Kampanye Asing Mempreteli Wilayah Indonesia

oleh: Hidayatullah Muttaqin

Keutuhan wilayah Indonesia terancam. Upaya asing untuk mencabut Papua dari teritorial Indonesia semakin nampak. Setelah Agustus lalu 40 anggota Kongres AS mengintervensi pemerintah Indonesia untuk membebaskan 2 tahanan OPM yang telah diputus bersalah oleh pengadilan, kali ini di Inggris pada 15 Oktober 2008 dibentuk lembaga International Parliamentary for West Papua (IPWP) dengan tujuan utama kemerdekaan Papua Barat (Irian Jaya) dari Indonesia.

Pendirian lembaga yang dipimpin tokoh kemerdekaan Papua Barat, Benny Wenda, mendapatkan dukungan penuh 2 anggota parlemen Inggris, yaitu Hon Andrew Smith MP dan Lord Harries. Keberadaan kaukus parlemen internasional ini menunjukkan agenda asing untuk memecah keutuhan wilayah Indonesia semakin menampakkan wujudnya.

Dalam kerangka kerja IPWP, lembaga ini menggalang kerja sama dengan politisi dari semua partai di Inggris dan dunia internasional, LSM dan kelompok-kelompok kampanye. Sedangkan propaganda yang dikembangkan di dunia internasional adalah terjadinya pembantaian massal warga Papua oleh Indonesia.

Hal yang sangat aneh dari kampanye LSM-LSM asing selama ini memposisikan Indonesia sebagai pelaku jahat yang menyebabkan ketidakadilan bagi warga Papua. Sementara kita semua mengetahui, di Papua terdapat perusahaan-perusahaan raksasa khususnya dari AS dan Inggris yang sangat berkepentingan untuk mengeruk kekayaan alam yang melimpah di Papua.

Tidak satu pun para propagandis tersebut mempertanyakan apalagi menggugat keberadaan korporasi tambang asing yang telah memarginalisasi warga Papua, merampas tanah-tanah mereka, merusak lingkungan dan membuang limbah beracun ke sungai-sungai yang menjadi sumber penghidupan warga, bahkan membunuh rakyat yang dianggap mengganggu operasional pertambangan. Fakta ini menggambarkan bahwa kampanye asing beserta kelompok kemerdekaan Papua (OPM) hanyalah sebuah tipuan.

Setiap bulan, bahkan setiap minggu mereka mengeluarkan laporan-laporan yang mencitraburukkan Indonesia dan TNI. Secara finansial kampanye mereka ditujukan untuk mendapatkan imbalan (bayaran) dari para sponsor. Sedangkan secara politis dan ekonomi, kampanye mereka didesain untuk melemahkan kedudukan Indonesia atas Papua di tingkat internasional dan menguatkan cengkaraman korporasi asing atas kekayaan alam Indonesia di Papua.

Sebagai pihak yang memiliki kekuasaan dan kewenangan, pemerintah Indonesia semestinya harus intropeksi diri. Sebab kebijakan pro Kapitalis di Papua Barat (dulu Irian Jaya) sejak Orde Baru hingga saat ini telah menyebabkan ketidakadilan bagi rakyat Papua (termasuk umat Islam di Papua). Warga Papua dan rakyat Indonesia mesti melihat ketidakadilan kebijakan pemerintah selama ini bukan didorong oleh kepentingan nasional, tetapi disebabkan oleh intervensi asing (khususnya AS) dan kepentingan para investor rakus (seperti Freeport).

Sekarang negara asing dan para investor itu pulalah yang “menampar” wajah Indonesia di dunia internasional melalui gerakan-gerakan LSM anti Indonesia. Pemerintah harus berani menindak tegas negara-negara dan korporasi yang terlibat secara langsung maupun secara politis dalam memecah belah keutuhan wilayah Indonesia.

Papua Barat merupakan wilayah Indonesia yang tidak boleh lepas sebagaimana terjadinya pemisahan Timor-Timur dari Indonesia. Jika Papua lepas, maka tidak tertutup kemungkinan asing semakin mudah mempreteli wilayah Indonesia lainnya.

Menjaga keutuhan wilayah Indonesia dari intervensi asing dan anasir-anasir lokal menjadi kewajiban bersama: pemerintah Indonesia, aparat keamanan, seluruh warga negara dan komponen masyarakat. Dan untuk menjaganya kita membutuhkan Syariah Islam bukan Kapitalisme.[]

Author: Admin

Share This Post On

1 Comment

  1. Bagus,…. tulisan seperti ini adalah vitamin untuk bangsa Indonesia yang nasionalis sejati.
    Oleh karenanya pilih wakil rakyat yang mampu mempertahankan wilayah Indonesia dan berani menyampaikan pendapat ketingkat internasional demi kepentingan negara,..
    Perbanyaklah blog ataupun website yang menyuarakan kesatuan Indonesia.

    Terlalu banyak LSM kita yang berorientasi asing… sampai-sampai lupa negaranya sendiri, dengan alasan kebebasan menyampaikan pendapat,…kebebasan yang kebablasan yang ujung-ujungnya adalah egois menyuarakan kepentingannya.

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *