JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan

Wawancara

Ismail Yusanto: Hizbut Tahrir Serukan Masyarakat untuk Menegakan Syariat Islam


Jurnal-ekonomi.org :: Langkah menaikan harga BBM telah ditempuh pemerintahan zalim SBY-JK. Berbagai penolakan dan jeritan masyarakat tidak pernah mereka dengarkan. Sejumlah analisa dan solusi yang diberikan ekonom dari Tim Indonesia Bangkit juga tidak dihiraukan pemerintahan yang disinyalir mengabdi kepada asing ini. Seruan Hizbut Tahrir Indonesia kepada pemerintah untuk menerapkan politik migas Islam dengan menjadikan pengelolaan SDA di tangan negara juga dianggap angin lalu.

Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail YusantoAda apa di balik “kebutaan dan “ketulian” pemerintahan SBY-JK? Benarkah kebijakan pemerintah SBY-JK dalam kerangka mengabdi kepada kepentigan asing? Berikut wawancara Jurnal Ekonomi Ideologis dengan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ust. Ir. H. Ismail Yusanto, MM setelah beliau berorasi dalam Konferensi Pendidikan Regional Kalimantan yang diselenggarakan HTI Kalsel Ahad 25 Mei 2008 di Banjarmasin.

Jurnal Ekonomi Ideologis: Bagaimana pandangan Hizbut Tahrir terhadap kebijakan pemerintah menaikan harga BBM?

Jubir HTI: Hizbut Tahrir menolak keras kebijakan pemerintah menaikan harga BBM. Kebijakan ini adalah kebijakan yang zalim karena pemerintah tidak memperhatikan keberatan masyarakat dan tidak memperhatikan saran dan solusi yang diberikan sejumlah ekonom. Sementara BBM merupakan produk yang diolah dari migas yang diangkat dari perut bumi rakyat Indonesia sehingga BBM merupakan milik rakyat. Sebaliknya, pemerintah atas dasar UU Migas tahun 2001 menjadikan BBM sebagai komoditas pasar.

Jurnal Ekonomi Ideologis: Berkaitan dengan kebijakan pemerintah ini, ada pandangan yang menyebutkan pemerintah telah AMNESIA. Apa jadinya jika pemerintah telah amnesia?

Jubir HTI: Pemerintah telah kehilangan fungsi utama sebagai pengayom, pelindung, pemimpin agar masyarakat dapat hidup dengan damai dan sejahtera. Pemerintahan yang ada saat ini justru menyulitkan kehidupan masyarakat. Maka apa gunanya punya pemerintah apabila pemerintah justru menciptakan suatu kehidupan yang penuh penderitaan dan ketidakadilan?

Untuk itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyerukan kepada masyarakat agar bersungguh-sungguh dengan komponen umat yang lain menegakkan Syariah Islam. Sebab hanya dengan Syariah Islam sajalah migas dan BBM dapat dikelola dengan benar dan memberikan manfaat yang besar bagi rakyat. Dengan Syariah Islam pula negara ini dapat diselamatkan dan kezaliman dapat ditiadakan. Perjuangan ini kami sebut “Selamatkan Indonesia dengan Syariah”.

Jurnal Ekonomi Ideologis: Dalam kerangka mensosialisasikan kebijakan zalimnya, pemerintahan SBY-JK memasang iklan di media cetak yang berisi alasan-alasan pemerintah menaikan harga BBM. Sejumlah ekonom anti Kapitalisme mengatakan alasan pemerintah penuh dengan kebohongan.

Jubir HTI: Ya betul, pemerintah telah berbohong. Misalnya dikatakan pemerintah melakukan penghematan belanja departemen Rp 30 trilyun. Kalau sudah melakukan penghematan kenapa harus memotong subsidi Rp 25 trilyun untuk rakyat yang menyebabkan harga BBM naik 28,7% ? Bukankah penghematan belanja departemen tersebut sudah mengkover pemotongan subsidi BBM? Jadi alasan apalagi yang ingin diberikan pemerintah kepada rakyat?

Jurnal Ekonomi Ideologis: Bagaimana pandangan Hizbut Tahrir atas kebijakan pemerintah meliberalisasi sektor hulu dan hilir migas?

Jubir HTI: Hizbut Tahrir memandang kebijakan pemerintah menaikan harga BBM merupakan buah dari liberalisasi sektor migas khususnya dan sektor ekonomi pada umumnya. Pemerintah menaikan harga BBM untuk mengejar harga keekonomian BBM. Yakni harga eceran BBM di dalam negeri sama dengan harga BBM internasional. Semua ini adalah untuk kepentingan perusahaan asing bukan kepentingan rakyat. Dengan harga keekonomian inilah para investor asing dapat masuk ke sektor hilir migas (eceran BBM).

Liberalisasi sektor migas ini sangat mengkhawatirkan. Liberalisasi sektor migas di Indonesia menyebabkan pemerintah Indonesia harus membeli minyak di halaman rumahnya sendiri dengan harga yang ditentukan oleh asing.Sementara harga minyak dunia ini naik karena liberalisasi sektor migas di seluruh dunia yang mengakibatkan komoditas migas dapat dipermainkan di bursa komoditas. Saya tidak dapat membayangkan apa jadinya rakyat jika harga minyak menyentuh 200 dolar AS per barrel apalagi hingga 300 dolar AS per barrel sementara pemerintah tetap bersikeras dengan kebijakan liberalisasinya. [Redaksi Jurnal Ekonomi Ideologis/HM]

Author: Admin

Share This Post On

6 Comments

  1. Dalam acara persfektif di ANTV tadi pagi Bapak Chatib Basri dan Wimar witoelar nampaknya bersepakat bahwa kenaikan ini satu-satunya pilihan yang bisa dilakukan. Masyarakat suatu saat harus bisa menerima harga BBM fluktuatif mengikuti harga Internasional…(kira-kira seperti harga emas) Jika opsi kenaikan tidak dipilih Indonesia akan memasuki krisis ekonomi jilid II. Dikatakan mereka yang menolak kenaikan lebih terdorong oleh aspek politis, karena jika dilihat dari sudut pandang ekonomi tidak mungkin ada opsi lain…

    Kom: Logika berpikir kapitalis..bukankah mengambil ideologi kapitalis dalam penyelesaian ekonomi berpotensi besar untuk terjerumus dalam krisis ekonomi? mengapa ekonom negeri ini tidak menyadari ada penjajahan di negeri ini dengan dalih globalisasi ataupun internasionalisasi?penjajahan ekonomi global memang hanya dapat dilawan dengan institusi global… so sadarlah wahai umat kembalilah kepada Islam dengan Tegakkan khilafah..

    Post a Reply
  2. Sakit…, perih…., dan begitu menyayat-nyayat…hati rakyat Indonesia tatkala pemerintahan SBY-JK menaikkan BBM melebihi 100% hingga 200% pada tahun 2005. Satu sabetan dan tusukan yang begitu telak menembus jantung rakyat Indonesia, rakyat pun terkapar, merintih, dan bersimbah darah. Tak ada kata yang bisa diungkapkan untuk menggambarkan betapa biadabnya kebijakan menaikkan BBM tersebut ditengah-tengah himpitan hidup yang makin susah dan sulit.

    Suara rintihan rakyat yang meng-iba-iba dan mendayu-dayu sendu dari segenap pelosok nusantara, memohon agar kiranya pemerintahan SBY-JK membatalkan rencana kenaikan BBM tersebut, namun suara rintihan rakyat tersebut dianggap angin lalu oleh SBY-JK. Maka terkaparlah jutaan rakyat Indonesia dalam jurang kemiskinan yang begitu menghimpit bahkan begitu mematikan.

    Kini tahun 2008, pemerintahan SBY-JK kembali menambah luka lama jutaan rakyat Indonesia yang masih terkapar terhimpit beban hidup yang teramat berat dan mematikan dengan berencana menaikkan kembali BBM pada awal juni 2008. Sungguh ini merupakan suatu petaka yang teramat zhalim dan suatu penghianatan yang amat jelas dari pemerintahan SBY-JK. Zhalim dengan menambah beban himpitan yang teramat berat ditengah terkaparnya jutaan rakyat Indonesia dalam jurang kemiskinan dan Penghianatan terhadap amanah rakyat Indonesia.

    Post a Reply
  3. Semoga negara makin sadar akan posisinya yang tidak pernah diuntungkan.

    Post a Reply
  4. sekarang persaingan ketaat u/merebut ekonomi,pemerintah harus mengerti dan,bahwa,saya tidak pernah merasa tenang karena ekonomi daerah papua di kuras habis2nya,oleh pemerintah indonesia,jadi saya tetap menuntut,supaya pemerintah mengembalikan hak orang papua/mengembalikan kekayaan orang papua .

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *