Klaim Pertumbuhan Ekonomi: Akankah Sejarah Berulang?

Oleh Hidayatullah Muttaqin

Pemerintah mengklaim berhasil memacu pertumbuhan ekonomi di Indonesia sebagai salah satu yang tertinggi merupakan sebuah keberhasilan. Apalagi didukung oleh berbagai laporan internasional yang memuji pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan Menteri ESDM Jero Wacik baru-baru ini mengklaim, keberhasilan pemerintahan SBY memacu pertumbuhan ekonomi 6% merupakan tanda zaman keemasan Indonesia sebagaimana yang pernah diraih pada era Sriwijaya dan Majapahit.

Ada dua masalah utama ketika pemerintah mengklaim berhasil memacu pertumbuhan ekonomi tertinggi di Asia setelah China. Klaim tersebut menyembunyikan kerentanan ekonomi kita terhadap krisis dan menutupi masalah kualitas pertumbuhan itu sendiri.

Pemerintah harus berhati-hati dengan klaimnya. Sebab Orde Baru dulu juga melakukan klaim yang sama. Bahkan tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 7% tiap tahunnya pada masa Orde Baru lebih tinggi dibanding sekarang. Tapi apa yang terjadi? Ekonomi kita hancur dalam sekejap akibat krisis moneter tahun 1997/1998. Itu menandakan rapuhnya dan sangat rentannya perekonomian kita terhadap krisis.

Sebelum krisis moneter menimpa Indonesia, Bank Dunia juga rajin memuji Indonesia. Salah satunya sebagaimana tertuang dalam laporan ekonomi Bank Dunia yang berjudul “Indonesia: Dimensions of Growth” yang dikeluarkan pada Mei 1996, persis satu tahun sebelum rupiah jatuh.

Dalam laporan tersebut Bank Dunia memuji pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai salah satu yang tertinggi di dunia, khususnya Asia Pasifik. Pujian Bank Dunia pada masa akhir rejim Orde Baru tersebut persis pujian yang sekarang diterima Presiden SBY dari berbagai lembaga internasional. Apakah sejarah akan berulang kembali?

Sekarang ekonomi Indonesia lebih terintegrasi ke dalam ekonomi global, baik sektor riil maupun sektor finansial. Ekonomi kita sekarang juga lebih didominasi asing dari hulu ke hilir, dari sektor perbankan hingga sektor industri.

Jadi gejolak global sekarang lebih berpengaruh terhadap perekonomian kita dibanding pada masa Orde Baru. Dana asing yang sekarang sedang mengais untung di Indonesia, sewaktu-waktu bisa lari dalam sekejap. Karena itu hati-hati dengan klaim pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut.

Menggenjot pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga menimbulkan masalah keadilan dan pemerataan pembangunan. Sebab yang terjadi justru penghisapan dan eksploitasi wilayah kaya sumber daya alam, pengrusakan lingkungan, marginalisasi daerah pinggiran, dan tentu saja tidak mengangkat pendapatan mayoritas penduduk. Ketimpangan antar wilayah cukup tinggi di mana sampai saat ini 57% perekonomian Indonesia terpusat di Jawa.

Klaim pertumbuhan ekonomi yang tinggi nyatanya tidak merefleksikan kualitas pertumbuhan itu sendiri. Dua sektor penting yang menopang lapangan kerja bagi masyarakat kontribusinya terhadap perekonomian mengalami penurunan. Sektor pertanian turun dari 15,3% pada tahun 2009 menjadi 14,7% pada tahun 2011. Sementara sektor industri turun dari 26,4% tahun 2009 menjadi 24,3% pada tahun 2011.

Pemerintah silahkan saja mengklain pertumbuhan ekonomi membuat rakyat semakin sejahtera. Namun fakta yang kita lihat penduduk semakin depresi. Semakin banyak warga yang bunuh diri dengan alasan tidak tahan menanggung beban ekonomi. Sementara demo buruh juga semakin sering. Ini menunjukkan ketidakpuasan akan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Terakhir, apa pemerintahan sekarang mau mengulang kembali sejarah akhir Orde Baru yang mengklaim keberhasilan memacu pertumbuhan ekonomi yang tinggi? Dari siap-siap menuju tinggal landas yang terjadi justru “crash”.[Jurnal-ekonomi.org]

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *