka tidak hanya menghadapi kebangkrutan di sektor keuangan sebagaimana yang terjadi pada tahun 2008, tetapi lebih dari itu ancaman justru datang dari kebangkrutan negara sebagai akibat besarnya defisit APBN dan kronisnya utang ribawi yang mereka tumpuk. Beberapa negara seperti Yunani, Portugal, dan Irlandia sudah masuk kotak. Sedangkan Italia dan Spanyol harus bersiap-siap bangkrut jika tidak mendapatkan dana talangan. Jika dua negara besar ini gagal bayar utang, resikonya seperti tsunami yang siap menerjang ekonomi Eropa.

Permasalahan serupa juga dihadapi oleh Amerika Serikat dengan kondisi ekonomi yang lebih dingin dari Eropa sekarang. Hal ini terjadi sebagai hasil kebijakan pemerintahan Obama meredam dampak krisis keuangan tahun 2008. Hanya saja langkah talangan trilyunan dollar membawa AS berada dalam rekor utang terburuk sepanjang sejarah. Akhir tahun 2011 utang pemerintah AS mencapai $15,54 trilyun meningkat 4 kali lipat dari nilai utang tahun 1990 dan 3 kali lipat jika dibandingkan tahun 2000. Jumlah utang pemerintahan Obama pada tahun 2011 ini setara dengan 75 kali jumlah utang pemerintah Indonesia atau 108 kali lipat jumlah penerimaan APBN Indonesia 2011.

Krisis telah membuka tabir ketidakberdayaan pemerintahan Barat dalam memecahkan permasalahan di negara mereka kecuali sekedar meredam dampaknya sesaat untuk kemudian datang lagi dalam goncangan yang lebih hebat. Krisis tersebut juga telah membuka pandangan dunia yang selama ini menjadikan negara-negara Barat dengan ideologi Kapitalismenya sebagai kiblat sistem ekonomi, pemerintahan, hukum, dan nilai-nilai kehidupan.

Sebuah jawaban diperlukan dalam hal ini, yakni bagaimanakah utang ribawi menciptakan krisis di Barat? Dengan kejatuhan ekonomi Barat tersebut, bagaimanakah masa depan ekonomi dunia dan siapakah yang akan mengambil-alih kepemimpinan dunia kemudian?

Author: Admin

Share This Post On

1 Comment

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *