Kebutuhan Khilafah Sangat Mendesak

INTERNASIONAL : Dunia Islam

Oleh Hidayatullah Muttaqin

“Cari mereka (Uighur)! Serang! Serang! Serang!” teriak belasan orang Han dengan senjata siap di tangan, ketika melihat tiga lelaki Muslim Uighur lewat. Mendengar teriakan itu, ketiga lelaki Muslim itu ketakutan dan lari menyelamatkan diri. Tapi malang, salah satu diantara mereka berhasil tertangkap, kemudian dikeroyok dan dipukuli oleh sekelompok orang Han. (Eramuslim.com 9/7/2009)

Ratusan Muslim Uighur tewas, seribu di antaranya ditangkap. Sedangkan sepuluh ribu muslim Uighur mengungsi keluar dari tanah kelahirannya. Seperti dikutip Eramuslim.com (9/7/2009), organisasi-organisasi Muslim Uighur di pengasingan menyebut keadaan di Xinjiang sebagai “genosida”. Torgan Tozakhunov, deputi direktur Pusat Kebudayaan Uighur di Kazakhstan mengatakan:

“Genosida sedang berlangsung terhadap komunitas Muslim Uighur. Otoritas pemerintah China harus bertanggung jawab atas kejahatan ini di hadapan dunia internasional.”

Di dalam negeri, reaksi keras datang dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). PITI mengecam keras kejahatan China dan etnis Han terhadap Muslim Uighur. PITI juga sangat menyesalkan atas diamnya umat Islam di seluruh dunia atas penderitaan dan penganiayaan, serta diskriminasi yang dialami Muslim Uighur (Eramuslim.com 10/7/2009).

Sementara itu dari luar negeri, Turki melalui Menteri Perdagangan dan Industri Nihat Ergun menyerukan boikot terhadap produk China sebagai reaksi atas kejahatan pemerintah China dan etnis Han terhadap Muslim Uighur. Ergun mengatakan:

“Konsumen yang membeli sebuah produk harus tahu apakah negara yang memproduksi barang itu menghormati nilai-nilai kemanusiaan atau tidak.” (Eramuslim.com 9/7/2009).

Benar kata juru bicara PITI Steven Indra Wijaya kepada The Jakarta Post sebagaimana dikutip Eramuslim.com:

“Kami menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk menolak penindasan serta membantu etnis Muslim Uighur.”

Sejak awal tahun ini, saudara-saudara kita dibantai dari Sudan hingga Xinjiang. Pembantaian Muslim Uighur merupakan rentetan pembantaian umat Islam yang tidak dapat ditahan negeri Islam di mana pun saat ini.

Betapa tidak, sejak keruntuhan sistem Khilafah sejak 3 Maret 1924, kaum Muslim di seluruh dunia harus berjuang sendiri menghadapi pembantaian demi pembantaian. Mereka berjuang tanpa bantuan penguasa negeri-negeri mereka. Mereka harus mengangkat senjata sendiri seperti yang dilakukan para mujahid di Irak, Palestina, Afghanistan, Somalia, Sudan, dan Checnya.

Kaum Muslimin harus memiliki institusi Khilafah yang menghimpun kekuatan umat Islam dalam militer dan politik luar negeri atas dasar jihad. Tidak hanya boikot perdagangan yang akan dilakukan kaum Muslimin, tetapi segala bentuk hubungan dengan negara-negara yang membantai umat Islam seperti China akan diputuskan. Keberadaan wakil pemerintahan mereka dan warga negara mereka akan diusir dari tanah umat Islam, seperti tanah Muslim Uighur di Xinjiang.

Yang menyedihkan, saat saudara seakidahnya dibantai, Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda fokus pada pencitraan Indonesia di luar negeri. Hasan menyatakan kekaguman negara-negara lain terhadap pesta demokrasi di Indonesia (Antara News 8/7/2009). Kita tidak dapat mengandalkan penguasa zalim dengan sistem pemerintahan sekuler saat ini yang sibuk melayani kepentingan penjajah.

Kebutuhan Khilafah sangat mendesak, dan ini adalah kewajiban bersama yang harus diemban kaum Muslimin di seluruh dunia. “Setelah itu akan terulang kembali periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah.” (HR Ahmad). [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS/ www.jurnal-ekonomi.org]

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *