Imperialisme Moneter

oleh: Jurnal Dialog CSIC

Pengeksploitasian kekayaan secara besar-besaran terhadap dunia ketiga Asia, Afrika dan Amerika Latin oleh negara-negara Kapitalis Amerika dan Eropa adalah upaya untuk memperoleh kepuasan materi dan kehormatan; yaitu kepuasan puncak ketika datang ke negara dunia ketiga untuk menolong dari kesulitan dengan pinjaman luar negeri dan bantuan sosial terhadap segelintir orang. Kepuasan itu menjadi lebih sempuran ketika berhasil menutup langkah-langkah sistematis imperialisme dengan opini umum pers terhadap upaya Kapitalisme dalam ikut menangani krisis dan bantuan dana melalui IMF dan Bank Dunia. Padahal uang yang diperbantukan itu adalah sebagian kecil dari hasil eksplorasi mereka terhadap negara-negara dunia ketiga.

Langkah-langkah sistemik yang dilakukan oleh imperialisme moneter ini adalah dengan menghapus sistem moneter standar emas dan meletakkan kendali moneter dunia di tangan IMF dan kontrol pinjaman luar negeri melalui Bank Dunia.

Langkah-langkah teknis eksploitasi tersebut ditempuh melalui sarana-sarana:

1.       Selisih kurs dan bunga berbunga melalui pasar bebas agar para spekulan dapat berperan dalam mekanika harga antar mata uang sehingga berlaku hukum “supply and demand”.

2.       Inflasi sebagai pemasukan negara melalui institusi Bank Sentral. Pengeluaran uang tanpa jaminan menyeluruh pada Bank Sentral, akan berakibat jatuhnya nilai tukar yang sebanding dengan pertambahan jumlah uang beredar. Jika uang yang beredar bertambah 100% maka harga barang akan naik dengan angka yang besar, mungkin mencapai 100% juga. Hal ini disebabkan uang beredar menjadi 200% sedangkan jumlah barang tetap 100%. Akibatnya nilai uang telah diambil oleh Bank Sentral sebesar 50%.

3.       Perang pemikiran tentang moneter melalui santri-santri binaan Kapitalisme Amerika dan Eropa dan lembaga statistik yang mengaburkan data serta lembaga-lembaga pemalsuan sejarah dan isu-isu moneter yang menyesatkan.

Bahwa imperialisme moneter adalah benar-benar kerusakan besar yang dilakukan para Kapitalis borjuis menggunakan dukungan lembaga-lembaga internasional. Hal ini untuk memfasilitasi negara-negara imperium Kapitalis dan triad-triad moneter serta spekulan-spekulan. Kerusakan ini menjadi kedzaliman yang sangat eksploratif dan menindas secara sistemik. Oleh karena itu, jika masyarakat semakin pandai dan sadar akan hal ini, imperialisme moneter akan dilawan bangsa-bangsa dunia dalam waktu dekat. Sebab fitrah akal manusai adalah menolak kedzaliman dan kemungkaran. Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah, telah datang yang haq dan leburlah kebatilan sesungguhnya kebatilan pasti akan hancur.”

 

Metode Imperialisme Moneter

Sesungguhnya sarana-sarana yang dimanfaatkan kapitalis Amerika dan Eropa untuk melakukan eksploitasi, dominasi dan hegemoni beraneka ragam dan terus-menerus selalu diperbaharui. Terkadang sarana-sarana itu sangat halus dan tidak kentara kecuali bagi mereka yang selalu mengikuti dan mencermati dengan kesadaran tinggi. Dan karena kebahagian dalam hidup Barat adalah mencari kepuasan materi dan kehormatan badani, maka adanya kompetisi, kebuasan dan pertarungan pasti akan terjadi di antara negara-negara Kapitalis dalam hal produksi, perdagangan barang dan jasa dalam penguasaan bahan-bahan mentah.

Sarana-sarana sistematis yang besar antara lain:

1.       Mengubah sistem mata uang dunia, dari sistem uang emas kepada sistem uang kertas (dolar)

Pada awal revolusi industri karena ada kebutuhan yang mendesak untuk menjamin perluasan industri. Inggris mendirikan sebuah bank yang berwenang mengedarkan uang yang ditopang dengan jaminan emas. Setelah PD I, AS menguasai 70% cadangan emas dunia. Kemudian pada tahun 1929 terjadilah depresi dan kemorosotan yang parah di pasar modal karena adanya permainan nilai mata uang oleh negara-negara industri untuk bersaing dalam ekspor.

Pada tahun 1934, AS dan negara-negara Eropa mengadakan pertemuan dan menyepakati pembatasan transfer antar bank dan antar negara hanya dalam mata uang dolar AS dan poundsterling Inggris sebagai ganti emas.

Pada tahun 1944, AS dan negara-negara Eropa mengadakan pertemuan di Bretton Woods, dan menyepakati penerimaan dolar sebagai mata uang asas untuk menilai mata uang yang berbeda-beda. Prinsip-prinsip IMF mulai diterapkan, yaitu penetapan margin tidak lebih dari 1% untuk perubahan nilai berbagai mata uang. Jika terjadi ketidaksseimbangan neraca perdagangan, maka akan dilakukan penaikan atau penurunan nilai mata uang, sebagai hasil perundingan internasional melalui IMF. AS telah menyetejui untuk mengikat dolar dengan standar emas pada batas $ 35 AS untuk 1 ounce emas. Dengan demikian, maka dolar AS telah mendominasi sistem mata uang dan ekonomi dunia.

Disebabkan biaya yang besar sebagai konsekwensi peran AS secara internasional, berkecamuknya perang Vietnam, adanya biaya pangkalan-pangkalan militer dan perlombaan senjata, maka neraca perdagangan AS mengalami defisit. Maka dari itu cadangan emas AS pun semakin berkurang hingga tinggal 50 trilyun dolar AS pada tahun 1970. AS tidak mampu lagi mengkonversi dolar menjadi emas bila ada permintaan. Maka Inggris segera menurunkan nilai mata uangnya untuk memukul dolar, mengingat Inggris adalah saingan AS dalam cadangan emas. Akibatnya presiden Nixon pada tahun 1971 menghapuskan keterkaitan dolar dengan emas sehingga dolar pun menguasai sistem moneter dunia dan memaksa Jepang dan Jerman mendukung dolar, karena dua negara tersebut memiliki cadangan emas yang sangat besar di dunia, disamping kemerosotan dolar yang drastis tentu akan mengurangi pendapatan kedua negara tersebut hingga 30%. Jepang mempunyai surpus perdagangan dengan AS sebesar 15 milyar dolar AS per tahun, sedangkan Jerman 11 milyar dolar AS pertahun.

2.       Membentuk Lembaga Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank).

IMF didirkan pada tahun 1944 berdasarkan perjanjian Bretton Woods yang menetapkan pemebentukan sistem mata uang internasional. IMF menjalankan 3 tugas pokok:

a.       Menajaga nilai tukar mata uang.

b.       Mengawasi neraca perdagangan

c.       Mengontrol cadangan mata uang berbagai negara.

Tugas-tugas tersebut dapat dikaitkan dengan kondisi AS di muka, yakni adanya ketidakstabilan nilai tukar dan defisit neraca perdagangan AS yang disebabakan peran internasional AS, gaya hidup orang Amerika yang sangat rakus dan konsumtif dan terjadinya krisis-krisis keuangan.

Peran IMF tersebut mendominasi negara-negara berkembang dan negara miskin ditempuh dengan cara bantuan dan merekayasa krisis yang menyebabkan kebutuhan akan hutang. Jika kondisi ini terwujud, IMF akan datang untuk memanfaatkan semua pengendalian ekonomi, dengan tujuan menghancurkan sisa-sisa kedaulatan dari banyak negara. Tujuan ini dapat disimpulkan dari pertemuan yang diadakan IMF di Helifax (Kanada), yang menetapkan prinsip-prinsip untuk memaksakan pengontrol terhadap perekonomian berbagai negara agar kondisi ekonominya disesuaikan dengan kehendak IMF, sebagai imbalan dari penjadwalan kembali hutang-hutangnya.

Syarat-syarat tersbeut adalah:

1.       Kebebasan dalam perdagangan dan penukaran mata uang.

2.       Menurunkan nilai mata uang.

3.       Melaksanakan program efisiensi, yang meliputi:

a.       Menetapkan syarat-syarat untuk peminjaman lokal dengan menaikkan suku buna yang akan mengakibatkan kemacetan ekonomi.

b.       Mengurangi belanja negara dengan meningkatkan pajak dan tarif jasa-jasa, menghentikan subsidi untuk barang-barang konsumtif dan tidak menaikkan gaji pegawai.

c.       Menarik modal asing untuk investasi dengan memberikan kemudahan-kemudahan dalam tata aturannya.

d.       Mengambil sejumlah kebijakan untuk mengesahkan undang-undang guna mendukung swastanisasi, yang katanya IMF, berguna untuk menggairahkan ekonomi.

Kebijakan-kebijakan yang dipakasakan IMF tersebut, sesungguhnya telah melahirkan ancaman serius bagi kedaulatan dan kemandirian berbagai bangsa.

Berikut ini kami sajikan beberapa contoh untuk membuktikan bahwa kebijakan IMF sebenarnya tidaklah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pada hakekatnya justru telah menjerumuskan berbagai negara ke jurang kehancuran dan kemelaratan. Sebagai misal, negara Maroko yang telah melakukan reformasi sistem pertanian dengan target ekspor nipis dan buah-buahan lain dengan cara memperbaharui jaringan irigasi. Tapi justru reformasi ini dimanfaatkan oleh para pemilik modal besar yang berkemampuan untuk membeli sarana-sarana pertanian secara kredit. Sementara rakyatlah yang harus menanggung beban hutang berikut bunganya. Jelas sekali ini bukan investasi produktif. Hutang Maroko sendiri pada tahun 1970 adalah 18% dari produk nasionalnya. Kemudian tahun 984, hutangnya menjadi 110% dari produk nasionalnya. Berarti terjadi defisit 10%. Bahkan dalam waktu 2 tahun saja harga-harga telah naik 86%. Maroko yang semula negara pengekspor gandum ke Perancis, berubah menjadi negara pengimpor gandum sebesar kurang lebih 3 juta ton per tahun.

Ongkos untuk kebijakan-kebijakan IMF dan sejenisnya itu harus dibayar mahal oleh rakyat dengan darah, harta bahkan jiwa anak-anak mereka hingga jumlah orang-orang miskin di dunia sekarang mencapai lebih dari 1 milyar jiwa. Bahkan sebagian dari mereka, 38 juta di negara-negara Amerika Latin dan 20 juta di Afrika tengah menghadapi maut. Jumlah ini di luar orang-orang melarat yang berjuta-juta dan kenyataannya di lapangan jauh lebih besar dari angka-angka statistik.

 

Kepuasan Puncak Imperialisme Moneter

Sejalan dengan pandangan hidup Barat, negara-negara Kapitalisme Eropa dan Amerika berlomba-lomba untuk bersaing memperebutkan puncak kemulian mereka, yaitu mendapatkan kepuasan materi dan kehormatan. Kehormatan setelah memaksa orang lain menderita dan sengsara. Kemudian merengek-rengek minta bantuan dan pada saat itulah mereka datang dengan secuil bantuan sosial yang sebenarnya tidak lebih dari penghinaan atas yang lemah.

Guna mencapai kepuasan materi, negara-negara Kapitalis mengeksploitasi kekayaan secara besar-besaran terhadap dunia ketiga. Dengan pengendalian sistem moneter, mereka dapat menciptakan perubahan nilai kurs mata uang. Lebih-lebih lagi negara-negara dunia ketiga yang masuk perangkan utang luar negeri, sehingga berada dalam kubangan utang bunga-berbunga dan berlipat ganda akibat selisih kurs yang ditetapkan oleh pasar bebas (dengan hukum mekanika harga) yang dikendalikan oleh IMF.   

Indonesia misalnya. Hutang pemeritah Indonesia yang sudah jatuh tempo adalah US $ 51 milyar. Jika kurs di bulan Juni 1997 sebesar Rp 2000 per dolar, maka jumlah hutang yang harus dibayar adalah Rp 102 trilyun. Setahun kemudian, Juli 1998, oleh IMF krs telah ditetapkan Rp 10.000 per dolar AS. Maka hutang yang harus dibayar negara adalah Rp 510 trilyun. Hanya dalam waktu setahun saja, kita harus mengumpulkan harta sebesar Rp 408 trilyun. Angka tersebut belum termasuk hutang swasta yang mencapai US $ 65 milyar. Nah, luar biasanya negara-negara Kapitalis mengeruk kekayaan Indonesia dalam waktu singkat dengan hasil yang luar biasa. Inilah gaya imperialisme moneter sebagai salah satu instrumen imperialisme modern.

Konon penetapan kurs Rp 10.000 per dolar tersebut sebagai budi baik dan belas kasihan IMF terhadap rakyat Indonesia. Alasannya, konversi kurs rupiah atas dolar AS di pasar bebas (pasar modal) sesuai dengan hukum mekanika harga pada saat itu adalah lebih dari Rp 14.000 per dolar. Dengan penetapan Rp 10.000 per dolar maka pemerintah Indonesia diharuskan berterimakasih dan menyanjung tinggi kehormatan atas IMF. Di situlah IMF mendapatkan kepuasan puncaknya; materi dan kehormatan. Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Penetapan nilai kurs yang berbeda tersebut hanyalah rekayasa Kapitalis untuk bagi-bagi keuntungan eksploitasi antara pemerintah yang sah (negara-negara Kapitalis) dengan para pengusaha swasta (para spekulan). Swasta dibuatkan lahan di pasar modal sedangkan pemerintah secara resmi dapat bagian dari sektor hutang luar negeri. Inilah eksploitasi kekayaan Indonesia sebesar 5 kali lipat hanya dalam waktu satu tahun.

Dengan pengendalian sistem kurs mata uang dan kesuksesan dalam menjerumuskan negara-negara dunia ketiga dalam hegemoni hutang luar negeri, maka negara-negara imperialis tersebut telah sukses mencapai kepuasan puncak tahap pertama. Dengan sangat sistemik sekali mereka telah mendapatkan kekayaan yang berlipat ganda dari hasil eksploitasi habis-habisan dengan penciptaan selisih kurs tersebut serta hutang bunga berbuanga.

Kepuasan puncak tahap berikutnya adalah kehormatan. Sangat mudah dipahami, akibat eksploitasi tersebut, maka dengan sendirinya negara-negara dunia ketiga akan jatuh miskin yang melahirkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat pada umumnya. Perekonomian negara jadi hancur dan muncul berbagai krisis dan kekacauan. Nah pada saat yang seperti itu, negara-negara Kapitalis datang, baik dengan paksaan maupun tidak sebagai staf ahli dan penasehat ekonomi dengan propagandanya sebagai dewa penyelamat dari kehancuran. Mereka didengar, ditaati sekaligus dihormati.

Pada kesempatan lain, mereka datang dengan bantuan sosial kepada beberapa segelintir orang setelah menyaksikan rakyat menderita, menjerit dan menggelepar kelaparan. Pada dasarnya, mereka ingin menyaksikan orang lain menderita dulu dan merengek-rengek, sebelum memberikan secuil bantuan. Orang-orang Kapitalis sangat ingin merasakan betapa puas dan terhormatnya setelah membuat orang-orang lemah dan tidak berdaya, kemudian memberikan sekaleng susu, sebungkus mie, dan setetes minyak goreng. Maka pada saat itulah mereka benar-benar telah mencapai puncak kepuasannya, yaitu “kehormatan”.

Sesungguhnya “kehormatan” sebagai puncak kepuasan imperialisme tersebut, hakekatnya dalah sebagai puncak penghinaan terhadap negara-negara dunia ketiga. Bantuan yang mereka berikan tidak ada apa-apanya jika dibandingakn dengan harta yang mereka kuras dari negara-negara dunia ketiga. Lebih menyakitkan lagi, bantuan yang tidak seberapa tersebut tdiberikan setelah mereka sukses menciptakan peneritaan hingga lemah tak berdaya lagi. Sesungguhnya bantuan tersebut hanya memperlama penderitaan.

Untuk lebih menyempurnakan puncak kepuasan kehormatan tersebut, maka secara sistemik negara-negara Kapitalis merancang perang pemikiran dan kebudayaan, agar langkah-langkah imperialisme moneter ini tidak mudah dipahami dan disadari sehingga menimbulkan perlawanan serius. Kapitalisme dengan cerdik sengaja menyiapkan jawaban-jawaban yang menyesatkan terhadap problem moneter ini. Mereka sangat sukses mendidik anak-anak kaum muslimin sendiri sebagai anak asuh – santri-santri binaan Barat. Mereka inilah yang menjadi pembela kepentingan Kapitalisme dan mereka akan mendapatkan prestasi, kehormatan serta kepercayaan dari mereka yang konsisten menghianati Islam. Mereka justru mempropagandakan bahwa sistem standar emas telah usang, cadangan emas tidak cukup, tidak efektif dan sebagainya. Mereka juga memanipulasi sejarah standar emas. Membuat data-data manipulatif, tentang pertumbuhan ekonomi yang menyesatkan, da masih banyak lagi. Ringkasnya kehormatan Kapitalisme Amerika dan Eropa sudah lebih dari cukup dibela mati-matian oleh ana-anak negeri kaum muslimin sendiri. Sementara orang-orang Kapitalis tidak perlu susah payah membelanya. Nah pada saat itulah terjadi puncak kehormatan mereka. Pertanyaannya sekarang, layakkah kita memberikan penghormatan kepada orang-orang yang telah dengan sengaja dan kejam menghina, menindas dan menghisap habis-habisan harta kekayaan kita? Siapa yang seharusnya mendapat penghormatan, mereka dan para santri binaannya yang telah menghianati Islam dan kaum muslimin ataukah orang-orang yang konsisten melawan para kapitalis tersebut, dan berusaha keras dengan segala upaya untuk mengembalikan kemuliaan Islam demi tegaknya syari’at Allah dan Rasul-Nya?

Sumber : Jurnal Dialog CSIC, Tahun II, No. 5 Oktober – Desember 1998

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *