Kita Membutuhkan Institusi bukan "Basa Basi"

EKONOMI : Ekonomi Islam

Oleh Hidayatullah Muttaqin


PEMBUKAAN WIEF

Foto: ANTARA

Dalam pembukaan Forum Ekonomi Islam Dunia (WIEF) ke-5 di Jakarta (2/2), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan penghimpunan dana siaga yang berasal dari  negara-negara penganut ekonomi Syariah. Dana yang dihimpun tersebut (World Expenditure Support Fund – WESF), digunakan untuk anggota dalam upaya menangkal pengaruh buruk krisis global.

Acara yang diikuti 1.557 peserta dari 36 negara ini juga dihadiri oleh beberapa kepala negara, seperti Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Presiden Somalia Sheikh Sharief  Sheikh Ahmed, dan Perdana Menteri Maroko Abbas El Fassi. Acara ini juga dihadiri Sekjen Organisasi Konferensi Islam, Ekmeleddin Ihsanoglyu.

Menurut Presiden SBY, urgensi pembentukan WESF adalah mensupport negeri-negeri Islam yang tidak memiliki kemampuan maksimal untuk membangun dirinya. Presiden memandang, negeri-negeri Islam penghasil minyak di teluk memiliki kamampuan lebih dari segi pendanaan. Sebab, keuntungan bersih mereka setelah kenaikan harga minyak mencapai US$ 4 trilyun,

Dalam jamuan santap malam dengan peserta WIEF, Presiden SBY mengatakan, “Saya yakin, bahwa apa yang kita cari dan dapatkan melalui WIEF lebih dari sekadar kerja sama ekonomi. Apa yang kita dapatkan adalah persahabatan sejati, persaudaraan dan solidaritas antara sesama umat muslim dari berbagai bangsa.”

Kita Perlu Institusi bukan “Basa Basi”

Di tengah krisis global saat ini, negeri-negeri Islam sudah sewajarnya untuk “merapat”, membahas dan memecahkan permasalahan mereka. Juga sangat wajar untuk saling tolong-menolong, termasuk dalam masalah finansial, apalagi di antara negeri-negeri Islam yang miskin terdapat negeri-negeri Islam yang kaya.

Krisis global yang berasal dari Barat terjadi sebagai akibat kerusakan sistem Kapitalisme. Dalam perspektif akidah Islam, sudah semestinya kita menjadikan hukum-hukum Allah sebagai metode untuk memecahkan problem krisis global sebagaimana diwajibkannya kita (sebagai orang Islam) untuk beriman kepada Allah, al-Quran, dan Rasul-Nya. Keimanan membutuhkan amal soleh, dan amal soleh itu adalah menerapkan hukum-hukum Allah.

Adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim dan negeri-negeri Islam untuk mengikat tali persaudaraan sebagaimana hadis riwayat Bukhari, “Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, muslim itu saudara bagi muslim yang lain.” Jadi sangat tepat perkataan Presiden, bahwa harus dibangun persahabatan sejati, persaudaraan dan solidaritas Islam. Hanya saja persaudaraan tersebut harus diikat dalam tali akidah Islam. Sebab, faktor kesamaan akidah ini yang membuat kita bersaudara.

Hanya saja persaudaraan dan saling tolong menolong tersebut bukan dalam kerangka keterpisahaan, seperti nasionalisme. Sebab Rasulullah SAW melarang umatnya berpisah-pisah atas dasar ashabiyah sebagaimana hadis yang berbunyi, “Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan ashabiyah (fanatisme golongan, seperti nasionalisme)” (HR. Abu Dawud).

Rasul menegaskan bahwa umat Islam adalah satu bagian yang tidak terpisahkan. Dalam Piagam Madinah disebutkan:“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Muhammad Nabi SAW antara orang-orang mu`min dan muslim dari golongan Quraisy dan Yatsrib. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummah wahidah), yang berbeda dengan orang-orang lain” (Sirah Ibnu Hisyam).

Menyerukan kaum muslimin agar menjalin solidaritas, saling membantu dalam krisis hanya “basa basi” jika perspektifnya adalah Kapitalisme, dan jika kaum muslim masih saling memisahkan diri atas dasar nasionalisme seperti saat ini.

Kita membutuhkan institusi untuk menjadikan solidaritas dan persaudaraan kaum Muslim itu kuat dan berakar pada akidah Islam. Kita membutuhkan institusi untuk menjadikan hukum-hukum Islam sebagai metode pemecahan permasalahan “keduniaan” dan agar kita selamat di “kampung akhirat”. Kita membutuhkan institusi untuk menerapkan sistem ekonomi Islam guna menyelesaikan krisis ekonomi global. Institusi itu adalah Khilafah Islamiyah. Insya Allah. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]

“Selanjutnya akan datang suatu kekhalifahan yang berjalan di atas manhaj kenabian” (H.R. Ahmad).

REFERENSI BERITA

Kompas (3/3/2009), Perlu Ada Dana Siaga

Presidensby.info (2/3/2009), WIEF, Solidaritas Antarnegara Muslim

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *