Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?

Oleh: Hidayatullah Muttaqin

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro kepada Kompas (28/5) menyatakan Indonesia keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Purnomo mengaku telah menandatangani surat pengajuan keluar dari anggota OPEC. Menurut Purnomo, status Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dengan tingkat produksi yang terus menurun menyebabkan Indonesia memiliki perbedaan kepentingan dengan OPEC.

Kebijakan menteri ESDM ini merupakan tindak lanjut dari pemikiran Presiden SBY yang ia cetuskan awal bulan ini. Dalam sambutan Presiden ketika membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2008 pada 6 Mei yang lalu, presiden SBY menyatakan:

Indonesia sekarang ini tidak lagi menjadi oil exporting country dalam arti nett yang betul-betul kita mengekspor lebih banyak. Kita sekarang juga menjadi oil importing country. Kita mengkonsumsi sejumlah bahan bakar minyak dan fuel yang tidak sedikit.”

“Oleh karena itulah, kemarin dalam Sidang Kabinet Terbatas, kita memikirkan apakah kita masih tetap berada di OPEC atau sementara kita mengundurkan diri saja, di luar itu sambil kita meningkatkan produksi dalam negeri kita, sehingga pantas kalau kita kembali berada dalam Organisasi OPEC karena kita memproduksi jumlah minyak yang pantas. Produksi kita sekarang kurang sedikit dari satu juta barel per hari, menurun, karena memang sumur-sumur sudah menjadi tua. Kita meningkatkan produksi itu, tapi masih perlu waktu, 1, 2, 3 tahun ke depan.”

Langkah pemerintah Indonesia keluar dari keanggotaan OPEC sangat membingungkan, terlebih langkah tersebut diambil pada saat harga minyak membumbung tinggi. Apakah langkah ini diambil dengan pertimbangan yang matang untuk kebaikan rakyat Indonesia? Ataukah demi kepentingan asing?

Produksi Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir produksi minyak Indonesia mengalami penurunan. Data dari BP menunjukkan, penurunan produksi crude oil (minyak mentah) terjadi sejak tahun 1997. Pada tahun 1996 lifting crude oil Indonesia mencapai 1,580 juta barrel per hari sedangkan tahun 1997 turun menjadi 1,557 juta barrel. Tahun 2006 lifting harian turun menjadi 1,071 juta barrel.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Migas Departemen ESDM, produksi minyak mentah Indonesia tahun 2007 mencapai 347,493 juta barrel atau sekitar 0,952 juta barrel per hari. Untuk tahun 2008, 3 bulan pertama lifting Indonesia mencapai 84,822 juta barrel.

Sementara itu Kepala BP Migas menegaskan lifting minyak Indonesia tahun ini mengalami peningkatan dan melampaui target APBN-P. Pada bulan Maret lifting mencapai 985.872 bph dan April 978.960 bph sementara target produksi dalam APBN-P mencapai 977 ribu BOPD.

Menurut Kepala BP Migas R. Priyono, dengan terjadinya peningkatan produksi migas Indonesia maka Indonesia masih produsen migas terbesar di Asia Tenggara. Ia menegaskan produksi migas Indonesia sudah mencapai 2,3 juta barrel setara minyak per hari (boepd).

“Dengan adanya tambahan produksi sebesar itu, kita berpeluang menembus angka produksi rata-rata 1 juta BOPD, dengan catatan bila lapangan-lapangan produksi eksisting tidak mengalami penurunan produksi. Karena itu kita upayakan untuk maintain dan push sehingga angka itu bisa dicapai,” kata Priyono.

Apakah Sama Net Importir dengan Importir?

Seperti yang diungkapkan Presiden SBY dan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, faktor yang mendorong pemerintah keluar dari OPEC adalah posisi Indonesia yang sudah terkatagori net importir. Alasan ini juga yang dikemukakan oleh pemerintah dalam menaikan harga BBM. Karena lebih besar impor daripada produksi maka kenaikan harga minyak mentah dunia berakibat meningkatnya beban subsidi yang oleh Wapres Jusuf Kalla diperkirakan mencapai Rp 200 trilyun sampai dengan Rp 300 trilyun.

Yang perlu kita pertanyakan adalah apakah sama net importir dengan importir?

Sebagaimana kita ketahui Indonesia mengimpor minyak bukan karena Indonesia tidak memiliki ladang-ladang migas. Bahkan menurut kepala BP Migas, para investor pada tahun ini meminta 100 wilayah kerja migas di Indonesia. Ini menunjukan terjadinya peningkatan aktivitas eksplorasi migas. Di sisi lain produksi crude oil Indonesia kembali meningkat hingga pertengahan tahun ini.

Indonesia bisa dikatakan sebagai negara importir migas jika sebagian besar kebutuhan crude oil Indonesia dan refinery­-nya harus didatangkan dari luar negeri. Dengan posisi negara importir migas barulah Indonesia harus keluar dari OPEC atau mendapatkan pengaruh negatif dari kenaikan harga minyak dunia yang berpatokan pada harga berlaku di bursa komoditas New York (NYMEX).

Namun nyatanya sebagian besar kebutuhan migas nasional dipenuhi dari produksi dalam negeri. Menurut data Direktorat Jenderal Migas, tahun 2007 produksi crude oil Indonesia lebih besar daripada konsumsinya sehingga surplus 26,191 juta barrel, sedangkan pada tiga bulan pertama tahu 2008 surplus mencapai 8,108 juta barrel. Dari sisi ekspor dan impor, tahun 2007 ekspor crude oil Indonesia lebih besar 16,686 juta barrel sedangkan pada tiga bulan pertama tahun 2008 surplus 6,399 juta barrel.

Begitu pula, jika Indonesia importir minyak atau setidaknya berada dalam posisi net importir maka mengapa dalam APBN-P 2008 terdapat lonjakan winfall profit Rp 41 trilyun rupiah? Percayakan anda jika kita importir minyak jika di dalam APBN negara kita mendapatkan tambahan rezeki nomplok Rp 41 trilyun akibat lonjakan harga minyak dunia? Perlu kita ketahui winfall profit yang diperoleh negara bukanlah dari hasil ekspor dikurangi biaya produksi dan transport, tetapi diperoleh semata-mata dari pajak penghasilan (PPh) para kontraktor migas yang didominasi asing. Artinya jika ladang-ladang migas dikuasai dan dikelola oleh negara, maka pendapatan migas bukanlah dari PPh migas tetapi dari hasil ekspor migas secara keseluruhan.

Kekurangan Indonesia adalah kapasitas refinery minyak nasional tidak memadai dengan kebutuhan nasional. Bahkan kapasitas refinery Indonesia di bawah Singapura. Menurut BP Statistical Review of World Energy 2007, kapasitas refinery di Indonesia tahu 2006 hanya mencapai 1,126 juta barrel per hari sedangkan negara kecil seperti Singapura kapasitasnya mencapai 1,255 juta barrel per hari. Padahal kita semua tahu Singapura tidak memiliki ladang migas sedikit pun. Kenyataan ini sangat ironi, sebab Indonesia mengekspor minyak mentah dan mengimpor BBM. Hasil ekspor migas nasional itu pun bukanlah milik pemerintah Indonesia tetapi milik kontraktor asing.

Stop Ekspor

Jika Indonesia sudah berani dengan lantang menyatakan dirinya bukan pengekspor minyak tetapi pengimpor minyak, maka mulai sekarang Indonesia harus menghentikan ekspor minyak mentah. Begitu pula jika seluruh hasil lifting minyak dalam negeri digunakan seluruhnya untuk kebutuhan nasional, maka tidak logis mengaitkan harga BBM di Indonesia dengan harga yang berlaku di NYMEX kecuali Indonesia mengimpor seluruh atau sebagian besar kebutuhan nasional.

Waspada Rekayasa Asing

Dari fakta dan data di atas, sebenarnya sangat aneh jika Indonesia mengambil kebijakan keluar dari OPEC. Sebab kebijakan ini diambil setelah pemerintah mengambil kebijakan menaikan harga BBM dan menyatakan harga BBM akan digerek ke tingkat harga keekonomian, yakni harga yang sama dengan harga BBM yang berlaku di tingkat internasional dengan acuan harga minyak mentah yang berlaku di New York.

Fakta ini menggambarkan jika harga BBM sudah mencapai harga keekonomian dan mengikuti fluktuasi harga di NYMEX, maka para kontraktor migas dapat menjual minyak mentah dari ladang-ladang minyak yang mereka kuasai di Indonesia kepada pemerintah dengan harga New York bukan harga lokal. Jika kondisi ini yang terjadi, para kontraktor migas akan mendapatkan keuntungan luar biasa sebab mereka dapat melakukan efisiensi yang sangat tinggi dengan biaya transpot dan asuransi yang sangat minim dibandingkan bila mereka menjual minyak mentah ke luar negeri.

Di sisi lain dengan keluar dari keanggotaan OPEC, Indonesia tidak terikat lagi dengan sistem quota OPEC sehingga kondisi ini mungkin saja dimafaatkan kontraktor untuk menggenjot produksi crude oil sebanyak-banyaknya. Hal ini terlihat dari mulai meningkatnya eksplorasi da produksi minyak Indonesia.

Di sisi lain, Barat seperti yang pernah dikemukakan Presiden AS Bush meminta OPEC meningkatkan produksi minyak mentah untuk mengendalikan harga minyak. Permintaan Bush ditolak oleh OPEC. Sekjen OPEC menyatakan masalah kenaikan harga minyak mentah bukanlah masalah produksi (supply) tetapi masalah spekulasi dan penurunan nilai mata uang dolar Amerika Serikat.

Keluarnya Indonesia dari keanggotaan OPEC sangat memungkinkan sebagai bagian dari Barat untuk melemahkan peranan OPEC. OPEC di masa lalu dapat dijadikan senjata negeri-negeri muslim melawan Barat dengan embargo minyaknya. Dengan semakin lemahnya peranan OPEC baik dari sisi politis dan ekonomi, maka tidak tertutup kemungkinan AS dapat mengendalikan bisnis perminyakan di dunia dengan segala dampaknya.

Kesimpulan

Jika desain keluar dari OPEC merupakan satu paket yang sama dari kebijakan pemerintah menaikan harga BBM dalam rangka liberalisasi sektor hulu dan hilir migas, maka sungguh kezaliman luar biasa yang dilakukan pemerintah Indonesia. Pemerintah mencari jalan apa pun caranya untuk memberikan kesempatan kepada investor menggali laba sebesar-besarnya di tengah jerit tangis dan penderitaan rakyat Indonesia.

Menghadapi kebijakan zalim pemerintahan kapitalis-sekuler yang hanya mengabdi untuk kepentingan penjajah ini maka hanya ada dua cara, yaitu: berdoa sebagaimana doa Nabi SAW yang diriwayatkan Muslim Yaa Allah, siapa saja yang menjadi pengatur urusan ummatku kemudian ia memberatkan mereka, maka beratkanlah ia” dan upayakan penyadaran masyarakat agar mereka menerapkan Syariah dan mengganti sistem yang zalim ini dengan sistem Khilafah.

Hidayatullah MuttaqinHidayatullah Muttaqin adalah aktivis HTI Kalsel, pengamat ekonomi dan dosen tetap Fakultas Ekonomi Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Saat ini aktif mengelola media online alternatif JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS www.jurnal-ekonomi.org

Referensi

Antara 24 Mei 2008, Menkeu: Windfall Profit Sektor Migas Capai Rp41 Triliun

BP Migas 13 Mei 2008, Indonesia Masih Jadi Produsen Migas Terbesar di Asia Tenggara

BP Migas 13 Mei 2008, Investasi Migas Indonesia Masih Menarik

BP, BP Statistical Review of World Energy 2007

Kompas 29 Mei 2008, Indonesia Keluar dari OPEC

Pusat Data dan Informasi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Produksi, Konsumsi, Ekspor, Impor Minyak Bumi per Tahun – Bulan (Barrel)

PresidenSBY.info 6 Mei 2008, Sambutan Pembukaan Musrenbangnas 2008

Author: Admin

Share This Post On

3 Comments

  1. Apakah faktor-faktor penyebab indonesia keluar dari OPEC?

    Post a Reply
  2. Kapasitas kilang BBM di Indonesia yang dimiliki pertamina adalah 1 juta barrel/days setara crude oil (bahan baku). Produksi crude oil (minyak bumi) Indonesia sekitar 995 ribu-1 juta barrel/day. Dengan data ini seharusnya kita tidak mengimpor crude oil (minyak bumi)

    Tidak semua kilang tersebut dapat mengolah minyak bumi (crude oil) yang diproduksi dari dalam negeri. Tiap kilang memiliki karakteristik tersendiri. Kilang Cilacap yang berkapasitas 300 ribu barrel/day (crude oil) didesain untuk jenis ALC (arabian light crude). Dengan bahan baku tersebut maka kilang cilacap selain menghasilkan BBM juga menghasilkan asphalt untuk bahan pembangunan jalan di dalam negeri dan kendaraan.
    Oleh karena kilang cilacap tidak dapat mengolah crude oil dalam negeri, maka Indonesia mengimpor crude oil (minyak bumi) sekitar 300 barrel/hari.
    Oleh karena ada sebagian produksi crude oil tidak dapat diolah di dalam negeri, maka sebagian produksi tersebut diekspor.

    Perlu diketahui suatu kilang tidak dapat beroparasi sepanjang tahun. Operability kilang kita umumnya sekitar 85-95% pertahun. Sehingga net konsumsi hanya sekitar 900 ribu barrel/hari setara crude oil (bahan baku)

    Dari uraian ini jelas bahwa produksi crude oil Indoensia akan melebihi konsumsi crude oil.

    Tapi mengapa kita dianggap net importir???
    Bahan bakar yang dikonsumsi masyarakat bukan crude oil melainkan BBM (bahan bakar minyak).
    Konsumsi BBM selain dipasok dari seleuruh kilang yang setara 1 juta barrel/hari (crude oil bahan baku), juga dipasok dari impor berupa BBM (hasil pengolahan crude oil).

    Impor BBM (hasil kilang) indonesia diimpor dARI (SINGAPURA, arab DLL). JUMLAH IMPOR bbm TERSEBUT setara dengan 400 ribu barrel/day crude oil.

    Jadi dengan demikian maka secara keseluruhan kita menjadi net importir

    Post a Reply
  3. Sebenarnya indonesia dapat diuntungkan dari pihak ekspor, tetapi lebih baik pemerintah mentargetkan ekspor-impor minyak bumi untuk kepentingan national growth. Kegiatan Eskpor-Impor bakal terus terjadi selama indonesia tidak bisa melakukan konvert minyak mentah menjadi minyak jadi/BBM, maka secara tidak langsung indonesia melakukan ekspor dan impor untuk mengkonvert menjadi BBM. Sepanjang indonesia masih tidak dapat meningkatkan fasilitas produksi BBM, maka pemerintah menjual minyak mentah/minyak bumi keluar negeri dan membeli BBM jadi di luar negeri. BBM yang tidak dapat di produksi di Indonesia adalah BBM untuk pesawat jet tersebut. Dalam perhitungan ini, Indonesia telah memproduksi minyak mentah dari periode 2005 – 2010 sebesar 2.113 juta barrel dan di potong ekspor sekitar 735 juta barrel dengan tingkat konsumsi minyak mentah sebesar 1.197 juta barrel menjadi berkurang 181 juta barrel. Dengan demikian pemerintah mengimpor minyak mentah dari salah satu Negara arab dan singapura sebesar 552 juta barrel dan menyisakan sebesar 372 juta barrel tersebut secara otomatis pemerintah menyimpan sisa minyak tersebut.

    Selama terjadinya kelangkaan BBM di daerah-daerah, sebaiknya pemerintah membuat gudang persediaan di 3 wilayah yang difungsikan sebagai penyalur di dalam bagian wilayahnya, misalkan wilayah Indonesia bagian Barat, di sediakan 200.000 barrel untuk digunakan di wilayah bagian barat saja. Tengah di sediakan 100.000 barrel untuk digunakan di wilayah bagian tengah, dan Timur di sediakan 100.000 barrel untuk di gunakan di bagian timur saja. Hal ini dapat digunakan agar lebih efektif, bila bakal terjadi kekesongan cadangan BBM di wilayah timur dan tengah, maka sebaiknya pemerintah mencadangkan BBM yang tidak habis selama 1 tahun di daerah pulau kalimantan, dalam perhitungan berapa stok BBM yang di cadangkan, maka pemerintah menghitung jumlah kendaraan dan tingkat konsumsi salama 1 tahun di beberapa wilayah bagian. Alasan kenapa Kalimantan dipilih untuk pusat cadangan minyak bahan bakar, karena pulau kalimantan di luar garis batas benua. Jadi pulau kalimantan bakal aman dari gempa dan sebagainya, secara otomatis cadangan BBM di kalimantan bakal selamat.

    Silahkan di komentari bila ada yang tidak jelas…

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *