Kapitalisme – Sekularisme Penyebab Utama Kemiskinan

(Tanggapan Untuk Zuly Qodir)

KEMISKINAN

Oleh: M. Hatta*

Tulisan Zuly Qodir di koran Kompas, Jum’at, 7 desember 2007, penting untuk ditanggapi. Dalam tulisannya itu, Qodir mengatakan beberapa hal yang patut untuk dipertanyakan; Pertama, berupaya mengaburkan bahwa kemiskinan bukanlah disebabkan oleh sistem dan dasar negara yang dianut bangsa ini (Paragraf 3, 4, dan 5). Kedua, tentang misi profetik Islam dengan jalan menerapkan substansi ajaran Islam (paragraf 6 dan 7). Ketiga, tentang bentuk perlawanan terhadap kemiskinan yang diusulkan oleh Qodir yaitu memberikan suplai modal usaha untuk kaum miskin, bukan dengan pembagian daging kurban (Paragraf 10).

Tanggapan: Pertama, pernyataan Qodir bahwa kemiskinan bukanlah disebabkan oleh sistem dan dasar negara yang dianut bangsa ini adalah menunjukkann bahwa Qodir belum paham (kalau tidak mau dikatakan tidak paham) bagaimana karakter dari sistem Kapitalisme yang menjadi penyebab utama kemiskinan.

Padahal hal ini bukanlah rahasia lagi bagi kebanyakan ekonom yang jujur dalam menilai sistem Kapitalisme. Munculnya paham sosialisme dan konsep negara kesejahteraan adalah sebagai respon dari kegagalan Kapitalisme dalam mensejahterakan umat manusia. Dari sini saja kita sudah dapat memahami fakta kegagalan sistem Kapitalisme. Leboh dari itu, Salah satu bentuk paham yang paling menyengsarakan umat manusia adalah konsep kebebasan kepemilikan. Dengan konsep ini Kapitalisme membolehkan sebagian besar sumber daya alam di tangan segelintir orang. Tetapi mengapa Qodir berusaha mengatakan bahwa masalah kemiskinan bukan karena sistem kapitalisme yang dianut oleh Indonesia? Apakah ini dikarenakan Qodir pengikut setia Kapitalis Sekuler?.

Kedua, dalam point yang kedua ini intinya Qodir mengatakan bahwa untuk membela kaum yang lemah dan tertindas adalah dengan jalan menerapkan substansi ajaran Islam. Pernyataan ini sebenarnya adalah pernyataan yang dikeluarkan bukan dalam rangka memberikan solusi (dalam konteks ini adalah membela kaum yang lemah), tetapi lebih kepada pengopinian untuk mendekonstruksi ajaran Islam dan menolak Formalisasi Syariah.

Untuk membela kaum yang lemah dan tertindas dengan melalui sebuah substansi hanya akan membuahkan kegagalan. Demokrasi yang diterapkan dan dijalankan di negeri ini yang notabenenya adalah sebagai sebuah sistem saja tidak mampu menghapus kemiskinan di negeri ini apalagi kalau yang diterapkan hanya sebatas substansi dari demokrasi.

Adapun tentang dekonstruksi paham fatalistik jabariah yang digagas oleh Qodir penulis sepakat (paragraf 8 dan 9). Namun, perlu diingat bahwa paham fatalistik jabariah bukanlah murni berasal dari Islam tetapi melainkan berasal dari ajaran filsafat india dan paham sufi yang merasuk kedalam benak umat Islam.

Ketiga, pada point ketiga ini pada intinya Qodir ingin mengatakan bahwa pembagian daging kurban pada saat Idul Adha tidaklah perlu dilakukan karena hanya bersifat konsumtif. Logika yang digunakan Qodir ini juga pernah dipakai oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa zakat yang selama ini dijalankan adalah bersifat konsumtif, untuk itu harus dirubah menjadi zakat yang bersifat produktif dengan jalan mengumpulkan uang zakat yang ada untuk kemudian digunakan sebagi modal membuka usaha dimana hasil dari usaha tersebut diberikan kepada kaum miskin.

Pemikiran ini secara sederhana memang terkesan sangat mulia, namun dibaliknya terkandung kesalahan berpikir dan sekaligus menyalahi hukum syara. Dikatakan kesalahan berpikir karena salah dalam menentukan mana problem utama diantara banyaknya problem cabang. Permasalahan kemiskinan tidaklah cukup diselesaikan dengan memproduktifkan zakat dan dana Idul Qurban sebagaimana yang dikehendaki Qodir. Belum lagi adanya hambatan atau bahkan kerugian yang setiap saat akan dihadapi dari usaha tersebut yang sumber dananya berasal dari zakat dan dana Idul Qurban yang tentunya akan lebih merugikan para mustahiq zakat.

Dikatakan menyalahi hukum syara karena solusi yang ditawarkan tidak dibangun berdasarkan kepada nash syariat, tetapi murni menggunakan logika maslahat -yang notabenenya adalah logika akal- yang secara jelas tidak bisa dijadikan dalil.

Lebih dari itu, tingginya tingkat kemiskinan ada lebih disebabkan diterapkannya sistem Kapitalisme Sekuler. Di negara maju sekalipun seperti AS, tingkat kemiskinan masih sangat tinggi. Kegagalan Kapitalisme dalam mensejahterakan umat manusia adalah suatu keniscayaan. Ini dikarenakan sejak lahirnya paham ekonomi Kapitalisme memiliki kecacatan. Kecacatan Kapitalisme sejak awal adalah pandangannya dalam melihat permasalahan ekonomi. Kapitalisme memandang bahwa permasalahan ekonomi berawal dari terbatasnya sumber daya alam dalam memenuhi kebutuhan umat manusia yang tidak terbatas. Maka dari itu Kapitalisme memiliki semboyan “produce, produce, and to produce“ untuk mencapai pertumbuhan ekonomi setinggi mungkin. Tanpa memperhatikan lagi bagaimana distribusi dari sumber daya alam yang ada kepada masyarakat.

Kesimpulan

Zuly Qodir dalam tulisannya yang berjudul “Islam Melawan Kemiskinan” terkesan menyembunyikan penyebab utama dari kemiskinan (entah apakah ini memang karena ketidak ketahuan Qodir atau memang ada maksud tertentu), yaitu sistem ekonomi Kapitalisme.

Seharusnya sebagai seorang intelektual berani mengatakan mana yang benar mana yang salah. Bukan malah bersikap tidak jujur dalam melihat sesuatu.

Wallahua’lam bi ash-Shawab

*Penulis adalah Mahasiswa Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Author: Admin

Share This Post On

4 Comments

  1. Kemiskinan di Indonesia jangan ditimpakan kepada umat Islam atas pengelolaan dana zakat dan idul korban yang menurut sdr Zuly Qodir bersifat konsumtif.

    Post a Reply
  2. Astagfirullah….saya ikut prihatin…(T_T)

    Post a Reply
  3. saya setuju kalo kapitalisme adalah sumber awal dari kemiskinan.
    tapi bgmn caranya menghilangkan paham kapitalisme di indonesia?

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *