Kekeliruan Pertumbuhan Ekonomi sebagai Problem Solving

oleh: Hidayatullah Muttaqin

Asas pertumbuhan ekonomi sebagai metode pemecahan permasalahan ekonomi Indonesia – termasuk masalah kemiskinan – merupakan problem solving yang diadopsi dari sistem ekonomi Kapitalis. Di mana problem solving ini lahir dari pandangan Kapitalis bahwa “kebutuhan manusia yang tidak terbatas” berhadapan dengan “terbatasnya sumber daya (scarcity) yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia”, sehingga satu-satunya jalan untuk memecahkan permasalahan ini menurut Kapitalisme adalah dengan menempuh peningkatan produksi barang agar gap antara tingkat kebutuhan yang tidak terbatas dengan ketersediaan barang untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat diperkecil jaraknya. Dalam level makro ekonomi, aplikasi konsep problem solving tersebut adalah pertumbuhan ekonomi.

Secara prinsip pandangan tersebut bertentangan dengan Islam dan secara fakta tidak sesuai realitas.

Dalam diri manusia terdapat dua macam kebutuhan yang mengiringi kehidupan manusia, yaitu kebutuhan jasmani (hajatul udlawiyah) dan naluri (gharizah). Keduanya memerlukan pemenuhan. Kebutuhan jasmani muncul karena sistem kerja organ tubuh manusia. Kebutuhan ini misalnya kebutuhan makan, minum, dan oksigen, atau istirahat, tidur, tingkat suhu udara tertentu, terhindar dari panas dan dingin yang menyebabkan manusia membutuhkan pakaian dan tempat berlindung. Sedangkan naluri merupakan khasiyat yang terdapat dalam diri manusia untuk mempertahankan eksistensi dirinya, keturunan dan mengagungkan Penciptanya.

Dalam Islam semua kebutuhan tersebut diatur agar akal, agama, jiwa, keturunan, harta, kehidupan masyarakat dan negara, tetap terpelihara dan terjaga, serta tidak terjadi kerusakan dan penistaan terhadap manusia itu sendiri. Karenanya, Islam memberikan arahan kepada manusia dalam memenuhi kebutuhannya.

Berkaitan dengan materi/zat yang akan digunakan manusia dalam memenuhi kebutuhannya, maka Islam memberikan batasan bawah konsumsi terhadap zat dibolehkan kecuali zat-zat yang telah ditetapkan keharamannya. Misalnya babi, bangkai hewan, darah, minuman keras dan narkoba.

Berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dalam bentuk jasa, maka Islam mewajibkan manusia meninggalkan jasa yang dilarang seperti pelacuran, panti pijat dan ukir tatto.

Kemudian bagaimana cara memperoleh dan pemanfaatan atas barang dan jasa, manusia diwajibkan untuk meninggalkan yang diharamkan dan dianjurkan meninggalkan yang makruh. Misalnya diharamkan melakukan pemenuhan kebutuhan dengan jalan berfoya-foya, bermewah-mewah, atau berlebih-lebihan.

Jadi kebutuhan dalam Islam dibatasi, dan prinsip ini bertentangan dengan prinsip kebutuhan manusia tidak terbatas, karena prinsip Kapitalis ini memungkinkan bagi manusia mengkonsumsi barang dan jasa apa saja tanpa mengindahkan kerusakan yang dikandungnya, atau mengekspresikan pemenuhan kebutuhannya dengan jalan berfoya-foya dan berlebih-lebihan.

Kemudian pandangan sumber daya yang tersedia terbatas, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan manusia merupakan pandangan yang keliru. Allah swt. berfirman:

“”¦sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada dan di langit dan yang ada di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (T.QS. Luqman: 20)

Bumi, langit dan segala isinya merupakan ciptaan Allah swt. yang sangat sempurna. Allah telah memberikan kepada manusia nikmat yang ada di langit dan di bumi secara sempurna. Artinya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, berapapun jumlah penduduk manusia.

Bagaimana manusia dapat memenuhi kebutuhannya sangat tergantung kepada manusia itu sendiri. Pertama, bagaimana manusia mendistribusikan harta dan barang-barang kebutuhan manusia sehingga setiap individu dapat memenuhi kebutuhannya. Kedua, mengenai kelangkaan terhadap suatu barang yang belum diolah atau hanya sedikit tersedia hanyalah masalah yang bersifat kondisional. Misalnya seandainya produksi beras turun karena kemarau yang melanda seluruh dunia, maka peranan beras sebagai bahan makanan dapat digantikan oleh sumber-sumber makanan lainnya yang masih tersedia dan yang dapat tumbuh dalam musim kemarau. Kelangkaan suatu barang karena belum ada diproduksi atau produksinya sedikit dapat dipecahkan jika manusia dengan kecerdasannya mampu menemukan teknologi yang mengubah suatu benda/barang menjadi barang yang lebih bermanfaat dari segi kualitas dan kuantitasnya Pemecahan aspek kedua ini hanya bersifat mengadakan suatu barang yang langka karena ketiadaannya atau jumlahnya yang sedikit.

Sementara dari sisi fakta kebutuhan manusia itu terbatas. Kebutuhan manusia bisa dikatagorikan ke dalam kebutuhan pokok, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier. Kebutuhan pokok merupakan kebutuhan asasi manusia yang harus dipenuhi seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Sedangkan kebutuhan sekunder dan tersier tidak harus dipenuhi, meskipun bisa dipenuhi.

Sumber daya yang sudah dan sedang diolah manusia di seluruh dunia saat ini, sebenarnya mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia, bahkan seandainya dibagikan kepada setiap individu di dunia sesuai standar hidup, maka masih terdapat kelebihan. Kebutuhan pokok manusia ini bersifat tetap. Lain halnya dengan kebutuhan sekunder dan tersier yang bersifat relatif dan terus berkembang seiring dengan perkembangan sains dan teknologi.

Kapitalisme melihat “kebutuhan” (need) sebagai “keinginan” (want) sehingga semua kebutuhan (pokok, sekunder, tersier) harus dipenuhi. Dan inilah sebab kenapa Kapitalisme melihat sumber daya yang tersedia itu terbatas.

Pandangan ekonomi Kapitalis yang melahirkan peningkatan produksi atau produksi nasional sebagai problem solving berdiri di atas prinsip yang batil dan tidak sesuai dengan fakta. Karenanya penerapan pertumbuhan ekonomi sebagai problem solving tidak dapat memecahkan permasalahan ekonomi, tetapi justru menyebabkan kesengsaraan umat manusia dan kerusakan lingkungan hidup.

Pandangan tersebut menitikberatkan permasalahan ekonomi pada barang dan jasa yang diproduksi untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan pada terpenuhi tidaknya kebutuhan manusia. Atau Kapitalisme lebih memperhatikan materi yang diproduksi daripada manusianya sendiri. Pandangan ini tidak akan memecahkan permasalahan ekonomi seperti; kemiskinan, pengangguran, pemenuhan kebutuhan hidup manusia, dan lain sebagainya.

Dengan mengadopsi pertumbuhan ekonomi sebagai problem solving, maka tidaklah aneh jika kebijakan pemerintah mendukung habis-habisan bisnis para konglomerat dan investor (pemilik modal) dalam bentuk subsidi, tax holiday, kemudahan usaha, penggusuran tanah rakyat kecil, kredit lunak tanpa jaminan, dan lain sebagainya, agar mereka sebagai lokomotif perekenomian bergerak laju sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat tercapai. Mengenai dampak buruk yang dialami masyarakat sebagai akibat diterapkannya kebijakan tersebut, termasuk ketidakmampuan mereka memenuhi kebutuhan hidupnya, bukanlah persoalan penting, dan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut cukup diselesaikan dengan pertumbuhan ekonomi pula.

Kita harus membedakan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi sebagai problem solving.

Pertumbuhan ekonomi sebagai indikator makro ekonomi hanyalah gambaran perkembangan perekonomian suatu negara yang diukur berdasarkan pertumbuhan produksi nasional. Meskipun demikian, kita harus tetap hati-hati dengan angka-angka pertumbuhan ekonomi agar tidak terjadi penyesatan informasi.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi sebagai problem solving merupakan pandangan yang muncul dari pemikiran ekonomi Kapitalis. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi sebagai problem solving atau asas perekonomian nasional adalah jalan hidup ideologi Kapitalisme. Terhadap hal ini kita tidak boleh mengambil dan menerapkannya sebagaimana dinyatakan Allah swt. dalam firmannya:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)

Author: Admin

Share This Post On

Trackbacks/Pingbacks

  1. Kekeliruan Pertumbuhan Ekonomi sebagai Problem Solving | BLOG | Institut Ekonomi Ideologis - [...] dari: Jurnal Ekonomi Ideologis Pertumbuhan Ekonomi, Ekonomi CommentsBe the first to comment on this article! Add Comment…

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *